Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Pertama dan terakhir kalinya


__ADS_3

🌺 hem.. 🌺


* * *


Mayang menyambut pagi dengan wajah bersinar .


Senyumnya terus mengembang.


Sesekali ia terlihat mengulum bibirnya ,ketika indra penglihatannya menatap jemari-jemarinya.


Masih dapat ia rasakan , hangatnya balutan telapak tangan Dimas.


Meski bukan pertama kalinya ia digandeng seorang lelaki, namun yang ia rasakan ini benar-benar berbeda hingga begitu membekas di sanubari.


'' Pagi Den Mas '' sapa dan salam Mayang dengan sedikit membungkuk , ketika sang majikan muda keluar dari rumah.


Panji membalasnya dengan senyum tipis .


Mayang lantas mengekor langkah Panji menuju kereta.


Mereka berdua masuk dan kendaraan yang bergerak dengan mengandalkan tenaga kuda itupun bergerak jalan.


Diperjalanan, Mayang dan Panji beberapa kali bersitatap.


'' Apa semalam engkau bersenang-senang ? '' tanya Panji menatap lekat gadis berkebaya biru dengan rambut yang di gelung rapi.


'' Iya, den mas. Terima kasih karena sudah memberi ijin '' Mayang mengangguk. Lalu menunduk.


Panji menangkap senyum kecil di wajah manis gadisnya.


Mungkin karena suasana hati Mayang yang sedang baik karena hal semalam.


Namun Panji yang tak tahu menahu, justru berpikir Mayang mungkin mulai luluh padanya.


Panji senang. Tak sia-sia ia menahan diri.


Sepertinya ia harus melonggarkan tali pengekangannya dan sesekali memberi Mayang kebebasan. Siapa tau Mayang semakin melunak dan mau menerimanya.


Tak terasa sudah separuh perjalanan menuju sekolah .


Mayang masih tertunduk dengan menahan senyum.


Ingatan semalam sedang berputar dan memenuhi kepalanya.


Lalu tanpa sengaja matanya tertuju pada tangan Panji.


Mayang lalu membandingkan.


Saat tangannya di genggaman Panji , ia tak pernah merasakan apa-apa. Justru terkadang ia merasa jengah dan tak suka akan perlakuan Panji yang terkesan mengekang. Apalagi Panji melakukannya dengan paksaan dan kasar.


Tapi dengan Dimas. Telapaknya memang tak sehalus telapak milik Panji.


Permukaannya kasar. Jemari-jemarinya pun terasa keras dan kuat.


Namun ketika membalut jemarinya, hangat menjalar dan berbagai macam rasa langsung datang menghampirinya.


Girang, gugup, dan cemas ,bercampur aduk jadi satu.


Itulah yang ia rasakan tadi malam. Dimana sepanjang jalan bergandengan tangan dengan Dimas , jantung dan hatinya seolah melompat-lompat tak karuan.


Sungguh sebuah rasa yang tak bisa di jabarkan dengan kata-kata.


'' Mayang '' sebut Panji pada gadis yang duduk dihadapannya.


'' Nggih, den mas ? '' sahut Mayang yang langsung tersadar dari lamunannya.


'' Kau sudah tak marah padaku lagi, kan ? ''


Mayang mengangguk dan tersenyum tipis.


Panji lega mendengarnya. Meski hanya mau menatap sesaat, paling tidak Mayang sudah mengatakan tak lagi marah padanya.


* * *


Di sekolah.


Jam pelajaran seharusnya sudah dimulai. Namun Profesor Hambert tak kunjung datang.


Mereka yang berada di kelas pun mencari kesibukan masing-masing.


Beberapa dari mereka berkumpul membentuk sebuah kelompok dan berbincang. Lalu terlihat dua orang gadis asik menggambarkan dipapan tulis.


Sementara sisanya ada yang keluyuran tak jelas.


Namun ada pula yang tetap duduk sambil membaca buku.


Mina dan Mayang yang merupakan salah satu dari dua puluh lima murid yang ada di dalamnya , memilih diam dan tak ikut-ikutan.


Dan tiba-tiba saja ,suasana mendadak riuh saat seorang pria memasuki kelas .

__ADS_1


'' Hari ini Profesor Hambert sedang ada urusan.


Sebagai gantinya, hari ini saya yang akan mengajar.


Jadi mohon kerja samanya '' ucap Dimas dengan sekali membungkukkan tubuhnya dihadapan murid kelas tersebut.


Riuh yang di dominasi suara perempuan terdengar menanggapi dengan wajah mereka yang bersemu senang.


Para murid perempuan bersorak sebagai bentuk mengekspresikan rasa suka mereka pada Dimas.


Dimas pun menyambut senang dan bersiap memulai aktivitas mengajarnya.


'' Baiklah, kalau begitu pembelajaran kita mulai ''


Dimas meletakkan barang bawaannya dan membuka lembaran buku yang cukup tebal.


Di sela-sela menerangkan materi pembelajaran, beberapa murid perempuan ada yang iseng menggoda dengan sengaja melontarkan pertanyaan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan apa yang tengah Dimas sampaikan.


Dimas tak meladeni, namun juga tak mengacuhkan.


Ia hanya menanggapi dengan tersenyum sambil menggelengkan kepala.


Membuat para murid perempuan kembali berseru karena tak tahan dengan pesona ketampanannya.


Memang sejak kedatangan Dimas sebagai tenaga pengajar pembantu, ia disambut baik dan penuh semangat oleh para pelajar di sekolah ini.


Terutama oleh para gadis. Tak hanya karena parasnya yang membuat mereka menyukai Dimas. Namun juga kepribadiannya yang begitu ramah. Ditambah lagi pemanis yang hanya ada satu di pipi kanannya.


Membuat para gadis yang berasal dari kasta ningrat ini semakin menggilainya.


Selain Panji, Dimas pun kini mendapat julukan yang serupa. Si penawan hati .


Mereka seolah tak perduli pada status Dimas yang hanya seorang rakyat biasa sekaligus kacung pribadi Profesor Herlad.


Kembali pada suasana kelas.


Ketika ujung jemari yang menjepit kapur putih menari di papan bercat hitam , mimik wajah Dimas nampak serius. Dan intonasi bicaranya terdengar lugas . Ia seperti layaknya seorang pengajar senior.


Setelah pekerjaan tangannya selesai dengan papan yang menggantung di dinding , ia lanjut kembali menjelaskan sambil berjalan mengitari kelas. Satu persatu bangku para murid ia lewati.


' Tak ' Dimas dengan sengaja mendaratkan tangannya di meja Mayang.


Mayang mendongak. Saling menatap sesaat dengan sang pencuri hati .


Lalu dengan segera , Panji kembali melanjutkan langkah. Sementara Mayang tertunduk untuk menutupi wajahnya yang terasa panas.


" Eng ? "


Mayang menatap heran pada secarik kertas kecil di atas mejanya.


Diraihnya dan ia buka dengan perlahan.


" ku tunggu nanti malam di alun-alun kota "


Mayang langsung menegakkan kepala dan menatap pada Dimas yang sudah berada di depan.


'' Baiklah, sampai di sini pembelajaran kita hari ini.


Terima kasih atas kerja samanya dan sampai jumpa dilain kesempatan '' ucap Dimas sebagai penutup pembelajarannya.


Sesaat sebelum keluar kelas, ekor mata Dimas sempat mencuri lirik pada Mayang seraya melemparkan senyuman tipis.


Mayang tertunduk malu dan memejamkan matanya kuat-kuat .


Ia seperti akan meledak. Hatinya tak kuat menampung gejolak rasa yang tengah memenuhinya.


" Apa yang dia berikan padamu tadi? " tanya Mina yang entah sejak kapan sudah berada di samping Mayang.


Seperti biasa. Mayang terkejut karena sama sekali tak menyadarinya.


" Eng, itu - - " Mayang tergagap.


' Set ' Mina menarik ujung kertas kecil yang ujungnya keluar dari lipat buku Mayang.


Seketika Mayang pun panik.


Ia tatap Mina dengan mimik takut.


Kenapa Mina selalu saja tau dan mau tau tentangnya ? Atau mungkin karena ia yang tak peka jika selama ini Mina selalu memperhatikan gerak-geriknya. Mayang semakin bertambah was-was.


" Kau mau menemuinya lagi ? " tanya Mina mengembalikan apa yang tadi ia ambil tanpa ijin.


Mayang tertunduk.


Tak tau harus apa dan tak berani berkata apa-apa.


Ia takut jika Mina akan mengadukannya pada Panji.


Mina tersenyum sinis. Ia tau apa yang ada di pikiran Mayang saat ini.

__ADS_1


'' Berhentilah berburuk sangka padaku.


Bukankah sudah pernah kukatakan, jika aku tak akan mengadukanmu pada Panji ? ''


'' ... ''


' Srek ' Mina menarik kursi dan mendudukkan diri di dekat Mayang.


'' Percaya atau tidak.


Aku hanya mengkhawatirkan mu. Bagaimana jika Panji sampai tau tentang kau dan si kacung Profesor Herlad ? ''


Mayang mengangguk. Itu adalah kekhawatirannya juga.


Mina mendesahkan nafasnya .


'' Apa kau tau, jika kita bisa berbuat nekat ketika sedang menyukai seseorang ?


Apalagi jika rasa suka itu sudah sangat tak terbendung lagi ? Seperti perasaan Panji padamu.


Begitu pula sebaliknya.


Bukan hanya rasa suka yang bisa membuat seseorang bertindak nekat.


Ketika sudah membenci dengan kadar yang berlebihan pun, seseorang bisa dengan mudah kehilangan kendali dan dapat melakukan hal diluar nalarnya ''


Mayang kembali mengangguk.


Kekhawatirannya kini bertambah.


'' Jadi, pesanku. Sebaiknya kau berhati-hati jika tak ingin Panji melakukan sesuatu yang tak akan pernah bisa kau bayangkan.


Dan tak menutup kemungkinan Dimas pun akan menjadi sasarannya.


Saranku, lebih baik kau berhenti sekarang juga. Sebelum kau semakin jauh dan dalam terbawa perasaan .


Tapi jika kau tetap melanjutkannya.


Maka kau harus siap dengan segala resikonya.


Karena sebaik apapun kau menutupinya, suatu saat nanti Panji pasti akan mengetahui tentang ini.


Dan tak ada yang tau, apa yang akan ia lakukan padamu .. Atau pada Dimas nantinya ''


Mendengar itu, Mayang terlihat sulit menelan ludahnya.


Perkataan Mina seolah memberinya peringatan.


Mona memang benar. Panji bisa saja melakukan hal nekat bila ia tetap dan ketahuan bertemu Dimas.


Namun ia juga tak bisa menahan rasa inginnya.


Ia sangat dan begitu ingin bertemu dan mengulang lagi hal yang membuatnya merasakan jutaan rasa seperti kemarin.


Mayang bimbang. Satu sisi ia takut pada Panji. Namun di sisi lain , ia begitu menyukai Dimas. Dan tak mau kehilangan rasa yang baru saja ia rasakan ini. Menyukai seseorang itu ternyata sangat menyenangkan.


'' De-den, ayu... '' Mayang memberanikan diri untuk kembali menatap Mina.


'' ..? '' menanggapi dengan menaikan sekali dagunya.


'' Jika berkenan, bolehkah den ayu menolong saya ? ''


Mina mengernyit.


'' Bisakah Den Qyu bicara dan meminta ijin pada Den Mas Panji dengan alasan seperti kemarin ? ''


'' ... ''


'' Sa- saya mau menemui Dimas untuk mengakhirinya.


Saya harus mencegah perasaan saya padanya agar tak semakin dalam ''


Mina menatap datar pada gadis yang manik matanya terpancar kesungguhan.


Mayang berusaha meyakinkan perkataannya.


'' Baiklah. Tapi ini akan menjadi yang pertama dan terakhir kalinya aku membantu mu.


Setelah ini , jangan pernah berpikir untuk meminta bantuan ku lagi ! "


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa like-nya ya


Kritik dan sarannya juga


Terimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2