Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Menatap nanar


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Mayang menggeliat lalu menguap. Ia menyipitkan kedua matanya yang terasa begitu berat. Suasana masih temaram, menandakan hari belum berganti. Mungkin masih malam atau tengah menanjak subuh.


Mayang kembali menutup rapat kedua matanya . Namun hawa dingin membuatnya terpaksa bangun untuk mengambil kain yang biasa ia gunakan sebagai selimut.


Seketika mata Mayang terbuka lebar, menyadari tubuhnya polos tanpa busana. Pantas saja dingin. Pikirnya.


Belum sempat mendudukkan diri , tiba-tiba sebuah tangan melingkar erat di perut dan menekannya. Mayang menoleh ke samping. Ia baru ingat jika ia tak sendiri .


Dimas. Lelaki yang juga dalam keadaan telanjang itu menyamping tubuh. Ia meraih kain yang kebetulan memang tergeletak di sampingnya, lalu merentangkanya untuk menutupi tubuhnya dan juga Mayang. Ia naikan hingga batas dada Mayang.


Dimas menggeser tubuh , merapat lalu memeluk Mayang. Menyalurkan kehangatan yang dibutuhkan perempuan yang baru saja ia renggut ke gadisnya .


'' Mas '' Mayang mencoba melepaskan diri, namun Dimas justru semakin mengeratkan pelukannya.


'' Kau lupa kalau kita sudah melakukannya ? ''


Mayang terdiam.


'' Sekarang kau adalah milik ku ,Mayang.


Jadi, kau tak boleh kemana-mana. Karena aku tak akan pernah membiarkanmu pergi dariku ''


'' ... '' Mayang memejamkan mata ketika Dimas mengecup keningnya.Terasa lembab dan lengket sebab keringat yang telah mengering .


'' Kurasa, sebaiknya kita menetap disini .Membuka lembaran baru dan memulai hidup bersama . Bagaimana, menurutmu ? Kau mau kan ? '' tanya Dimas yang setelah itu mendaratkan kecupan lagi di tempat yang sama.


* * *


Di saat yang bersamaan.


Sebuah kapal tanpa awak berlayar lancar tanpa kendala. Dua malam telah terlewati. Jika tak salah menentukan arah, itu berarti kapal tersebut telah dekat dengan tempat tujuan .


Meninggalkan lautan lepas, samar-samar mulai terlihat gundukan yang di perkirakan adalah daratan.


Namun tiba-tiba saja angin yang menjadi sumber utama penggerak kapal, menghilang. Asap-asap putih yang entah dari mana, datang mengerubungi. Kini kapal seolah mengapung ditengah kabut tebal yang mengelilinginya.


Sepasang manusia keluar dan berdiri di dek kapal. Mereka terlihat sama-sama mengedarkan pandangan. Meniti dan memperhatikan keadaan yang mendadak berubah. Mungkin bagi manusia biasa ini dianggap hal yang tak masuk akal. Namun tidak bagi dua orang yang memutuskan untuk kembali masuk kedalam. Mereka menganggapinya dengan tenang. Sama seperti hal-hal ganjil yang pernah dan telah mereka lalui.


'' Kau tak perlu khawatir. Mungkin kapal ini seperti berhenti. Tapi tunggulah beberapa saat lagi.


Kapal ini ini pasti akan membawa kita ke daratan desa Arkha '' ucap Agam pada wanita yang berdiri dan menatap keluar sana melalui jendela.


'' Emm... '' respon Saraswati terkesan sanksi.


Agam mendekat.


'' Percayalah padaku.


Kapal ini belum pernah sekalipun mengecewakan ku. Dia selalu bisa membawa kemanapun tujuanku ''


Saraswati melirik sekilas kemudian kembali menatap kearah tadi. Ia ingin percaya tapi tetap saja keraguan tak bisa ia tepis begitu saja.


Saraswati teringat apa saja yang ia lakukan selama beberapa hari belakang ini. Ia berkeliling Batavia, memasuki satu persatu tempat yang bisanya menjadi sarang berkumpulnya para pembawa dan penyedia informasi, hanya untuk mencari tau tentang desa Arkha .


Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia mendengar nama desa Arkha disebut.

__ADS_1


Dulu, pernah ada seseorang yang bercerita padanya, akan sebuah daratan diujung pulau JawaDwipa- yang dijadikan para kompeni sebagai tempat pembuangan para pelaku kejahatan dari kaum Pribumi.


Namun tak dijelaskan dengan rinci. Apakah keberadaan tempat tersebut memang benar adanya , atau hanya akal-akalan para Kompeni untuk menakut-nakuti kaum Pribumi saja .


Saraswati pun sempat tak percaya jika desa Arkha itu ada.


Tapi sekarang ia akan membuktikannya sendiri. Dan hanya tinggal menunggu waktu, maka ia akan menemukan jawab atas segala rasa penasaran yang selama ini telah membelenggu pikirannya.


* * *


Masih diwaktu yang sama namun ditempat yang berbeda.


Panji berdiri di hadapan tumpukan material bangunan yang baru saja di robohkan.


Rumah yang menyimpan sejuta kenangan bersama orang tuanya kini rata dengan tanah.


Memang disayangkan. Tapi mengingat sudah dua kali terjadi tragedi pembantaian dirumah itu, dengan berat hati Panji memutuskan untuk menghancurkannya . Ia terpaksa sebab tak ingin selalu terbayang kematian tragis kedua orang tuanya .


'' Kanjeng Den Mas '' sapa kusir yang tadi membawa dan telah menemaninya hampir seharian ini.


'' Em ? '' balas Panji tanpa memalingkan pandangannya.


'' Sudah senja, Den Mas ''


Panji mendongak. Sejenak ia perhatikan hamparan semesta di atasnya. Sejak kapan langit biru nan cerah tadi sudah berganti jingga ? Ternyata sudah cukup lama ia berada di sini. Gumamnya.


Panji mengembalikan posisi kepalanya seperti semula. Kembali ia menatap pada puing-puing yang ada dihadapannya. Rasa sesak menghimpit dada. Ia lalu menghela nafas , berbalik dan beranjak dari tempat yang telah menjadi kenangan terindah sekaligus terpahit dalam hidupnya.


Diperjalanan , Panji termenung memikirkan apa yang akan atau harus ia lakukan setelah ini. Sebagai satu-satunya keturunan seorang Adipati, siap tak siap ia harus bersiap mewarisi kedudukan mendiang ayahnya sebagai pemimpin Pribumi di Batavia ini. Yang itu berarti ia juga harus mempersiapkan diri untuk bekerja dibawah perintah dan aturan para Kompeni.


Panji menghela nafas berat untuk yang kesekian kalinya. Ini bukanlah tanggung jawab kecil. Sesal menghampiri. Kenapa tak mempersiapkan diri sejak dulu. Seharusnya ia melakukan apa yang mendiang ayahnya waktu itu anjurkan.


'' Usiamu sekarang sudah tujuh belas tahun. Dan kau pun telah menyelesaikan pendidikanmu. Ku rasa sudah waktunya kau mempersiapkan diri . Karena suatu saat nanti, cepat atau lambat, bahkan bisa besok atau lusa, hanya kau lah yang akan mewarisi gelar Adipati ini ''


" Kanjeng Den, Mas "


Panji tersadar dari lamunannya. Dilihatnya pintu kereta telah terbuka . Panji membawa tubuh dan melangkah keluar dari kereta.


Panji meneruskan langkah, memasuki rumah yang sudah belasan hari ini menjadi tempatnya pulang. Kediaman Kolonel Jhon Van Pierzoon.


" Selamat datang Kanjeng Den Mas " seorang kacung menyambutnya dimuka pintu.


Panji balas dengan mengangguk sekali.


" Dimana semua orang? Kenapa sepi sekali? " tanya Panji sambil terus berjalan menapaki lantai rumah yang terbuat dari kayu ulin . Panji edarkan netra dan memperhatikan setiap ruang yang ia lewati.


Tak seperti rumah khas Pribumi yang lapang dan tak banyak memiliki sekat pemisah ruangan.


Rumah mertuanya ini bergaya khas barat dan terbilang unik dimata siapapun Pribumi yang melihatnya.


Berdiri di atas tanah yang luas, rumah ini memiliki banyak tiang penyangga berukuran besar dan terdapat banyak lorong yang harus dilewati untuk sampai ke satu ruangan ke ruangan lain. Dan tiap-tiap ruangan di batasi oleh dinding pemisahan yang tebal.


" Nyonya sedang di dapur mempersiapkan makan malam. Nona dan kedua tuan muda sedang berada di ruang keluarga. Dan Tuan belum pulang "


Panji manggut-manggut. Telah tinggal cukup lama dirumah ini, ia sedikit hapal kemana arah ruangan yang ingin ia sambangi terlebih dahulu. Bukan kamar, melainkan tempat dimana istrinya berada.


Entah mengapa, ia sangat ingin melihat wajah cantik Mina. Padahal tadi ia berniat beristirahat sebab merasa begitu lelah dan penat .


Panji berbelok dan sampailah ia di ruang Keluarga. Ia tersenyum, mendapati Mina tengah duduk memegang buku yang seketika menoleh .

__ADS_1


" Kau sudah pulang ? " sapa Mina. Wanita berparas jelita itu tersenyum tipis sambil beranjak dari duduknya.


Panji menatap lekat wanita yang tengah berjalan menghampirinya. Hari ini Mina berpenampilan tak seperti biasanya. Tubuh yang bisanya terbungkus kebaya dan jarik, kini ditutupi gaun putih berlengan pendek dan hanya sepanjang lutut. Pun dengan mahkota coklat yang selalu tergulung rapi ,kini di biarkan bebas.


Mina terlihat sangat berbeda . Persis seperti wanita Belanda.


Panji tertegun ketika Mina berhenti satu langkah didepannya.


'' Kenapa kau menatap ku seperti itu ? '' tanya Mina merasa heran sebab Panji menatapnya hampir tak berkedip.


'' Ada dengan pakaianmu ? '' Panji menjawab dengan balik bertanya. Tangannya terangkat menyentuh bahu dan pundak istrinya, menyingkirkan helaian rambut yang ada dan memindahkannya ke belakang.


Mina menunduk, memperhatikan tampilannya yang memang tak bisa . Ia kembali menegakkan kepala dan menatap suaminya. Ia tersenyum.


'' Ibu bilang aku harus mulai membiasakan diri berpakaiannya seperti ini. Agar ditempat tinggal baru nanti , tak akan ada menyangka jika aku ini setengah Pribumi ''


Tempat tinggal baru ? Jadi Mina benar-benar ikut pergi bersama orang tuanya ? Seketika Panji tercekat. Nafasnya sesak, hatinya berdenyut nyeri.


Panji membuang muka. Sungguh hatinya sakit memikirkan Mina yang akan meninggalkannya.


Menyadari perubahan raut wajah Panji, Mina pun ikut memalingkan pandangan.


Sama seperti Panji, ia pun tengah merasakan apa yang Panji rasakan saat ini.


Mina sebenarnya tak rela dan berat untuk pergi meninggalkan Panji dan mengakhiri pernikahan mereka . Ia tak busa membohongi diri. Ia menyukai, atau mungkin telah jatuh hati pada suaminya sendiri m


'' Aku akan menyiapkan air mandi '' Mina hendak mengambil langkah, namun Panji menahan dengan melingkarkan tangan di pinggangnya.


'' Tidak bisakah kau tetap tinggal disini ? ''


'' ... '' kedua tangan Mina terlihat meremas gaunnya.


'' Semua orang telah pergi meninggalkanku.


Jika kau pergi juga, maka aku akan benar-benar sendiri '' Panji berucap lirih dengan hati yang berdenyut nyeri.


Mina menarik nafas panjang. Mencoba tenang agar terlihat seperti biasa. Padahal hatinya pun juga merasakan nyeri yang serupa .


'' Ayahku sudah memberi tau alasan bagaimana kita bisa menikah. Kita hanyalah bagian dari kesepakatan antara ayahku dan mendiang ayahmu.


Demi membalas dendam dan mengangkat statusku , ayahku rela bekerja sama pada mendiang ayahmu dengan mengkhianati bangsanya sendiri .


Dan sekarang semuanya sudah selesai. Tak ada lagi alasan aku dan engkau untuk tetap menjadi kita ''


amina mengusap lembut lengan Panji .


'' Setelah ini, kau carilah seseorang yang lebih pantas untuk menjadi istrimu. Dengan begitu kau tak akan merasa sendiran lagi ''


Panji menarik tangannya dan membiarkan Mina melewatinya .


'' Ayah '' Mina terkejut, melihat ayahnya yang berdiri di mulut antar ruangan.


Panji berbalik. Ekspresi pun sama dengan dengan yang ditunjukkan sang istri. Ia terkejut karena sama sekali tak menyadari kehadiran sang ayah mertua.


Kolonel Jho Van Phierzoon menatap secara bergantian pada anak dan menantunya.


Manik birunya seolah dapat membaca situasi apa yang sedang terjadi antara dua orang yang di paksa terikat dalam sebuah pernikahan, namun kini juga dipaksa harus berpisah. Rasa bersalah pun menghampiri.


'' Kau, ikuti aku. Ada hal yang perlu ku bicarakan denganmu '' ucap Kolonel Jho van Phierzoon yang tertuju pada Panji.

__ADS_1


Kolonel Jho van Phierzoon berbalik dan langsung melangkah pergi. Panji pun mengekor seperti yang ayah istrinya tadi katakan.


Sementara Mina hanya bisa menatap nanar pada ke dua pria yang baru saja menghilang dari balik dinding.


__ADS_2