Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Kita sudah sampai


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Sayup-sayup matanya mulai terbuka. Ia mengangkat tubuhnya dengan keningnya mengkerut .


" Dimana ini ? " nampak heran ketika menyadari berada diruangan yang tertutup.


Ia perjelas penglihatannya , mengedarkan pandangan pada langit dan dinding ruangan sambil menjuntaikan kedua kakinya turun dari tempat tidur.


'' Oh.. '' hampir saja ia terjatuh sebab pijakan yang terasa seperti bergelombang. Namun ia tetap berusaha berdiri meski tubuhnya seperti terombang-ambing. Kemudian ia mencoba melangkah perlahan sambil berpegang pada dinding sebab sulit untuk menyeimbangkan diri.


' Emph ' mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Dan ' kreeeetttttt ' pintu berhasil dibuka.


Suara air bertabrakan dan desiran angin yang berhembus kencang menyambut.


Matanya terbelalak. Mendapati hamparan air laut dihadapannya.


" Laut ? Dimana ini ? Apa mungkin aku sekarang berada di atas kapal ? ''


gumamnya seraya melanjutkan langkah.


" Huaaa... " Mayang hampir terjungkal namun seseorang dengan sigap menahan tubuhnya .


Mayang memutar leher, tersenyum saat melihat sosok yang entah sejak kapan berdiri dibelakangnya.


Dimas memegang bahu dan membantunya untuk kembali tegak berdiri. Mereka kemudian berjalan dan memasuki sebuah area yang dipenuhi susunan kayu berbentuk balok , yang mana sebagian ditutupi terpal berwarna hitam.


Dimas menuntun Mayang menuju ke sebuah kursi kayu yang bersandar ditepian kapal dan duduk. Tanpa canggung, Dimas melingkarkan tangan di bahu Mayang. Mendekap erat hingga tubuh mereka menempel.


" Dimana kita ? Dan kapal milik siapa yang kita naiki ini, mas ? '' Mayang mengangkat dagu, menatap lelaki yang ternyata tengah memperhatikannya.


Dimas tersenyum lembut. Jemarinya terangkat untuk menyingkirkan helaian rambut yang tertiup angin dan menutupi sisi - sisi wajah Mayang.


'' Ini kapal Arisundoro. Dia adalah pedagang lintas pulau yang dikatakan Nyi Geno sebagai orang yang akan mengantarkan kita keluar dari Batavia ''


Mayang mengalihkan pandangannya. Menatap apa yang ada di dekatnya. Apa yang ada didalam dan dilindungi kayu berbentuk balok itu pasti berisi barang dagangan pemilik kapal ini.


" Aku tadi hendak ke kamarmu .Tapi belum sampai aku melihat mu keluar dan berjalan terhuyung-huyung " Dimas terkekeh kecil.


Mayang mengulum senyum .Berjalan dengan telapak tangan menempel didinding, ia tadi pasti terlihat seperti orang lingkungan.Sungguh memalukan .


Dimas mengeratkan rangkulannya.


Ia bisa menembak, jika ini adalah kali pertama Mayang naik kapal dan mengalami bagaimana rasanya berjalan di atas kapal yang tengah berlayar.


Memang tak mudah . Ia sendiri pun mengalami hal serupa saat pertama kali naik kapal. Ketika itu ia tengah dalam perjalanan menuju Batavia. Masih jelas di ingatanya, bagaimana ia hampir tak bisa beranjak keluar kamar dan bahkan mengalami mabuk laut dihampiri sepanjang perjalanan.


'' Lalu, akan kemana kapal ini membawa kita mas ?''


'' Desa Arkha ''


'' Desa Arkha ? Dimana itu, mas ? Apakah jauh ? ''


'' Em '' Dimas mengangguk .Ia menarik nafas panjang dan kembali berucap.


'' Letaknya lumayan jauh. Jika tak salah berada diujung pulau JawaDwipa ''


Mayang menunduk. Terbesit takut karena ini adalah pertama kalinya ia berpergian jauh dari tempat kelahirannya. Tempat yang mungkin tak akan pernah lagi ia pijak.


Sebuah usapan lembut di lengan, membuatnya menenggakkan kepala. Dimas melemparkan senyum yang selalu berhasil menenangkannya.


'' Kau tak perlu khawatir. Bukankah sudah ku katakan jika aku akan menemani dan menjagamu ? Aku pastikan bahwa aku akan selalu ada untukmu '' Dimas mendekat .Menekan tangan yang melingkar di bahu Mayang. Tubuh Mayang pun ikut mendekat.


Sentuhan lembut mendarat di kening gadis yang seketika memejamkan matanya. Mayang terenyuh saat Dimas memberi jeda sesaat . Lalu bibir itu turun dan menempel di bibirnya.


Mayang membuka matanya. Kedua bola matanya beradu tatap dengan kedua bola mata Dimas.


Daging kenyal yang masih menempel di bibirnya terasa mulai bergerak dan meremas.

__ADS_1


Perlahan remasan itu berubah menjadi gigitan.


'' Umh.. '' Mayang reflek memegang lengan kekar Dimas saat merasa bibirnya ditarik hingga membuat mulutnya terbuka. Akses jalan yang itulah yang digunakan lidah Dimas untuk masuk dan mengecap rasa didalam sana.


Selepas berciuman, Dimas kemudian membawa Mayang masuk dan bertemu Arisundoro yang berada di dek kapal.


Seperti ciri-ciri yang Nyi Geno katakan pada Dimas. Pria tersebut memang bertubuh pendek dan berkepala botak .


Mereka pun saling berkenalan.


Arisundoro, pria lajang berusia lima puluh tahun itu mengaku sebagai abdi Adipati Arthaprawirya. Ia sudah bekerja semenjak sang Adipati resmi menjadi pemimpin Pribumi Batavia.


Bukan tanpa alasan ia mengabdikan diri pada sang Adipati hingga berperan sebagai orang kepercayaan sekaligus menjadi mata-mata di pelabuhan .


Dulu, Arisundoro merupakan pekerja di sebuah kapal dagang milik kompeni alias budak yang tak diberi upah selain makan. Itupun hanya makanan sisa dan lebih sering menerima makanan tak layak .


Sama seperti para Pribumi yang dipekerjakan secara tak manusiawi oleh para kaum penjajah , Arisundoro memendam rasa benci yang begitu dalam.


Ia berharap akan ada masa untuk membalas perbuatan para kompeni yang tak memiliki hati nurani. Karena itu, ia pun bertekad . Jika ada kesempatan maka ia tak akan ragu apalagi menyia-nyiakannya.


Berawal dari pertemuannya dengan sang Adipati yang tak disengaja.


Seolah memang sudah menjadi garis takdirnya, Adipati Arthaprawirya yang mengetahui jika Arisundoro adalah seorang awak kapal yang dipercaya dan ditempat di pusat pengendalian kapal milik Kompeni, lantas mengajak pria yang hanya setinggi dada orang dewasa itu untuk bekerja dengannya.


Tentu saja Arisundoro tak menolak. Apalagi saat ia tau akan dilibatkan dalam rencana pemberontakan. Ia dengan tegas menyatakan sanggup mengabdi bahkan memberikan nyawanya sekalipun.


Dengan bantuan Adipati Arthaprawirya, Arisundoro dibantu melarikan diri. Untuk beberapa bulan ia disembunyikan di kawasan gelap.


Di sanalah ia bertemu dan berkenalan dengan Nyi, Geno, Nyi Kiranti , Raman dan ketiga anak buahnya.


Dan di situ jugalah ia pertama kalinya bertemu Mayang. Bayi mungil yang dirawat oleh orang-orang tersebut.


Ia awalnya tak tau menahu . Namun akhirnya ia di di beritahu. Jika bayi yang tak pernah terdengar menangis itu adalah anak Adipati Arthaprawirya. Anak yang sengaja dilahirkan untuk sebuah tujuan. Yang mana didalam tubuh bayi mungil itu bersemanyam jiwa seorang ahli ilmu Hitam .


Sama seperti yang lainnya. Arisundoro pun prihatin melihat keadaan bayi yang tak bersalah namun sejak lahir sudah harus menanggung hal yang bukan menjadi tanggung jawabnya.


Arisundoro mengakhiri ceritanya dengan ekspresi yang sulit diartikan.Sebab ,sejak tadi hingga sepanjang bercerita, tatapannya hanya tertuju pada Mayang.


Ia seolah tak percaya jika Mayang mampu bertahan hidup dan tumbuh menjadi seorang gadis yang tak kurang satu apapun. Padahal didalam tubuhnya bersemayam jiwa lain yang tak biasa.


Arisundoro manggut-manggut samar. Benar. Mayang bukanlah orang biasa. Ia berdarah pemimpin dan terlahir dari rahim seorang wanita ningrat murni. Jadi, masuk akal jika darah biru yang mengalir dalam dirinya mampu mengikat jiwa parasit dan bertahan. Sejatinya Mayang memiliki kemampuan alami yang tak dimiliki sembarangan ningrat. Bahkan mereka yang sakit mandraguna sekalipun .


Mayang melirik Dimas yang berdiri disampingnya. Ia nampak tak nyaman . Ia risih dan juga kesal, kenapa Arisundoro secara terang-terangan menatapnya seperti itu.


Dimas mengerti akan bahasa tubuh Mayang . Raut wajah Mayang menunjukan ketakutan. Wajar saja. Karena siapapun pasti akan takut jika diperhatikan dengan tatapan demikian. Terlebih bagi seorang gadis.


Dimas lantas mengeratkan telapak yang sejak tadi membalut jemari kekasihnya. Kemudian ia pamit pada Arisundoro dan membawa Mayang pergi .


'' Kau mau kembali ke kamar mu ? '' tanya Dimas.


Mayang mendongak. Menatap dengan sorot mata penuh keraguan. Ia memang ingin . Tapi jika ditinggal sendirian ia takut. Mayang tertunduk. Ia bingung harus bagaimana mengutarakan perasannya.


'' Kau mau ke kamar ku ? ''


Mayang menenggak kepala. Dimas selalu saja tau dan mengerti apa yang dirasakannya. Tapi, ragu kembali melanda. Berada di kamar Dimas, apakah nanti ia akan berbagai satu ruangan dengan kekasihnya ini ? Memikirkan segala kemudian yang bisa saja terjadi, seketika wajahnya menghangat.


Dimas menggeleng sambil tersenyum melihat Mayang yang selalu mudah ditebak apa isi pikirannya. Karena tak kunjung mendapat jawaban, ia pun membawa Mayang ke kamarnya yang berada tak jauh dari kamar Mayang.


' Kreeeetttttt ' selain butuh dorongan yang kuat , seperti setiap pintu ruangan yang ada di kapal ini pun memiliki suara yang khas ketika dibuka maupun saat ditutup.


Mereka kini sudah berada diruangan yang tak jauh berbeda dengan ruangan pertama kali Mayang tersadar dari tidurnya.


Hanya ada satu ranjang tunggal dan sebuah meja kecil dan sebuah kursi . Mayang mendudukkan diri di atas kasur kapuk yang hanya terdapat satu bantal dan selimut usang. Sedangkan Dimas memilih menjatuhkan bokongnya di kursi yang bersandar di dinding.


Keduanya terdiam dengan saling menatap. Mayang terlihat canggung dan tertunduk malu. Berbeda dengan Dimas yang masih terus mengembangkan senyuman .


'' Jika kau merasa tak nyaman, aku akan keluar ''


Mayang sontak menegakkan kepala dan menggeleng.

__ADS_1


Dimas terkekeh membuat Mayang kembali tertunduk malu.


'' Aku akan keluar sebentar mengambil makanan untuk mu ''


'' em ? '' Mayang mengangguk ,mengangkat sedikit wajahnya saat Dimas beranjak dan menyeret langkah keluar.


* * *


Hari berlalu. Mayang yang tak bisa mengendalikan reaksi tubuhnya mengalami mabuk laut. Beruntung Dimas selalu sedia dan membantunya bolak balik ke bilik mandi ataupun ke tepian kapal untuk memuntahkan isi perutnya yang seperti diobok-obok.


Dan perjalanan terus berlanjut menuju ke tempat tujuan.


Selama kapal berlayar, Dimas dan Mayang berada di satu ruangan. Mereka tidur di satu tempat dengan posisi tubuh menyamping. Mayang yang awalnya canggung kini tak lagi perduli dengan rasa malunya.


Sebab tubuh yang mendekap belakangnya memberi rasa nyaman dan juga tenang.


Dua hari berlalu.


Pagi ini gerimis turun disertai angin yang bertiup lumayan kencang. Dingin menusuk. Mayang meringkuk, membenamkan wajahnya di dada Dimas yang memeluknya erat.


'' Aku harus keluar '' membelai lembut rambut Mayang yang kusut sebab kebanyakan berbaring dari tempat tidur.


'' Tapi, mas .. Di luar sedang hujan '' Mayang menaikan wajahnya. Menatap pria yang mulai menarik tangan yang hampir semalaman menjadi bantalannya.


Dimas duduk, lalu merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


'' Aku harus melihat keadaan diluar dan bertemu Arisundoro. Jika perkiraan ku benar, seharusnya kita sudah dekat dengan daratan ''


Mayang bangun dari pembaringannya sambil menahan jatuh jariknya yang kedodoran.


'' Kau tetaplah disini. Aku akan segera kembali dan membawakan minuman hangat untuk mu ''


Mayang menahan dengan meraih pergelangan tangan Dimas.


'' Aku ikut ''


Dimas mengangguk. Mengulurkan tangan yang langsung disambut Mayang dengan senyum ceria.


' Whuzzz.... ' angin dan tempias hujan menerpa.


Ternyata titik - titik kecil tadi telah berubah menjadi hujan yang cukup deras . Angin pun bertiup semakin kencang.


'' Masuklah kembali '' Dimas bersuara keras pada gadis yang merapatkan diri, bersembunyi dibalik tubuhnya.


'' Tidak mau !"


Dimas mendesah kasar. Ia tarik tangan Mayang dan berjalan cepat .


Langkah mereka terhenti saat akan melewati selasar kapal.


" Mas " Mayang mencoba menyadarkan Dimas yang tiba-tiba berhenti dan terdiam.


Diikutinya kemana arah pandangan Dimas tertuju.


Diujung sana, nampak Arisundoro berdiri menatap kerah laut. Entah sudah berapa lama lelaki bertubuh pendek itu berdiam diri di sana. Tubuhnya telah basah oleh jamahan air hujan. Kulit dan wajahnya memucat sebab dingin yang di bawa oleh terpaan angin . Normalnya seseorang pasti menggigil kedinginan. Namun Arisundoro tidak. Ia bergeming tanpa ekspresi.


Dimas yang penasaran lantas memutar haluan untuk menghampiri Arisundoro . Diikuti Mayang yang mengekor dibelakang sambil memegang lengannya.


" Kita sudah sampai " ucap Arisudoro ketika Dimas dan Mayang menghentikan langkah dibelakangnya.


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa likenya, ya


Kritik dan sarannya juga


trimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2