
🌺 hem... 🌺
* * *
Mayang dan Nyi Geno bersitatap.
Kemudian Mayang mengambil langkah dan pergi lebih dulu dengan kepala tertunduk .
Nyi Geno menatap prihatin . Betapa malangnya nasib gadis yang tengah berlalu.
Padahal darah yang mengalir dalam dirinya bukanlah darah biasa.
Ia terlahir dari ibu seorang ningrat dan ayah keturunan murni raja terdahulu.
Sejatinya ia bukanlah rakyat biasa. Ia seorang berdarah biru, yang seharusnya memiliki keistimewaan dan di hormati sama seperti ningrat lainnya.
Namun nyatanya. Ia ada karena suatu tujuan.
Kehadirannya direncanakan dan memang telah di tetapkan sebagai tumbal .
Mayang tak ubahnya alat . Yang sengaja diciptakan dan akan digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah.
Miris. Sebagai seorang wanita yang pernah menjadi seorang ibu dan memiliki anak perempuan, Nyi Geno kasihan pada takdir kehidupan Mayang.
* * *
Malamnya.
Mayang dan kedua orang tuanya duduk mengitari meja yang di atasnya tersaji masakan hasil olahan tangan Nyi Geno. Ada nasi putih, sayur bening dan tempe oncom .
Meski sudah renta , namun Nyi Geno masih begitu lincah dan lugas mengerjakan pekerjaannya.
Terbukti dengan rumah yang nampak bersih dan makanan yang terasa nyaman di lidah.
'' Mayang '' Mbok Arni menyentuh pundak gadis yang duduk disebelahnya. Raut wajahnya ia buat seolah-olah khawatir.
Mayang tersentak dan reflek bergeser, membuat semua mata seketika tertuju padanya.
'' Ada apa, ndok ? Seharian ini kamu kelihatan murung. Ibu perhatikan juga kamu dari tadi banyak diam dan bengong ''
Mayang yang sejak tadi merasa tak nyaman berada di dekat orang tua angkatnya ini , mulai gugup.
Ia palingkan wajahnya. Enggan menatap.
'' Kamu sakit, ndok ? '' tanya Sudarman yang bangkit dan mencoba menghampiri. Sama seperti sang istri. Sudarman pun mencoba agar sikapnya terlihat seperti biasa .Layaknya seorang ayah yang khawatir terhadap putrinya.
Mata Mayang terbelalak. Melihat Sudarman berjalan ke arahnya ,ia langsung bangun dari duduknya.
Sontak Sudarman pun menghentikan langkahnya. Ia menatap heran pada sikap Mayang .
'' Mayang, ndok... '' Mbok Arni ikut berdiri, mencoba menyentuh namun Mayang malah mundur . Mayang tak lagi bisa menyembunyikan ketakutannya.
'' Mungkin susana hatinya lagi kurang bagus ndoro . Karena hari ini adalah hari pernikahan Den Mas Panji '' ucap Nyi Geno menimpali. Ia sengaja melakukannya agar Mayang tak di curigai .
Mayang menatap Nyi Geno . Padahal ia yakin, Nyi Geno tau alasan mengapa ia bersikap seperti ini pada kedua orang tua angkatnya.
Dan lagi, ia sebenarnya sama sekali tak ingat, atau bahkan tak juga perduli tentang pernikahan Panji.
'' Ndoro makan saja.
Biar saya temani Ndoro Mayang ke kamarnya '' Nyi Geno mendekat, meraih pundak Mayang dan memberi sedikit dorong agar melangkah bersamanya.
Sudarman dan Mbok Arni mengangguk seraya mengucapkan terima kasih.
Mereka kemudian kembali duduk dan mempercayakan Mayang pada Nyi Geno.
Dikamar.
'' Siapa sebenarnya Nyi ini ? '' tanya Mayang saat Nyi Geno menarik tangan dari bahunya.
Nyi Geno tersenyum penuh, menatap manik yang memancarkan sejuta rasa penasaran. Ia tau apa yang ada di benak gadis yang memiliki paras seperti wanita yang melahirkannya.
Mayang memang sama sekali tak mewarisi kemiripan dari Adipati Arthaprawirya. Tapi paras , bentuk tubuh dan cara bicaranya serupa dengan mendiang Rani Mayangsaputri yang merupakan ibu kandung Mayang.
Nyi Geno lalu berjalan menuju ranjang dan duduk ditepian kasur kapuk beralaskan kain berwarna putih usang.
'' Duduklah. Aku akan menceritakan tentang semua hal yang akan menjawab rasa penasaran mu .
Dan aku juga perlu menyampaikan beberapa hal penting padamu ''Nyi Geno menepuk sisi tempatnya menjatuhkan bokong.
Mayang melangkah perlahan. Terlihat ragu, namun akhirnya ia pun duduk jua. Tak begitu dekat, tapi posisi duduknya agak menyamping. Hingga ia dan Nyi Geno saling berhadapan.
Mayang tak mengerti dengan perasannya.
__ADS_1
Seharusnya ia takut pada wanita asing ini. Tapi ia justru merasa tenang berdekatan dengan Nyi Geno.
Anehnya lagi, ia pun merasa wanita ini bukanlah orang jahat meski ia belum mengenalnya.
'' Aku adalah utusan , sekaligus salah satu orang kepercayaan Adipati Arthaprawirya. Aku disini untuk menjaga dan melindungimu '' Nyi Geno meraih satu tangan Mayang dan menggenggamnya.
''... '' Mayang tertunduk, menatap tangan yang tengah meremas jemarinya.
'' Seperti yang kau juga ketahui . Jika engkau bukanlah anak mereka ''
Mayang menenggak kepala menatap kedua mata Nyi Geno yang telah di keliling lipatan keriput.
'' Mereka bilang aku ini anak haram. Memangnya, anak haram siapa aku ini Nyi ''
Nyi Geno menggeleng.
'' Entahlah. Tapi, setahuku ... Anak haram itu sebutan untuk hasil hubungan gelap yang tak diinginkan.
Tapi kau tidak dilahirkan dengan cara seperti itu. Kau memang sengaja dan ada untuk sebuah tujuan.
Dan lagi Engkau..Engkau bukanlah keturunan dari orang biasa. Ibumu seorang putri ningrat sejati dan ayahmu adalah Adipati Arthaprawirya ''
Mayang terbelalak tak percaya.
Nyi Geno mengangguk meyakinkan . Lalu lanjut bercerita tentang semuanya.
Bagaimana semua ini bermula, rencana dan apa yang menjadi alasan Adipati Arthaprawirya melakukannya. Hingga tentang Nyi Sukma yang bersemayam ditubuhnya.
Mayang terlihat shock hingga tak bisa berkata-kata.
'' Sudarman dan Mbok Arni mengambilmu sebagai anak bukanlah sebuah kebetulan.
Saat tau jika mereka tengah mencari seorang anak angkat , seketika itu pula kami mengatur segalanya . Dan semuanya berjalan sesuai rencana.
Mereka menjadikan mu putri mereka dan membawamu tinggal di kediaman Adipati.
Dengan demikian, kami bisa mengawasimu. Demi mencegah keberadaan mu diketahui oleh orang-orang yang mengincar jiwa yang tersegel dalam tubuh mu ''
Mayang menarik tangannya dari balutan telapak tangan Nyi Geno dan berdiri.
Ia menggeleng. Apa yang Nyi Geno katakan, rasanya benar-benar tak bisa diterima akal pikirannya.
Ia tak bisa mempercayainya, apalagi untuk memahami semuanya.
Mayang menatap Nyi Geno . Kedua tangannya terangkat , mendekap tubuhnya sendiri seraya melangkah mundur .
'' Sudah ku duga .Kau pasti menyadarinya. Tapi kau pasti mengabaikannya, bukan ? '' Nyi Geno berdiri dan melangkah mendekati Mayang.
Mayang mulai panik. Apa yang dikatakan Nyi Geno memang benar. Ia selama ini memang merasa ada hal ganjil dalam dirinya. Namun karena tak percaya dengan hal - hal berbau mistis , maka ia pun tak pernah berpikir jika ia terhubung dengan sesuatu seperti itu.
'' Percayalah padaku. Yang kami lakukan ini hanya untuk melindungimu. Karena itu kami menyembunyikan mu.
Seperti yang kau dengar tadi pagi.
Sudarman dan Mbok Arni memiliki niat jahat terhadapmu. Dan sesaat lagi, akan ada orang suruhan yang ditugaskan untuk melukaimu ''
Mayang terkesiap. Ia bergidik takut.
Nyi Geno yang bisa membaca bahasa tubuh dan sorot mata itu, membelai lembut rambut panjang Mayang yang tergerai .
'' Tetaplah disini dan jangan keluar dari kamar. Tak perduli apapun yang kau dengar atau apapun yang kau rasakan , kau tak boleh keluar. Kau mengerti . Em ? ''
Nyi Geno berdiri dan melangkah keluar menuju dapur. Ia bermaksud menyelesaikan urusan dengan pasangan suami istri yang ia tinggal di dapur tadi.
' Krak ' langkah Nyi Geno terhenti saat telapak kaki telanjangnya menginjak sesuatu.
Sebuah pecahan kendi. Beruntung ia menginjak bagian yang menelengkup. Jika bukan, maka kakinya pasti sudah sobek dan berdarah.
Nyi Geno mulai memasang ancang-ancang.
Ia pertajam indera penciuman dan indera penglihatannya. Dapat ia rasakan hawa tak biasa telah memasuki rumah ini.
Entah sejak kapan. Sebab sama sekali tak ada tanda-tanda maupun suara . Mantra pelindung yang telah ia pasang disekitar rumah pun sudah tak terasa lagi. Itu berarti dugaannya benar.
Ada yang berhasil menerobos masuk.
Langkahnya sampai di dapur.
Nyi Geno tersentak mendapati pemandangan yang ada dihadapannya ini.
Kedua orang tua angkat Mayang duduk dengan posisi tubuh terlihat tegang. Mata mereka melotot, lidah mereka terjulur keluar. Nafas mereka seperti terputus-putus.
Kedua tangan mereka lurus menjuntai dan kaku.
__ADS_1
Meski sejatinya Nyi Geno tak lagi asing dan juga sudah sering bergelut dengan dunia lain , namun tetap saja ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Ia bisa melihat, dua sosok hitam berdiri di samping pasangan itu . Wajah mahkluk tersebut tak terlihat sebab rambut yang panjang menjuntai hingga ke lantai . Di sela-sela rambut yang menutupi wajahnya, daging mentah berwarna merah kehitaman terjulur keluar dari mulut yang terbuka lebar.
Mahkluk tersebut memiliki lidah yang sangat panjang. Layaknya ular dan tengah membelit leher Sudarman dan Mbok Arni.
Itulah yang menyebabkan Sudarman dan Mbok Arni tak bisa berkutik dan kesulitan bernafas.
'' Siapa kalian ? '' Nyi Geno mendekat dengan mulut berkomat kamit. Ia tengah membaca mantra yang sekiranya bisa melindungi jika kedua makhluk itu tiba-tiba menyerangnya.
' Srek ' suara kursi di geser.
Seketika Nyi Geno menoleh.
Seorang wanita yang entah kapan datang dan masuknya tengah mendudukkan diri di kursi yang tadi bergerak dengan sendirinya.
Satu kata untuk wanita itu. Cantik dan anggun.
Dilihat dari caranya bersikap dan dan berpakaiannya , dia bukanlah seorang yang berasal dari kalangan biasa.
'' Kau sepertinya bukan manusia biasa. Meski tak begitu sakti. Tapi kau memiliki ilmu yang lumayan.
Kau cukup hebat dengan membuat mantra pelindung di sekitar area rumah ini.
Hingga para dedemit tak mengetahui jika ada rumah yang ditinggali manusia di sini.
Dan lagi, kau juga bisa mengelabuhi manusia yang mencari tempat ini.
Aku tadi tak sengaja bertemu mereka dan karena memang sedang dalam perjalanan kemari, maka sekalian aku membereskan mereka.
Aku tak mau jika nanti di biarkan, mereka justru akan menjadi pengganggu '' Wanita tersebut tersenyum penuh. Membuatnya terlihat berlipat-lipat lebih mempesona.
'' Siapa kau ? Dan mau apa kau kemari ? '' Nyi Geno berusaha mengulur waktu. Sementara jemari-jemarinya bekerja . Secarik kertas terlipat kecil keluar dari saku stagenya. Lalu dengan bantuan mantra, kertas tersebut melayang perlahan ketepian dinding rumah.
Ia sedang berusaha mengirimkan pesan pada sang majikan. Berharap Adipati Arthaprawirya segera mengetahui dan mengirimkan bantuan untuknya. Nyi Geno seperti tau, jika sebentar lagi ia akan berurusan dengan hal yang sepertinya tak bisa ia tangani sendiri .
Ia tatap wanita cantik dengan kebaya hijau tua dan jariknya yang berwarna coklat keemasan.
Aura wanita yang terpancar darinya sungguh begitu kuat.
'' Aku ? Kau mau tau siapa aku ?
Baiklah. Biar ku perkenalkan siapa diriku.
Namaku Saraswati. Dan aku adalah murid Nyi Sukma .
Jadi, engkau pasti sudah bisa menebak bukan ? Apa yang menjadi alasanku kemari ? ''
Nyi Geno menghela nafas. Kertas pesannya berhasil keluar. Namun ' blarrr '. Nyi Geno dapat merasakan jika kertas pesannya terbakar sebelum sampai ke tempat tujuan.Itu berarti usahanya telah diketahui.
Ia tersentak dan langsung menatap wanita yang baru saja memperkenalkan diri .
Saraswati berdiri masih dengan mempertahankan senyuman.
'' Aku hanya ingin gadis itu. Gadis yang menjadi tempat bersemayamnya jiwa Nyi Sukma.
Jadi, sebaiknya kau tidak mempersulit apalagi menghalangi ku, jika tidak ingin berakhir seperti mereka semua ''
' Bruk ' Sudarman dan Mbok Arni terhempas dilantai. Tubuh mereka tak bergerak . Suami istri itu telah menjadi mayat dengan kondisi yang mengenaskan. Tubuh mereka membiru. Lidah mereka terjulur keluar. Mata mereka hanya menyisakan putihnya saja dan terbuka lebar.
Lalu...
' Brak ' pintu belakang rumah terbuka dengan kasar.
Obor penerangan menyala dengan sendirinya.
Nyi Geno bergidik. Lima pria tergantung di ranting pohon yang menjadi peneduh rumah ini. Tubuh mereka tak lagi lengkap.
Ada yang tanpa tangan , tanpa kaki, dan juga yang hanya sepotong badan. Namun ada pula yang hanya berupa kepala saja.
Darah segar terlihat menetes , mengalir dari tiap potongan tubuh - tubuh yang termutilasi. Cairan kental berwarna merah itu pun jatuh dan menggenang di tanah.
Bau amis dan aromanya menyeruak. Menyengat indra penciuman siapapun yang ada di dekatnya.
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa like-nya ya
Kritik dan sarannya juga
Terima kasih 🤗
__ADS_1