Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Siapa kau


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Gerimis seolah tak berkesudahan.


Rintiknya masih sama , membuat setiap sudut kota basah oleh jamahannya.


Di wilayah kegelapan Batavia.


Air hujan jatuh di genting bangunan yang menutupi keberadaan tempat tersebut ,lalu merembes ke dinding-dinding yang penuh dengan lumut hijau kehitaman dan mengalir ke selokan yang sempit.


Pria yang beberapa saat tadi memasuki kawasan ini, terlihat sudah berada di sebuah ruangan yang minim akan pencahayaan.


Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah meja panjang setinggi pinggang orang dewasa yang bersandar dinding . Di atasnya, selain dua buah lilin yang menjadi sumber penerangan , terlihat pula sebuah nampan berisi sesajen . Kembang tujuh rupa dan beberapa rempah mengelilingi asbak yang mengepulkan asap. Aroma khas kemenyan memenuhi seisi ruang pengap ini .


Tak akan ada yang menduga. Jika pria dengan paras berkharisma dan pembawaannya yang berwibawa ini adalah Adipati Arthaprawirya .


Sang Adipati menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia lalu melangkah masuk kebagian paling dalam ,dimana terdapat sebuah ruangan tersembunyi.


Empat orang pria bertubuh kekar dengan kulitnya yang legam, menyambut seraya memberi hormat.


Mereka lalu memberi jalan pada sang majikan untuk meneruskan langkah.


Hingga jalan sang Adipati berhenti di depan jejeran batang besi yang ditancap secara vertikal membentuk sebuah sekat sebagai pemisahan ruangan.


Terlihat seseorang ada di dalam ruang sempit nan gelap itu.


'' Bagaimana ? Apa dia sudah mau bicara '' tanya Sang Adipati pada bawahan yang ia tugaskan menjaga dan menginterogasi pria yang tangannya diikat menjadi satu dan digantung ke atas.


'' Maaf, Kanjeng Adipati.


Dia masih bungkam dan tak mau bicara '' jawab seorang yang berambut paling gondrong. Raman namanya .


' Tap. tap. tap ' langkah sang Adipati mendekat. Lalu berhenti tepat di depan jeruji besi.


Ia tatap dengan seksama pria yang terkulai lemas dengan kepala tertunduk .


Ia tak menyangka, jika orang yang tadinya ia bayar untuk melakukan sebuah pekerjaan, nyatanya adalah seseorang yang menyamar. Entah apa tujuannya. Namun yang pasti dia bukanlah manusia biasa. Atau mungkin bukan manusia.


Selama diintrogasi , pria ini telah banyak menerima siksaan fisik yang menyakitkan. Tapi ia bergeming dan sama sekali tak mengeluhkan sakit.


Tak masuk akal ,bukan ?


Sebab , bagaimana mungkin seorang bisa bertahan ketika dipukuli tanpa henti ? Bahkan luka akibat pukulan yang diterima pun seperti tak ada artinya. Jejak pukulan yang bertubi-tubi yang ia dapat dengan cepat hilang, hampir tak berbekas.


Aneh. Namun bagi mereka yang percaya dan terlibat di dunia hitam ,hal seperti ini bukan lah sesuatu yang mengejutkan.


'' Siapa kau sebenarnya ? '' tanya sang Adipati dengan suara datar.


Mendengar suara sang Adipati, pria tersebut langsung menegakkan kepalanya. Ia menyunggingkan seringai.


Jika biasanya wajah tampan yang di permanis dengan satu lesung pipit di pipi kanannya terlihat mempesona. Namun kesan yang terlihat saat ini adalah sangar.


'' Seharusnya aku yang bertanya padamu, wahai Sang Adipati.


Siapa kau sebenarnya dan kenapa seorang yang berkedudukan tinggi di Batavia ini, bisa terlibat dalam dunia kegelapan seperti ini ? '' Dimas bertanya , membalas tatapan Sang Adipati dengan cara yang sama.


Begitu lekat seolah ingin menyelaminya. Ia penasaran dan sangat ingin tau alasan seorang Pemimpin rakyat Pribumi ini berada di daerah yang kental akan sisi kegelapan .


'' Hei, kau !


Beraninya kau memanggil Kanjeng Adipati dengan sebutan seperti itu, Hah ?!


Apa kau sudah bosan hidup ? ! " suara lantang itu berasal dari Raman. Kepala penjaga yang ditugaskan menjaga dan mengamankan tempat persembunyian ini.


" Hentikan, Raman . Tak ada gunanya kau mengancamnya.


Karena sekalipun kau bunuh , dia belum tentu mati "

__ADS_1


Sang Adipati lantas semakin mendekat hingga hampir tak ada jarak dari jeruji besi.


'' Aku tak perlu menjawab mu karena aku yakin Kau pasti tau siapa aku ?" ucapnya beradu tatap dengan Dimas.


Diam beberapa saat hingga suara langkah kaki pelan terdengar mendekat.


Seketika semua mata tertuju pada datangnya seorang wanita setengah baya dengan penampilan yang begitu lusuh.


Ia berjalan dengan sangat pelan.


Kakinya pincang sebelah. Dan harus menggunakan tongkat untuk membantunya melangkah.


" Hamba memberi hormat pada Kanjeng Adipati " wanita itu membungkuk saat langkahnya berhenti tepat di depan sang Adipati.


" Dari mana saja kau, Nyi Geno ? " Sang Adipati menyorotnya .


Wanita yang dipanggil Nyi Geno menunduk sambil meminta maaf.


'' Hamba pergi menemui saudara hamba Kanjeng ''


'' Saudara mu ? ''


Nyi Geno mengangguk lalu menenggak kepalanya dan menatap Dimas.


'' Ini sungguh membingungkan.


Bagaimana bisa lelaki ini memiliki aura dan aroma yang sama dengan Nyi Sukma ''


Diam beberapa saat. Mereka yang mendengar ucapan Nyi Geno barusan nampak tak puas sebab tak jelas apa maksudnya.


'' Hei, kau pemuda. Siapa sebenarnya kau dan apa tujuanmu mendekat Mayang ?


Aku yakin kau pasti memiliki hubungan dengan Nyi Sukma.. ? ''


Dimas tersenyum sinis.


Kau sendiri siapa ? Dan apa hubungan kalian semua dengan Nyi Sukma ?


Apa kalian bersekutu dengannya ? '' Dimas memilih tak menjawab, dan justru balik bertanya.


'' Dasar kurang ajar !


Beraninya ?! Apa kau tak tau jika sedang berhadapan dengan penguasaan Batavia ini, HAH ! "


" Penguasa Batavia ? Siapa kau maksud dengan penguasa ?


Sang Adipati ?


Apa kalian lupa jika Tanah JawaDwipa ini telah lama dikuasai bangsa asing ?


Kita sedang di era penjajahan.


Dia memang memimpin para Pribumi di kota ini. Tapi dia bukan penguasa. Bahkan kedudukannya tak lebih dari seorang pesuruh Kompeni "


Nyi Geno nampak geram. Ia maju dan hendak membuka pintu dan masuk.Ia ingin membuat perhitungan dan memberi pelajaran pada pemuda kurang ajar ini. Namun, Sang Adipati menahannya.


" Hentikan tindakan yang tidak berguna.


Kau juga sudah tau bukan.Jika percuma saja kita mengancam ataupun melukainya.


Dia bukan manusia biasa.


Dia memiliki kekuatan yang tak biasa. Dia bahkan bisa memulihkan diri dengan cepat dan kebal terhadap serangan fisik '' ucap sang Adipati dengan tatapan mengarah pada Dimas .


Nyi Geno menurut . Ia pun mengambil langkah mundur dan berbalik.


'' Buka pintunya '' perintah sang Adipati.


Raman maju dan membuka pintu .

__ADS_1


'' Biarkan dia keluar sendiri '' cegah sang Adipati saat Raman akan masuk.


'' Tapi, kanjeng - - '' belum sempat Raman meneruskan ucapannya, suara rantai pengikat tangan Dimas terdengar jatuh .


Semua mata menatap tak percaya. Bagaimana mungkin rantai yang begitu kuat bisa terlepas dengan sendirinya.


Pantas saja sang Adipati memerintahkan untuk mengikat Dimas dengan rantai. Bukan dengan tali biasa. Sebab lelaki ini memang bisa melakukan hal di luar batas kemampuan manusia normal.


Dimas menegakkan tubuh. Hitam- debu dan merah- bercak darah terlihat di sekitar wajah dan bajunya yang sobek.


Ia lantas berjalan keluar dari ruang tahanan bersekat jeruji besi.


Seketika itu pula. Hawa tak biasa menyeruak dan memenuhi seisi ruangan. Membuat bulu roma mereka semua berdiri . Susana tiba-tiba berubah mencekam. Dua obor yang tertancap di dinding, dan menjadi sumber penerangan tiba-tiba apinya meredup.


Raman dan tiga anak buahnya, termaksud juga Nyi Geno bergidik.


Hawa mengerikan begitu kentara kala Dimas berhenti melangkah dan berhadapan dengan sang Adipati.


Namun tidak pada Sang Adipati. Ia terlihat tenang. Seperti ia sudah bisa menebak situasi ini dan telah siap bersiap menghadapinya.


'' Kau benar-benar tak terduga.


Padahal kau bisa saja melepaskan diri dan pergi dari sini.


Dan aku juga yakin , pasti tak sulit bagimu membunuh para anak buah ku ''


Dimas menarik nafas panjang sekali lalu berkata. '' Kau benar. Aku memang berpura-pura tak berdaya untuk menunggu kau datang .


Ada hal yang harus ku ketahui dan ku yakin hanya kau yang bisa menjelaskannya padaku ''


Kedua pria itu saling beradu tatap.


'' Kau ingin tau siapa aku ? '' tanya Dimas dengan manik tak bergerak. Kelopak nya pun tak berkedip.


'' ... '' sang Adipati tak menjawab sebab ia tau akan ada kalimat selanjutnya . Jadi ia memilih menunggu Dimas meneruskan ucapannya.


'' Aku akan mengatakan siapa diriku.


Tapi sebelum itu, beri tau aku terlebih dahulu.


Apa hubungan kalian semua dengan Nyi Sukma.


Dan kenapa bisa jiwa Nyi Sukma bersemayam ditubuh Mayang ?


Karena seharusnya, yang bisa menjadi wadah bagi jiwa Nyi Sukma hanyalah seorang perawan ningrat ''


'' Jadi kau bisa tau, jika di tubuh Mayang terdapat jiwa lain yang bersemayam didalamnya ?


Sekarang aku tak lagi heran kenapa kau memiliki aura seperti Nyi Sukma.


Kau bahkan tau banyak tentang Nyi Sukma.


Baiklah, sepertinya aku juga tak punya pilihan.


Sesuai keinginan mu.


Aku akan mengatakan apa hubungan kami semua dengan Nyi Sukma . Dan kenapa jiwa Nyi Sukma bisa berada di dalam tubuh Mayang.


Atau lebih tepatnya. Akan kami ceritakan bagaimana caranya kami menyegel jiwa Nyi Sukma ke dalam tubuh gadis itu... ''


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa like-nya ya


Kritik dan sarannya juga


Trimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2