KUTUKAN MIMPI

KUTUKAN MIMPI
6 # Pemeriksaan


__ADS_3

"Yobel,


kegembiraan mengalir di dalam tubuhku, dengan semangat yang


meluap-luap, aku merasa sangat senang sekali.


" Aku merasa sangat bahagia kakiku,masih ada, aku masih punya kaki.


"hei,


" lihatlah ! Aku punya kaki ," ujar ku penuh ke kebanggaan.


"Tentu saja kau punya ,idiot !"


Jacob memukul kepala Yobel dengan bantal.


"Yobel, Apa seh ?".


Aku mengelak dengan mudah. Aku melihat ekspresi wajah Samuel dan Lisa yang sama jengkelnya dengan wajah Jacob.


"Yobel, apa? kalian pikir aku bohong?"


Astaga! Mom, Dad, mana mungkin aku berteriak histeris tadi hanya untuk


sebuah lelucon?".


Mereka tidak menjawab, namun kejengkelan- nya sudah menghilang.


"Lisa ,memungut barang-barang ku yang berantakan. "Jacob,memukul kepala Yobel dengan bantal lagi.


"Jake ,


Hentikan.....!


Bibir Jacob berkerut. Sebelah tangannya


masih memegang bantal.

__ADS_1


"Jacob, salah sendiri membuat ribut. Ku pikir tadi ada gigi T-REX yang menancap di tubuhmu lagi."


"Maaf." ujar ku menyesal, kontras sekali


dengan" Cengiran gembira di mulutku yang


tidak juga meredup. Mau bagaimana


lagi, aku memang sedang senang.


"Aku tadi benar - benar takut berubah menjadi putri duyung. Rasanya seperti ada satu ton kantung semen yang menggantikan


kakiku. Bisalah kau bayangkan itu?


"Hiiii........"


"Aku lebih senang kalau otakmu saja yang di ganti,"canda Jacob riang. Ia tersenyum padaku.


Aku balas tersenyum padanya.jacob,


adik laki- laki ini memang memiliki hati yang lembut dan perasa, namun untunglah perasaannya mudah berubah,dari marah menjadi senang seperti saat ini.


"Ayo, kuliah,Yobel!".......


...****************...


Aku mengaduh kesakitan.


"Jacob, tersenyum masam, melambaikan tangan kemudian berlari keluar. Dasar penghianat. Untunglah masih ada Samuel. Aku melirik penuh arti, namun ia juga mengambil langkah mundur seperti hal ya Jacob.


"Dad!!". aku meraung keras.


"Yobel, jelaskan pada Mom bahwa hari ini penyakit gilaku sedang kambuh!"


"huff!!,


"Yobel,percuma saja,karena sosok Samuel telah lenyap. Sekarang hanya tinggal aku dan Lisa,yang terus menceramahiku tentang sudah berapa Kali aku bolos kuliah pagi.

__ADS_1


"Yobel, Beginilah nasibku Karena punya ayah yang kurang berperasaan. Mungkin semua rasa itu perlahan terkikis dan lenyap akibat tuntutan pekerjaan.


" Samuel, ayahku, bekerja di sebuah rumah sakit jiwa bukan sebagai dokter, hanya sebagai petugas keamanan biasa di Bangs dalam.


Ketika masih kecil, selama beberapa bulan


aku di bawa rutin ke rumah sakit tempatnya bekerja, untuk mejalani pemeriksaan. Mereka beranggapan aku mengalami sedikit kelainan jiwa karena sering menjerit, bahkan terluka, saat tidur. Hal ini terus berlanjut hingga akhirnya aku dapat mengontrol mimpi siapa yang ingin aku masuki. Coba tebak siapa?


"semuanya. Lisa ,Samuel,dantentu saja psikiater ku .sejak saat itu,tidak ada yang menganggap ku gila, tapiada kalanya aku ingin di anggap gila agar dapat bolos kuliah,seperti hari ini misalnya.


" Yobel, Pukul 10.30. Aku berlari menyusuri jalan setapak kampus yang berkelok - kelok.


Gedung kesenian sudah didepan mata. masih ada 40 menit lagi sebelum mata kuliah pelejaran kesenian berakhir.


Aku menimbang - nimbanv, apakah sebaiknya aku bolos lagi atau dengan wajah tanpa dosa, mengaku terlambat lebih dari satu jam? tampaknya aku tidak punya pilihan.


"Dosen,kamu mau kmna.memergoki ,Yobel,


"Dosen, mau kemana,?


Akhirnya anda berkenan hadir."


"Yobel, memasang senyum penuh dengan penyesalan karena belum pernah sekalipun


aku mengikut mata pelajaran kesenian.sejak semester baru. Bukan karena aku membencinya,hanya saja jadwalnya terlalu pagi.


"silakan duduk!"


"Yobel, ia mengundangku masuk, ketulusan sikapnya tidak mudah di tolak.


Baru kali ini aku memasuki ruang lukis. Bau cat menyergap Indra penciumanku, begitu rupa hingga kepalaku berdenyut.


Agaknya aku mabuk thine,sama sekali tidak lucu


"hufff,"


"Dosen, seni lukis, Mr Gun, menunjuk sederet bangku kosong di barisan depan.

__ADS_1


"Yobel, aku memilih tempat paling dekat dengan jendela. Suasana tetap hening.Tidak ada banyak perubahan sebelum ataupun sesudah kedatanganku. Masing - masing mahasiswa terpaku pada kanvas dan kuas di hadapannya. Sesekali melirik keluar, tapi hanya untuk mengendorkan otot mata.


__ADS_2