
🌺 Hem... 🌺
* * *
Waktu itu, malam sebelum Panji pergi meninggalkan kediaman Kompeni bergelar Kolonel yang tak lain adalah rumah mertuanya - Panji sempat berbicara dengan Mina. Mencoba menyakinkan sang istri agar tak pergi meninggalkannya.
" Pernikahannya kita memang tak di dasari cinta. Tapi jika kita berusaha untuk belajar saling terbuka dan menerima , bukankah nanti cinta itu bisa tumbuh dengan sendirinya ? '' Ucap Panji menatap dalam sepasang manik yang tangannya ia genggam erat.
Mina bergeming. Sama seperti isi kepalanya yang penuh dengan sejuta hal. Caranya membalas tatapan Panji , sama sekali tak bisa ditebak. Entah apa maknanya.
'' Aku memang belum bisa mengatakan cinta padamu. Tapi aku cukup yakin dengan perasaanku saat ini. Aku menyukaimu, Mina. Sangat menyukaimu.
Jadi, ku minta padamu untuk tidak pergi meninggalkan ku.
Tetaplah disini bersamaku '' Panji memelas.
Namun, Mina masih memilih bungkam dan justru menarik tangannya dari balutan telapak tangan Panji dengan perlahan.
Sebuah isyarat jika ia menolak melakukan apa yang Panji minta.
Panji menegakkan tubuh yang tadi sedikit condong ke depan. Pun dengan raut wajahnya yang seketika berubah datar. Hatinya berdenyut . Rasanya nyeri sebab kecewa. Panji terluka .
'' Jika kau tetap pergi, maka antara kau dan aku akan benar-benar berakhir.
Dan hubungan ini berakhir bukan karena aku atau pun karena kesepakatan ayah kita .
Tapi karena kau yang tak mau bertahan denganku ''
ucap Panji penuh tekanan . Sorot matanya memancarkan betapa ia kecewa pada keputusan Mina yang memilih pergi dan melepas status sebagai istrinya.
Panji lantas berdiri lalu beranjak tanpa mau menoleh apalagi mengucapkan salam perpisahan.
* * *
Mina tersadar dari ingatan itu.
Rasa bersalah dan malu, mulai merambat dan memenuhi relung hatinya .
Melihat Panji yang sudah semakin dekat tuk menghampirinya, Mina jadi gugup dan merasa tak nyaman.
' Tap ' langkah Panji berhenti tepat dihadapannya. Mina menatapnya sekilas, lalu tertunduk. Sungguh ia tak tau harus bagaimana. Ia tak siap menghadapi situasi yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
'' Ada apa kau datang kemari ? '' Tanya Panji datar. Namun tatapannya begitu lekat pada perempuan yang sesekali menaikan ekor mata tuk meliriknya.
'' ... '' Mina mengulum bibirnya kuat-kuat . Ia semakin gugup dan juga gelisah. Jantungnya pun mulai berdegup tak karuan , keringat dingin mulai terasa membasahi telapak tangannya.
Melihat reaksi tubuh istrinya, Panji menghela nafas.
Teringat saat tadi, ketika sebuah kereta datang dan mengatakan utusan dari Kolonel Jhon Van Pierzoon. Ia sempat terkejut. Apalagi ketika utusan yang merupakan kacung itu menurunkan barang yang ia bawa.
Panji yang penasaran lantas membuka untuk melihat isinya yang ternyata adalah pakaian dan pernak pernik yang biasa digunakan oleh perempuan khas kaum Kompeni.
__ADS_1
Panji tau dan sudah bisa menebak siapa pemiliknya.
Namun ia tak begitu yakin apa maksudnya mengirim barang milik Mina padanya.
Hingga akhirnya ia mengerti, ketika seorang penjaga memberitahu jika ada sebuah mobil berhenti di depan gerbang dan seorang perempuan Kompeni tengah berjalan menuju rumahnya.
Seketika itu pula, Panji mengambil langkah lebar-lebar . Tak sabar rasanya untuk memastikan sendiri apakah benar yang ada di pikirannya jika itu adalah Mina, istrinya.
Dan ternyata benar. Panji sungguh sangat senang. Beberapa hari di temani rasa frustasi, karena memikirkan Mina yang akan pergi hari ini - hilang seketika.
Wanitanya kini ada dihadapannya. Ia siap dan dengan sepenuh hati akan menyambut kedatangan istrinya.
Hal yang terjadi beberapa saat tadi pun berhenti berputar di kepalanya.
Panji mengukir senyum tipis .
Setelah beberapa ditemani keheningan, Mina yang terlihat salah tingkah akhirnya membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Panji.
'' Eng- eng-.. A-yahku yang menyuruh dia mengantarkan ku kemari '' Ucap Mina terbata sambil melemparkan pandangan sekilas pada si pengendara mobil ,lalu kembali tertunduk.
Panji kembali menyentak nafas. Ia sepertinya kesal pada jawaban Mina. Karena bukan itu yang ingin ia dengar. Bukan itu jawaban yang ia harapkan.
Padahal ia sudah mengatakan menyukainya. Sudah pula memohon agar Mina tak pergi dan tetap menjadi istrinya. Tapi kenapa Mina tak peka ?
Dan lagi, bukankah dengan kedatangannya ini, adalah untuk meneruskan kembali hubungan mereka ? Tapi kenapa Mina tak menyatakan apapun padanya ?
Apa mungkin ia kembali lagi dihadapan dengan perasaan yang sepihak ? Hanya ia saja yang menyukainya. Sedangkan Mina tidak ?
Panji frustasi oleh banyaknya pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya, yang ia coba tebak dan cari sendiri apa jawabnya.
Mina mengangkat wajahnya perlahan. Ia dan Panji kini saling memandang wajah satu sama lain.
'' Aku tak bisa memaksa seseorang untuk tinggal dan berada di sisiku, jika dalam keadaan terpaksa.
Aku tak mau menjalani hubungan seperti itu lagi '' Panji berbalik. Berharap dengan merajuk, Mina akan peka dan membujuknya.
Namun sebenarnya, ia sangatlah takut. Takut ternyata Mina benar-benar datang hanya karen menuruti perintah ayahnya .Yang itu berarti Mina tak pernah ada rasa terhadapnya. Lalu siapkah ia jika ternyata memang demikian ?
'' Baiklah, kalau begitu '' Lirih Mina.
' Deg ' Panji tersentak hebat. Jantungnya seperti berhenti berdetak.
Seperti ada sesuatu yang menyambarnya dengan keras . Inilah yang paling ia takutkan. Pernyataan jika Mina tak memiliki rasa yang sama seperti yang ia rasakan. Meski tak terlontar secara langsung.
Ia berbalik ke arah semula. Panji membelalak, mendapati Mina sudah berjalan menuju gerbang yang pintunya masih terbuka lebar.
'' Kau benar-benar mau menguji batas kesabaran ku '' Panji menatap geram pada sosok yang tengah berjalan semakin cepat dan hampir sampai diambang gerbang.
'' Hei, kau ! '' Weru Mina ketus pada dua lelaki yang sejak tadi berdiri berdekatan. Si kusir dan pengemudi mobil tersentak.
'' Cepatlah bergerak ! Kita harus kepelabuhan sebelum kapal berangkat '' Perintah Mina pada si kusir pembawa kereta barang bawaannya dan si pengemudi mobil.
__ADS_1
Kedua lelaki sebaya itu sempat saling pandang. Mereka terlihat bingung, namun dengan segera mereka melaksanakan apa yang si majikan perempuannya perintahkan.
Mina memacu langkahnya semakin cepat. Ia kesal karena merasa sudah dipermainkan. Kenapa ayahnya menyuruhnya kemari tanpa mengatakan apa-apa padanya . Dan kenapa juga Panji yang kemarin memintanya bahkan sampai memohon agar ia tetap tinggal, sekarang justru seperti tak mengharapkannya lagi.
Kenapa? Kenapa? Kenapa mereka berdua kembali bersikap semau hati lagi?
Mereka sungguh keterlaluan. Mina menyetak nafas dan berjalan dengan menghentakkan kakinya kuat-kuat. Sungguh ia sangat -sangat kesal.
Lihat saja bagaimana nanti ia akan membalasnya. Niatnya yang sudah sepenuhnya dikuasai emosi.
Semakin dipikirkan, kesalnya semakin memuncak.
Mina tak tahan lagi. Ia butuh pelampiasan. Merasa langkah orang yang berjalan dibelakangnya terdengar dekat, muncul pikiran untuk meluapkan rasa kesalnya ini pada si pengemudi mobil .
Benar.Ia akan memarahinya karena telah membawanya kemari tanpa memberitahu lebih dulu. Ia bisa menggunakan alasan seperti itu .
Mina pun menghentikan langkahnya dan berbalik.
Namun alangkah terkejutnya ia, karena ternyata yang berjalan dibelakangnya bukan si pengemudi mobil. Melainkan Panji.
" Mau kemana kau, hem ? " Tanya Panji yang begitu sampai dihadapan Mina, langsung meraih pergelangan tangan Mina.
Seperti biasa. Mina memilih tak menjawab. Ia menatap tajam pada Panji sambil berusaha melepaskan tangannya . Namun seperti Panji tak akan membiarkan hal itu terjadi.
" Lepas ! " Mina menghempaskan tangannya cukup keras dengan ekspresi tak suka.
Panji terkejut dan sontak mengendur pegangan. Ini kali pertama ia melihat ekspresi lain dari seorang Mina. Karena memang selama ini Mina terlihat hampir tanpa ekspresi.Datar dan dingin.Bahkan ketika menangis pun wajah yang ditunjukkan tetap seperti itu.
Namun ini berbeda. Layaknya seorang yang sedang marah. Atau memang Mina benar-benar marah.
" Lepaskan Aku. Aku harus kepelabuhan " Tegas Mina kembali mencoba menarik tangannya. Diluar dugaan, Panji melepasnya.
'' Kau marah ? '' Tanya Panji dengan nada lembut. Tak lagi seperti tadi yang penuh tekanan.Panji melunak sebab khawatir kali ini Mina benar-benar akan pergi dan meninggalkannya.
'' Aku kepelabuhan untuk mengucapkan salam perpisahan pada keluarga ku ! ''
Mina kembali melangkah hingga sampai dan langsung masuk kedalam mobil.Panji terlihat panik, bergegas menyusul dan ikut masuk kedalam mobil.
'' HEI, KAU ! CEPAT ! " Teriak Mina pada si pengemudi yang masih di tengah jalan.Ia tersentak untuk kesekian kalinya dan reflek berlari .
' Tup ' pintu kemudi di tutup.
Panji melongo. Tak percaya jika perempuan yang telah ia nikahi ini ternyata memiliki dan bisa bersikap arogan seperti seorang Kompeni.
Sedangkan Mina justru acuh. Ia tak perduli. Ia ingin mengeluarkan semua hal yang ia simpan selama ini. Ia tak mau diam dan dipermainkan lagi.
Di liriknya Panji yang duduk di sebelahnya. Ingin rasanya ia tertawa, melihat ekspresi keheranan sang suami. Kalau saja ia tak sedang ingin memberi pelajaran , mungkin saat ini juga ia akan melampiaskan semua rasa yang ia pendam pada lelaki yang telah mengambil dan menguasai hatinya ini.
Mina mengulum senyum kepuasan. Sinis. Senang karena bisa membuat Panji tak berkutik lagi.
Sekarang giliran ayahnya. Ia akan buat kedua lelaki ini tak bisa lagi berbuat semau hati padanya lagi. Mungkin inilah saatnya ia menunjukan jati dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
Karena ia sudah lelah , hidup dengan aturan dan perintah yang harus ia turuti. Ia tak mau lagi menjalani hidup seperti itu.
Ia mau hidup bebas. Hidup sesuai dengan apa yang ia inginkan dan apa yang akan ia lakukan.