Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Tak perduli


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Desa Arkha.


Selain mereka yang merupakan penduduk desa, tak seorang pun tau atau yang pernah menginjakkan kaki di sana menyadari, jika ada perbedaan waktu antara desa yang terletak di pulau paling ujung JawaDwipa ini dengan tempat lainnya.


Satu hari berada di desa Arkha, sama dengan tujuh hari yang telah terlewati diluar sana.


Rasanya tak masuk akal, bukan ? Tapi memang begitulah desa Arkha dengan sejuta hal mistis yang membuat tempat tersebut tak diminati untuk dikunjungi.


Mentari datang menyambut hari baru.


Pagi ini adalah hari ketiga sejak Mayang dan Dimas menginjak kaki di desa Arkha. Dan hari ini pula adalah batas waktu yang diberikan Aranita pada Mayang untuk memutuskan apakah ia akan menjadi bagian dari desa Arkha atau pergi . Dan hingga kini , Mayang masih dilema memikirkannya.


Sudah dua hari dua malam , Mayang tinggal satu atap bersama Dimas di rumah yang diijinkan Aranita untuk mereka tempati sementara.


Berada di satu ruangan yang sama, tak lantas sesuatu telah terjadi diantara mereka. Setelah mendengar kejujuran Dimas , tentang siapa dirinya dan apa tujuannya, kepercayaan Mayang pada Dimas langsung sirna.


Sikapnya pun berubah. Ia acuh. Jangankan bicara, melihat Dimas sedikit pun ia tak mau.


Namun Dimas dengan sabar menunggu sambil melakukan apa yang bisa ia lakukan. Ia berusaha untuk menunjukan kesungguhannya dengan memberi perhatian dalam setiap hal, termasuk ikut menemani kemanapun Mayang pergi.


Seperti dua malam ini. Seorang perempuan suruhan Aranita datang untuk mengundang mereka berkumpul dengan seluruh penghuni desa .


Tanpa pikir panjang, Mayang pun memenuhi ajakan tersebut. Karena memang ia sedang tak ingin berada didekat seorang pembohongan. Begitu julukan yang ia sematkan pada Dimas.


Duduk mengitari api unggun yang berkobar tepat di tengah-tengah pemukiman desa, Mayang yang baru saja bergabung , memilih bungkam dan jadi pendengar saja. Hal yang sama dilakukan juga oleh Dimas yang memang ikut dan duduk di sebelahnya.


Mereka berdua nampak sama-sama memperhatikan mereka yang ada di sekelilingnya . Mereka semua nampak begitu akrab dengan saling berbicara satu dengan yang lainnya.


Mayang dan Dimas yang sejak tadi hanya bergeming, lantas di hampir salah satu dari mereka. Ia adalah utusan yang tadi. Marasih namanya. Marasih terlihat mencoba mengakrabkan diri dan mengajak kedua sejoli itu bercengkrama.


Ia mengatakan jika inilah kegiatan malam yang bisa mereka lakukan . Panjang lebar berbicara, Dimas dan Mayang hanya menanggapinya dengan anggukan kepala saja.


Apa mungkin karena canggung, atau memang tak berniat membaur . Entahlah. Mirasih akhirnya memilih untuk kembali ke tempatnya semula karena berpikir sepertinya mereka tak ingin diganggu.


Malam berlalu dan hari baru menjemput.


Namun waktu seolah begitu cepat berlalu. Tak terasa senja telah beranjak dan malam pun datang menghampiri.


Sama seperti kemarin, suara tiga kali ketukan terdengar dari luar. Mayang yang membuka pintu mendapati Marasih berdiri dengan merentangkan tangan ke arah yang memperlihatkan cahaya kilatan lidah api yang menyala cukup besar.


Mayang paham. Tanpa pikir panjang ia keluar dan berjalan beriring bersama Marasih. Terlihat pula Dimas yang mengekor beberapa langkah dibelakang .


Sama seperti dua malam sebelumnya, semua penghuninya desa berkumpul dengan pasangannya. Mereka semua duduk mengelilingi tumpukkan kayu yang tengah dilahap si jago merah.


Kali ini Mayang sengaja mendekat dan duduk di sebelah wanita yang bersebelahan dengan Joko. Aranita.


'' Aranita... '' sapa Mayang . Sesuai yang Aranita inginkan, agar Mayang bersikap formal dengan memanggilnya dengan nama bukan memandang dari statusnya sebagai kepala desa.


Wanita yang disebut namanya menoleh sambil tersenyum. '' Em ? '' matanya melirik sekilas, lalu kembali mengedarkannya ke sekeliling .


'' Eng- ad-ada yang mau ku bicarakan denganmu '' ucap Mayang setengah berbisik.

__ADS_1


Aranita menatapnya dengan sorot menyidik.


'' Baiklah '' katanya yang setelah itu langsung berdiri dan diikuti Mayang.


Kedua wanita itu berjalan menuju rumah terdekat dan masuk kedalamnya.


'' Kebetulan akupun sebenarnya ada yang harus ku bicarakan dengan mu . Tapi, kau bicaralah lebih dulu '' Aranita mempersilahkan Mayang untuk membuka pembicaraan.


Mayang nampak bimbang. Pandangannya sedikit kebawah, ekor matanya bergerak tak beraturan dan jemarinya yang saling bertautan.


Sepertinya ia masih belum bisa memutuskan harus mengambil keputusan apa. Hal itu terlihat dari bahasa tubuhnya yang menunjukan kegelisahan.


'' Apa kau masih belum bisa melakukannya ? '' tanya Aranita yang membuat kepala Mayang seketika tegak.


Mayang mengangguk perlahan.


Aranita menyetak nafas. Ia tak mengerti. Padahal Mayang memiliki kekasih, seharusnya tak sulit baginya untuk melakukan hal ' itu ' bersama pria yang dicintai, bukan ?


'' Apa kau butuh bantuan ? Seperti bagaimana cara melakukannya ? Atau kau ingin kucari kan lelaki lain ?'' tawar Aranita yang berusaha untuk membantu.


Mayang menggeleng dengan kepala tertunduk. Ia memang tak begitu mengetahui hal ' itu '.Tapi bukan berarti ia tabu tentang hal tersebut. Hanya saja, masalah antara ia dan Dimas menjadi kendala untuk melakukan hal ' itu '. Dan untuk melakukannya dengan pria asing ,rasanya ia pun tak siap.


'' Aku tak bermaksud menakutimu.Tapi aku ingin kau tau. Jika usiamu telah melewati 17 tahun , jiwa lain yang bersemayam di tubuhmu itu akan mengambil alih tubuhmu. Kau akan mati dan ia yang akan menggantikan mu hidup .


Kau pasti tau jika jiwa itu adalah jiwa yang jahat, bukan ? Itu lah mengapa ia harus di segel . Karena jika ia bebas, sudah pasti ia akan kembali melakukan kejahatan dan menyakiti manusia .


Apa kau ingin hal itu terjadi ? ''


'' ... ''


Kita bebas melakukan apapun dan bisa memilih akan hidup seperti apa.


Terlebih lagi, kita bisa menggunakan kekuatan dari jiwa yang ada di tubuh kita ini. Kita bisa mengendalikannya. Layaknya seorang tuan memerintah kacungnya ''


Mayang tak berkutik. Pikirannya benar-benar kusut.


'' Kau bilang kapal yang mengantar mu kemarin akan kembali setelah satu purnama, bukan ? Jadi, sebaiknya kau bersiaplah pergi dari sini. Karena sebentar lagi kapal itu akan datang menjemputmu '' raut wajah Aranita mendadak datar. Ia kecewa pada Mayang yang tak bisa menentukan pilihan dan mengambil keputusan .


'' Tap-tapi aku baru tiga hari disini.. Bagaimana mungkin - '' ucapan Mayang terputus sebab Aranita memotongnya dengan cepat.


'' Dengar, Mayang. Mulai saat ini, kau tak berhak bertanya apapun lagi. Dan aku juga tak akan bicara dengan mu lagi.


Aku mengijinkan mu dan Dimas tetap disini, sampai kapal yang menjemput mu datang ''


Aranita mengambil langkah, sedikit lebih cepat dan berlalu melewati Mayang yang tak berkutik.


Tak berselang lama, Mayang pun menyusul keluar dari rumah tersebut.


Nampak Dimas berdiri di depan sana. Ia sepertinya memang tengah menunggu Mayang keluar.


Mayang menatapnya sesaat dari kejauhan. Lalu berjalan terus melewati Dimas yang seketika membuntuti langkahnya menuju rumah yang mereka berdua tempati.


Sesampainya dirumah , Mayang langsung mengambil dan mengumpulkan barang bawaannya .


'' Jadi kau memutuskan untuk menyerah dan pergi dari sini ? '' tanya Dimas yang berdiri dibelakang Mayang.

__ADS_1


Mayang tak menggubrisnya . Ia terlihat sudah selesai mengemasi barang bawaannya yang hanya berupa beberapa helai pakaian saja.


Semuanya yang telah ia satukan dalam balutan jarik, kemudian ia ikat .


Mayang berbalik. Memperlihatkan wajahnya yang basah oleh air mata . Kedua matanya yang merah menatap wajah lelaki yang ada di hadapannya.


'' Ka-kau bilang tujuan mu dan ibumu adalah untuk menemukan Nyi Sukma dan menyegelnya, bukan ?Ka-kalau begitu - ak-aku akan kembali ke Batavia dan menyerahkan diri pada ibumu '' ucap Mayang sesenggukan.


Raut wajah Dimas seketika menjadi merah padam. Ia marah karena Mayang mengambil keputusan yang sama sekali tak bisa ia terima.


Mengerahkan diri pada ibunya, sama saja Mayang memilih untuk bunuh diri.


'' Aku tak bisa melakukannya denganmu karena aku membencimu. Dan aku juga tak bisa melakukannya dengan orang lain karena memang aku tak bisa.


Tapi aku juga tak akan mau membiarkan jiwa Nyi Sukma bebas dan mengambil alih tubuhku begitu saja.


Jadi pilihan yang tersisa untuk ku hanyalah ibumu ''


Mayang memalingkan wajahnya. Tangisnya kian menjadi hingga bahunya bergetar. Siapa yang tak takut dengan kematian. Apalagi jika harus menjemput kematiannya sendiri. Itulah yang Mayang rasakan saat ini. Ia takut . Sangat takut.


Melihat Mayang yang menumpahkan tangis sejadi-jadinya, amarah Dimas perlahan surut . Ia menatap iba .


'' Mayang .. Lihat aku, Mayang ''


Mayang menggeleng tegas. Dimas menangkup wajah Mayang dengan kedua telapak tangannya dan memaksa wajah itu untuk menatapnya.


'' Kumohon Mayang, sekali ini saja. Percayalah padaku. Em ? '' Dimas menatap dalam sepasang manik milik gadisnya.


Mayang menggeleng, tanda menolak.


Namun Dimas tak perduli. Wajahnya mendekat dan langsung menyambar bibir Mayang.


Mayang memejamkan matanya. Mencoba menolak dengan berusaha tak memberi respon.


Namun pertahanan tak cukup kuat. Sebab tubuhnya menolak bekerja sama. Bibir yang ia kunci mulai terbuka. Dimas berhasil membuatnya membalas ciuman tersebut. Bibir mereka saling meremas. Begitupun dengan lidah yang saling menyapa dan bertukar rasa di dalamnya.


Tangan Dimas kini turun dan mulai menyentuh, membelai bagian-bagian yang membuat tubuh Mayang terasa panas.


Nafas keduanya terengah-engah. Dada mereka kompak naik turun . Lalu keduanya sama-sama menarik diri, menjarak beberapa inci dengan tatapan saling mengunci.


Diam beberapa saat . Air mata yang tadi sempat berhenti terlihat keluar lagi dan mengaliri kedua pipinya. Mayang mengangkat kedua tangan dan meletakkannya di dada Dimas. Ia menekan tubuh Dimas agar menjauh darinya.


'' Maaf, Mayang. Tapi aku tak bisa membiarkanmu memilih untuk mati.


Dan aku juga tak bisa menahan diri lagi ''


Dimas memegang kedua pergelangan tangan Mayang lalu menariknya. Ia patri tatapannya pada wajah Mayang yang sembab. Sungguh ia tak tega. Dan berpikir untuk berhenti jika nantinya Mayang memberontak. Namun nyatanya hal tersebut tak terjadi. Mayang membalas ciumannya, membiarkannya melepaskan semua pakaian hingga mereka berdua sama-sama dalam keadaan telanjang bulat. Lelaki yang telah di kuasai nafsu itupun mulai menjelajahi tubuh lawannya hingga ke bagian yang paling sensitif .


Merasa sama sekali tak ada tanda-tanda penolakan , maka Dimas pun terus melanjutkannya. Dimas mulai mencumbu gadisnya dengan penuh kelembutan . Mayang sempat meringis dan memintanya untuk berhenti, namun Dimas menggeleng sambil mengatakan bahwa ia sudah tak bisa mengontrol diri sebab birahi telah mengambil alih tubuh dan pikirannya.


'' Engh..Uhh '' ******* tertahan yang membuat Dimas kian bersemangat dan semakin cepat memacu permainan pinggulnya.


Berulang kali Mayang terdengar menyebut namanya dan memintanya untuk berhenti , namun Dimas acuh.


Ia tak lagi perduli sekalipun Mayang akan membencinya setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2