Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Terbuai


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


' Glek' Panji meraih gelas berisi tuak dan menghabiskannya dengan sekali tegak. Lalu 'tuk ' meletakkan gelas yang isinya telah tandas dengan kasar.


Rasanya aneh. Pahit dan meninggalkan aroma khas yang memenuhi mulutnya. Mungkin karena ini pertama kalinya ia meminum minuman keras khas rakyat Pribumi.


Panji membuang muka. Enggan menatap ayahnya yang baru saja selesai menceritakan hal yang telah membuatnya begitu penasaran dan kepikiran selama dua hari ini.


Ia kesal. Sebab merasa dimanfaatkan .Jadi, ia hanyalah alat untuk memperlancar rencana sang ayah ? Huh' sulit dipercaya. Panji mendengus melampiaskan kekesalannya.


'' Kau mungkin berpikir telah di manfaatkan, bukan ? ''


Panji mendeliki. Seperti biasa, ayahnya selalu bisa membaca isi pikirannya. Ia patri tatapannya pada sang ayah. Pria tersebut memasang ekspresi yang tak pernah ditunjukkan. Raut wajah dan sorot matanya terlihat sayu.


'' Benar. Awalnya memang begitu. Romo memang egois dan hanya memikirkan kepentingan ku saja.


Romo juga tak perduli jika nanti kau kecewa atau marah sekalipun karena di nikahkan dengannya.


Tapi semua niat dan pikiranku berubah ketika aku bertemu dengan Mina.


Masih ku ingat dengan jelas bagaimana saat pertama kali aku memperhatikannya.


Tatapannya kosong .Ekspresinya datar .Cara bicara dan bahasa tubuhnya kaku.


Seperti yang terlihat ketika kalian berada di pelaminan. Ia bahkan bisa bertahan duduk seharian tanpa bicara dan tak sekalipun beranjak hingga acra selesai ''


Tatapan Panji menyusut. Apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Sekilas Mina memang seperti makhluk hidup yang hanya bisa bernafas dan mengedipkan mata saja.


Pun ketika prosesi hingga pada pesta pernikahan mereka kemarin. Mina hanya makan sedikit dan hanya membalas sapaan para tamu dengan senyuman tipis. Selebihnya, perempuan itu duduk diam dengan tatapan lurus ke depan.


'' Romo tau , kau merasa ditipu. Dan itu pasti telah melukai harga dirimu.


Tapi, ada satu hal yang perlu kau ketahui dan yang harus Romo tekankan.


Mina tidak bersalah. Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua. Dia tak tahu menahu tentang apapun. Apalagi tentang pernikahan yang dilandasi kesepakatan antara aku dan ayahnya.


Karena itu, jika kau takkan bisa menerimanya, jangan sakiti dia. Jangan pula berpikir untuk memberinya hukuman.


Lepaskan dia dan Romo akan bertanggung jawab untuk semuanya ''


'' Apa maksud, Romo ? Tanggung jawab seperti apa yang akan Romo berikan padaku dan dia ? ''


Adipati Arthaprawirya menarik nafas panjang. Bersiap untuk melanjutkan apa yang sudah saatnya ia katakan.


'' Dengar ini baik-baik Panji.


Romo akan memimpin pemberontakan untuk menyerang dan mengusir para Kompeni .Romo sudah merencanakan dan mempersiapkan ini sejak lama.


Tapi sebelum itu terjadi, Kolonel Jhon Pierzoon dan keluarganya akan pergi ke luar Batavia. Ayah mertuamu telah menerima perintah untuk pindah ke wilayah selatan JawaDwipa . Dia akan menjadi pemimpin pasukan Kompeni yang bermarkas di sana.


Dan untuk itu, Romo sudah mengatur agar Mina dapat ikut bersama mereka ''


'' Lantas, aku dan ibu ? ''


'' Kalian juga sudah Romo persiapan tempat persembunyian yang aman dan jauh dari sini ''


'' ... ''


'' Menang atau kalah, kita semua harus bersiap. Kita para Pribumi sudah tak bisa tinggal diam lagi . Sebab semakin hari, kepemimpinan Kompeni semakin merajalela.


Jadi, sudah menjadi kewajiban kita untuk merebut kembali tanah kita dan membebaskan diri dari perbudakan para penjajah '' Adipati Arthaprawirya berucap tegas, penuh kesungguhan. Membuat Panji merinding mendengarnya. Ditambah lagi sorot mata yang syarat akan kesungguhan dan keyakinan. Sang ayah tak ubahnya seorang pejuang yang semangatnya tengah membara .


'' Lalu, bagaimana dengan Mayang Romo ? ''

__ADS_1


Adipati Arthaprawirya menggeleng.


'' Maaf jika harus memberi kecewa lagi padamu, Panji. Tapi sampai kapanpun kau tak boleh dan tak akan pernah bisa bersama Mayang ''


'' Romo ! '' Panji memancing mata. Tak cukup dengan kekecewaan terhadap Mina, kini ia harus menerima kenyataan jika sang ayah mengingkari janji untuk menjadikan Mayang sebagai selirnya.


'' Mayang adalah adikmu , Panji. Saudaramu satu-satunya yang terlahir dari ibu yang berbeda ''


Panji terperangah. Apa lagi ini ? Kenapa semua hal yang ayahnya sampaikan begitu mengejutkan.


Tentang Mina, rencana pemberontakan dan Mayang yang ternyata adalah adiknya. Apa itu berarti sang ayah telah mengkhianati ibunya ?


'' Benar. Romo telah mengkhianati ibumu dengan sengaja ''


Lagi, sang ayah seolah benar-benar bisa membaca apa yang sedang ia pikirkan.


'' Panji, kau adalah harapan yang tersisa. Jika nanti sesuatu terjadi pada Romo, kau harus mengambil alih tanggung jawab terhadap ibumu.


Berjanjilah untuk menjaga dan melindunginya dengan segenap hati dan kemampuanmu ''


Panji terdiam. Tak bisa berkata apa-apa. Rasanya cukup sudah . Hati dan kepalanya tak kuat lagi menampung lebih dari ini.


Tanpa pamit, ia beranjak pergi meninggalkan ayahnya seorang diri.


Adipati Arthaprawirya termenung. Menatap punggung anaknya yang baru saja ia beri kecewa bertubi-tubi.


Benar. Semua telah ia rencanakan dan telah ia antisipasi segala kemungkinannya.


Bukan hanya tentang pemberontakan dan penyerangan . Ia juga turut andil dalam perpindahan tugas Kolonel Jhon Pierzoon ke wilayah selatan .Ia tak mau melibatkan apalagi jika sampai besan dan keluarganya menjadi korban.


Namun sebelum itu semua rampung ia siapkan, hal yang paling ia utamakan adalah tempat perlindungan , lengkap dengan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk anak dan istrinya .Panji dan Pramuanti.


Adipati Arthaprawirya menghela berat nafas berkali-kali. Sedih, memikirkan harus berpisah dari orang-orang terkasih. Tapi ia tak punya pilihan lain. Ia harus berjuang sendiri demi membebaskan dan merenggut kembali kejayaan tanah leluhurnya.


* * *


'' Augh.. '' ia memekik ketika lututnya membentur tepian ranjang. Ia tak sadar telah berjalan sampai ditempat tidurnya.


Nampak Mina terjaga dan telah mendudukkan diri. Ia pasti terbangun sebab suara pintu dan hentakan di ranjang barusan.


Panji menatap Mina lekat. Ekspresi dan cara Mina menatapnya datar. Tak menggambarkan apapun.Panji terenyuh, teringat apa yang tadi ayahnya ceritakan. Tentang seperti apa kehidupan yang dulu dijalani istrinya.Hingga bagaimana Mina kehilangan kehormatan .


Mina menghela nafas kemudian berbalik dan merebahkan tubuhnya . Ia coba untuk bersikap acuh seperti biasa dengan kembali tidur. Namun baru saja akan memejamkan indra penglihatannya, tekanan kasur membuat matanya tak jadi terpejam.


Panji naik ke atas tempat tidur dan bergeser mendekati sang istri yang memunggunginya.


Sontak Mina terbelalak saat merasa sentuhan di punggungnya dan tangan yang melingkar di perutnya.


Panji mendekapnya erat hingga tubuh mereka tak berjarak . Mina bergeming. Nafas Panji terasa menyapu permukaan kulit pundaknya yang terbuka. Membuat bulu romannya merenggang.


Mina merasa desiran yang menyusuri setiap kulit tubuhnya ketika Panji menyibak helaian rambut yang berhamburan di pundak dan lehernya.


'' Kau !" Mina tersentak saat Panji menjatuhkan bibir di ceruknya dan tak mengangkatnya.


Bibir itu bukan hanya mengecup tapi menghisap kulitnya hingga terasa perih.


Mina memekik tertahankan.


Panji menarik kepalanya dan mengukir senyum tipis melihat bekas merah kebiruan yang baru saja ia buat.


'' Ap-apa yang kau lakukan ? '' Mina mencoba memberontak . Namun ia lakukan setengah hati.


" Aku menginginkan mu " ucap Panji setengah berbisik dan diakhiri dengan gigitan kecil ditelinga sang istri.


Mina terdiam ketika mencium aroma tuak dari hembusan mulut suaminya.

__ADS_1


Diam beberapa saat. Keduanya sama-sama terdiam dengan pandangan kearah yang sama. Pada jendela yang tertutup rapat. Mereka tengah bergelut dengan pikiran masing-masing.


Tadinya Mina merasa ini aneh. Sikap Panji yang tiba-tiba lembut dan tatapannya yang berubah teduh. Padahal sejak malam pertama itu, Panji menatapnya sinis dan memperlakukannya dengan sangat dingin. Sebelum keluar kamar tadi pun masih sama.


Tapi sekarang masuk akal. Aroma minuman keras yang tak asing di penciumannya, sebab ayahnya juga pernah meminum minuman keras beraroma serupa, telah menjawab keheranannya. Memang mustahil Panji berubah .


'' Kau mabuk '' Mina hendak menarik diri, kali ini ia lakukan dengan bersungguh-sungguh. Ia berusaha menarik tangan yang mengikat perutnya agar bisa melepaskan diri.


Tapi bukannya terlepas, Panji merubah posisi menindih dengan kedua lutut menahan jatuh tubuhnya.


Jarak tubuh dan wajah yang sangat dekat membuat manik mereka saling bertemu dan beradu.


'' Ma-mau apa kau ? '' Mina gugup dengan dada yang berdebar .


'' Bukankah tadi sudah kukatakan. Aku menginginkan mu '' Panji menurunkan wajahnya ke wajah sang istri.


Ia kecup singkat bibir yang sama sekali belum ia sentuh. Lembut dan terasa begitu kenyal.


Ia ingin lakukan lagi , namun Mina menahan dengan meletakkan kedua telapak di dadanya.


'' Kau mabuk '' Mina melontarkan hal yang sama untuk yang kedua kalinya.


'' Aku hanya minum setegak . Jadi aku tak mungkin mabuk '' Panji hendak kembali mendekat namun Mina masih menahannya. Mina bahkan memalingkan wajahnya kesamping.


'' Ba-baunya ... '' Mina tergagap sebab debarannya semakin dahsyat, mengguncang.


Panji mengangkat tubuhnya . Ia turun dari ranjang dan masuk ke bilik mandi . Mina yang penasaran pun bangkit, mendudukkan diri.


Tak mungkin kamu Panji melakukan seperti yang ia pikirkan ? Mina menebak-nebak .


Tak berselang lama, Panji keluar dengan dada telanjang. Terlihat tetasan air di dada dan ada pula yang masih menggantung di rahangnya .


Sepertinya tebakkan Mina benar. Sang suami membersihkan diri sebab ia yang secara tak langsung mengeluhkan mulut yang menguarkan aroma tuak.


Panji kembali naik keatas tempat tidur, mendekat dan menjatuhkan diri di sisi istri cantiknya.


Kedua kembali saling menatap. Menyapu wajah yang ada dihadapan masing-masing dan mencoba menelusuri isi hati pemiliknya lewat sorot mata.


Mina ragu. Ia masih tak bisa mempercayainya. Ia tertunduk dan menahan tangan yang sudah memegang kain yang melilit tubuhnya.


Panji tak menyerah. Hanya dengan satu kali tarikan jarik yang menutupi tubuh Mina melorot.


'' Aku tau kau ragu padaku '' Panji mendaratkan jemarinya di pundak dan menyeretnya turun ke lengan hingga sampai di jemari Mina. Lalu ia selipkan kelima jemarinya disela jemari Mina, mengangkatnya kemudian mengecup punggung tangan itu dengan lembut.


'' Jangan pikirkan hal lain dan cobalah untuk mengatur tubuhmu sesantai mungkin. Berusahalah untuk merasakannya .Karena aku ingin kau juga menikmatinya ''


Mina kehilangan kata-kata.


Perasannya berkecamuk. Satu sisi ia ingin melakukannya seperti yang sang suami katakan. Tapi sisi lain dari dirinya menolak untuk percaya .


Panji mendekat , mencium bibir Mina dan mendorong tubuh itu secara perlahan hingga berbaring.


Mereka mengulang lagi hal yang dua malam. Mereka melakukannya. Namun kali ini jauh berbeda dari sebelumnya.


Walaupun masih di dominasi oleh Panji, namun Mina berusaha mengimbangi. Alhasil, beberapa kali ******* lolos dari bibir ranumnya.


Mina terbuai. Bukan hanya oleh sentuhan dan ciuman lembut sang suami. Tapi juga hentakan pinggul yang berhasil membawanya merasakan puncak nikmat untuk pertama kalinya.


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa like dan komentarnya ya


Terima Kasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2