Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Perjodohan dan Pernikahan


__ADS_3

🌺 hem.. 🌺


* * *


Langkah Panji berhenti di halaman samping rumah, dimana terdapat saung - tempat yang biasa digunakan keluarganya untuk berkumpul dan bersantai .


Nampak ke dua orang tuanya duduk , menunggu kedatangannya.


'' Kemarilah, nak. Kau pasti lapar , kan ?


Ayo, sini duduk.Kita makan siang bersama '' ucap sang ibu yang bernama Pramuanti Widuri.


Wanita berkebaya hijau yang selalu nampak anggun dan mempesona diusianya yang telah menginjak kepala empat.


Pramuanti memang sangat merawat diri .


Panji menarik nafas panjang dan menghempaskannya dengan kasar sembari menyambung langkah yang tadi sempat terhenti.


Panji kemudian duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya.


Tak berselang lama, para pelayan datang membawa dan menghidangkan makan di hadapan mereka.


'' Romo sudah menyiapkan rumah yang akan kau tempati setelah menikah nanti '' ucap ayahnya, sang Adipati Arthaprawirya.


Panji menghentikan makannya. Ia tatap pria berkharisma yang hampir keseluruhan serupa dengannya .


'' Romo - '' baru saja akan berucap, sang ayah seketika berhenti mengunyah dan langsung menatapnya .


Sorot matanya syarat akan sebuah tekanan.


Panji balas menatap.


Ia seolah menegaskan jika kukuhnya keputusan sang ayah tak akan bisa menggoyahkan pendirinya .


'' Kang mas '' Pramuanti mencoba menengahi. Ia memegang lengan sang suami dan mengusapnya lembut. Berharap sang suami tak tersulut amarah dan tenang.


Namun sang suami dan anaknya tak menggubrisnya dan mulai saling lempar argumen.


Suasana pun mulai diliputi ketegangan.


Semua karena perjodohan yang telah disepakati seminggu yang lalu.


Antara putra tunggal Sang Adipati dengan putri sulung Kolonel Jhon Van Piereezoon.


Sebenarnya, jauh sebelum di ditetapkannya pernikahan Panji dan Mina, sang Adipati telah berulang kali berencana menjodohkan Panji dengan beberapa putri ningrat kenalannya.


Sejak genap berusia 17 tahun , Panji sudah di beritahukan jika ia akan segera dinikahkan.


Namun Panji menolak dengan alasan ia masih ingin melanjutkan pendidikannya.


Ketika itu, sang Adipati memberi kebebasan pada putranya dengan memberi waktu satu tahun untuk Panji melakukan hal yang ingin dilakukannya.


Hingga di tahun berikutnya, seorang kerabat yang merupakan sesama ningrat berkunjung untuk menawarkan perjodohan.


Namun belum sempat perjodohan itu di sepakati, anak gadis sang ningrat tiba-tiba menghilang dan hingga kini tak pernah ada kabarnya .


Menurut desas desus yang tersiar di kalangan bangsawan Pribumi, anak gadis si ningrat menolak di jodohkan dan kabur bersama lelaki yang dicintainya. Yang kemudian diketahui hanyalah seorang dari kalangan jelata.


Terlepas dari benar atau tidaknya , Sang Adipati tidak perduli dan lebih memilih untuk mencari gadis dari keluarga ningrat lain yang sekiranya pantas dan layak untuk disandingkan dengan anak satu-satunya.


Hingga takdir membawanya bertemu Kolonel Jhon Van Peirezoon. Ketika itu , para ningrat Pribumi dan para Kompeni tengah mengadakan pertemuan untuk membahas dan membicarakan mengenai kerja sama dalam mengatur wilayah Batavia.


Dalam pertemuan itu, sang Adipati dan si Kompeni terlibat obrolan panjang lebar dan entah bagaimana bisa berakhir dengan kesepakatan untuk menjodohkan anak mereka.


Dan Panji lagi-lagi menolak dengan tegas .


Namun, sang Adipati kali tak bisa lagi mentolerir.


Ia yang tau jika penyebabnya adalah anak pengasuhnya, Mayang - lalu memberi perintah agar mbok Arni dan suami pergi dari rumahnya dengan membawa serta anak angkat mereka.


Mengetahui rencana sang ayah, seketika itu pula Panji melunak. Ia menurunkan egonya dan memohon dengan sangat.


Ia tak berdaya. Mayang adalah kelemahannya. Ia tak bisa jauh dah hidup tanpa Mayang.


Maka dengan berat hati ia menerima keputusan ayahnya. Ia akan menikah dengan jodoh yang telah diatur untuknya. Tapi dengan syarat.


Mayang harus berada di manapun ia tinggal.


Sebab suatu hari nanti Mayang akan ia jadikan selirnya.


- -


'' Apa ini masih tentang Mayang ? '' tanya sang Adipati dengan wajah merah padam.


Ia tak habis pikir jika sang anak masih ngotot memperjuangkan cinta pada anak pengasuhnya.


'' Apakah romo sudah lupa ? Waktu itu Romo sudah berjanji, jika aku setuju maka Romo akan mengabulkan syaratku ''


'' Benar. Tapi tidak bisa langsung seperti itu, Panji.


Kau akan menikah dan menjalani rumah tangga bersama istrimu dan miliki anak terlebih dahulu .


Baru setelah itu kau boleh menambah wanitamu ''

__ADS_1


'' Tidak ! Aku tidak bisa menunggu selama itu, Romo. Aku tak sanggup jika harus lama-lama berjauhan dari Mayang.


Aku tak mau romo. Aku tak bisa ''


'' PANJI !!! ''


'' Kang mas... '' Pramuanti menahan dengan memegang kuat lengan sang suami yang sudah hampir bangun dari duduknya.


" Kalian berdua jangan seperti ini. Kita bicarakan ini pelan-pelan agar bisa menemukan keputusan yang baik untuk semuanya ''


Ayah dan anak kompak sama-sama melemparkan tatapan ke arah berlawanan.


Pramuanti menghela nafas berat . Setelah dirasa susana cukup tenang ia pun mengeluarkan apa yang ada di pikirannya sejak tadi.Dengan harapan, ini bisa menjadi solusi dan mengakhiri perdebatan anak dan suaminya.


" Panji... Kau tau jika kita para ningrat tak mungkin menikah dengan seorang yang bukan dari kalangan kita, bukan ?


Apalagi gadis seperti Mayang yang tak jelas asal usulnya. Kita semua tau, jika Mayang bukan anak kandung mbok Arni. Dia anak angkat ''


Panji terdiam. Kenyataan bahwa cintanya terhalang status sosial adalah hal yang tak bisa ia remehkan.


Ini menyangkut nama baik keluarganya, masa depan dan juga nama baik para ningrat Pribumi lainnya.


Apa jadinya jika satu-satunya keturunan raja terdahulu menikahi seorang kacung ?


Tentu ia dan seketurunannya akan menjadi bahan gunjingan dan tak menutup kemungkinan akan menerima cercaan yang berkepanjangan.


Ia tak mau anak cucunya menanggung hinaan karena egonya.


Namun ia juga tak bisa mengesampingkan perasannya yang terlanjur tumbuh terlalu dalam pada Mayang.


Gadis sederhana yang hampir tak memiliki keistimewaan.


Baik rupa maupun bentuk tubuh, Mayang tergolong standar . Tak kurang dan juga tak lebih. Semua yang ada padanya ditakar dengan porsi yang pas.


" Ibu, tau bagaimana perasaan mu.


Ibu tak akan menyalahkan ataupun menyuruhmu untuk mengubur cintamu pada Mayang.


Karena kami tau tak akan semudah itu kau mau melepaskan apalagi melupakannya.


Jadi, percayalah. Kami tak akan ataupun berniat untuk memisahkan kalian.


Hanya saja, kau harus ingat kodrat dan tanggung jawabmu terhadap keluarga ini.


Karena cuma kamulah satu-satunya anak kami.


Mengertilah, nak.


Kau tak bisa gegabah dalam mengambil keputusan. Dan kau juga tak boleh serakah.


Menikah, punya anak dan yakinkan dulu istrimu.


Jika semuanya sudah dalam kendalimu, barulah kau bisa membawa Mayang masuk kedalam kehidupan mu .


Kau hanya perlu bersabar sampai dua atau tiga tahun saja.


Setelah itu ,barulah kau bisa mengambilnya sebagai selir " ucap Pramuanti menatap dalam anak yang begitu dikasihinya.


Ia mengerti jika situasi sang anak sulit dan terjepit.


Satu sisi kodrat menuntun Panji agar berprilaku sepantas dan selayaknya seorang ningrat.


Namun di sisi lain, ia sama seperti manusia lainnya. Yang tak bisa menentukan harus dengan siapa jatuh cinta.


'' Aku pamit undur diri, romo, ibu.


Aku mau menemui Mayang dan bicara dengannya '' Panji beranjak dan berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.


Panji memburu langkah menuju bagian paling belakang rumah . Dimana terdapat dua buah bangunan terpisah dari bangunan utama .


Bangunan yang lebih kecil merupakan pusat aktivitas memasak. Sedang bangunan yang besarnya dua kali lipat dari bangunan sebelumnya adalah tempat tinggal para pelayan .


Sepanjang menapakkan kaki dan melewati satu persatu ruang yang ada di kediamannya, Panji beberapa kali berhenti untuk bertanya pada pelayan yang kebetulan berpapasan dengannya.


'' Di mana Mayang ? ''


Semua yang ia tanyain menjawab serupa.


'' Mayang tadi dipanggil ibunya . Mungkin sekarang ada di bangunan belakang, den Mas ''


Sudah bukan rahasia lagi jika Panji , anak sang Adipati tergila-gila pada kacung pribadinya sendiri. Semua orang yang bekerja rumah tersebut tau, bahkan hal itupun telah tersebar hingga ke luar.


Itu pula lah salah satu alasan sang Adipati begitu mendesak Panji untuk segera menikah.


Ia tak mau kecolongan dan khawatir jika panji nekat hingga kebablasan.


Jangan sampai keturunan pertama lahir bukan dari pernikahan sah sesama ningrat.


Sebab melihat gelagat Panji dan sikapnya yang kian tak terkendali, sang Adipati semakin gencar untuk menikahkan anaknya.


- -


Panji sampai di bangunan tempat tinggal para pelayan rumahnya.

__ADS_1


Kedua kakinya berhenti sejajar tepat di depan sekat pembatasan ruangan.


Dua sosok yang ia hapal siapa tengah , duduk dengan posisi membelakangi tempatnya berpijak.


Mayang dan ibunya, mbok Arni.


Mereka tak tau jika Panji ada dibelakang mereka.


'' Kamu sudah dengar kalau Raden Panji akan segera di nikahkan ? '' tanya Mbok Arni, wanita yang kini sudah berusia lebih dari setengah abad.


'' Nggih, bu '' jawab Mayang pelan dan menganggukkan kepalanya yang tertunduk.


Mayang tau kemana arah pembicaraan ini.


Sebab bukan sekali dua kali ibunya mengajaknya bicara dan membahas hal yang sama.


'' Ibu rasa, ini saatnya bagi kamu, ibu dan bapak meninggalkan tempat ini.


Ibu dan bapak sudah tua. Tenaga kami tak lagi berguna . Jadi sudah sepantasnya kita tau diri.


Ibu sudah bicara dengan Kanjeng Adipati.


Beliau mengatakan akan bertanggung jawab dan menyiapkan segala kebutuhan kita.


Jadi, kita hanya perlu pergi saja tanpa memikirkan apa-apa lagi.


Bagaimana menurut mu, ndok ? Kau tak keberatan bukan ? '' mbok Arni memegang pundak yang tepat disebelahnya .


Mayang menegakkan kepala dan mengangguk.


Tanda ia menyetujui hal tersebut.


'' Kita harus pergi, sebelum semuanya bertambah sulit.


Jadi, kau bersiap saja. Karena ketika waktunya tiba, maka kita segera pergi dari sini.


Dan jika nanti kita sudah ditempat tinggal yang baru , sebaiknya kau menikah.


Ibu dan bapak akan mencarikan seorang suami yang baik untuk mu ''


Mayang bergeming.


Kata menikah, suami, adalah hal yang sama sekali tak pernah terbesit di benaknya.


Meski kebanyakan perempuan di usianya telah memikirkan atau bahkan telah menikah dan memiliki suami, namun Mayang tidak demikian.


Ia sendiripun heran. Ia seolah tak tertarik dengan kehidupan rumah tangga .


Mungkin karena ia belum mengenal dan merasakan apa itu cinta. Sebuah rasa yang konon dapat merubah dan mengendalikan segalanya.


'' Bu ''


'' ya , ndok ''


'' Untuk urusan menikah .. Apakah bisa nanti saja dilakukan ? ''


'' Kenapa ? Apa ada yang membuatmu tak ingin menikah ? Usiamu sudah cukup untuk memiliki suami, Mayang ''


'' ... ''


'' apa karena Raden Mas Panji ? ''


Mayang menggeleng.


'' A-aku ingin menemukan jodohku sendiri.


Aku janji tak akan menuntut hal apapun dan akan melakukan apapun yang ibu katakan.


Jadi, bisakah ibu memberikan kebebasan untuk menentukan pilihanku sendiri ? ''


'' Mayang, nduk.. i-ibuk '' mbok Arni menghentikan ucapan yang sudah diujung lidahnya ketika melihat sosok yang tiba-tiba muncul .


' deg ' sontak ibu dan anak terkejut.


Dari raut wajahnya, mereka menebak jika sang majikan muda mendengar pembicaraan mereka barusan.


'' Mayang '' suaranya terdengar datar namun penuh penekanan.


Mayang berdiri sebab ia tau jika maksud namanya di sebut adalah sebuah perintah.


Tanpa sepatah kata pun, Panji berbalik dan langsung mengambil langkah keluar.


Mayang pamit pada sang ibu . Lalu dengan cepat menyusul Panji yang baru saja menghilang dari balik dinding.


* * *


Bersumbang


Like jangan lupa.


Tinggal kamu jejak jika suka ceritanya


Dan sangat diharapkan kritik dan sarannya.

__ADS_1


Makasih 🤗


__ADS_2