
Di hari yang gelap ini, aku sudah menyerahkan seluruh ragaku. Apa yang kupikir memang seharusnya telah berakhir ternyata adalah sebuah kesalahan fatal. Dan kini aku harus menanggung akibatnya.
"Hah, hah, hah..."
Aku menarik napas begitu banyak, saat kurasa dada ini hampir pecah. Mimpi yang mengerikan itu ternyata pergi hanya untuk membalaskan dendam.
"Ini sangat keterlaluan!"
Tapi fokus ini teralihkan saat ponselku berdering. "Ya, kenapa kamu menghubungi ku disaat seperti ini?"
"Aku hanya merindukan pacarku" jawab seseorang yang tidak lain adalah Kevin.
Aku beranjak bangun dari tempat tidur, berjalan ke arah jendela. Dapat kulihat dari sana Kevin melambaikan tangannya kepadaku.
"Kamu tidak perlu melakukan semua ini, hingga datang ke rumahku"
"Oh, ayolah. Apakah salah jika aku ingin bersilaturahmi dengan orang tuamu. Aku hanya sedang berusaha menjadi calon menantu yang baik"
Aku tertawa, bukan karena senang tapi merasa lucu. Sehebat apa dia, padahal jelas jelas dia saja masih kalah denganku. Sungguh tidak berguna.
"Kurasa tingkat kepercayaan itu harus segera disingkirkan. Terlalu mencolok untuk orang berkepribadian sepertimu"
"Kamu memang wanita angkuh, aku menyukainya"
"Sudahlah, kamu masuk saja. Aku akan segera turun ketika siap"
Ku matikan panggilan dan bersiap memulai hal yang baru. Aku merasa sedikit jenuh, walaupun mimpi ini masih sangat menganggu.
Tapi percayalah, kematian bukan sesuatu yang aku takutkan.
...~~...
"Kenapa kamu begitu lama? padahal hanya memakai itu- itu saja" ujar Kevin, yang mungkin... merasa kesal?
"Kami tidak bisa mengatur kehidupan ku, mengerti!"
Sementara itu, kulihat mama tersenyum. Mungkin karena melihat tingkah kami berdua, atau lebih tepatnya karena aku akhirnya memiliki pacar.
"Ya, ampun. sudahlah, lebih baik jika kalian segera pergi. Dan kamu Mira, cobalah sedikit lembut" ~Mama Vira.
"Oh, ayolah...dia hanya pacar. Ingat, hanya pacar" ~Mira.
__ADS_1
Aku tidak senang ketika mama menyuruh ku untuk berubah hanya karena memiliki status yang tidak jelas ini. Kenapa kubilang seperti itu, karena pacaran adalah hubungan palsu yang dibuat untuk mengisi kekosongan.
Aku dan Kevin akhirnya berpamitan pergi. Aku berhenti sejenak, sekilas untuk menikmati sapuan angin. Ku pikir akan ada kejutan yang menanti.
"Aku berharap ini adalah perasaan yang salah..."
Butuh sekitar setengah jam untuk sampai ketempat yang dituju. Ya, kami berhenti tepat di sebuah rumah. Lebih tepatnya kediaman Klara.
Aku, Kevin dan Klara memutuskan untuk mengadakan diskusi. Kupikir tidak ada salahnya melibatkan Kevin.
Walaupun sebelumnya aku sudah memperingatkan bahwa ini mungkin membahayakan nyawanya, tapi dia tidak peduli.
Tapi apa ini? Klara ternyata pergi ke luar kota. Aku memejamkan mata merasa gemas dengan sikapnya. Dan kini waktu pagiku terbuang sia sia.
"Kupikir itu tidak sepenuhnya benar" ujar Kevin tiba-tiba.
"Apa?"~Mira.
"Waktu mu tidak terbuang sia sia"~ Kevin.
Aku mengangkat alis, memperhatikan laki laki di hadapanku ini. "Lalu sekarang bagaimana, apa yang akan kamu rencanakan kali ini?"
Kevin tersenyum, lalu menarik tanganku menuju suatu tempat. Lebih tepatnya masuk ke dalam rumah Klara.
"Itu yang akan terjadi jika kamu belum meminta izin, tapi sayangnya aku bukan orang seperti itu, lihatlah aku memiliki seluruh kunci ruangan dirumah ini. Kemarin aku menemui Klara untuk meminta izin, dan dia sudah memberikan kuncinya. Kupikir ini sudah lebih cukup"
jelas Kevin panjang lebar.
Aku melipat kedua tanganku di dada. Seharusnya aku tahu hal ini. Kevin bukan tipikal laki-laki seperti itu.
"Baiklah, sepertinya aku terlalu meremehkan kamu"
Kami berdua masuk kedalam rumah Klara. Dapat terlihat dengan jelas betapa mewahnya. Semua di dekor dengan begitu mewah tapi sedikit kuno.
"Aku rasa, Klara adalah sultan yang sebenarnya" ucap ku merasa kagum.
"Lebih tepatnya kedua orang tuanya benar benar meninggalkan warisan yang sangat fantastis. Jika ditotal mungkin saja bisa membayar hutang negara kita"
Aku memandang Kevin. Perkataannya selalu saja benar.
"Sekarang kamu ikuti aku" titah Kevin.
__ADS_1
Aku menurut, dan mengikuti dari belakang. Kevin membawaku pergi menuju sebuah ruangan perpustakaan.
"Klara bilang, keluarganya memiliki beberapa buku kuno tentang kutukan. Berharap lah, kamu mungkin akan menemukan sebuah petunjuk mengenai mimpi yang menimpa dirimu"
Aku mengangguk mengerti. "Lalu bagaimana dengan Klara?"
"Dia tidak bisa ikut dengan kita. Dia benar benar sangat sibuk untuk beberapa minggu ke depan. Dia harus mengurus pertikaian beberapa kerabat yang saat ini sedang ingin menjatuhkannya"
Aku terdiam dan memandang beberapa buku dihadapan ku ini. "Ya, pasti sangat merepotkan mengurusnya. Karena apapun yang berhubungan dengan uang akan membuat orang lain menjadi buta. Mereka pasti menghalalkan segala cara untuk membuat Klara jatuh"
Aku menutup mata, berusaha merasakan sebuah sensasi. Ku rasa ruangan ini memiliki banyak kenangan.
Kevin yang melihat sikapku berjalan mendekat. "Ruangan ini merupakan tempat kenangan yang paling berharga bagi Klara. Klara pernah bilang bahwa dia dan kedua almarhum orangtuanya selalu menghabiskan waktu disini" ucap Kevin yang sepertinya berusaha menjelaskan apa yang kurasakan saat berada di ruangan ini.
"Pantas saja terasa hangat walaupun gelap"
Tapi tunggu dulu. Kenapa aku menangis?
Dan tanpa kusadari Kevin langsung memeluk diriku. "Tidak perlu dijelaskan, aku pun ikut merasakannya" jelas Kevin.
Kami berdua sama sama terdiam. Entah kenapa perasaan ini kini terasa lebih mengganggu daripada mimpi buruk itu.
Kupikir aku harus cepat bertindak sebelum perasaan ini semakin kuat.
Ku dorong tubuh Kevin untuk menjauh. "Jangan terlalu dekat denganku, kita hanya menjalin hubungan ini untuk kepentingan masing-masing. Jangan pernah berpikir untuk melibatkan perasaan, karena aku, tidak akan pernah memiliki rasa tersebut"
Aku rasa ini adalah jawaban yang tepat. Tidak peduli apakah Kevin akan merasakan luka saat mendengarnya. Lebih baik memberi tahu apa yang sebenarnya dari pada terus memberikan harapan palsu.
Kevin tertawa, berusaha untuk menahan sesuatu yang sepertinya akan terjatuh dari kedua matanya. "Aku mengerti, tapi kamu tidak bisa membuatku untuk melupakan perasaan ini. Tapi ingatlah perasaan ini akan selalu abadi di dalam hatiku"
Setelah mengatakan semua itu, Kevin berjalan menjauh. Mungkin saat ini ia berusaha menyembunyikan rasa sakit hatinya.
Aku menunduk, terus saja selalu menyembunyikan perasaan ini. Tapi maaf, hati ini masih trauma akan cinta seorang pria.
Karena aku pernah merasakan sakitnya sebuah keluarga yang hancur.
Aku mendongak ke atas menatap langit langit. " Ini semua salahmu, papa.."
Aku berjalan pergi mencari buku yang mungkin akan berguna. Berusaha mengalihkan perhatian ini.
Aku harus mengutamakan kepentingan ku saat ini. Dan untukmu Kevin, dari lubuk hatiku yang terdalam aku mohon bertahanlah!
__ADS_1
Bersambung....