
🌺 hem... 🌺
* * *
Terletak di lingkungan tempat tinggal para ningrat , rumah yang merupakan bangunan paling mencolok dari yang lainnya ini memiliki keunikan tersendiri yang cukup menarik perhatian.
Itu karena kediaman Raden Katraji Ademas memiliki halaman luas yang di setiap sudut tembok yang mengelilinginya terdapat patung - patung berbentuk hewan buas. Harimau, macan , ular dan buaya.
Ditambah lagi atap joglo yang mencuat tinggi dan menjadi ciri khas bangunan yang juga memiliki satu bangunan terpisah untuk tempat tinggal para pelayan rumah tersebut.
Sejak pagi buta, silih berganti kereta datang memasuki area rumah dan berhenti dihalaman rumah dengan ukiran - ukiran indah di dindingnya.
Hingga fajar menyingsing dan terang telah menguasai semesta, kediaman yang seluruh pintu dan jendelanya di buka lebar itu semakin ramai di datangi .
Mereka adalah para keluarga, kerabat dan kenalan yang semuanya berstatus ningrat . Namun ada pula dari kalangan rakyat biasa yang merupakan saudagar ataupun pemilik usaha ternama di Batavia.
Sang Adipati selaku kepala daerah sekaligus pemimpin kaum Pribumi, terlihat baru saja datang bersama calon penerusnya untuk mengucapkan bela sungkawa secara langsung.
Raden Katraji Ademas menyambut dengan wajah lesu sebab ia begitu terpukul atas berpulangnya putri tercinta secara tiba-tiba.
Bukan hanya karena kepergian Lawati yang mendadak ,tapi juga karena kematiannya yang dianggap kurang wajar.
Di mulai setelah terlibat kegaduhan dengan Mina. Lawati sempat mengeluh sakit di betisnya karena memang mendapat tendangan dari Mina di bagian itu.
Di keluarganya , Lawati adalah anak yang manja dan sangat di sayangi oleh kedua orang tuanya. Sebab ia adalah bungsu dan anak perempuan satu-satunya.
Karena khawatir, maka dipanggilkanlah seorang tabib dan seorang tukang pijit untuk memeriksa keadaan Lawati.
'' Saya rasa tidak ada luka yang perlu di khawatirkan, Ndoro.
Cukup di pijit dan banyak istirahat saja.
Saya yakin , setelah itu Ndoro putri Lawati pasti sudah baikan '' ujar si tabib.
Raden Katraji Ademas lega mendengarnya dan melakukan sesuai yang disarankan oleh si tabib .
Tak ada hal yang mencurigakan dari kondisi maupun gelagat sang putri usai dipijit dan di periksa tabib.
Meski tertatih-tatih, Lawati masih dapat berjalan menyusuri halaman belakang rumah.
Kebiasaan Lawati ketika sore hari adalah menikmati aneka bunga yang memang di tanam disana. Pun itu juga atas permintaannya.
Hingga malam menjelang.
Setelah makan malam bersama saudara laki-laki dan kedua orang tuanya , Lawati langsung beristirahat di kamarnya.
Lalu, ketika waktu telah lewat tengah malam .. Hal ganjil pun terjadi.
Penjaga yang sedang berpatroli tiba-tiba merasakan hawa tak biasa.
Semilir angin yang membawa dingin dan membuat bulu-bulu tubuh merenggang - menyapa.
Begitu pula yang sedang terlelap di kamar masing-masing.
Suasana rumah yang tadinya tenang, mendadak terganggu oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Tak ada suara . Namun keberadaan sesuatu yang sulit dijelaskan itu begitu nyata terasa.
Seperti ada yang memasuki rumah tersebut tanpa membuka akses masuk.
Beberapa dari pelayan yang tadinya sedang tidur, tiba-tiba saja tersentak tanpa sebab dan langsung terbangun.
Dan seketika itu pula perasaan jadi tak nyaman.
Satu persatu dari mereka terjaga. Namun tidak dengan majikan mereka yang justru tidur dengan sangat nyenyak.
__ADS_1
Sepertinya tak merasakan apa yang tengah dirasakan para pelayan dirumah ini.
Lalu beberapa diantara pelayan ada yang memberanikan diri untuk beranjak dari kasur dan mencoba tuk memeriksa keadaan .
Namun begitu sampai di depan pintu , kaki terasa berat untuk diangkat.
Dan ' syuuhhhhhhhh... ' seperti ada yang baru saja melintas diluar, tepat di depan pintu kamar.
Tak ada suara langkah. Namun samar terdengar seperti sesuatu yang diseret secara perlahan.
Mereka yang tadinya berniat keluar kamar, lantas urung melakukannya dan memilih untuk mundur, kembali naik ke atas tempat tidur.
Hingga malam sunyi yang mencekam itu berakhir.
Di pagi yang masih sangat buta, seorang kacung yang sedang kebelet menemukan sesuatu yang membuatnya sangat terkejut hingga berteriak histeris.
Ia yang memang tengah menahan kencing, seketika terkencing di tempatnya terduduk.
Tak jauh dari bilik tandas yang memang di peruntukan untuk para pelayan, dimana terdapat sebuah gudang penyimpanan bahan makanan, terlihat sesosok perempuan telanjang bersandar di pintu gudang yang tertutup rapat oleh gembok.
Tubuhnya lunglai tak bergerak dengan posisi kepalanya tertunduk hingga rambut panjang yang tergerai menutupi wajahnya.
Sontak teriakan si pelayan pun mengundang para penjaga untuk bergegas memeriksa ada apa gerangan.
Sama seperti si pelayan, para penjaga yang berjumlah empat orang itupun terkejut.
Tak butuh waktu lama, mereka yang tadinya masih meringkuk di kasur terbangun dan keluar menuju ke pusat kegaduhan.
Mereka semua mengelilingi sosok yang mungkin sudah tak bernyawa. Melihat dari postur tubuhnya,
beberapa dari mereka ada yang sudah bisa menduga siapa dia.
Dan benar saja, ketika di dekati dan di lihat , sosok tersebut adalah Lawati.
Apalagi saat melihat Lawati yang telah lemas dengan kondisi yang mengerikan.
Matanya terbuka seperti menatap kosong.
Wajahnya pucat dengan bibir kebiruan.
Di sisi tangan kanannya tergeletak sebuah pisau kecil. Dan di pergelangan tangan kirinya terlihat sayatan seperti yang ditorehkan secara berkali-kali hingga meninggalkan luka yang dalam.
Namun anehnya tak ada darah yang menggenang. Hanya terdapat sedikit bercak dan sedikit tetesan darah kering di beberapa bagian tubuh lainnya.
Melihat keadaan tak masuk akal anaknya, istri Raden Katraji Ademas pingsan .
Dengan perasaan berkecamuk, Raden Katraji Ademas memerintahkan para pelayan perempuan untuk mengurus jenasah sang anak dengan baik dan hati-hati.
Lalu mereka yang turut menyaksikan lantas di perintahkan untuk bungkam agar jangan sampai kejadian yang di nilai tak wajar ini diketahui orang luar.
Apalagi saat para pelayanan menceritakan tentang keganjilan tadi malam.
Karena bisa saja ini akan menjadi aib dan akan berdampak pada masa depan sang anak sulung .
Dan bila nanti ada yang bertanya tentang penyebab kematian Lawati , sang majikan dengan tegas menekankan jika mereka harus mengatakan jika itu karena sakit.
- -
'' Ini aneh, bukan ? '' ucap Panji yang duduk bersebelahan dengan calon istrinya. Mina.
Mina baru saja datang bersama ayahnya yang sekarang sedang bersama Adipati dan Raden Katraji Ademas.
Beberapa saat lalu, ketiga lelaki seusia itu memasuki sebuah ruangan . Dan mereka sudah berada cukup lama di dalam sana.
Para pelayat yang masih terus berdatangan hanya di sambut dan di temani oleh istri dan Putra Raden Katraji Ademas.
__ADS_1
Mina mengangguk sekali.
Ia tatap sekilas sang calon suami .
Ia mengangguk lagi dengan samar. Harus ia akui Panji memang memiliki wajah rupawan melebihi paras lelaki pribumi yang lainnya.
" Apa kau tau apa yang mereka bicarakan hingga begitu lama berada di sana ? '' tanya Mina yang telah mengembalikan posisi kepalanya ke depan.
" Tadi ayahku menawarkan pada Raden Katraji Ademas, apakah perlu dilakukan penyelidikan untuk mengusut kematian Lawati atau tidak . Tapi Raden Katraji Ademas menolak .
Dan selebihnya aku tak tau '' jawabnya bernada datar sambil mengangkat bahunya sekali.
Memang seperti inilah hubungan mereka . Dan ini bukan kali pertama mereka bicara meski dengan sikap yang sama-sama seperti tak berselera untuk berbincang.
Enggan saling tatap dengan cara bicara yang terkesan acuh.
Sepasang insan yang duduk di kursi kayu yang bersandar di dinding teras menatap lurus ke arah gerbang yang terbuka lebar . Dimana kereta-kereta para pelayat keluar masuk menjadi pemandangannya.
' cklak-cklak-cklak ' tapak kaki kuda berhenti di depan gerbang. Sebuah andong.
Mina dan Panji mengernyit dan sama-sama melihat pada kereta yang berlalu usai menurunkan penumpangnya.
Profesor Herlad dan kacung pribadinya yang berwajah rupawan berjalan bersamaan.
Hari ini sekolah memang diliburkan untuk turut berkabung atas kepergian salah satu muridnya.
'' Kau, tunggulah disini.
Aku tak akan lama '' ucap Profesor Herlad pada Dimas yang mengangguk seraya mengiyakan.
Dimas berdiri di sisi tangga rumah dengan kepala sedikit di tekuk.
Sekilas tadi ia sempat bertatapan dengan Mina dan Panji.
Ia lemparkan senyum dengan sekali anggukan. Sebagi bentuk sapa dan salam hormatnya pada yang berstatus lebih tinggi darinya.
Dimas memang tau bagaimana menjaga sikap.
Terlebih ia tau siapa mereka. Pasangan terkenal yang sebentar lagi akan sah mengikat hubungan secara resmi.
Tak berselang lama, dua buah kereta secara bersusulan masuk dan terparkir bersebelahan.
Agam dan Saraswati turun dari kereta mereka masing-masing.
Saraswati tak sendiri. Ia datang untuk menemani sang suami.
Sedangkan Agam datang karena ia dan Raden Katraji Ademas menjalin kerja dalam memasok bahan makanan ke rumah si ningrat.
Agam sengaja tak langsung mengambil langkah dan membiarkan suami dan istri mudanya jalan lebih dulu.
Agam tak bisa memalingkan perhatiannya pada Saraswati yang tangannya melingkar erat di lengan Raden Mandala.
Melihat kemesraan yang ditujukan itu, dadanya seperti dihimpit. Sesak.
* * *
Bersumbang- -
Jangan lupa like - nya ya
Kritik dan sarannya juga sekalian.
Trimakasih🤗
.
__ADS_1