Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Di saat yang bersamaan


__ADS_3

🌺 hem.. 🌺


* * *


Beberapa saat setelah Mayang pergi, Mina pun menyusul keluar .


Kini ruangan dalam tenda tersebut hanya tersisa sepasang manusia saja.


'' Sepertinya sudah saatnya aku harus pulang '' Saraswati berdiri .


Namun saat akan beranjak, Agam meraih jemarinya.


'' Tidak bisakah kau tinggal sedikit lebih lama lagi ? ''


Saraswati kembali duduk, mendekat lalu mencondongkan tubuhnya.


Hal tak terduga ia lakukan.


Saraswati mengecup sudut bibir Agam .


Cukup lama hingga Agam mulai terlena dan hendak membalasnya .


Namun belum sempat itu terjadi, Saraswati sudah menarik diri.


'' Maaf, tapi aku benar-benar harus segera pulang. Suamiku pasti sudah menungguku. Karena malam ini dia akan berkunjung ke kamarku ''


Agam menatap kecewa. Sesaat tadi ia lupa jika wanita ini telah ada yang memiliki.


Ada nyeri yang ia rasakan saat si pemilik tubuh molek melenggang pergi meninggalkannya.


* * *


Di luar tenda.


Mina berdiri tak jauh dari gerbang masuk sirkus dengan pandangan ke arah kereta yang baru saja di naiki Mayang . Kereta itu mulai bergerak jalan.


Mina menggeleng. Ia tak habis pikir dengan sikap calon suami terhadap calon madunya .


Sedangkan yang didalam kereta.


Mayang terdengar berdehem beberapa kali . Mencoba menepis rasa gugup sekaligus takut yang menyelimutinya saat ini.


Kepalanya tertunduk dengan sesekali menatap pria yang duduk di hadapannya.


Panji menatapnya dengan bias dingin.


Menunjukkan hatinya yang tengah dikuasai kekesalan atas apa yang baru saja Mayang lakukan.


'' Kau bersolek ?! ''


Mayang melebarkan matanya . Tak menyangka jika Panji sebegitu memperhatikannya .


'' Untuk apa ? Apa kau berencana menggoda seseorang ?


Dan kenapa kau pergi tanpa ijin dariku, hem ? ''


'' Maaf, Den Mas ''


'' Bukankah sudah pernah kukatakan jika kau tak boleh keluar tanpa ijin dariku ! " suara Panji meninggi hingga terdengar sampai diluar.


Terlihat dari kusir yang tersentak dan reflek memutar lehernya sesaat kebelakang.


Mayang menegakkan kepalanya.


" Kenapa harus ? Apa karena Den Mas adalah majikan saya ? "


Panji menatap tajam.


Mayang kembali menunduk.


" Bukankah Den Mas akan segera menikah ? Jadi berhentilah bermain dengan saya dan - "


" Siapa yang bermain denganmu ,Hah ?


Asal kau tau Mayang !


Tak pernah sekalipun aku menganggap yang kita jalani selama ini permainan seperti waktu kita kecil dulu "


" Tapi Den Mas akan segera menikah.


Jadi, alangkah baiknya jika Den Mas mendekatkan diri dengan calon istri Den Mas.


Bukan saya "


" Kalau kau sudah tau aku akan segera menikah, maka persiapkan saja dirimu.


Tak usah urusi hal yang tak penting !"


Mayang kembali menegakkan kepalanya dan menatap tak percaya pada Panji.


" Setelah aku menikah nanti, aku akan segera menjadikan mu selirku "


Mayang memalingkan wajahnya ke jendela yang terbuka.


Semilir angin menampar wajahnya dan menerbangkan rambutnya yang tergerai.


Seharusnya angin malam terasa dingin, namun hatinya justru terasa panas. Ingin marah namun tak bisa.


" Mulai sekarang, kau dilarang keluar.


Kecuali dengan ku ! " tegas Panji membuat Mayang semakin kehilangan kata-kata.


Mayang ingin protes tapi ia sadar jika tak mungkin bisa melakukannya.


Sudah menjadi takdirnya ,jika seorang kacung tak boleh membantah perintah tuannya.


" Wpa kau mendengar ku, Mayang ! "


" ... "


" Mayang ! "


Mayang menarik nafas.


" Memangnya saya punya pilihan apa untuk menjawab selain iya.


Apa saya bole menolak ?Atau mungkin setidaknya mengajukan keberatan ? Tidak bisa bukan ?


Jadi diam dan menjawab bukankah artinya sama saja .


Saya lelah Den Mas "


Diam sejenak. Hingga kekesalan di wajah Panji perlahan mulai surut.


Mayang tak mau menatapnya dan masih melihat ke luar jendela.


" Beritahu aku, Mayang.


Seperti apa atau hal apa yang kau inginkan "


Mayang memutar leher, menatapnya.


" Jika boleh memilih saya tidak mau menjadi selir.


Saya tidak mau berbagai sesuatu yang berharga dengan orang lain.


Dan jika boleh jujur. Saya juga tidak ingin bersuamikan dari kalangan ningrat.


Saya ingin hidup bebas seperti rakyat biasa "

__ADS_1


" Kenapa kau menginginkan hal yang begitu sulit, Mayang ?


Karena tak satupun dari itu semua yang bisa ku kabulkan.


Aku tak mungkin menjadikan mu istri pertamaku karena kasta kita yang berbeda.


Dan aku lebih tak bisa lagi membiarkan mu menikah dengan lelaki lain.


Aku tak bisa , Mayang.. Aku tak bisa !


Aku berjanji akan memberikanmu kehidupan yang baik. Asal kau tetap di sisiku.. "


Mata Mayang memerah.


Sudah ia duga akan percuma bicara dan mengatakan apa yang hatinya inginkan.


Kini ia hanya bisa pasrah. Biarkan waktu yang menjawab akan seperti apa hidupnya nanti.


* * *


Sesampainya di rumah , nampak seorang kacung menarik kereta yang digunakan sang Adipati dan istrinya pergi tadi . Itu berarti kedua orang tuanya sudah kembali.


Panji turun dari kereta terlebih dahulu yang kemudian di susul Mayang .


'' Mayang '' panggil Panji.


'' Nggih Den Mas '' sahut Mayang dengan kepala tertunduk .


'' Kuharap kau mengingat dengan baik apa yang tadi kukatakan padamu " ucap Panji yang setelah itu masuk ke dalam rumah utama sementara Mayang berjalan ke bagian samping rumah menuju ke bangunan tempat tinggalnya.


- -


" Mbok.. " Paramuanti memanggil kacung pribadinya. Mbok Asih.


" Nggih, Kanjeng "


" Sepertinya aku mendengar suara kereta.


Apa Panji sudah kembali ? "


" Nggih, kanjeng.


Den mas Panji pulang bersama Mayang ''


Paramuanti hendak melangkah tapi tak jadi sebab mbok Asih mengatakan Panji sudah masuk ke kamarnya dan tak ingin diganggu.


Paramuanti menghela nafas.


Sudah dua tahun ia begitu mencemaskan keadaan putranya. Apalagi jika bukan prihal Panji yang begitu menggilai Mayang. Ia hanya tak mengerti.


Kenapa Panji harus jatuh cinta pada anak pengasuhnya ?


Dan seberapa keras pun ia berpikir, tetap saja ia tak bisa mengerti.


Panji begitu rupawan. Banyak gadis ningrat yang layak dan berparas jelita mengantri untuk menjadi pasangannya.


Sedangkan Mayang ? Dia hanyalah gadis biasa dengan penampilan sederhana. Bahkan hampir tak ada yang istimewa dari gadis itu.


Paramuanti kembali menghela nafas. Mungkin benar kata kebanyakan orang. Masalah hati adalah hal paling sulit di pahami.


'' Mbok tadi bilang Panji belum makan, kan ? "


Mbok Asih mengangguk , mengiyakan hal yang tadi ia laporkan.


" Kalau begitu, tolong suruh Mayang bawa makan ke kamar Panji '' titahnya yang tanpa disanggah langsung dilaksanakan mbok Asih.


Setelah Mbok Asih beranjak, Paramuanti terlihat memutar langkah dan mulai berjalan menuju kamarnya .


Seorang kacung membukakan pintu yang dicat berwarna coklat mengkilat dengan ukiran khas di permukaannya.Sebelum masuk, Paramuanti mengatakan agar kacung yang senantiasa berdiri dan berjaga di depan pintu kamarnya itu pergi.


Paramuanti lantas masuk dan pintu pun langsung tertutup rapat.


'' Bagaimana ? Apa kau sudah bicara dengannya ?'' tanya sang suami saat Paramuanti berhenti di hadapannya.


Paramuanti menggeleng dengan ke dua tangan naik ke atas.


Jemari lentiknya menarik tusuk konde yang menjadi pengikat gulungan rambutnya.


Seketika rambut legam bergelombangnya jatuh menjuntai.


Pekerjaan tangannya tak berhenti sampai disitu.


Setelah rambutnya terbebas , tangannya turun dan berhenti pada pakaian yang dikenakannya.


Dimulai dari membuka kebaya , kemudian setagen yang membalut bagian perutnya, lalu kemben dan terakhir jariknya.


Semua kain yang membungkus tubuhnya seharian lolos dan jatuh di lantai.


Paramuanti memang begitu menjaga bentuk tubuhnya . Sama sekali tak terlihat adanya kulit yang bergelambir ataupun lipatan lemak .


Selain itu, ia juga rutin melakukan perawatan pada kulitnya sehingga selalu bersih dan nampak bercahaya.


Ia lakukan semua demi memanjakan mata dan memuaskan sang suami.


Kini tubuh polos Paramuanti terpampang dihadapan suaminya.


Paramuanti lalu naik perlahan ke atas tempat tidur bersamaan dengan sang suami yang menarik kain penutup bagian bawah tubuhnya .


Pasangan suami istri kini sama-sama dalam keadaan tanpa busana.


Sang suami menegakkan duduknya saat Paramuanti mendudukkan diri tepat pangkuannya.


Eluhan pertama lolos dari bibir Paramuanti.


Lalu tubuhnya mulai bergerak naik turun .


'' Khang mas '' ucapnya pada pria yang sedang menikmati permainan pinggulnya.


'' Hem.. ''


'' Ssstt..Auhh..Ah-apa yang seharusnya kita lakukan pada Panji ? '' tanya Paramuanti di sela desisannya.


'' ... ''


'' Kang mas.. Qp-ahhh... ? ''


Paramuanti memperhatikan raut wajah sang suami yang sepertinya sedang memikirkan pertanyaannya.


'' Kang mas.. ughhhh... enghhh'' Paramuanti meremas pundak suaminya erat. Pertanda ia hampir mencapai pelepasan pertamanya.


'' Berhentilah bicara . Ini bukan saat yang tepat membahas hal itu ''


Gerakan Paramuanti berhenti seketika. Padahal sesaat lagi puncaknya sampai. Namun ia kehilangan seleranya sebab pertanyaannya di acuhkan sang suami.


Ia tatap wajah suaminya.


'' Kenapa berhenti ? '' bertanya dengan ekspresi dan sorot mata dingin.


Paramuanti menarik diri dan terlepaslah.


Ia tarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan turun dari tempat tidur .Paramuanti melangkah dan berhenti di depan jendela yang tertutup.


" Apakah dia mencintaiku seperti aku mencintainya selama ini ? ataukah perasaan ini hanya sepihak ? " pertanyaan itu kembali menghampiri.


Selama dua puluh tahun menikah, ia yang selalu sepenuh hati dan tak pernah menolak melayani sang suami, namun hingga kini tak pernah mendapat tatapan berati dari sang suami.


Sudah sering kali ia menyangkal kenyataan jika suaminya tak pernah sekalipun benar-benar menatapnya dan selalu melihatnya sekilas.


Pun ketika sedang berhasrat , hanya nafsu yang ia tangkap dari binar mata suaminya .

__ADS_1


'' Aku tau kau mengkhawatirkan anak kita.


Tapi kau tak perlu cemas. Aku sudah merencanakan sesuatu untuk melindungi masa depannya .


Jadi, kau tak perlu memikirkannya lagi .


Dan sekarang kembalilah kemari '' ucap sang suami.


Paramuanti menatap sekilas lalu membuang mukanya.


Untuk pertama kalinya ia tak akan menurut sebab ia sudah di ujung batas kesabarannya.


Apapun mengenai rumah tangganya selalu diatur oleh sang suami. Tanpa pernah sekalipun berunding apalagi meminta pendapatnya.


Tapi kali ini Paramuanti tak bisa berdiam diri lagi.


Panji adalah anaknya juga. Jadi sudah sepantasnya ia tau apa yang sedang akan dilakukan sang suami untuk anak semata wayang mereka.


Merasa tak ingin melanjutkannya lagi, Paramuanti lantas berbalik dan ' buk ' ia menabrak tubuh suaminya yang entah sejak kapan sudah beranjak dari ranjang.


'' Kenapa ? Apa ada sesuatu yang membuatmu tak nyaman ? ''


Paramuanti mengeratkan pegangan pada selimut yang membalut tubuhnya.


Lagi, ia palingkan wajahnya. Rasa kesal membuatnya tak mau menatap wajah tampan prianya.


" Lihat aku !"


" .. "


'' Paramuanti, Apa kau mendengar apa yang kukatakan ?! "


Paramuanti tak tahan lagi . Air mata yang tak mampu lagi ia tahan akhirnya lolos.


" Ada apa denganmu ? Kenapa kau tiba-tiba jadi seperti ini ? Katakan padaku . Ada apa ? Atau apakah seseorang telah yang menyakitimu "


" Em. Ada..aAda seseorang kang mas " Paramuanti mengangguk samar dengan air mata yang terus mengalir.


" Katakan siapa ? Apa yang sudah dia lakukan terhadapmu ? " suara sang suami penuh penekanan dengan kedua tangan memegang pundak Paramuanti.


" Kamu.. kamu orangnya Kang Mas " Paramuanti akhirnya mau menatap sang suami.


Hatinya berdenyut nyeri. Karena lagi-lagi tak ada apapun yang tersirat di sana. Hanya hawa penuh ketidak sukaan yang terpancar di sepasang bola mata itu.


" Selama ini, aku selalu diam dan menuruti semua yang Kang Mas katakan.


Tapi, Kang Nas tak pernah sekalipun mau bicara apalagi membahas tentang anak kita denganku.


Kang Mas selalu mengambil keputusan sendiri. Bahkan apa yang Kang Nas rencanakan untuk Panji pun aku tak di beritahu.


Sebenarnya apa peran ku di di hidupmu, Kang Mas ?


Apa aku hanya pemuas nafsu mu saja ? "


Beberapa saat mereka terdiam dengan saling tatap.


Lalu sang Adipati mengangkat tubuh istrinya dan membawanya kembali keranjang.


Ia baringkan dengan perlahan. Lalu dengan sedikit kasar, ia menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya.


Paramuanti tak berdaya.


Ia selalu kalah setiap kali jemari itu menyentuh dan menggerayangi tubuhnya.


Tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut sang suami ketika ia di selami.


" Memangnya salah jika aku bernafsu dengan istriku sendiri ? " tanyanya dengan pinggul yang bergerak semakin cepat.


Paramuanti menggeleng sambil tertahan.


" Kau mau tau alasan kenapa aku selalu mengambil keputusan tanpa bicara dulu denganmu ? " membungkuk dan meraup bibir sang istri dengan rakus.


Paramuanti mengangguk , tak bisa menjawab sebab mulutnya dikunci oleh bibir suaminya.


Sang suami lantas menarik tubuhnya . Ia bergerak semakin cepat sambil menikmati pemandangan tubuh yang tengah digagahi.


" akau tau dengan pasti seperti apa pekerjaan ku. Aku dikelilingi dan mau tak mau harus selalu berhubungan dengan para kompeni.


Jadi, apapun yang ku lakukan, selalu ada yang mengawasi.


Karena itu, aku tak ingin jika nanti kau sampai terlibat dan terseret dalam hal yang berbahaya " ucapnya menjelaskan . Ia percepat tempo gerakannya ketika melihat tubuh Paramuanti terangkat sambil meremas kuat alas tidur.


Paramuanti mendesah panjang. Dan seketika itu sang suami menghentikan gerakannya. Memberi jeda untuk Paramuanti menikmati sisa-sisa pelepasannya.


Paramuanti memejamkan matanya seraya mengatur nafasnya yang begitu kencang memburu.


'' Kau mungkin berpikir sama seperti ku ''


Paramuanti membuka mata dan langsung melebar sebab ia kembali di selami.


Pramuanti memekik. Ia seolah tak diberi ampun. Bukan karena sakit . Tapi terkejut karena sang suami memaju mundurkan pinggulnya lebih cepat dari yang tadi.


'' Kita tidak bisa membiarkan Panji mengambil Mayang sebagai selir.


Tapi kita juga tidak bisa menentangnya.


Jadi jika Panji tak mau melepas Mayang, maka kita buat Mayang menjauh lalu pergi meninggalkannya "


'' Ah..ah..Apha mhak-maksud, Kang Mas ? ''


'' Aku sudah mengatur semuanya.


Dan kau akan segera tau ''


Malam panas terus berlangsung .


Paramuanti yang sempat tak mau melanjutkannya sebab tersulut kesal , nyatanya kalah dan luluh oleh nikmat yang berkali-kali ia dapat dari sang suami.


Harus ia akui. Meski sikapnya selalu dingin , namun suaminya selalu mampu menghangatkan tubuhnya dan memberikannya kepuasan.


* * *


Sementara itu.


Di kediaman lain di saat yang bersamaan.


Suara ******* juga tengah memenuhi salah satu kamar di kediaman Raden Mandala.


Tadi, tak lama setelah Saraswati pulang dari menonton pertunjukan sirkus, sang suami mendatangi kamarnya.


Pergulatan panas oleh sepasang suami-istri di sana, berbeda dengan yang ada disini.


Saraswati duduk di depan meja riasnya sambil menatap pantulan suaminya yang tengah bergumul seorang diri di ranjang.


Begitulah yang selama ini terjadi.


Jika ada yang mendengar suara Raden Manggala meracau tak jelas , pasti menduga jika ia tengah bercumbu liar dengan istri termudanya.


Apalagi di keesokan paginya, saat Raden Manggala keluar dari kamar Saraswati dengan wajah berseri-seri dan senyum sumringah , pasti tak akan percaya, jika semalam tak ada apapun yang terjadi. Karena ternyata, tak pernah sekalipun Raden Manggala menyentuh Saraswati .


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa like-nya ya


Kritik dan sarannya juga.


Makasi 🤗

__ADS_1


__ADS_2