
🌺 hem.. 🌺
* * *
Disebuah rumah yang di keliling tembok setinggi dua kali tinggi orang dewasa.
Dua orang pria berperawakan tegap dan berkulit hitam sebab seringnya tersengat panas matahari, berdiri siaga di depan gerbang yang pintunya tertutup rapat.
Pakaian mereka khas lelaki Pribumi. Di bagian atas tubuh menggantung rompi kain tipis tanpa lengan . Sementara bagian bawahnya dililit jarik yang di bagian tengahnya di tarik ke atas hingga membentuk sebuah celana.
Rumah tersebut merupakan rumah paling megah dan terbesar milik ningrat Pribumi yang ada di pusat kota Batavia.
Pekarangannya luas , lapangan dan bersih. Karena memang para pelayan bekerja sangat telaten dalam merawatnya.
Ketika memasuki rumah, telapak kaki akan mencium lantai yang terbuat dari bebatuan halus yang dibentuk dan disusun rapi hingga aman dan nyaman untuk dipijak.
Sedangkan pintu dan jendelanya terbuat dari kayu eboni yang diukir oleh tangan para seniman handal, menciptakan aneka gambar yang elok dipandang mata.
Kayu-kayu besar nan kokoh terlihat di setiap sudutnya yang berfungsi sebagai penyangga utama bangunan dengan pengamanan ketat.
'' Hei, kau lekaslah ! " perintah pemuda laki-laki dengan telunjuk mengarah pada kacung yang tengah berlutut di depan, tengah memasang selop di kakinya.
Si kacung mempercepat pekerjaan tangannya.
' Buk ' sebuah tendangan mendarat di punggung pria setengah baya yang masih membungkuk. Tubuhnya pun tumbang di lantai.
Namun dengan cepat ia bangkit dan kembali ke posisi semula.
" Kau menghalangi jalanku " Sang majikan menatapnya sinis.
Panji, pemuda berusia 19 tahun itu melangkah menuju pintu keluar rumah megahnya.
Namun langkahnya seketika terhenti ketika baru saja melewati batas pintu.
Panji tersentak mendapati seorang gadis dengan kebaya putih dan jarik batiknya berdiri di tangga rumah.
Sang gadis menunduk. Tak berani berlama-lama menatapnya.
' Huh ' Panji mendengus kesal. Karena sepertinya apa yang baru saja ia lakukan tadi dilihat si gadis .
Panji meneruskan langkahnya dan diikuti si gadis berambut panjang sepinggang yang dibiarkan tergerai.
Sebuah kereta kuda telah menunggu di depan gerbang, bersiap mengantarkannya ke sekolah.
Panji naik dan masuk terlebih dahulu, dan di susul si gadis .
Mereka duduk saling berhadapan.
Panji dengan lantang mengeluarkan perintah dan seketika itu pula kereta pun mulai dipacu jalan .
Sepanjang perjalanan diam mengisi.
Sementara si gadis berparas sederhana menatap keluar jendela, Panji justru tak sedikit pun memalingkan pandangannya dari si gadis.
Mayang namanya.
Dia adalah anak pengasuhnya.
Sejak kecil, Panji yang merupakan anak tunggal sang ningrat mempunyai sifat dan tabiat kasar terhadap siapapun. Baik itu cara bicaranya maupun caranya bersikap.
Bahkan ke pada kedua orang tuanya sekalipun.
Karena itu, tak ada satupun anak ningrat yang mau menjadi temannya.
Panji pun sering merasa kesepian sebab ke dua orang tuanya sibuk dengan urusan masing-masing.
Sang ayah yang adalah seorang Adipati, sibuk mengurusi wilayah dan Para Pribumi yang tinggal di Batavia. Sementara sang Ibu memilki sebuah toko baju yang menjual dan menyediakan kain , pakaian hingga kelengkapan para ningrat.
Karena sering ditinggal kedua orang tuanya , kepribadian Panji menjadi begitu angkuh dan arogan .
Hingga suatu ketika pengasuhnya yang bernama Mbok Arni mengangkat seorang anak perempuan.
Mbok Arni dan sang suami, Sudarman telah menikah selama sepuluh tahun dan tak kunjung di karuniai anak.
Kala itu Panji baru berusia 5 tahun dan Mayang yang saat itu di bawa untuk tinggal bersama orang tua angkatnya, berusia 3 tahun.
Awalnya Panji tak menganggap penting kehadiran Mayang yang nantinya pasti akan dijadikan salah satu pelayan rumahnya.
Namun takdir berkata lain.
__ADS_1
Entah dimulai sejak kapan, tapi Panji mulai dekat dan berteman dengan Mayang si gadis yang selalu ceria .
Panji menyukai Mayang dan lantas memperlakukan Mayang tak seperti para kacung rumahnya.
Mayang diberi hak istimewa.
Dimana ia tak di ijinkan bekerja selain sebagai teman bermainnya saja.
Mayang bahkan di sekolahkan setelah Panji memohon pada ayahnya.
Saat itu Panji sampai nekat tak mau makan dan mengurung diri di kamar jika keinginannya tak terpenuhi.
Meski Mayang menolak, namun ia bersikukuh agar Mayang dapat bersekolah di tempat yang sama dengannya.
Ia ingin selalu bersama Mayang. Dan tak ingin sekalipun melewatkan hari tanpa gadis berkulit sawo matang itu.
Padahal seharusnya, hubungan yang terjalin di antara mereka adalah sebagai tuan dan pelayan.
Namun dengan sikap egoisnya, Panji tak menggubris peringatan itu dan semakin larut dalam kedekatannya pada Mayang.
Dan hal itu terus berlanjut hingga mereka tumbuh dewasa .Panji sadar. Ia telah terlanjur suka . Namun ia tak menyangka jika rasa itu menjadi titik kelemahannya.
Hollandsch-Inlandsche School atau disingkat dengan sebutan HIS.
Merupakan sekolah Bumi Putra Belanda yang diperuntukkan untuk anak bangsawan dan para tokoh terkemuka dari kaum Pribumi saja.
Mereka yang bersekolah ditempat ini umumnya adalah anak para ningrat yang orang tuanya berstatus sosial dan memiliki kedudukan tinggi .
Panji Arthaprawirya salah satunya. Ia adalah putra dari Adipati Arthaprawirya .Kepala daerah yang merupakan ningrat tertinggi di Batavia ini.
Menurut silsilah , keluarga sang Adipati adalah satu-satunya keturunan raja terdahulu yang tersisa.
Tak heran jika keluarga ini berkelimpahan materi yang diturunkan oleh para leluhurnya terdahulu.
- -
Panji turun dari kereta dan langsung mengambil langkah memasuki kawasan sekolah yang di bangun oleh para kompeni.
Di susul kemudian oleh Mayang.
Gadis yang beberapa hari lalu genap berusia 17 itu mengekor langkah sang majikan mudanya.
Sebab mereka tau jika Mayang adalah gadis kesayangan Panji yang dijuluki sang penawan.
Panji memang sangat digandrungi dan banyak digilai para gadis di sekolahnya.
Itu karena Panji terlahir dengan paras yang rupawan. Ia dianugerahi rupa persis seperti ayahnya yang tampan dengan garis wajah yang tegas dan memberi kesan lelaki jantan sejati.
Begitupun dengan bentuk tubuh yang di atas standar para pria pribumi.
Ayahnya, sang Adipati tergolong tinggi dengan bentuk tubuh yang tegap berisi dan padat. Dan itu pula ia wariskan pada anak semata wayangnya .
'' Pergilah ke kelasmu.
Ingat jangan berdekatan dengan yang lain.
Apalagi dengan para laki-laki.
Aku tak suka dan tak mau kejadian tempo hari terjadi lagi '' tegas Panji pada Mayang saat mereka baru saja mendaratkan kaki di selasar bangunan yang didominasi warna putih.
Mayang mengangguk sembari tersenyum singkat.
Ia bersyukur memiliki majikan sebaik dan begitu perhatian.
Seperti beberapa hari yang lalu saat ia tengah di ganggu oleh beberapa pemuda ningrat yang merupakan murid baru. Mayang bahkan hampir dilecehkan.
Beruntung Panji dan dua pengawalnya datang tepat waktu dan memberi mereka pelajaran.
Bukan hanya sebatas peringatan berupa pukulan, Panji juga meminta ayahnya untuk menegur bahkan memberi sanksi pada keluarga mereka.
Panji meradang. Ia marah. Karena jika terlambat sedikit saja, Mayang mungkin sudah menjadi bual-bualan mereka.
Mayang membuyarkan ingatan itu. Lalu mengambil jalur yang berlawanan dengan Panji.
Panji sebenarnya telah menyelesaikan pendidikannya dua tahun lalu.
Namun karena suatu saat nanti ia akan menggantikan kedudukan ayahnya , maka ia harus selalu siap dan membekali diri dengan pendidikan yang lebih . Karena untuk menghadapi era penjajahan seperti saat ini, tak cukup dengan hanya mengandalkan kekuatan fisik dan materi yang sudah ia punya. Panji butuh ilmu pengetahuan karena tak mau di bodohi.
Dengan kekuasaan sang ayah, Panji sebenarnya bisa saja memanggil tenaga pengajar ke rumah. Namun ia memutuskan untuk melanjutkan studinya di sekolah sambil menunggu Mayang menyelesaikan sekolahnya yang tinggal setahun lagi.
__ADS_1
Mayang adalah satu-satunya rakyat jelata yang sangat - sangat beruntung dapat mengeyam bangku sekolah.
Semua itu ia peroleh karena majikannya adalah Adipati Arthaprawirya.
Mayang senang. Meskipun jauh di lubuk hatinya, ia merasa terbebani.
Ia sadar jika suatu saat nanti akan ada harga yang harus ia bayar atas semua hal baik yang ia terima selama ini.
Entahlah, Mayang enggan memikirkan dan menebak kira-kira apa yang akan terjadi ke depannya.
Terutama pada hubungannya dan Panji.
Jika dulu ia merasa biasa saja, seiring dengan bertambahnya usia mereka, Mayang mulai merasa tak nyaman berada di dekat Panji.
Panji memang sering atau bahkan selalu memperhatikannya secara terang-terangan.
Namun untuk beberapa kesempatan, ia mendapati tatap Panji yang lain dari biasanya.
Laki-laki yang biasanya bersikap dingin dengan ekspresinya yang datar, kini tak lagi menatapnya dengan cara yang sama.
Panji menatapnya dari atas ke bawah,hingga memintanya untuk berputar seolah tengah menelanjanginya. Jika Panji mulai bersikap demikian, Mayang pasti diliputi rasa takut .
Mayang bingung. Harus bagaimana ia sebaiknya menghadapi sikap Panji yang sekarang.
Ia yang tak bisa menghindar dan juga tak punya pilihan, hanya bisa mencoba untuk tetap bersikap seperti biasa.
- -
Sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai. Tepat beberapa saat sebelumnya, terdengar deru mesin yang begitu berisik hingga membuat seisi sekolah seketika menatap ke arah asal suara.
Sebuah mobil berwarna abu usang berhenti di halaman sekolah.
Alat transportasi yang masih sangat langka dan tergolong barang mewah di jaman itu sontak menjadi pusat perhatian.
Apalagi ketika si pengemudi turun dan membuka pintu belakang mobil tersebut.
Seorang gadis berkebaya putih dengan renda bunga dipadu jarik coklat keemasan keluar dari dalamnya.
Bentuk tubuhnya sintal. Bagian dada dan bokongnya begitu menonjol.Seolah akan mencuat dari balik pakaiannya.
Tampilannya khas perempuan Pribumi . Namun kulitnya putih pucat, tak seperti perempuan Pribumi yang pada umumnya memiliki kulit kuning atau kecoklatan.
Rambutnya sedikit pirang, lurus , panjang sebahu dan di jepit pada kedua sisinya.
Matanya berwarna coklat muda sedikit kehijauan.
Hidungnya mancung dengan kedua lubang yang pipih. Bibirnya tipis berwarna merah muda.
Siapapun bisa menebak, jika dari tampilan saja ia sudah dipastikan bukanlah seorang perempuan asli Pribumi.
Gadis berparas jelita namun terkesan angkuh itu nampak menyorot tajam pada setiap mata yang tengah memperhatikannya.
Di saat bersamaan, sebuah andong juga baru saja memasuki halaman dan berhenti tak jauh dari mobil yang terparkir.
Seorang pria berusia sekitar dua puluhan turun dari alat transportasi umum itu.
'' Terima kasih, pak '' ucap pria tersebut seraya membayar beberapa gulden pada si penarik Andong sebagai balas jasa telah mengantarkannya ke tempat tujuan.
Pakaiannya sederhana, namun rapi dan bersih.
Ia kemudian berjalan seiring dengan gadis tadi yang juga baru mengambil langkah menuju bagian terdepan bangunan.
Menyadari itu, langkah keduanya kompak berhenti.
Sesaat mereka saling tatap.
Jika si pria mengangguk dan tersenyum menyapa, berbeda dengan si gadis yang menatap sinis dan meneruskan langkah lebih dulu.
Pria dengan ketampanan khas Pribumi itu menggeleng sambil melebarkan senyumnya, hingga memperlihatkan jejeran giginya yang tersusun rapi.
* * *
bersumbang -
Jangan cuma di baca doang..
di like juga
tinggalin jejaknya juga sekalian
__ADS_1
makasi 🤗