
🌺 hem... 🌺
* * *
Sepasang kaki milik Dimas dan Mayang melangka serempak melewati gapura . Sempat keduanya memperhatikan kayu bagian kiri penyanggah gapura yang ternyata patah.
Mayang menoleh lagi kebelakang, melihat lagi dan memperhatikan ukiran yang ada di gapura. Jika tak salah menerka, itu adalah tulisan Jawa kuno .
Dahinya berlipat. Meski ia Pribumi, Ia tak tau apa arti tulisan tersebut. Sebab yang ia pelajari disekolah kebanyakan adalah bahasa dan huruf asing yang jelas jauh berbeda. Tak pernah ada pembelajaran mengenai bahasa apalagi huruf - huruf seperti itu.
' Whussssshhhh ' angin sepoi terasa . Mayang dan Dimas saling tatap sesaat lalu kompak mengedarkan pandangan.
Susana tiba-tiba saja jadi begitu berbeda.Padahal berada di tanah yang sama. Namun begitu mereka masuk melalui gerbang selamat datang tadi, seketika itu pula atmosfer langsung berubah.
Saat mendongak ke atas, langit hampir tak terlihat sebab tertutup oleh rimbunnya daun dari pepohonan besar yang mengelilingi tempat ini.
Tak ada lagi hawa panas yang begitu menyiksa.
Teduh . Itulah yang menyelimuti tempat yang merupakan tujuan mereka.
Mereka meneruskan langkah, berjalan semakin jauh hingga akhirnya memasuki sebuah kawasan tempat tinggal. Rumah-rumah kayu beratap daun berjejer dengan jarak kira-kira lima sampai sepuluh langkah antara satu dengan yang lainnya.
Unik. Ada hal khusus yang terlihat dari rumah-rumah sederhana itu. Setiap rumah pasti berdiri atau bersandar pada batang pohon yang memiliki ukuran besar dan tinggi menjulang.
Jumlahnya pun tak banyak. Mungkin sekitar dua puluh rumah saja.
Anehnya, rumah-rumah tersebut tak satupun ada yang pintunya terbuka. Bukankah seharusnya orang-orang akan bekerja dan beraktivitas diluar rumah ketika siang seperti ini ?
Sambil berjalan perlahan, Mayang dan Dimas terlihat sesekali saling tatap. Mayang merapat, memegang lengan Dimas dengan erat hingga tanpa terasa mereka sampai di penghujung kawasan tempat tinggal itu.
Sepi. Sejak tadi hingga mereka selesai melewati semua rumah yang ada, tak terlihat satupun manusia. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan disini.
Apakah mereka mendatangi tempat yang salah ?Tidak mungkin .Karena menurut penuturan Arisundoro, hanya ada satu desa di pulau ini.
'' Mungkin sebaiknya kita hampiri satu persatu rumah . Siapa tau kita akan menjumpai seseorang yang bisa kita tanyai '' Ucap Dimas pada gadis yang yang semakin erat memegang lengannya.
Mayang yang tak bisa menyembunyikan ekspresi ketakutannya itu , mengangguk.
Dimas pun menuntun langkah menuju rumah yang jaraknya paling dekat .
' Tok. tok. tok ' ketukan pada pintu yang terbuat dari tiga kayu berukuran satu jengkal dan disusun bujur.
Tak ada sahutan. Pintu pun tak bisa didorong untuk dibuka. Seperti dikunci dari dalam. Dimas dan Mayang beralih ke rumah berikutnya.
Sama seperti tadi. Mereka tak mendapat sahutan dan pintu rumah tak bisa di buka.
Namun mereka tak menyerah dan kembali melanjutkan hal yang sama . Tak satupun rumah luput mereka sambangi.
Dimas dan Mayang nampak begitu heran.
Mereka berdiri ditengah - tengah permukiman yang tak ada penghuninya. Netra mereka tak berhenti menelusuri setiap hal yang ada disekitar. Begitupun dengan leher dan tubuh yang ikut berputar. Memastikan dengan seksama jika tak ada hal yang mereka lewati.
'' Mas '' Mayang menggoyang lengan yang ia pegang sambil menujuk ke arah salah satu rumah yang pintunya terbuka secara perlahan.
Dimas melihat kearah yang Mayang tunjuk dengan jari telunjuknya.
' Kreettttt ' suara khas pintu kayu terbuka. Tapi, bukan hanya rumah itu saja.
Satu persatu pintu semua rumah terbuka . Mayang semakin merapat dan menempel dibalik punggung Dimas .
Hening sesaat. Kemudian dari masing-masing rumah, sepasang manusia berusia muda keluar secara bersamaan.
Tak ada anak-anak dan orang tua yang terlihat.
Tampilan mereka semua khas rakyat jelata. Para perempuan hanya mengenakan jarik kemben . Sementara para lelaki bertelanjang dada dan mengenakan sarung yang bagian tengahnya ditarik hingga membentuk sebuah celana untuk menutupi bagian bawah tubuh.
Mereka berjalan perlahan, mendekati Mayang dan Dimas .Mereka berhenti dan membentuk sebuah kerumunan.
Salah satu dari mereka mengambil langkah maju . Seorang wanita bertubuh gempal dengan jarik yang pas membalut tubuhnya yang padat berisi.
'' Siapa kalian ? '' tanyanya dengan suara serak. Sepertinya memang begitulah suaranya.
'' Kami datang atas petunjuk dari Nyi Geno '' jawab Dimas yang terlihat tetap tenang. Berbeda dengan gadis yang bersembunyi di balik tubuhnya. Mayang terlihat semakin ketakutan hingga tak berani menatap wajah-wajah yang mengelilingi mereka.
__ADS_1
Si wanita memicingkan mata. Memperhatikan dengan teliti dua orang yang mengaku sebagai kenalan Nyi Geno .
'' Pantas kehadiran kalian tak terasa.Ternyata kalian sama seperti kami '' si wanita tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam .
" Sama seperti kami ? " Dimas dan Mayang terdiam dan sama-sama tengah memikirkan apa maksud ucapan wanita ini.
Hening lagi. Namun tak lama. Satu persatu pasangan berbalik dan menyeret langkah menjauh. Mereka kembali ke rumah dengan pasangan mereka masing-masing. Pintu ditutup rapat dan suasana kembali sepi.
Kini tersisa Mayang dan Dimas yang berhadapan dengan si wanita tadi. Merasa keadaan tak semenyeramkan tadi, Mayang pun memberanikan diri bergeser dan keluar dari persembunyiannya.
'' Namaku Aranita. Aku kepala desa ini '' wanita yang baru saja memperkenalkan diri dan apa kedudukannya itu tersenyum ramah. Matanya bertemu dengan mata si gadis berwajah polos nan lugu.
'' Aku Dimas. Dan ini Mayang '' Dimas balik memperkenalkan dirinya dan juga kekasihnya.
Mayang mengangguk sekali sebagai bentuk sapaan.
Aranita membalas sapaan Mayang dengan sikap yang sama.
'' Ku ucapkan selamat datang di desa Arkha. Aku tau kalian pasti memiliki suatu tujuan "
Dimas mengangguk.
'' Mari, ikuti aku ''
Aranita berbalik, berjalan dengan melenggokkan pinggulnya . Tampak begitu gemulai layaknya seorang seniman penari .
Dimas dan Mayang mengekor, berjalan dengan pandangan silih berganti berputar ke kanan dan ke kiri. Hingga langkah mereka berhenti di rumah yang letaknya paling ujung . Tak seperti rumah lain yang berdiri bersandar pada pohon besar. Rumah ini berbeda. Pohon besar menjulang keluar dari atapnya. Seolah menyatu dengan tempat berteduh tersebut.
Tiba-tiba saja pintu rumah tersebut terbuka. Seorang pria berparas tampan dan bertubuh kekar berdiri di mulut pintu.
Ia tersenyum begitu menawan.
'' Ini adalah rumah ku. Silahkan masuk '' ajak Aranita .
Dimas dan Mayang mengikuti. Namun langkah mereka sempat terhenti sebab terkejut , melihat si pria yang merangkul pinggang lebar Aranita dan mereka masuk kedalam secara bersamaan.
Dimas menoleh kebelakang. Ia raih jemari Mayang dan menariknya sambil tersenyum. Dimas berusaha memberi ketenangan . Karena ia tau jika Mayang masih dilanda ketakutan.
Mereka kini dihadapan dengan keadaan rumah milik Aranita. Tak ada yang istimewa dan terlihat sama seperti kebanyakan tempat tinggal kaum rakyat jelata pada umumnya.
Yang membuatnya terlihat berbeda adalah, batang pohon besar yang berada tepat di tengah-tengah rumah. Mungkin rumah ini sengaja dibangun seperti memeluk pohon.Atau mungkinkah pohon tersebutlah yang hidup dan terus tumbuh hingga menembus rumah ini ? Entahlah.
Seperti apapun Dimas dan Mayang coba menembak, mereka tak bisa menemukan perkiraan yang masuk akal.
'' Duduklah '' Aranita mempersilahkan dua sejoli itu
dengan tangan kanan membentang.
Dimas dan Mayang menurut. Berjalan tiga langkah dimana sebuah kursi dan meja yang sama panjangnya saling berhadapan dan bersandar di tepi dinding kanan rumah.
Mereka duduk, usai Dimas meletakkan barang bawaan Mayang di atas meja.
Begitupun dengan Aranita .Ia duduk di kursi tunggal yang tak jauh dari pria yang baru saja selesai menuangkan air di cangkir . Pria itu lalu berjalan dan meletakkan dua cangkir berisi air dimeja.
'' Terima Kasih '' Mayang berucap sambil mencuri lirik pada pria yang tak mengenakan baju. Kulitnya coklat mengkilap. Dan otot-otot dada dan lengannya terlihat begitu padat.
Mayang segera memalingkan wajahnya ketika pria itu tersenyum. Bukannya malu, Mayang justru bertambah takut karena ketahuan sedang memperhatikannya.
Si pria berbalik , berjalan ke arah Aranita dan berdiri di sampingnya.
'' Minumlah. Kalian pasti haus , bukan ? ''
'' ... '' Tak ada pergerakan. Dimas dan Mayang bergeming.
Aranita tertawa kecil . Ia naikan sedikit dagunya, saling menatap pria yang menunduk padanya. Si pria pun tertawa. Layaknya pasangan, mereka nampak mesra. Hanya saja sama sekali tak nampak serasi.
'' Baiklah. Aku mengerti jika kalian pasti tak bisa langsung mempercayai orang yang baru ditemui ''
'' Maaf, jika sikap kami terkesan tak sopan '' ucap Dimas dengan tatapan lurus pada si pria yang sudah kembali menenggak tubuhnya. Ia sepertinya tak suka. Mungkin karena perawakan pria yang telah berhasil mencuri perhatian Mayang.
Dimas cemburu. Meski ia tau, jika Mayang menatap dan memperhatikan pria itu dalam artian lain. Benar. Mayang bukan tertarik, melainkan takut.
'' Dia adalah Joko. Sama seperti yang kalian lihat tadi. Setiap rumah yang ada disini di huni oleh satu pasangan.
__ADS_1
Begitu pun dengan kami '' lagi. Aranita melemparkan tatapan mesra pada si pria bernama Joko.
Dimas dan Mayang bergeming lagi. Entah bagaimana sebaiknya bersikap atau harus seperti apa menanggapinya . Jadi, mereka memutuskan untuk diam dan menunggu Aranita selesai menunjukan kemesraannya.
'' Maaf, aku membuat kalian menunggu. Aku selalu lupa segalanya ketika bersama Joko '' Aranita tertawa ringan dan memalingkan wajahnya, menatap kedua tamunya.
'' Pasti sejak tadi kalian sudah tak sabar ingin bertanya. Baiklah karena kita ini dari kaum yang sama. Maka dengan senang hati aku akan menjawab ataupun menolong jika memang kedatangan kalian kemari karena butuh bantuan.
Silahkan. Bertanyalah... ''
Mayang menarik nafas. Sebelum Dimas membuka mulut, ia sudah lebih dulu mengeluarkan suaranya.
'' Sejak tadi kau bilang kita ini dari kaum yang sama. Aku penasaran. Apa maksudnya ? ''
Bibir yang sejak tadi tersungging tiba-tiba datar.
Aranita menatap lekat Mayang.
'' Bukankah tadi kalian bilang datang atas petunjuk dari Nyi Geno ? Lantas, apa dia tidak memberitahu tempat seperti apa desa ini ? Atau mungkin mengatakan tentang kami ? '' Aranita menatap heran.
Mayang menggeleng perlahan.
'' Memangnya petunjuk seperti apa yang diberikan pada kalian ? Apa sebenarnya hubungan kalian dengan Nyi Geno ? Dan-dan- apa telah terjadi sesuatu padanya ? '' Aranita berdiri. Dadanya naik turun dengan cepat usai melontarkan pertanyaan tanpa jeda, nafasnya pun seolah terputus.Ia terlihat seperti seseorang yang sedang mengkhawatirkan sesuatu.
'' Di- dia... '' Mayang menoleh pada lelaki yang tetap terlihat tenang.
'' Nyi Geno sudah meninggal '' Dimas berucap , menatap lurus pada Aranita.
' Bruk ' Aranita menghempaskan bokongnya. Ia terlihat begitu terkejut.
'' Sebelum meninggal, Nyi Geno menyuruh kami untuk datang kemari. Katanya, disini kami mungkin akan menemukan apa yang kami butuhkan '' jelas Dimas.
'' Memangnya apa yang kalian butuhkan hingga Nyi Geno sendiri tak bisa membantu permasalahan kalian ? Padahal ia memiliki ilmu magis yang cukup tinggi ''
'' Dia... Didalam tubuhnya, bersemayam jiwa lain. Sebuah jiwa dari seorang pemilik ilmu hitam.
Dan jiwa itu ingin mengambil alih tubuhnya .
Itulah yang menjadi alasan kami jauh-jauh datang kemari. Kami harap , akan ada seseorang yang tau Baga cara melepaskan jiwa itu dari tubuhnya.
Dan jika memungkinkan , menyegel jiwa itu agar tak lagi berkeliaran ''Dimas menatap Mayang seraya mempererat genggaman jemarinya.
Aranita menatap Dimas dan Mayang secara bergantian . Dengan satu tarikan nafas, ia pun berucap.
'' Sungguh menggelikan. Bagaimana bisa kau tak tau caranya ?
Bukankah kalian ini sama ?
Didalam diri kalian terdapat kekuatan dari asal yang sama. Kalian terhubung oleh jiwa yang ada didalam gadis itu ! '' Aranita menatap Dimas dan mengangkat telunjuk yang ia arahkan ke Mayang.
'' Kita ini sama. Dia, kau,aku, dan semua penghuni desa Arkha ini "
" ... "
Sepertinya kalian tak begitu paham. Atau bahkan sama sekali tak tau.
Baiklah kalau begitu. Akan ku jelaskan siapa kita dan kaum seperti apa kita ini.
Pada dasarnya kita ini tetaplah manusia. Tapi kita sedikit berbeda dari manusia biasa.
Kita terlahir dengan satu keistimewaan yang sama. Darah yang mengalir di tubuh kita bukanlah darah biasa.
Dan karena itu, kita mewarisi kekuatan yang juga tak biasa.
Kita bisa merasakannya sakit dan terluka. Tapi itu hanya sesaat. Karena dengan cepat, tubuh kita akan memulihkan diri dengan sendirinya.
Selain itu, setiap dari kita yang telah genap berumur 17 tahun .. Segala sesuatu yang ada pada kita akan berhenti tumbuh ''
'' ... ''
Aranita tersenyum tipis.
'' Kami memberi sebutan pada diri kami dengan nama sak-lawas-e . Yang artinya kami , yang juga sama dengan kalian ,adalah manusia yang bisa atau akan hidup selamanya ''
__ADS_1