Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Tanpa mereka sadari


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Dimas teringat beberapa bulan lalu. Saat dimana ia berhadapan dengan Sang Adipati yang mengatakan secara langsung tentang tugas seperti apa yang harus ia lakukan.


" *Tu*gasmu adalah mendekati dan memikat hatinya.


Terserah dengan cara apa. Bahkan jika kau menggunakan guna - guna sekalipun, aku tak perduli.


Dan jika kau berhasil membujuknya pergi meninggalkan anakku, aku akan melipat gandakan bayaranmu dan menanggung semua kebutuhan hidup kalian.


Tapi ingat ! Jangan pernah berpikir apalagi sampai menyakitinya !


Jika kau tak menginginkannya, maka tingalkan saja dia di tempat yang layak dan aku akan mengurus sisanya.


Dan satu hal lagi. Apapun yang terjadi, jangan pernah mengatakan tentang aku


padanya "


-


Cukup lama ia terpaku. Dan kemudian ia teringat akan hal lainnya.


Di malam kematian Lawati.


Usai mendatangi kediaman Sang Adipati untuk menghampiri Panji dan Mayang, ia dan sang ibu, Sarawati bertemu di sebuah rumah dalam hutan yang tak dapat dijangkau manusia biasa.


Tempat tersebut merupakan tempat dimana Nyi Sukma dulu mengasingkan diri setelah tak lagi ada yang mau menerimanya . Yang kemudian menjadi tempat persembunyian sekaligus tempat tinggal wanita penganut ilmu hitam itu.


" Bawa dia ke tempat ini.


Lalu kita lakukan ritualnya " ucap Sarawati bernada perintah pada putranya.


" Ri-rutual ? Ritual apa maksud ibu ? " tanya Dimas yang sebenarnya sudah bisa menebak maksud perkataan sang ibu.


" entu saja ritual untuk mengeluarkan Jiwa Nyi Sukma yang bersemayam di raga gadis itu.


Karena hanya dengan cara itulah , kita bisa menyegel jiwa Nyi Sukma " jelas Saraswati dengan penuh penekanan.


" Mengeluarkannya? De-engan cara apa ,bu ? "


" Tentu saja kita harus mengorbankan si pemilik raga .Lalu kita akan memancing jiwa Nyi Sukma dengan darahmu.


Setelah itu, Nyi Sukma pasti akan keluar dengan sendirinya "


" Maksud ibu ? Kita harus membunuh gadis tak bersalah itu ? "


" Em " Saraswati mengangguk penuh keyakinan.


" Tapi, bu... "


" Ada apa Dimas ? Kau terlihat ragu ?


Bukankah kau sudah ibu beritahu sebelumnya ?


Kalau hanya itu satu-satunya cara untuk menyegel Nyi Sukma .


Atau kau mau selamanya terjebak dalam kutukan abadi ini ? ! "


" Iya, bu..Akubtau.


Tapi, tetap saja. Nyawa gadis itupun juga berharga. Apa tidak sebaiknya kita cari cara lain da- '' belum sempat Dimas menyelesaikan kalimatnya Saraswati menatapnya dengan sorot yang begitu lekat.


'' Dimas ?! Apakah kau lupa apa tujuan kita selama ini ?


Kau pun tau jika tak ada cara lain, bukan ?!


Pun ini juga satu-satunya kesempatan kita untuk mengetahui siapa yang bersekutu dengan Nyi Sukma.


Karena dia, ningrat yang yang selama ini membantu Nyi Sukma pasti tak akan tinggal diam jika tau gadis itu ada ditangan kita .


Dia pasti akan mencarinya. Dan akan kita pancing dia untuk menunjukkan diri.


Dengan begitu kita akan bertemu dan tau siapa dia ''


* * *


Alun - alun kota.


Jika kemarin malam dipenuhi keramaian, tapi sekarang yang terlihat hanyalah puing-puing sisa pertunjukan sirkus yang telah usai.


Tadi pagi, pemilik sekaligus penyelenggaraan Sirkus telah berkemas dan pergi meninggalkan Batavia.


Tenda besar sudah dibongkar . Gerobak-gerobak penjual makanan juga tinggal kerangka.


Papan dan kayu-kayu yang menjadi penyangga dan pagar juga telah tumbang dan tersusun asal di tepian dataran luas ini.

__ADS_1


Sunyi. Hanya terlihat sesekali orang yang singgah sebentar untuk melihat-lihat maupun melintas .


Nampak seorang gadis berjalan sambil mengedarkan pandangan ke sekitar yang minim akan pencahayaan.


Ia menghela nafas. Ada ketakutan menghampiri sebab susana yang begitu sepi.


'' Mayang '' suara yang membuatnya berlonjak kaget.


Mayang berbalik dan mendapati yang menyebut namanya berdiri dibelakangnya sambil tertawa kecil.


'' Ahahha.. Maaf aku mengejutkan mu ''


Mayang tak berkedip sambil menggeleng.


Senyum yang begitu lebar , membuat kadar pesona Dimas naik berlipat-lipat ganda di matanya.


Mayang meremas ujung kebayanya. Menahan rasa gemas.


Tawa Dimas reda. Berganti dengan senyuman khasnya. Kemudian ia meraih jemari Mayang dan menariknya.


Ia tuntun langkah gadis yang tak keberatan ia gandeng itu ke sebuah bangku kayu yang letaknya tak jauh dari tumpukan kayu.


'' Terimabkasih sudah mau datang menemuiku '' ucap Dimas usai ia dan Mayang duduk dengan menyamping tubuh.


Mereka berhadapan.


Senyuman Dimas terus mengembang. Sementara Mayang justru menatapnya datar.


'' Mayang. Sebenarnya ada alasan khusus kenapa aku mengajakmu bertemu di sini ''


Mayang masih bergeming.


Hening melanda. Senyum Dimas surut saat Mayang menarik tangan dari genggamannya.


'' Ada apa, Mayang ? '' Dimas mencoba menyelidiki lewat mata Mayang.


Namun gadis itu menghindar dengan menunduk.


Mayang menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.


Lalu ia balas tatapan Dimas .


'' Maaf, mas.. ''


'' Maaf ? Maaf untuk apa Mayang ? ''


'' Sesuatu ? Apa itu Mayang ? Apa ini ada hubungannya dengan majikanmu Raden Panji ? ''


Mayang diam sesaat ,masih menatap Dimas. Lalu ia mengangguk perlahan.


Sesaat tadi ia heran sebab lupa.


Jika semua orang tau tentang dirinya dan Panji.


Putra tunggal kepala daerah Batavia yang memiliki hubungan khusus dengan kacungnya sendiri.Meski hal tersebut tidaklah benar.


'' Sepertinya kita tidak bisa bertemu seperti ini lagi ''


Mayang hendak beranjak, namun Dimas dengan cepat meraih pergelangan tangannya.


Mayang menoleh. Sedangkan Dimas mendongak.


'' Apa kau tak mau memberiku kesempatan untuk memberitahukan alasanku mengajakmu bertemu di sini ? ''


Mayang menggeleng. Ia tak mau. Sebab ia takut hatinya goyah dan akan merubah keputusannya.


Ia sudah bertekad untuk menyingkirkan harapannya dan melupakan Dimas .


Sebab tak mau jika nanti akan ada yang terkena imbas dari keegoisannya.


Jika hanya dirinya, mungkin ia tak akan keberatan menerima resikonya. Tapi bagaimana jika Dimas yang justru menanggung akibatnya ?


Atau orang tuanya ?


Tidak. Mayang tak bisa dan tak akan membiarkan orang yang dikasihinya disakiti apalagi sampai terluka karenanya.


Mayang menarik tangannya, namun tak bisa sebab Dimas mengeratkan pegangannya.


'' Aku menyukaimu, Mayang. Dan aku tau kalau kau juga menyukaiku ''


'' Tidak, mas. Kita tidak bisa.


Ak-aku.. Aku tidak bisa ''


Dimas berdiri, lalu memegang kedua lengan Mayang.


Sedikit menekan, ia memaksa agar Mayang menatapnya.

__ADS_1


'' Status kita sama Mayang.


Kita sama-sama seorang kacung yang terikat dengan majikan.


Tapi, bukankah kita juga punya hak untuk menentukan hidup seperti apa yang kita inginkan.


Apalagi kita juga punya perasaan dan keinginan yang sama .


Aku menyukaimu . Dan aku sangat yakin, jika kau pun menyukai ku. Benar, bukan ? ''


'' ... ''


'' Aku berencana pergi dan meniggalkan semuanya. Aku ingin memulai hidup baru di suatu tempat yang jauh dari sini.


Dan aku ingin membawamu bersamaku.


Bagaimana ? Tidakkah itu terdengar seperti masih ada harapan untuk kita bersama, Mayang . Em ? ''


'' Terdengar mudah bagimu. Tapi tidak bagiku, mas '' Mayang menggeleng. Matanya terlihat mulai basah.


'' Kalau begitu katakan jika kau tak menginginkanku, Mayang. Maka aku akan mundur sekarang juga ''


Mayang temangu. Bibirnya bergetar. Tak mampu mengucapkan satu katapun.


Ia ingin tapi ia mengingat diri, bahwa itu tak mungkin.


'' Ma-maaf.. Tapi aku tetap tak bisa.. Carilah perempuan lain yang bisa mewujudkan impianmu itu, mas '' air mata Mayang luruh.


Ia terisak saat Dimas bukan melepasnya, melainkan menariknya masuk kedalam dekapan .


'' Mas '' Mayang berusaha menarik diri. Namun hanya pemberontakan kecil. Sebab tubuhnya menolak bekerja sama. Ingin menjauh tapi peluk Dimas terasa begitu nyaman. Membuat tubuhnya enggan menajarak.


'' Aku tak akan menyerah.


Aku akan menunggu mu, Mayang.


Menunggumu sampai kau siap dan mau ikut dengan rencana masa depanku '' Dimas tulus. Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Terlepas perjanjiannya dengan sang Adipati dan ibunya, untuk membawa Mayang pergi dengan tujuan yang berbeda, namun nyatanya ia tak sanggup melakukan satu dari kedua perintah yang telah ia sanggupi.


Ia ingin membawa pergi Mayang dan hidup bersama. Dimas sadar jika ia bukan sebatas menyukainya saja. Tapi mencintainya.


Ia tak tau kapan rasa itu muncul dan tumbuh.


Yang bahkan bukan telah menguasai hati saja, tapi juga akal sehatnya.


Dimas telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri .


Dimas menarik tubuh Mayang dan memberi jarak darinya.


Lalu tanpa ba-bi-bu lagi, ia mengecup singkat bibir ranum milik Mayang.


Seketika mata gadis itu melebar melebihi ukurannya.


Namun perlahan surut. Tatapannya berubah sendu.


Mayang lantas mendekat dan tempelkan bibirnya di bibir Dimas.


Ia menarik diri. Menatap pria itu dengan perasaan berdebar.


Rasanya sungguh berbeda jika dibandingkan saat Panji mengecupnya.


Entah bagaimana ia jadi berkeinginan untuk mengulangi lagi.


Mayang mendekat dan menempelkan bibirnya di tempat yang sama.


Perpaduan kenyal dan lembut yang membuatnya tak ingin lepas.


Kali ini ia mendiamkannya lebih lama. Lalu berganti dengan menautkan bibirnya lebih kuat lagi. Ia bahkan menggigitnya.


Sungguh sensasi rasa yang sulit diutarakan. Sebuah candu yang terasa begitu manis. Yang bukan di rasa melalui indra pengecapnya.


Tapi melalui hati .


Lama Mayang dan Dimas saling merasakan bibir satu sama lain. Ditambah keadaan yang memang sepi membuat mereka semakin terbawa suasana.


Hingga mereka tak menyadari, jika sejak tadi Panji berdiri dan menyaksikan semuanya .


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa likenya ya


Kritik dan Sarannya juga


Trimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2