
🌺 hem... 🌺
* * *
'' Jadi kalian penghuni desa ini ? '' Tanyanya yang membuat semua mata serentak tertuju padanya.
Seorang wanita berparas jelita dengan tampilannya yang anggun , tengah melenggok ke arah mereka.
Saraswati menghentikan kedua kakinya sejajar dihadapan para perempuan penghuni desa Arkha.
Hanya berjarak beberapa langkah saja dari Aranita yang telah berbalik menghadapnya.
Ekor matanya bergerak dari atas kebawah. Ia perhatikan Aranita yang terlihat berbeda dengan perempuan lainnya.
Tangan dan beberapa bagian jarik yang Aranita kenakan terkena cairan hitam yang berasal dari tubuh mahkluk yang telah tercabik-cabik .
Kedua makhluk tadi telah di habisi hingga tak bersisa . Kobaran api masih terlihat membara, melahap apa yang dilempar kedalamnya.
Menyadari kedua makhluk peliharaannya sudah dikalahkan dan tengah dimusnahkan raganya, Saraswati menghela nafas.
Sepertinya yang Dimas katakan benar. Mereka bukan manusia biasa. Sebab hanya segelintir orang saja yang tau cara menghadapi mahkluk seperti itu. Meski tak benar-benar bisa memusnahkannya, sebab jiwa yang yang abadi akan pergi dan berkelana entah kemana.
Tapi bukan berarti ia harus mengakui jika mereka lebih hebat darinya.
Saraswati perhatikan satu persatu wajah perempuan yang juga tengah menatapnya . Ia tersenyum penuh kemenangan, menyadari jika mereka semuanya ternyata adalah wadah. Yang mana di dalam tubuh mereka terdapat dan tersegel jiwa lain, jiwa para penganut ilmu hitam.
'' Kupikir akan akan berhadapan dengan orang sehebat apa. Ternyata hanya sekumpulan para pengecut '' Saraswati menatap remeh.
Ia menyunggingkan senyum kecut. Seolah mengejek mereka yang ada di hadapannya . Sungguh ia tak habis pikir jika Dimas telah tertipu dengan menganggap penghuni desa ini adalah kumpulan orang-orang kuat. Pun kecewa, karena sempat berpikir akan mendapatkan lawan berilmu tinggi dan akan menghadapi sebuah pertempuran yang mendebarkan. Namun nyatanya, penghuni desa Arkha hanyalah manusia-manusia tak bernyali yang takut menghadapi dunia luar.
Namun terlalu cepat bagi Saraswati untuk menilai . Karena memang ia tak tau , jika seseorang yang menjadi wadah bisa menggunakan kekuatan dari jiwa yang tersegel didalam tubuhnya.
'' Siapa kau ? Apa tujuanmu datang kemari ? DAN KENAPA KAU MENGANGGU KAMI ? '' Tanya Aranita murka. Ia terlihat begitu marah. Apalagi saat matanya tak sengaja melihat pada tubuh terkulai Joko .
Aranita tak mampu membendung dan air matanya pun mengalir lagi. Sungguh sakit ditinggal sang kekasih. Segera ia memalingkan wajahnya, menatap tajam pada wanita yang sudah bisa dipastikan adalah dalangnya. Pasti dia , tuan yang mengendalikan kedua mahkluk tadi.
Aranita berjalan cepat .Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Ekspresinya menunjukan amarahnya yang sedang di puncak dan bersiap meledak.
Saraswati yang hendak dihampiri tak sedikitpun terlihat gentar . Ia menyambut isyarat tempur tanpa merasa khawatir apalagi takut.
* * *
Sementara itu.
' Dhuak ' Tubuh yang terlempar menerobos belukar hutan , menembus apa saja yang dilewati dan berakhir menghantam batang pohon besar.
__ADS_1
' Krak-krak-krak - Dhuak ' suara batang pohon patah dan tumbang menghantam tanah.
'' Augh..'' Rintihan terdengar ketika sakit terasa di sekujur tubuhnya.
Jika yang mengalaminya adalah manusia biasa, sudah pasti seluruh tulangnya remuk , tubuhnya juga akan di penuhi luka dan bisa saja hancur . Dan pasti sudah mati.
Namun hal tersebut tak berlaku bagi lelaki ini.
Meski beberapa luka sobekkaan menganga dan mengucurkan darah , ia masih bernafas setelah membuat batang pohon yang menghantam tubuhnya tumbang.
Dimas terduduk dengan nafas tersengal-sengal.
Terlihat luka sobekkaan membentang dari tulang pipi hingga dagunya . Tetesan darah mengalir dan jatuh di tubuhnya yang terbuka.
'' Ibu sungguh tega '' Batinnya.
Dimas mendongak lalu memejamkan matanya. Menunggu tubuhnya bekerja memulihkan semua luka yang ada . Ia terlihat sesekali meringis .Menahan sakit, perih dan nyeri yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tak jauh dari tempatnya berada.
Hal yang sama juga tengah dirasakan Agam.
Jika Dimas terlempar dan menghantam batang pohon besar, berbeda dengan Agam yang terlempar ke pesisir pantai. Tubuhnya terhempas dan terseret di atas pasir.
Ia jauh lebih beruntung, sebab hampir tak ada luka yang berarti yang ia dapat.
Dengan perlahan, Agam mendudukkan diri, membiarkan air laut datang dan menyapa kakinya.
Ia menghela nafas berat dan menggeleng samar. Sungguh ia tak habis pikir dan kecewa dengan sikap Saraswati padanya, terlebih pada anak semata wayang mereka. Bagaimana bisa seorang ibu memperlakukan anaknya seperti yang Saraswati lakukan pada Dimas ?
Mengingat Dimas, ia pun khawatir akan keadaan Dimas dan dimana putranya itu terlempar.
Agam berdiri, berniat untuk mencari Dimas lalu kembali ke tempat tadi. Ia khawatir Saraswati akan melakukan hal yang tak terduga lagi. Namun -
'' A-augh.. '' Agam merasa sakit pada kaki kanannya.
Ia menunduk dan mengangkat kakinya. Bagian paling bawah kakinya menggantung. Kembali ia menghela nafas. Sepertinya pergelangan kakinya patah.
Agam lantas merebahkan tubuhnya. Ia terpaksa harus menunggu untuk tubuhnya memulihkan diri.
Dimas dan Agam yang sama-sama tengah menunggu tubuh mereka kembali membaik, tanpa sadar tertidur.
Beberapa saat kemudian.
Suara hantaman benda dan dentuman keras terdengar begitu menggelegar.
__ADS_1
Dimas dan Agam tersentak dan langsung bangun seketika. Sejenak mereka perhatikan tubuh yang terasa ringan. Senyum tipis terlihat di bibir mereka. Semua luka sudah menutup, darah tak lagi mengalir mereka telah pulih sepenuhnya.
' Bhum. Bhum ' suara itu lagi. Kini lebih dahsyat hingga tanah yang dipijak terasa seperti bergelombang.
Dimas bergegas . Begitupun dengan Agam yang hendak beranjak . Namun belum sempat melangkah , pandanganya tertuju pada dua kapal asing yang entah sejak kapan berada di dekat kapal miliknya.
Agam terperangah. Melihat kobaran api dan asap mengepul di udara. Kapal miliknya baru saja diserang . Bagian atasnya tengah dinikmati si jago merah. Sedangkan sisi - sisinya hancur. Kapalnya tak mungkin bisa berlayar lagi. Kondisi serupa juga terjadi pada kapal satunya.
Agam berniat memutar arah tujuannya, bermaksud untuk ke sana dan melihat kapal miliknya.
Namun ia melihat sebuah benda bergerak dari kapal asing . Sekali lagi ia tak jadi melangkah.
Dan ' Bhum ' kedua mata Agam melebar, ketika melihat ujung dari benda yang bergerak tadi mengeluarkan sesuatu dan meluncur ke daratan. Sebuah ledakan terjadi bersaman dengan dentuman hebat yang terasa hingga ditempatnya berpijak.
Tak berselang lama, terlihat orang-orang asing berpakaian khas prajurit Kompeni sibuk turun dengan persenjataan lengkap.
Meski ia begitu penasaran mengapa dan apa tujuan prajurit Kompeni datang ke pulau ini , namun Agam memilih menyamping rasa ingin taunya itu ketika teringat pada Saraswati dan Dimas yang berada di dalam pulau.
Tanpa pikir panjang, Agam langsung mengambil langkah seribu. Dan tak butuh waktu lama, Agam sudah sampai di desa Arkha.
Di saat yang bersamaan pula, Dimas juga sampai dan muncul dari arah yang berbeda.
Kondisi desa berantakan. Sebagian rumah hancur dan terbakar. Banyak dari pohon-pohon besar yang ada di sekitar tumbang . Semua karena tembakan yang berasal dari senjata milik kapal asing tadi.
Langkah mereka serempak berhenti di hadapan para perempuan, penghuni desa Arkha dan seorang wanita yang berjarak paling depan ,dengan posisi membelakangi.
Dimas menghela nafas lega , mendapati Mayang ada diantaranya.
Namun ketika wanita yang membelakangi mereka itu berbalik.Agam dan Dimas langsung membelalakan mata. Ekspresi mereka nampak begitu terkejut.
Dia adalah Aranita dengan wujud yang belum pernah Dimas lihat . Aranita melemparkan senyum pada kedua tamu lelakinya . Sambil mengangkat tinggi kedua tangannya, menunjukkan apa yang tengah ia pegang.
'' Ibu - Saraswati '' Ayah dan anak kompak berseru.
Lutut keduanya melemas, melihat apa yang ada di hadapan mereka .
Apa yang ada dan diangkat kedua tangan Aranita adalah Saraswati yang tak lagi berdaya. Seluruh bagian tubuhnya tercabik-cabik dan mengaliri darah yang keluar tanpa henti hingga menggenang di tanah.
Agam dan Dimas terhenyak. Tubuh mereka seolah membeku. Isi kepala mereka kosong. Hati dan pikiran mereka menolak percaya apa yang sedang mereka saksikan saat ini.
' Ctas ' Aranita menarik kedua tangan yang memegang kepala dan tubuh orang yang beberapa saat tadi menantang dengan angkuhnya . Alhasil kepala itu terpisah dari tubuhnya.
Senyum Aranita semakin lebar.
Ia terlihat begitu puas karena bisa menunjukan bagaimana caranya ia memberi peringatan sekaligus apa akibat pada siapapun yang berani masuk tanpa ijin , apalagi sampai menganggu ketentraman desa yang dipimpinnya ini.
__ADS_1
' Bhum ' sebuah ledakan terjadi tepat di tengah-tengah mereka . ' Bruszzzhh ' Aranita melempar tubuh dan kepala Saraswati di kobaran api yang tengah menyala besar.
'' Semuanya, kita harus segera pergi sekarang juga '' Ucap Aranita yang merupakan perintah untuk para perempuan yang selama ini hidup di bawah kepemimpinannya.