
🌺 hem... 🌺
* * *
Kediaman Profesor Herlad.
Dimas menghela nafas. Lelah rasanya.
Ia lalu berjalan ke bagian paling belakang rumah dan masuk ke dalam bilik mandi .
Dimas langsung menelanjangi diri. Membuka seluruh pakaian yang telah compang camping dan menjatuhkannya begitu saja dilantai.
' Tok. tok. tok ' ketukaan dari luar .
Dimas menyamping wajah saat suara profesor Herlad terdengar memanggilnya .
Pria tua itu memintanya untuk membuka pintu.
Dimas menyunggingkan senyum sinis.
Ia tau apa maksud lelaki yang memiliki kelainan seksual itu.
Dimas menarik kain, melilitnya di pinggang dan berbalik untuk membuka pintu.
" Dasar menjijikkan " batinnya mendapati profesor Herlad dalam keadaan telanjang.
Pria itu masuk sambil mendorong tubuhnya kedalam.
Lalu tanpa basa basi ia menarik kain penutup bagian bawah tubuh kacungnya. Namun Dimas menahannya.
" Ku rasa ,sudah saatnya bagimu untuk berhenti lelaki tua "
Profesor Herlad mengerutkan kening. Heran.
Dan ' Kretak ' dengan sekali gerakan. Dimas memelintir lehernya hingga berputar ke belakang.
' Bruk ' tubuh renta itu ambruk tak berdaya di lantai.
Dimas lantas melanjutkan apa yang tadi akan ia lakukan.
Ia membersihkan tubuhnya yang kotor.
Debu dan bekas pukulan yang ia terima hilang seketika saat disiram air.
Apalagi saat ia mengguyur air di kepalanya.
Begitu nyaman dan segar rasanya .
Beberapa saat kemudian, ia pun selesai dengan ritual membersihkan diri dan keluar dari bilik mandi.
Dimas langkahi mayat Profesor Herlad . Ia terlihat acuh. Sama sekali tak perduli .
Orang yang hidupnya penuh kemunafikan untuk menutupi kebusukannya, memang pantas untuk di lenyapkan. Batinnya menghakiminya.
Dimas berjalan dan masuk ke kamar yang telah ia tempati selama dua puluh tahun.
Ia buka lemari, menarik salah satu baju dari lipatan kain dan mengenakannya.
Setelah itu, ia pun pergi.
Karena tak ada lagi alasan baginya untuk menetap.
Apa yang selama ini ia cari telah ia temukan.
Kini, ia harus bertemu kedua orang tuanya untuk membicarakan rencana apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
* * *
Pelabuhan.
Dimas sampai di tempat tujuan.
Dari kejauhan, netranya mendapati sepasang manusia duduk, dengan posisi perempuan bersandar pada dada si lelaki.
Mereka nampak sedang menikmati apa yang terbentang di hadapan mereka saat ini. Hamparan air laut dan langit yang seperti menyatu. Sekali mereka terlihat saling tatap lalu mengecup bibir sambil mengeratkan pelukan.
Dua insan itu terlihat begitu mesra.
Dimas tak meneruskan langkahnya. Ia memilih berbalik dan pergi sebab tak ingin menganggu.
" Mau kemana kau ? "
Dimas tersentak saat baru saja akan mengambil langkah.
Ia pun kembali berbalik .
" Ibu " Dimas tersenyum lalu mendekat.
Dilihatnya Agam masih berada di sana, menatap ke arahnya. Samar terlihat senyum di wajah sang ayah.
" Bukankah kau sudah berjanji akan menemui ayahmu ?
Padahal sudah berada disini, tapi kenapa mau pergi ? '' Saraswati memperhatikan gambaran serupa Agam dihadapannya.
__ADS_1
Dimas memang menyerupai Agam. Hanya lesung pipi itu saja yang entah diturunkan dari siapa. Sebab ia dan Agam tak memiliki tanda khas itu. Mungkin dari orang tua kandung Saraswati. Mengingat ia tak pernah tau dan melihat siapa yang telah melahirkannya ke dunia ini.
'' Apakah kau malu ? ''
Senyum Dimas bertambah lebar sambil mengangguk. Ia memang sudah pernah bertemu Agam dan saling tau satu sama lain.Namun memikirkan bertemu secara langsung rasanya canggung.
'' Baiklah kalau begitu. Ibu akan menemanimu '' Saraswati merangkul lengan Dimas. Lalu menariknya .
Keduanya berjalan menuju kapal milik Agam dan berhenti di dek kapal. Tempat dimana Agam berdiri menunggu dihampiri.
Sesaat Agam dan Dimas saling tatap dengan saling melemparkan senyum. Jika Agam tersenyum hangat, berbeda dengan senyum Dimas yang nampak canggung.
'' Rom - '' ucap Dimas terhenti saat melihat ibunya menepi. Saraswati berjalan menjauh dan hilang dibalik pintu masuk ke dalam ruangan.
Kemudian pandangannya beralih pada Agam yang tengah berjalan mendekat dan berhenti tepat dihadapannya. Hampir tak ada jarak di antara mereka.
Dimas menarik nafas , mencoba terlihat tenang. Namun percuma. Gugup telah menguasai dan tak bisa ia sembunyikan.
'' Rom - '' lagi. Ia berhenti sebelum menuntaskan sapaannya.
' Pluk ' Agam memeluknya erat. Hanya sesaat. Agam menarik diri dan memegang pundak Dimas. Putra yang sejak kelahiran hingga ratusan tahun berlalu ,kini berdiri dihadapannya. Agam tatap lekat-lekat wajah putranya.
Ia terharu sebab begitu bahagia.
''Panggil saja aku ayah.. '' ucapnya begitu bersahaja.
Dimas tertegun. Bukan hanya memiliki senyum yang hangat. Pembawaanyapun terlihat ramah .Sesuai dengan parasnya.
Ia teringat , sang ibu pernah mengatakan. Jika ayahnya dulu adalah seorang prabu. Ia sempat ragu.
Namun setelah mendengar cara bicara dan melihat secara langsung, ia pun tak lagi sanksi.
Angin malam berhembus kencang.
Rintik-rintik dari atas jatuh dan tak lama menjadi sebuah hujan .
Agam merangkul pundak Dimas, menuntun agar berjalan bersamanya untuk masuk kedalam ruangan.
Saraswati yang peka , dengan sigap membuka pintu .
'' Mas '' Saraswati menyentuh pundak pria yang tengah berdiri di sisi jendela.
Agam menoleh , tersenyum dan mengucapkan terima kasih seraya meraih kain yang disodorkan Saraswati padanya .
Agam menyeka bagian tubuhnya yang terjamah hujan.
Dilihatnya Saraswati pun melakukan hal serupa pada Dimas.
Tak sabar rasanya untuk menyelesaikan apa yang sudah direncanakan agar mereka bisa hidup selayaknya keluarga utuh.
'' Padahal tadi langit begitu cerah '' Agam bergumam sambil melemparkan pandangan ke luar jendela, menatap langit yang tengah menangis dengan derasnya.
' Tak ' Saraswati meletakkan nampan berisi tiga cangkir minuman hangat yang baru saja ia sedu.
'' Sama seperti hidup ini. Tak ada hal yang bisa di tebak dengan pasti.
Begitu pula dengan apa yang selama ini kita cari.
Sungguh tak bisa dipercaya.
Siapa sangka ,jika jiwa Nyi Sukma bersemayam ditubuh seorang gadis yang tidak pernah kita duga.
Kita juga tak pernah mengira, jika yang bersekutu dengan Nyi Sukma adalah hampir semua ningrat yang tinggal di Batavia ini .
Pantas saja kita di buat bingung dan tak pernah mendapatkan petunjuk yang berarti selama dua puluh tahun ini.
Karena ada begitu banyak tangan yang terlibat didalamnya '' ucap Saraswati.
Dimas tersentak. Ibunya tau ? Tapi bagaimana mungkin ? Saat disekap dan ketika Adipati Artaprawirya menceritakan tentang hal itu hanya ada Nyi Geno, Raman dan ketiga anak buahnya saja.
Tapi, mengingat kemampuan sang ibu , rasa heran Dimas pun surut.
'' Minumlah ''
Agam dan Dimas mendekat serempak.
Lalu secara bersamaan pula mengambil cangkir minuman dan menyeruput isinya.
Hangat dan terasa nyaman menyiram tenggorokan.
Saraswati yang memperhatikan, tersenyum penuh arti.
Bukan hanya memiliki beberapa kesamaan rupa. Sikap dan tindakan ayah dan anaknya pun juga sama. Andai takdir tak mempermainkan hidup mereka , yakin berurusan dengan Nyi Sukma - mungkin mereka akan menjalani hidup yang bahagia, menua dan tentu saja sudah mati sejak dulu.
Raut wajah Saraswati berubah. Tangannya mengepal.Tatapannya menjadi tajam.
Setiap kali teringat pada Nyi Sukma dan semua hal yang telah ahli ilmu Hitam itu lakukan padanya, ia menjadi geram dan langsung dipenuhi amarah.
Dendam kesumat nya pada Nyi Sukma semkin mendalam. Tak sabar rasanya untuk membalas dendam dan melenyapkan iblis itu selama-lamanya.
'' Beberapa hari lagi, pernikahan putra tunggal Adipati Artaprawirya dan putri Kolonel Jhon Van Peirezoon akan di langsungkan.
Seperti yang kalian juga tau, bukan ? Jika secara kebetulan gadis itu tiba-tiba saja menghilang ? Dia pasti telah di sembunyikan '' ekor mata Saraswati mengarah ke Dimas .
__ADS_1
'' ... '' Dimas memalingkan wajahnya.
Bahkan tentang Mayang pun sang ibu juga telah mengetahuinya.
Dimas memang tak berniat sebab tak mungkin juga bisa menyembunyikannya.
Namun sebenarnya ia memiliki rencana lain. Ia ingin mencari jalan keluar lain .Berharap ada cara lain yang bisa digunakan untuk menyegel Jiwa Nyi Sukma tanpa harus mengorbankan nyawa Mayang.
'' Sesegera mungkin kita harus menemukan gadis itu .Lali kita lakukan seperti yang sudah kita rencanakan '' jelas Saraswati penuh penekanan. Ia laksana pemimpin yang tengah memberi perintah sesuai keputusan yang tak bisa di sanggah apalagi di bantah.
'' Tapi, bu.. '' Dimas mendekat, namun baru dua langkah berhenti. Saraswati menatapnya tajam.
'' Ibu sudah berulang kali mengatakan ini padamu Dimas !
Jangan goyah ! Jangan pernah ragu !
Karen memang seperti inilah jalan hidup kita.
Kita di takdirkan untuk menyegel iblis wanita itu !
Kau harus ingat dan tak boleh memungkiri itu ,Dimas !Paham ?! " tegas Saraswati .
Dimas mundur. Memang sudah tak terhitung berapa kali sang ibu mengatakan dan menekan hal itu padanya.
Mungkin dulu ia tak pernah keberatan. Bahkan berniat menyanggah pun tidak.
Namun sekarang, rasanya ia ingin sekali membantah. Bukan tentang apa yang selama ini sudah mereka rencanakan , tapi untuk meminta sang ibu agar mau mencari jalan keluar lain.
Tapi sepertinya itu tak mungkin. Sang ibu sudah final pada keputusannya. Dan ia tau betul watak sang ibu yang tak mungkin mau mengubah jalan pikirnya.
" Maafkan, aku ibu. Aku hanya bersimpati pada gadis itu. Dia tak bersalah dan tak tau apa-apa. Tapi kenapa justru dia yang harus dikorbankan ''
'' Singkirkan rasa kasihanmu , Dimas.
Kau harus ingat untuk apa semua ini kita lakukan ''
'' ... ''
Melihat ketegangan antara anak dan wanitanya Agam menghela nafas.
Ia mendekati Saraswati, menyentuh pundak dan mengelusnya lembut . Agam berusaha menyalurkan ketenangan.
'' Sekali lagi maafkan aku ibu.
Ak-aku pamit pergi ''
Tanpa menunggu jawaban, Dimas langsung mengambil langkah. Ia buka pintu dan dengan cepat lenyap dalam pekatnya malam di tengah hujan yang masih melanda di luar sana.
'' Jangan terlalu keras padanya '' ucap Agam . Usapannya kini berganti sebuah tekanan, menarik tubuh Saraswati untuk merapat padanya.
Namun Saraswati menolak.
'' Aku harus pulang '' Saraswati menepis tangan di pundaknya. Ia berbalik dan bersiap pergi.
'' Untuk apa ? Bukankah tak ada lagi alasan kau harus kembali ke sana ? '' Agam bernada tak suka.
Membuat Saraswati tak jadi melangkah .
Diam beberapa saat. Agam kesal. Namun ia terlihat berusaha meredamnya.
Ia mendekat . Tapi lagi-lagi Saraswati menolaknya dengan melangkah menjauhinya.
'' Ma-maafkan aku, mas. Tapi aku benar-benar harus pergi sekarang ''
'' Jika kau pergi sekarang, maka jangan pernah lagi datang kemari ''
Saraswati berbalik. Manik hitam pekatnya mulai berembun.
Hatinya tergores, sakit mendengar ucapan bernada ancaman dari pria yang begitu ia cintai .
'' Aku tak main - main dengan ucapanku, Saraswati '' Agam menatapnya lekat.
Ia sebenarnya tak tega melihat mata yang kini mulai mengeluarkan bulir-bulir bening dari tiap sudutnya.
Namun ia harus bisa bersikap tegas. Sejak dulu Saraswati telah menyembunyikan banyak hal darinya . Pun juga selalu berusaha menghadapi dan menyelesaikannya seorang diri . Dan ia tak mau hal itu terjadi lagi. Ia ingin Saraswati berbagai dan menjadikannya sandaran yang bisa diandalkan.
'' Maaf mas '' lirih Saraswati hampir tak terdengar.
Setelah itu ia pun pergi, meninggalkan Agam seorang diri.
Agam pun hanya mampu melihatnya berlalu tanpa bisa mencegahnya .Harapan tinggal harapan.
Sikap dan pendirian seorang Saraswati terlalu keras dan sulit untuk di luluhkan.
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa likenya ya
Kritik dan sarannya juga
Terimakasih 🤗
__ADS_1