
🌺 hem... 🌺
* * *
Wilhelmina Van Peirezoon adalah anak seorang kompeni berpangkat kolonel bernama Jhon Van Peirezoon.
Mina , begitu ia biasa dipanggil. Terlahir dari ibu seorang Pribumi , anak ningrat terpandang .
Namun sang ibu meninggal tak lama setelah berhasil melahirkannya.
Sedangkan sang ayah menikah lagi dengan perempuan sebangsanya dan memiliki dua anak laki-laki.
Di keluarganya, Mina tak begitu dianggap dan di pedulikan. Ayah dan ibu tirinya jarang memberinya perhatian dan lebih mengutamakan kedua saudara laki-lakinya .
Berdarah campuran , Mina diwarisi paras jelita tak biasa . Hasil perpaduan sempurna dari dua gen dari ras yang berbeda.
Mereka menyebutnya ' blasteran '.
Namun julukan tersebut bukan untuk memuji anugrah yang ia miliki. Melainkan sebagai bukti bahwa seseorang yang terlahir dari dua bangsa yang saling bertentangan akan sulit untuk diterima dan ditentukan harus berada di golongan mana.
Mina tadinya bersekolah di Sekolah elit khusus anak kompeni. Dimana semua murid dan para pengajarnya adalah kaum Belanda.
Mina yang dianggap berbeda, sering menerima diskriminasi dari sesama murid , senior , bahkan para pengajar.
Keadaan keluarga dan lingkungan sekolah yang demikian , membuat Mina menjadi pribadi yang tertutup dan tak pernah mau bersosialisasi dengan siapapun.
Bahkan seorang teman pun ia tak punya.
Pun juga karena Mina yang mewarisi sifat dan sikap sang ayah .
Angkuh, sombong, tutur bahasa mau pun perilakunya terkesan kasar.
Sekilas Mina benar-benar layaknya si bangsa penindas.
Bertahun-tahun Mina bertahan disekolah tersebut. Hingga pada akhirnya ia mencapai batas kesabarannya.
Saat itu, jam pelajaran sedang berlangsung. Seorang pengajar tengah menerangkan materi pembelajaran.
Lalu entah angin apa, si pengajar dengan sengaja mengaitkan apa yang ia bahas dengan kehidupan Mina.
Sesuatu yang menyinggung perasannya.
Mina yang tak terima, seketika itu pula kehilangan kendali. Ia menyerang sang pengajar dan berujung dengan di keluarkan dari sekolah.
Mina bahkan di beri cap hitam .Yang itu berarti ia tak bisa diterima di sekolah elite khusus bangsa Kompeni manapun.
Ayahnya meradang , menganggap perbuatan Mina telah mencoreng nama baiknya .Lalu dengan tegas mengatakan pada sang putri untuk melupakan tentang sekolah .
" **S**ebaiknya kau bersiap ! Karena kau akan segera ayah nikahkan !
Secepatnya ayah akan menemukan laki-laki untuk menjadi suamimu !"
Mina menolak dengan tak kalah tegas dari ucapan bernada perintah sang ayah.
Mina yang dangat suka belajar ,tak ingin menikah dan ingin menyelesaikan pendidikannya.
Namun hal tersebut tak mendapat dukungan dari sang ayah yang bersikeras agar Mina menikah saja.
Sang ayah menekankan, jika sudah saatnya bagi Mina untuk menjalani kodratnya sebagai perempuan.
Dimasa itu, perempuan yang telah mendapatkan haidnya, dianggap sudah pantas dan layak untuk menjadi seorang istri.
Perdebatan ayah dan anak yang sama-sama berpendirian keras itupun tak terelakkan.
Dan akhirnya di buatlah kesepakatan.
Mina di ijinkan kembali bersekolah , namun ia harus menerima siapapun laki-laki yang akan segera dijodohkan dengannya.
Mina tak punya pilihan selain menyetujuinya.
Termaksud pula soal sekolah barunya.
Ia terpaksa dan juga pasrah, ketika mengetahui jika satu-satunya sekolah yang mau menerimanya adalah sekolah Putra putri Pribumi.
Kalangan yang belum pernah ia masuki .
Tak apa. Setidaknya ia masih memiliki sedikit waktu bebas dan hanya perlu bertahan selama setahun saja untuk menyelesaikan pendidikannya . Begitu pikirnya.
Dan disinilah ia sekarang. Di Hollandsch-Inlandsche School.
Pusat pendidikan yang dibangun dan dikelola oleh Kompeni. Yang para tenaga pengajarnya adalah kaum Belanda bergelar profesor .
- -
Mina memasuki kelas, di mana Mayang juga merupakan salah satu murid yang ada didalamnya.
Setelah di perkenalkan secara singkat oleh Profesor Hambert, si pengajar kelas tersebut, maka mulai detik itu Mina resmi menjadi murid disekolah ini.
Sama seperti yang ia pernah ia alami.
Tampilannya yang begitu menarik perhatian mengundang gunjingan dan membuatnya jadi bahan cemoohan.
Mereka mengatakan jika Mina adalah hasil dari ningrat yang berkhianat sebab menikah dengan seorang Kompeni.
Mina acuh. Ini bukan kali pertama ia mendapat perlakuan demikian. Diskriminasi dan di hakimi akan hal yang bahkan tak ia lakukan.
Waktu berlalu dan tak terasa jam pelajaran pun selesai.
Para murid membereskan peralatan belajar dan bersiap untuk pulang .
Hal yang sama juga dilakukan dua orang gadis dengan perbedaan fisik yang begitu mencolok.
Mayang dikenal pendiam dan tak banyak bicara, duduk setelah menumpuk dua buah buku bacaan dan buku tulisnya . Mayang lalu melemparkan tatapannya ke jendela, melihat murid-murid yang sedang berjalan ke arah gerbang keluar .
Tatapan Mayang terpaku oleh sesuatu yang begitu mencuri perhatiannya diluar sana.
__ADS_1
Seorang pria dewasa yang tengah berjalan sembari berbalas sapa dengan para murid.
Kebanyakan yang menegurnya adalah murid perempuan.
" Siapa dia? " Mayang bergumam tanpa sedetikpun memalingkan wajahnya.
Senyum terukir di wajah manisnya ketika sang pria asing tersenyum ramah dengan tatapan dan sapaannya yang hangat.
Mayang terenyuh. Ini kali pertama ia terpesona dengan seorang lelaki.
Mayang masih betah memandangi pria itu dan tak sadar jika sejak tadi ada yang memperhatikannya .
Mina. Murid pindah itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Setelah memastikan jika hanya ada mereka berdua yang tersisa di kelas, ia kemudian mengambil langkah menuju bangku Mayang.
'' Hei, kau ''
Mayang tersentak mendapati sapaan dari si blasteran yang telah berdiri di hadapannya. Dan lamunannya pun buyar seketika.
'' Ya-ya.. Nona.. '' Mayang menjawab gugup. Ia menunduk. Tak berani menatap putri sulung Kolonel Jhon Van Peirezoon.
Mina tersenyum kecut.
' Nona ? '
Entah mengapa ia tak suka dipanggil dengan sebutan yang biasa digunakan untuk seorang putri bangsa asing.
'' Apa benar kau kacung keluarga Adipati Arthaprawirya ?
Atau lebih tepatnya pelayan pribadi Raden Panji ? ''
Mayang mengangguk perlahan.
Ia sudah biasa mendapat pertanyaan bernada sindiran.
Kacung ataupun pelayan pribadi . Yang terkesan seperti seseorang yang melayani sang majikan namun dalam artian lain.
'' Ada yang perlu ku bicarakan denganmu ''
Mayang mengangkat dagunya, menilik si gadis berwajah jelita lalu kembali menunduk.
Ia tak mengerti, apa maksud Mina dengan ada yang perlu di bicarakan.
Padahal mereka baru saja bertemu. Bahkan berkenalan pun belum.
'' Sepertinya kau tak tau siapa aku ''
Mayang menegakkan kepalanya seraya menggeleng tegas. Ia tak bermaksud menyinggung sang putri Kompeni.
Memang siapa yang tidak mengenal Mina ? Walaupun ia seperti di abaikan oleh keluarganya, namun ia tetap putri seorang Kolonel.
'' Sepertinya tuanmu belum mengatakan apa-apa tentangku pada para pelayanan rumahnya ''
Mayang nampak semakin bingung . Ia tak mengerti sama sekali apa maksud Mina.
'' Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahu mu .
Namun belum sempat Mina melanjutkan ucapannya - -
'' Mayang '' suara khas menggema , memenuhi seisi ruangan kelas. Mayang dan Mina kompak menoleh ke asal suara.
Panji berdiri di mulut pintu. Menatap dingin pada mereka berdua.
Mayang yang bisa membaca arti tatapan itu, lantas segera berdiri tanpa menegakkan kepalanya.
Panji tak suka ia di dekati atau mendekati siapapun. Bahkan oleh perempuan sekalipun.
'' Maaf, Nona. Saya permisi '' pamit Mayang dengan sekali anggukan namun tetap menunduk.
'' Mari bertemu ditempat lain karena aku perlu bicara denganmu.
Aku akan menunggumu di gerbang masuk sirkus '' ucap Mina tepat saat Mayang akan melintasinya.
Mayang tak memberi jawaban dan hanya melanjutkan langkah.
Begitu sampai di hadapan Panji, sang majikan muda langsung meraih jemarinya dan langsung menariknya pergi.
Mina yang melihat itu menggeleng samar.
Ia tak habis pikir, bagaimana bisa seorang ningrat dengan status tertinggi di Batavia ini berjalan sambil menggandeng kacungnya .
- -
Panji melangkah lebar menuju kereta yang telah menunggu didepan gerbang. Sedangkan Mayang terseok-seok mengimbangi laju kakinya.
Hingga mereka sampai dan langsung masuk kedalam kereta. Barulah Panji melepaskan pegangan tangannya.
'' Cepat jalan ! " perintahnya pada si kusir.
Roda kereta bergerak maju.
" Sedang apa kau tadi dengannya ? " tanya Panji tanpa basa-basi. Sebab ia yakin Mayang pasti mengerti apa yang sedang ia pertanyakan.
" Di-dia " Mayang gugup.
Kembali ia dilanda kebingungan.
Ia sama sekali tak mengerti . Karena seperti ada hal yang belum dan sepertinya akan segera ia ketahui.
"Mayang ! Aku bertanya padamu.
Jawab apa yang kau bicarakan tadi dengannya ? " kali ini pertanyaan Panji penuh dengan penekanan.
Mayang menghela nafas.
Ia semakin tak mengerti. Tadi dibuat bingung, sekarang ditanya-tanya hal yang ia tak tau harus di jawab seperti apa.
__ADS_1
'' Mayang ! "
" An-anu den Mas - "
" Sudah kukatakan jangan memanggilku seperti itu. Panggil aku dengan namaku saat hanya ada kita berdua ! " Panji menaikan tinggi suaranya.
" Tap-tapi ada kusir di depan " menunduk dengan suara yang pelan.
" Kau - - " Panji tertahan. Ia ingin marah sebab tak suka jika Mayang mulai membatasi diri.
Seolah memperingatkan akan status sosial mereka.
Padahal dulu Mayang tidak begini.
Gadis yang telah mencuri dan menguasai hatinya selalu berkata dan bersikap santai padanya.
Namun sekarang, Mayang perlahan mulai menjauh dan menjaga jarak darinya. Mayang tak lagi mau menatapnya seperti dulu dan lebih sering menundukkan kepala padanya.
Dan Panji tak suka akan hal itu.
" Jadi, kau mau memanggilku dengan sebutan nama hanya ketika ada kita berdua saja ? "
Mayang bergeming.
" Baik. Kau tunggu saja waktu itu akan tiba dengan segera.
Saat dimana hanya ada kau dan aku saja "
Mayang tersentak dalam diam. Seketika ia menjadi tak tenang dan rasa takut itu kembali menghampiri, memikirkan apa maksud ucapan Panji barusan.
" Sekarang beritahu aku. Apa yang dia katakan padamu ? " Panji kembali melanjutkan hal tadi.
'' Dia bertanya apa aku mengenalnya atau tidak . Dia juga mengatakan mau memberitahu sesuatu padaku . Tap-tapi belum sempat "
Panji berdecak gusar.
" Maaf " suara Panji merendah.
Diam beberapa saat. Mayang menunggu apakah Panji akan mengatakan sesuatu atau menjelaskannya.
Namun Panji tak kunjung bersuara dan justru memalingkan wajahnya.
Kereta yang membawa mereka kini sedang melewati alun - alun kota.
Seharusnya tempat tersebut adalah tanah lapang yang biasanya digunakan untuk diselenggarakannya pesta-pesta rakyat ataupun perayaan tertentu.
Tapi yang terlihat sekarang, tenda besar berwarna putih kusam berdiri dengan kokoh. Nampak pula beragama barang berjejer disekelilingnya.
Sebuah pemandangan asing di penglihatan Mayang .
Sejenak Mayang lupa pada kekesalannya tadi karena perhatiannya begitu tersita pada hal tersebut.
" Itu namanya sirkus. Mereka berasal dari negri Asing.
Mereka baru tiba kemarin dan sekarang sedang bersiap untuk mengadakan pertunjukan " ucap Panji menjelaskan. Ia tau Mayang penasaran.
Mayang bergeming, tatapannya tetap mengarah ke semua hal tadi . Lalu seiring dengan kereta yang terus dipacu jalan, tempat itupun terlewati dan pupus dari pandangannya .
" Mayang " Panji meraih jemari yang Mayang diletakkan dipangkuan .
Mayang biarkan telapak Panji membalut dan mulai terasa meremas jemarinya.
" Ada sesuatu yang mau ku katakan padamu " Panji menatap lurus kedua bola mata bening milik Mayang.
" Aku- sudah dijodohkan "
Tak ada respon. Mayang tau. Jika cepat atau lambat putra tunggal Adipati Artaprawirya pasti menikah. Dan sudah pasti bukan dengannya.
Sebab seorang ningrat hanya akan menikah dengan sesama ningrat.
Sementara dirinya hanya seorang kacung.
Pun selama ini Mayang tak pernah merasakan perasaan khusus pada sang majikan.
Apalagi sampai berpikir ataupun memiliki niat tertentu.
Sebagai pelayan, Mayang cukup tau diri.
Tak terasa mereka sampai di kediaman megah sang Adipati.
" Den Mas " seorang kacung menghampiri dengan tergesa-gesa , saat Panji baru saja turun dari kereta dan tengah mengulurkan tangannya pada Mayang .
Namun Mayang tak menyambut uluran tangan Panji dan langsung turun sendiri.
Panji mendengus kesal. Ia tak suka ditolak Mayang.
" Ada apa ? ! " Panji melampiaskan kekesalannya pada si kacung .
" Maaf, den Mas.
Tapi den Mas sudah ditunggu sejak tadi sama kanjeng romo "
' ck ' kembali Panji berdecak kesal.
" Aku masuk dulu " ucapnya pada Mayang yang menunduk kepala .
" Nggih, den mas " Mayang membungkuk sekali, menunjukkan sikap layaknya seorang kacung pada majikannya.
Panji bertambah kesal. Ia pun berlalu dengan langkah yang di hentakan.
* * *
bersumbang..
Jangan lupa like, kritik dan sarannya ya
__ADS_1
Makasi 🤗