
🌺 hem... 🌺
* * *
Tahun - tahun terlewati. Selain usia para penghuninya yang bertambah, hampir tak ada yang berubah dengan kota Batavia. Tanah Pribumi ini masih tetap dikuasai di bawah pemerintahan otoriter Kompeni.
Tak terasa, sudah dua puluh tahun berlalu setelah Panji menyandang status dan menjalani perannya sebagai seorang Adipati. Pemimpin Pribumi yang pekerjaannya menaungi kaumnya , meski berada dalam kendali dan atas perintah Kompeni.
Bukannya ia tak mau ataupun tak berkeinginan mengikuti jejak mendiang ayahnya untuk untuk merencanakan dan melakukan pemberontakan. Hanya saja, tak mudah memang mengajak apalagi meyakinkan kaumnya yang telah terlanjur tunduk dan pasrah hidup dibawah kepemimpinan bangsa asing.
Dan juga bukannya ia takut. Memikirkan jika ia bersikap egois, dengan mementingkan ambisi tanpa mempertimbangkan sekitarnya - ia sudah bisa memprediksi jika hasilnya pasti gagal.
Sebab tak mungkin ia bergerak sendiri tanpa aliansi untuk melawan bangsa penjajah yang memiliki kekuatan yang tak akan pernah bisa mereka tandingi.
Perlengkapan senjata dan alat tempur adalah salah satu dari sekian alasan ia memilih menjadi diam dan melaksanakan perintah Kompeni. Jika tidak, maka keselamatan para Pribumi yang selama ini ia lindungi adalah taruhannya.
Bukan tanpa alasan ia sangat yakin dan cukup pasti bagaimana para Kompeni yang tak punya hati ini akan langsung mengambil tidakkan jika ada yang menyanggah, apalagi penolakan perintahnya.
Kompeni tak segan-segan memberi peringatan keras ,yang tak pasti dan bisa saja dalam bentuk apapun itu. Hukuman mati bagi seorang pembangkang ataupun seorang yang di curigai hendak melakukan pemberontakan misalnya.Itu sudah pernah terjadi dan Panji saksikan sendiri.
Itulah mengapa hingga kini Panji tetap menjadi abdi setia. Baik itu bagi kaumnya, maupun kepada Kompeni.
Lagipun , prioritasnya adalah keluarga. Asal Mina dan putra semata wayang mereka hidup nyaman dan aman, hal itu sudah lebih dari cukup baginya.
Selebihnya, ia biarkan sampai dimana takdir akan berpihak pada Kompeni.
* * *
Senja menjelang. Sebuah pertanda siang telah berakhir dan malam akan datang menggantikannya.
Sebuah kereta yang tadi melaju cukup kencang perlahan-lahan mulai melambat, lalu berhenti di depan sebuah gerbang. Tempat tersebut adalah makam peristirahatan terakhir khusus untuk para ningrat Pribumi. Pria dengan beskap dan belakon berwarna hitam dengan corak keemasan turun dari kereta dan langsung melangkah memasuki area pemakaman.
Ia berjalan dengan menenteng sekuntum bunga beragam warna.
Pria tersebut tersenyum penuh ketika kakinya berhenti tepat dihadapan makam yang ia tuju.
'' Maaf, aku terlambat mengunjungimu hari ini '' Ucapnya usai meletakkan bunga yang ia bawa. Namun tak semua. Ada beberapa tangkai bunga ia sisakan di pegangannya.
Ia menghela nafas panjang, mematri tatap pada nisan berukiran indah nan khas .
Hening. Hanya suara bintang malam yang mulai terdengar samar ditambah pencahayaan yang mulai temaram membuat susana menjadi begitu tenang.
Usianya kini sudah kepala empat. Beberapa helai rambut berwarna putih mulai terlihat diantara rambut hitamnya yang terpangkas rapi.
Adipati Panji Arthaprawirya. Begitu ia dikenal sebagai ningrat nomor satu di Batavia.
Panji menekuk kedua lututnya. Tangannya terangkat, mengusap ukiran bertuliskan nama . Sebuah nama yang sama yang telah terpahat dan akan terus abadi di sanubarinya.
'' Aku merindukanmu... '' Ucapnya lirih. Dibawah langit yang semakin gelap, Panji menitikkan air mata pilunya.
Ini adalah tahun ke tiga Mina meninggalkannya untuk selamanya.
Lima tahun lalu, kondisi tubuh Mina tiba-tiba melemah. Ia mulai sakit dan terus berlanjut sakit-sakitan. Setelah cukup lama bertahan dan mencoba berbagai macam cara pengobatan , takdir memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya.
Mina meninggal dalam tidur .
Ia pergi dalam keadaan tenang dan damai . Meninggalkan sang suami dan putranya .
Saat itu, adalah saat dimana Panji merasa pijakannya luruh. Dunianya seolah luntur. Kehilangan sang belahan jiwa juga telah membuatnya kehilangan semangat untuk hidup. Panji bahkan terpuruk dan larut dalam kesedihan cukup lama.
Jika bukan karena anaknya, mungkin ia sudah mengakhiri hidup dan menyusul Mina ke sana. Putranya lah yang telah menyadarkan dan membuatnya perlahan kembali bangkit dan berdiri lagi. Hingga akhirnya ia bisa mengikhlaskan kepergian Mina dan menjalani hidup seperti sebelumya.
__ADS_1
Sejak saat itu, hingga hari ini. Pria bertubuh tegap dan gagah diusianya yang semakin matang itu tak pernah sekalipun melewatkan hari tanpa mengunjungi tempat dimana sang istri dimakamkan.
'' Tunggulah aku. Aku pasti akan menyusulmu dan kita pasti akan bersama lagi ''
Panji terisak hingga bahunya bergetar hebat.
Ia yang selalu menunjukan ekspresi datar dan bersikap tegas , kini menangis hingga tersedu-sedu.
Sungguh ia rindu. Meski waktu sudah lama berlalu, ia tetap belum bisa merelakan Mina sepenuhnya. Padahal ketika orang tuanya meninggal pun ia tak sampai seperti ini.
'' Aku mencintaimu '' Ucapnya dengan suara bergetar. Ini adalah ungkapan yang tak terhitung sudah berapa ribu kali ia ucapkan.
Sungguh. Ia merindukan wanitanya. Istri dan juga ibu dari putra semata wayang mereka yang kini tengah menginjak usia dewasa.
Setelah mencurahkan isi hati dan merasa cukup tenang , Panji pun beranjak dan berjalan untuk menghampiri makam lainnya.
Namun langkahnya tiba-tiba saja berhenti.Sesosok perempuan tengah berdiri tepat di depan makam yang ia tuju. Makam kedua orang tuanya.
'' Siapa, kau ? '' Tanya Panji heran dengan perasaan waspada.
Perempuan yang mengenakan kebaya hitam berenda transparan dan jarik berwarna senada itu berbalik.
Panji terperangah. Meski samar, namun ia tak mungkin bisa ataupun tak akan pernah bisa melupakannya.
Sesaat ia perhatikan dan muncul perasaan ragu.
Benarkah yang ada dihadapannya ini Mayang ? Tapi ia merasa ini tak masuk akal dan juga penasaran.
Sebab bagaimana mungkin, sudah dua puluh tahun berlalu - namun rupanya tak sedikitpun berubah. Ia masih sama seperti terakhir kali terlihat.
'' Ka-kau.. '' Panji terbata. Lidahnya serasa kaku. Seperti halnya dengan kaki yang tiba-tiba berat untuk diangkat.
Wajahnya memang seperti gadis 17 tahun. Namun pembawaan dan sikapnya tak lagi sama seperti dulu.
Ia terlihat dewasa, sesuai dengan usianya saat ini. Meski hal itu tak terlihat dari fisiknya .
Panji menatapnya cukup lama. Bukan tatapan seperti pada lawan jenis. Tapi lebih terlihat seperti seseorang yang kebingungan.
Memang, sejak hari di mana ia mengetahui jika Mayang adalah adik dari ibu yang berbeda - ia berkesimpulan jika perasannya pada Mayang sebenarnya adalah rasa sayang antar saudara yang telah ia salah artikan.
Dan akhirnya rasa itu pupus karena hatinya yang telah berpaling pada Mina. Minalah yang kemudian menang satu-satunya perempuan yang cintai sesungguhnya.
'' Kau.. Ta-tapi bagaimana mungkin ka-kau '' Dengan segenap tengah Panji berhasil maju satu langkah dan berhenti . Kakinya tiba-tiba kembali tak bisa digerakkan.
Mayang kembali tersenyum. Tanpa sepatah katapun ia berbalik lalu melangkah meninggalkan Panji yang membatu ditempatnya.
Setelah Mayang menghilang dari pandangannya, barulah Panji dapat menggerakkan tubuhnya . Ia bergegas, ke sana kemari , mencari sosok tadi. Namun tak ada apapun atau siapapun yang ia temukan.
Nyatakah ia ? Atau - -
* * *
Tahun 1980 . Dibagian pulau paling ujung JawaDwipa yang sekarang di kenal sebagai pulau Jawa.
Di tempat ini, tengah dilakukan sebuah pembangunan jalan untuk mempermudah akses masuknya alat transportasi ke tempat tersebut.
Dikenal sebagai pulau yang memiliki hutan yang masih asri dan hampir belum pernah tersentuh oleh apapun, rencananya tempat ini akan dijadikan salah satu tempat wisata yang menawarkan panorama alamnya.
Dan pengelolaannya telah mulai dilaksanakan.
Sebuah alat berat di datangkan secara khusus untuk mempermudah dan mempercepat proses pembangunannya.
__ADS_1
Tanah di geruk untuk membuat batas jalan dan juga pohon-pohon yang di anggap menganggu dan menghalangi ditebang.
Hingga suatu ketika, sebuah hal tak terduga terjadi.
Ketika petugas eskalator sedang mengeruk tanah , ia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal dan membuatnya kesulitan untuk melakukan pekerjaannya.
Ia pun segera melaporkannya.
Tak butuh waktu lama, ia di bantu oleh pekerja lainnya di perintahkan bekerja sama untuk kembali mengeruk tanah yang tadi dengan hati-hati .
Mereka semua sontak terkejut ketika tanah berhasil dikeruk dan mendapati potongan tulang belulang lah yang menjadi penyebabnya. Hal itu pun segera di beritahukan pada atasan mereka.
Dan dalam waktu singkat, kabar tersebut tersebar dan sampai di telinga para ahli penelitian.
Dengan segera, para rombongan penelitian datang dan langsung melakukan penggalian untuk mencari sisa sisa belulang yang lainnya.
Setelah bekerja siang malam selama sepekan, para penelitian akhirnya berhasil. Para ahli itu pun segera mengirim hasil penemuan ke pusat penelitian yang ada di ibu kota .
Di ketahui jika tulang belulang yang ditemukan ternyata adalah kerangka manusia dewasa .
Karena penelitian masih akan terus dilakukan , maka ke tiga kerangka tulang belulang itupun disimpan dalam sebuah ruangan khusus yang tak sembarangan orang bisa memasukinya.
Namun lagi-lagi hal tak terduga terjadi.
Kerangka tersebut perlahan mulai berubah. Hanya dalam waktu satu malam saja, daging tumbuh di sejujurnya dan membentuk rupa layaknya seorang manusia. Kemudian berlanjut dengan organ-organ dalamnya yang tumbuh dan mulai berfungsi seperti seharusnya.
Kini ketiga kerangka tadi telah berubah menjadi seonggok daging dengan bentuk menyerupai manusia pada umumnya.Atau mungkin memang telah menjadi manusia seutuhnya.
Dan keesokan harinya, sebuah kabar menggemparkan pun tersiar.
Ketiga kerangka yang baru saja ditemukan dan disimpan dalam fasilitas penelitian hilang tanpa jejak.
* * *
Semarang, Oktober tahun 2018.
Bandara Udara Internasional Ahmad Yani Semarang.
Gerbang selamat datang baru saja terbuka. Berbondong-bondong manusia keluar dari dalamnya. Salah satunya adalah seorang pria berstelan kasual yang berjalan sambil menarik koper berisi barang bawaannya.
' Trtttttttt ' getar yang di iringi dengan nada dering terdengar. Pria tersebut merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya.
'' Ya, bu . Aku baru saja sampai '' Ucapnya dengan senyum penuh semangat.
Usai meletakkan ponselnya ketempat semula, ia bergegas menuju ke sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya.
' Thup ' suara halus pintu taksi tertutup
'' Mau kemana, Mas ? '' Tanya pengemudi taksi pada penumpang yang duduk di kursi belakangnya.
Pria berlesung yang hanya satu di pipi kanannya itu pun menjawab dan memberitahu tempat tujuannya dengan menyebutkan sebuah alamat.
🌺 selesai 🌺
Semua isi cerita murni hayalan penulisnya. Jadi, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat( kota atau daerah), ataupun alur ceritanya , saya mohon maaf.
Terima kasih buat yang uda setia baca , vote, hadiah dan likenya.
Kalau favorit sudah capai 100, akan saya lanjut season 2 nya.
Akhir kata, saya sangat berharap tanggapan dan tinggalkan kesannya. 🤗
__ADS_1