Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Entah akan kemana


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


" Mas " Mayang mencoba berhenti. Namun lelaki yang menarik pergelangan tangannya tak menggubris. Dimas acuh dan tetap melanjutkan langkah cepatnya.


'' Mas.. '' Mayang bernada memelas. Sakit. Pergelangan tangannya terasa nyeri sebab Dimas begitu kuat mencengkeramnya.


Dimas menoleh , raut wajah yang menunjukan amarah perlahan surut. Begitupun dengan langkahnya.


Marahnya redam berganti sesal melihat Mayang terseok-seok .


Ia tadi memang tersulut emosi sebab ucapan Mayang yang terkesan tak menganggapnya sebagai kekasih. Padahal ia sudah begitu yakin dan percaya diri , jika hubungan diantara mereka lebih dari sekedar saling kenal. Berpelukan, berciuman, bahkan tidur seranjang meski tak sampai melakukan ' itu '. Bukankah itu sudah cukup menyatakan mereka tengah menjalin hubungan istimewa ?


Tentu saja Dimas meradang. Ia geram.


Ditambah lagi saat Aranita menawarkan pasangan dan Mayang tak menolak, membuat hati yang tengah terbakar bertambah besar kobaran apinya.


Belum pernah ia mengalami hal seperti ini. Kesal dan marah sebab rasa tak terima . Rasa yang sungguh tak nyaman dan sangat menganggu hati dan pikirannya.


Padahal ini bukanlah pertama kalinya ia jatuh cinta. Dulu, ia pernah saling mencintai dengan seorang wanita biasa. Hubungan mereka berjalan tanpa halangan. Hingga akhirnya, maut memisahkan. Sang wanita meninggal di usia muda dan disaat hubungan mereka sedang hangat-hangatnya.


Dan itu adalah masa lalu yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi sekarang. Ia sudah melupakan semuanya dan hanya Mayang yang saat ini ada di hati dan pikirannya . Dan gadis ini jugalah prioritasnya.


Dimas tak main-main dengan perasannya. Sebab itu ia tak ragu meninggalkan semuanya, termasuk mengingkari janji dan mengkhianati ibunya sendiri.


Tapi Mayang justru seperti mempermainkannya dan itu membuatnya merasa sangat kesal .


Dimas menghempaskan nafasnya dengan kasar. Ia kembalikan pandangannya ke depan sambil terus berjalan. Ia sepertinya tak berniat berhenti.


Sementara Mayang , ia terlihat pasrah. Mau tak mau ia hanya bisa mengikuti kemana langkah Dimas menuntunnya. Ia terlalu takut jika Dimas akan berubah dan menunjukan ekspresi tak suka seperti tadi.


Mayang jadi teringat pada Panji. Dulu ia sering mengalami hal seperti ini. Terpaksa menurut . Jangankan menolak, bersuara saja ia tak berani karena takut.


Tapi kenapa ia harus mengalami dan berada di situasi yang sama lagi ? Mayang menatap punggung Dimas. Lelaki yang telah berhasil mencuri dan menguasai hatinya . Bukan tanpa sebab ia seolah menolak mengakui hubungan yang sedang terjalin di antara mereka.


Setelah Aranita mengatakan jika ia dan Dimas terhubung dari jiwa yang selama ini bersemayam ditubuhnya Mayang menjadi sangsi pada Dimas.


Siapa sebenarnya Dimas ? Apa tujuannya ?


Jika dipikir-pikir, sejak kejadian di pondok persembunyian, Dimas tak menjawab saat ia bertanya bagaimana Dimas mengetahui keberadaannya. Setelah itupun, Dimas seolah lupa atau mungkin sengaja agar tak menjawab pertanyaannya.


Berkecamuk dengan isi pikiran mereka masing-masing , tiba-tiba saja Joko sudah berada dua langkah didepan mereka.


Entah sejak kapan lelaki gagah itu menyusul dan sekarang bertindak sebagai penuntun jalan menuju tempat yang mereka cari.


Tepat di pertengahan wilayah desa, Joko berbelok ke kanan dan yang diikuti oleh Dimas dan Mayang .


Tugas Joko untuk mengantar tamu desanya akhirnya selesai. Sedikit menjorok dari desa, langkah mereka semua berhenti serempak di depan sebuah rumah yang bentuk dan memiliki ciri khas yang sama dengan rumah-rumah desa lainnya.


Joko lalu berbalik, ia lemparkan senyum menawannya pada Dimas dan Mayang seraya merentangkan tangannya ke arah pintu brumah.


Dimas dan Mayang bergeming. Mereka menatap heran pada lelaki yang tak sekalipun membuka mulutnya .

__ADS_1


'' Joko tak bisa bicara ''


Dimas dan Mayang tersentak kecil . Secara bersamaan mereka melihat ke asal suara. Aranita sudah berada di mulut pintu rumah yang terbuka.


Perempuan bertubuh tambun itu berjalan mendekat dan berhenti dihadapan mereka.


'' Ketika Joko pertama kali kutemukan, ia dalam keadaan sekarat . Dia ternyata tak bisa bicara sebab lidahnya dipotong ketika ia masih menjadi tahanan di penjara Batavia.


Karena kasihan, aku membawanya ke desa dan merawatnya.


Setelah itu, kalian pasti sudah bisa menebaknya. Dia sekarang adalah pasanganku '' Aranita menautkan tatapan pada Joko sambil menyelipkan tangannya di lengan kekar sang kekasih.


Lalu pasangan yang sama sekali tak terlihat cocok itu berlalu.


Beberapa saat setelah kepergian Aranita dan Joko, Dimas melepaskan genggaman tangannya.


Mayang menarik dan mengusap pergelangan tangan yang terasa nyeri.


Dimas berbalik, maju satu satu langkah hingga hampir tak berjarak dari Mayang. Melihat Mayang mengusap pergelangan tangannya, Dimas terenyuh. Ia menyesal telah menyakiti perempuan yang ia cintai.


Tangan Dimas terangkat dan memegang kedua tangan Mayang. Ia mengambil alih mengusap pergelangan tangan Mayang dengan lembut.


'' Maaf '' ucap Dimas lirih. Ia majukan wajahnya ke wajahnya Mayang.


Mayang sedikit menunduk.


'' Aku tau, kau pasti bertanya-tanya tentangku dan apa hubungan ku dengan Nyi Sukma , bukan ? '' Dimas menarik satu tangannya dan mendarat di pipi Mayang.


'' ... '' Mayang bergeming. Ternyata tak perlu ia katakan , Dimas sudah tau apa yang ada dipikirannya .


'' Aku akan jujur padamu. Akan kukatakan semuanya ''Dimas menarik diri hingga tercipta jarak di antara mereka.


Ia ulurkan tangan. Mayang menegakkan kepala. Dimas tersenyum . Mayang bergeming.Ia alihkan pandangannya pada telapak tangan yang menanti sambutan. Mayang ragu.


Haruskah ia percaya ? Jika ia menerima uluran tangan ini, maka itu berarti ia akan dibawa masuk ke dalam rumah dan apa yang akan terjadi selanjutnya, tentu tak perlu dipertanyakan lagi.


* * *


Batavia.


Sejak beberapa hari lalu , kota jajahan Belanda ini di selimuti ketegangan . Para kompeni memperketat pengamanan dengan memerintahkan para pasukannya untuk berpatroli , mengawasi setiap sudut tempat. Khususnya tempat tinggal para Pribumi .


Kematian profesor Herlad yang kuat dugaan dibunuh oleh kacung pribadinya , menjadi salah satu penyebab situasi ini.


Hubungan antara bangsa Belanda dan Pribumi yang tadinya tenang kini terpercik perselisihan.


Para kompeni yang tak terima salah satu kaumnya terbunuh dengan cara tak wajar, menuntut Adipati Arthaprawirya untuk menemukan pelakunya.


Para Kompeni ingin , pelaku yang merupakan rakyat Pribumi dapat segera di tangkap dan diserahkan dalam keadaan hidup. Para kompeni bermaksud untuk membawa kasus tersebut ke meja persidangan dan akan memberikan hukuman paling berat. Yang akan membuat para Pribumi semakin tunduk dan tak berani untuk berbuat macam-macam .


Belum selesai dengan kasus kematian Profesor Herlad, kegusaran kompeni bertambah dengan ditemukannya mayat seorang lelaki berkebangsaan asing. Setelah diselidiki, mayat yang termutilasi menjadi enam bagian itu adalah Erino Artikquandez, anak Hugo Artikquandez yang merupakan seorang berkedudukan tinggi di pemerintahan Kompeni.


Hugo Artikquandez meradang. Bagaimana tidak, sang putra merupakan anak satu-satunya . Sementara ia tak lagi menikah usai sang istri meninggal tiga tahun silam.

__ADS_1


Para kompeni berasumsi, jika inipun perbuatan orang Pribumi yang tengah merencanakan pemberontakan.


Sang Adipati pun semakin di desak untuk segera menyelesaikan kedua kasus yang semua korbannya adalah orang Belanda.


Tanpa mereka tau jika Adipati lah otak dibalik pembunuhan Erino Artikquandez sekaligus kepala pemberontakan yang di cari.


Hampir sepekan, sang Adipati melakoni perannya dengan begitu apik. Di depan para kompeni yang terus menerus menekan dan menuntut agar ia segera menyelesaikan tugas yang diberikan, sang Adipati memasang mimik datar dengan kepala tertunduk.


Tapi dibelakang para kompeni, ia menegakkan kepala dan semakin gencar mematangkan rencana pemberontakan yang persiapannya sudah hampir selesai. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penyerangan .


Untuk itu, Panji yang telah mengetahui apa yang selama ini dan yang akan ia lakukan , ia libatkan dalam segala urusannya.


Panji yang juga telah memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya, mulai mempelajari seperti apa pekerjaan seorang pemimpin Pribumi Batavia.


Hingga iapun di percaya dan beri kuasa oleh sang ayah sebagai wakil yang suatu saat nanti akan mewarisi kursi kepemimpinan itu. Meski hal tersebut belum tentu terjadi. Karena bisa saja, jika pemberontakan berakhir gagal. Maka tak menutup kemungkinan jika semua orang yang terlibat di dalamnya akan terseret dan ikut menanggung akibatnya.


* * *


Senja menghampiri. Hari ini, lelaki yang semakin terlihat gagah setelah menikah itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya .


Panji menghela nafas panjang. Tubuh dan pikirannya sama-sama merasa sangat lelah. Ia tak menyangka jika pekerjaan seorang Adipati akan seberat ini. Ditekan oleh perintah dari para petinggi Kompeni , yang mana bertentangan dengan hati nurani dan keinginan para rakyat pribumi.


Kini ia tau alasan sang ayah begitu membenci hingga berani menyusun rencana pemberontakan. Para kompeni selalu memberi perintah semau hati. Jika mereka menginginkan sesuatu , maka mereka tak segan dan tak perduli sekalipun harus mengorbankan nyawa pribumi.


Kereta yang membawanya berhenti. Menandakan ia telah sampai dirumah.


Panji turun dari kereta. Ia tersenyum, lelahnya seketika sirna mendapati sosok bidadari yang menyambutnya di mulut pintu.


Mina dengan tampilan khas seorang wanita ningrat , nampak anggun dan mempesona. Perubahan cara berpakaian dan dandanannya itu adalah hasil keuletan para pelayan pribadinya dan juga campur tangan Pramuanti , ibunya.


Pramuanti memang sangat menyukai menantunya. Selain karena parasnya yang cantik, juga karena kepribadian Mina yang tak banyak bicara dan penurut.


Panji memacu langkah mendekat ke sang istri.


'' Kau menungguku pulang ? '' tanyanya yang telah berhenti dan berdiri dihadapan Mina.


Mina mengangguk samar. Ia lalu berbalik , hendak melangkah namun Panji mencegah dengan memegang lengannya.


Mina menoleh.


'' Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat '' Panji menarik perlahan , tubuh Mina pun mendekat hingga hampir ada jarak diantara mereka.


Padahal di perjalanan pulang tadi, ia berniat istirahat setelah tiba di rumah . Namun begitu melihat istri cantiknya, seketika muncul sebuah keinginan yang tak pernah terbesit sebelumnya.


Mina menaikan sedikit wajahnya. Pandangannya bertemu dengan tatapan Panji. Degup jantungnya mulai berpacu tak karuan. Mina gugup.


'' Ka-kalau begitu aku bersiap dulu ''


'' Tak perlu. Kita pergi sekarang sebelum hari semakin gelap ''


Mina menurut. Panji melepasnya dan berbalik.


Mina pun mengekor dengan jarak satu langkah di belakang sang suami.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu lalu naik kedalam kereta yang sama dengan yang tadi Panji gunakan.


'Klo tak. Klo tak ' suara tapak kaki kuda menarik roda kereta dan kereta pun berjalan membawa pasangan muda yang entah akan kemana.


__ADS_2