
🌺 hem... 🌺
* * *
Mengandalkan sinar bulan sebagai penerang,
sepasang manusia berjalan dibawah gelapnya langit malam .
Langkah si pria nampak begitu tegas dan pasti. Berbeda dengan langkah perempuan yang mengikutinya . Pandangannya lebih banyak ke bawah, pada ujung kakinya agar tak salah melangkah. Namun sesekali ia terlihat menenggak kepala. Menatap punggung lelaki yang berada didepannya sambil menghela nafas.
' Bruk ' Mayang menubruk tubuh yang tiba-tiba berhenti . Mayang mengernyit heran. Mendapati Dimas sedikit memutar tubuhnya dan melemparkan senyuman.
'' Kau lelah ? ''
Mayang menggeleng samar. Bohong. Padahal kedua betisnya serasa akan putus. Pergelangan kakinya seperti akan lepas dari engselnya.
Tapi bukan hanya kakinya saja yang terasa begitu pegal. Tubuh mungilnya pun tak kalah letih . Rasanya seperti habis di pukuli. Remuk.
'' Maaf, Mayang. Tapi kita tidak bisa berhenti.
Kita harus tetap melanjutkan perjalanan dan sampai ditempat tujuan sebelum fajar datang '' Dimas mendekat, lalu menekuk kedua kakinya didepan Mayang.
Mayang sempat terkejut. Apalagi saat merasa sentuhan tangan yang mulai memijit kakinya. Namun karena pijitan itu terasa nyaman, maka ia biarkan saja.
'' Otot-otot kakimu kaku. Kau bisa kram jika terus memaksakan diri berjalan.
Karena kita tidak bisa berhenti dan beristirahat , maka sebaiknya kau ku gendong saja '' Ucap Dimas mendongakkan kepala. Menatap Mayang dengan kepala mengadah.
Mayang bergeming.
Tak tau harus menjawab apa. Jika boleh memilih, ia tentu akan mengajukan pada Dimas untuk beristirahat sejenak. Tapi karena Dimas telah mengatakan tak bisa, maka ia pun mengurungkannya.
Tapi ia bingung. Melanjutkan perjalanan dengan tawaran digendong, rasanya ia terlalu malu untuk mengatakan iya. Tapi tak mungkin juga menolak dan memaksakan diri. Sedangkan kaki sudah tak sanggup lagi untuk melangkah.
Melihat Mayang yang nampak bimbang , Dimas berdiri.
Sedikit membungkuk untuk menyamakan pandangan dengan Mayang.
'' Kau mau ku gendong didepan ? Atau dibelakang ? ''
'' Eng.. tap- tapi Mas.. Aku kan berat. Pasti nanti mas akan sangat kelelahan jika harus berjalan sambil menggendong ku '' Mayang tertunduk, tak berani menatap.
Dimas tertawa kecil.
Ia lantas berbalik dan berjongkok didepan Mayang.
Semburat senyum kecil terlihat, seiring dengan menjatuhkan bokongnya di kedua telapak tangan terbuka Dimas dan menempelkan tubuhnya di punggung lelaki pemilik senyuman manis ini.
Sebagai pertahanan, Mayang pun memegang bahu Dimas dengan erat.
Dan perjalanan pun kembali di mulai.
'' Apakah aku tidak berat , mas ? '' Mayang berucap dengan bibir tak jauh dari telinga kanan Dimas.
Lelaki itu menyamping wajahnya , membuat pipinya hampir tak berjarak dari bibir Mayang.
Mayang gugup. Jantungnya pun mulai berdebar tak karuan. Ia semakin resah, karena berpikir Dimas pasti bisa merasakannya sebab dadanya yang menempel di punggung Dimas. Rasanya ia ingin loncat dan turun saat ini juga.
'' Beratmu sama dengan barang bawaan mu ini '' Dimas mengangkat gulungan kain milik Mayang yang menggantung di lengannya.
Diam beberapa saat.
Mayang berusaha menetralkan perasannya. Terutama reaksi tubuhnya. Tapi percuma. Ia tetap saja gugup . Begitupun dengan degup jantung yang semakin berdegup kencang.
Namun Mayang tetap berusaha. Mungkin dengan bicara bisa mengalihkan rasa yang ada dalam dirinya . Begitu Mayang akhirnya memutuskan .
Ia hela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
'' Mas, apa sekarang aku sudah bole mengajukan pertanyaan ?''
'' Em. Tanyalah . Kau pasti punya banyak pertanyaan yang kau pendam sejak tadi ''
Mayang mengangguk. Ia lalu menyandarkan kepala di pundak Dimas. Rasanya pas dan sangat nyaman.
__ADS_1
'' Kenapa mas bisa tau di mana aku berada ? Lalu, apa maksud mas tadi mengatakan jika mereka semua sudah tidak ada ?
Memangnya apa yang terjadi dengan kedua orang tuaku dan Nyi Geno ?
Dan sekarang mau kemana kita ? Kenapa juga kita harus pergi dan terburu-buru seperti ini ? ''
Dimas tergelak dengan rentetan pertanyaan Mayang.
' Hup ' ia membenarkan posisi duduk Mayang dengan sekali menghentakkan telapak tangannya. Bongkahan benda padat itu terangkat dan kembali jatuh di tempat semula.
Mayang yang terkejut tak bisa protes sebab memang tadi tubuhnya agak merosot.
'' Tak penting darimana aku tau keberadaan mu. Yang penting adalah aku menemukan mu disaat yang tepat.
Lalu tentang kedua orang tuamu dan Nyi Geno...Mereka semua sudah mati ,Mayang ''
' Deg ' Mayang terkesiap.
" Mati? " batinnya langsung dirundung sedih.
Terlepas dari apapun yang telah ia ketahui tentang kedua orang tua angkatnya yang berencana mencelakainya, namun mereka adalah orang yang pernah begitu berarti dalam hidupnya.
Selama belasan tahun, Sudarman dan Mbok Arni membesarkan dan mengasihinya. Memberikan perlindungan dan kasih sayang layaknya orang tua terhadap anaknya.
Mereka tak pernah sekalipun bersikap kasar dan memarahinya secara berlebihan.
Meski pada akhirnya, pasangan itu mati sebab terlibat dalam niatan untuk melenyapkannya dari dunia ini.
Entah apa salahnya atau siapa yang menghasut mereka hingga tega berbuat demikian.
Namun yang pasti. Mayang terlanjur sayang dan tak sampai hati untuk membenci mereka.
Begitu pun dengan Nyi Geno. Walau baru kenal sesaat, namun ia sudah merasa dan menemukan rasa aman dari sosok wanita renta itu. Ia pun turut sedih memikirkan nasib naas Nyi Geno yang kini telah pergi ke dunia lain.
" Mayang "
" Ya, Mas "
" Aku turut menyesal dengan kematian mereka. Tapi ini bukan saatnya untuk kau terlalu larut dalam kesedihan.
Dan mereka lah yang bertanggung jawab atas kematian orang tua angkatmu dan juga Nyi Geno "
" ... "
Wajah Dimas berubah muram. Ia terpaksa berbohong tentang mereka. Karena memang tak mungkin ia berterus terang jika mereka itu adalah ia dan sang ibu, Saraswati. Termasuk juga tentang Saraswati yang telah membunuh orang tua angkat Mayang dan Nyi Geno.
Batin Dimas berkecambuk.Ia yakin, jika Mayang mengetahui jika ia adalah bagian dari rencana pencarian dan juga berniat membunuhnya - Mayang pasti akan lari dan membencinya.
Tidak. Membayangkannya saja ia sudah tak sanggup.
Itu tak boleh sampai terjadi.Mayang tak boleh tau. Ia akan menutup rapat-rapat dan menyembunyikan hal itu dari Mayang.
Diam menghampiri lagi. Mengisi waktu perjalanan yang seolah tak berujung.
Entah sudah berapa lama , sejauh apa jarak yang telah ditempuh, dan berapa banyak pohon yang telah mereka lalui.
Meski demikian, langkah Dimas sama sekali tak sempoyongan ataupun nampak lelah .
Ia tetap berjalan dengan baik.
" Apa kau sudah tau, jika ada jiwa lain yang bersemayam di tubuhmu ? '' tanya Dimas membuka kembali pembicaraan.
'' Em '' Mayang mengangguk. Sesaat ia berpikir. Bagaimana bisa Dimas mengetahuinya ? Apakah Dimas salah satu dari mereka yang telah lama mengetahui tentangnya ?
Tapi untuk apa mereka mencarinya hingga sampai harus saling bunuh ?
" Begitu rupanya " ucap Dimas yang terdengar lebih seperti bergumam. Tersirat kekhawatiran dalam nada ucapannya barusan.
Ia pun menebak-nebak, sejauh mana Mayang telah mengetahui tentang Nyi Sukma?
Apa tentangnya dan sang ibu juga telah diketahuinya? Tapi sepertinya tidak. Sebab jika Mayang telah mengetahuinya tak mungkin gadis ini mau ikut dan percaya padanya.
'' Lalu, kemana tujuan kita ini mas ? ''
__ADS_1
Dimas merogoh lipatan jarik yang dibentuk menyerupai celana. Ia keluarkan secarik kertas dan menujukannya.
'' Nyi Geno memberikan ini saat dia mempercayakan mu padaku.
Dia bilang, ini akan menuntut kita ke suatu tempat. Kita hanya perlu ke pelabuhan dan mencari seorang pria pendek berkepala botak.
Dia adalah salah satu abdi Adipati yang memiliki sebuah kapal dagang.
Jadi, ketika kita menemuinya nanti.Kita harus menunjukan kertas ini padanya . Dan dia akan membawa kita keluar dari wilayah Batavia ''
'' Keluar dari Batavia ? Lalu setelah itu ? Apa yang harus kita lakukan ? ''
'' Menikah mungkin ? '' Dimas menggoda di iringi kekehan ringan.
Mayang yang sempat dilanda kesedihan akan kematian orang tua angkatnya dan Nyi Geno , seketika menjadi sumringah .Siapa yang tak merona digoda oleh lelaki yang disukai.
Ia pun teringat pertemuan terakhir dengan Dimas.
Lelaki ini mengajaknya pergi untuk memulai lembaran hidup baru bersama. Mungkinkah akan terjadi ?
'' Aku sudah melepaskan dan meninggalkan semua milik ku , Mayang.
Kini aku bebas. Sekarang aku bisa bersamamu . Jadi, mulai saat ini aku akan menemani dan menjagamu hingga sampai ditempat tujuan "
Ucapan Dimas membuat Mayang terenyuh. Angannya perlahan naik dan melambung tinggi. Memikirkan dan berandai-andai jika semua yang Dimas katakan bukan hanya sekedar rangkaian kata-kata manis belaka. Tentu ia akan memetik akhir yang manis bukan ?
Karena janji yang Dimas ucapkan barusan, perlahan rasa tenang menyelimuti relung hati yang tadi dipenuhi kegundahan.
Sayup-sayup kedua mata Mayang tertutup dan ia pun tertidur.
Merasa tak ada lagi pergerakan , Dimas yang yakin jika Mayang telah terlelap segera mengambil ancang-ancang.
Langkah yang tadinya santai, berubah menjadi begitu cepat seperti kilat. Namun begitu seimbang hingga yang digendong tak merasakan apapun selain terpaan angin kencang yang justru membuat tidurnya semakin lelap.
Hanya dalam waktu singkat, Dimas sudah menghentikan laju langkah kedua kakinya.
Pelabuhan.
Segera Dimas mengambil jalur menepi.
Dengan langkah mengendap-endap , ia mencoba menyembunyikan diri dari sekitarnya yang sepi sebab waktu tengah beranjak subuh.
Dimas melihat sebuah bangku kayu panjang yang berada di sisi kapal kosong. Ia letakan Mayang dengan perlahan. Pasti karena lelah, tidur Mayang terlihat sangat pulas hingga tak sadar telah diturunkan dari gendongannya.
Sebelum pergi meninggalkan gadisnya, ia lebih dulu menyelimuti tubuh mungil itu agar tak kedinginan. Pun ia lindungi dengan jampi agar keberadaan Mayang tersamarkan oleh mata manusia maupun dari makhluk tak kasat mata.
Barulah setelah itu ia dapat pergi meski hatinya tetap saja tak tenang .
" Baiklah.Aku hanya perlu mencari seorang pria pendek berkepala botak "
Dimas berjalan sambil mengedarkan pandangan ketika langkahnya memasuki kawasan utama tempat yang menjadi pusat keluar masuknya perdagangan.
Ternyata di gerbang yang merupakan bagian utama pelabuhan, dipenuhi oleh manusia yang sibuk berlalu lalang.
Memang kebanyakan mereka yang bekerja di tempat ini seolah tak mengenal waktu. Malampun tetap harus melakukan pekerjaan sebab di buru waktu dan juga persaingan .
" Ck . Dimana aku bisa menemukannya ditengah keramaian seperti ini? '' Dimas nampak kesulitan. Ia tengah berada dan terjebak di antara kerumunan manusia yang didominasi para lelaki.
" Hei , kau ! Bergegaslah. Kita harus berangkat sekarang juga ! " seruan dari seseorang yang berada didek sebuah kapal tak jauh dari tempat Dimas berpijak.
Secara sepontan Dimas memutar leher, melihat ke arah asal suara tadi.
Senyum tersinggung dibibirnya. Seorang pria pendek berkepala botak tengah berkecak pinggang sambil memberi perintah pada dua orang lelaki yang membawa beban di punggung.
" Ketemu, kau "
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa dilike ya
Di komentarin juga
__ADS_1
Terima kasih