Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Beringas dan sadis


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Beberapa saat sebelumnya.


Tak lama setelah para wanita pergi ke sungai, para lelaki pun keluar dan bersiap memulai rutinitas harian mereka.


Seperti yang setiap hari mereka lakukan, hari inipun mereka akan berburu dan mencari kayu bakar. Terkecuali jika cuaca tak mendukung. Namun hal itu sangat jarang terjadi, sebab keseluruhan pulau ini dalam kendali para penghuni desa Arkha. Termaksud menentukan cuaca apakah akan diturunkan hujan ataupun panas.


Setelah semuanya berkumpul , mereka lantas membagi tugas dan bubar untuk mengerjakan tugas masing-masing.


Mereka yang kehutan, dibagi menjadi dua kelopok dan berpencar . Satu kelompok bertugas mencari ranting ataupun batang pohon tumbang yang telah kering untuk dijadikan kayu bakar. Sedangkan kelompok satunya berburu hewan untuk di santap bersama hari ini.


Sementara satu orang tetap tinggal di desa untuk berjaga-jaga. Meski sebenarnya hal itu tak begitu perlu dilakukan karena hampir tak ada hal yang bersifat mengancam hingga harus dikhawatirkan. Namun tugas itu sudah menjadi kewajiban yang di dapat secara bergiliran .Dan kebetulan si penghuni baru lah yang mendapat giliran . Ini merupakan tugas pertama Dimas setelah resmi menjadi bagian dari desa Arkha.


' Bhuak ' hantaman kapak yang membelah kayu hingga menjadi dua bagian. Potong yang jatuh lalu kembali di letakan ke tempat semula dan kapak pun diayunkan lagi. Setelah semuanya menjadi potongan-potongan seukuran, pria bertelanjang dada itu lantas menyusun dan mengikatnya, kemudian membawanya ke pondok terbuka yang terletak ditengah - tengah desa. Pondok tesebut adalah tempat kayu bakar dikumpul dan ditumpuk jadi satu untuk digunakan sesuai kebutuhan penghuni desa ini.


' Krak ' ' Brhuk ' Suara sesuatu yang patah dan menghantam tanah.


Dimas tersentak . Ia yang tengah menyusun kayu seketika menghentikan pekerjaan tangannya.


' Glundung-glndung ' kayu di pegangannya tanpa sadar lepas dan bergulir ke tanah. Dimas merasakan aura yang tak asing. Ia pun memutar tubuhnya dan melihat ke arah gerbang masuk desa Arkha .


Sepasang manusia yang sangat ia kenali tengah berjalan kearahnya.


'' Ibu.. Ayah.. '' Sebutnya tanpa sadar dengan mimik setengah tak percaya.


Agam lebih dulu sampai dan langsung memeluk sang putra. Ia nampaknya begitu merindukan darah dagingnya yang telah lebih dari satu purnama tak ada kabar.


Agam melepas pelukannya dan mundur , seraya menatap Dimas dengan senyuman.


Dimas menatap datar pada ekspresi yang sang ayah tunjukan. Pun hanya sekilas, lalu ia beralih pada sang ibu.


'' Ibu ''


Berbeda dengan wajah ayahnya yang sumringah, raut wajah sang ibu justru sebaliknya. Saraswati menatap anak satu-satunya itu dengan dingin .


'' Apa yang sedang kau lakukan disini, Dimas ? ''tanya Saraswati. Alih-alih senang karena akhirnya bertemu Dimas setelah lama mencari, Saraswati justru terlihat tak suka melihat sang putra di tempat ini.


'' Ibu... '' Dimas mendekat satu langkah.


'' Jawab pertanyaan ibu Dimas ? APA - YANG - KAU - LAKUKAN - DISINI ? ! '' Saraswati menekan kalimat terakhirnya.


Dimas tak jadi melanjutkan langkah. Ia terhenyak. Pun juga khawatir jika sang ibu tau apa yang telah dan sedang ia lakukan di desa Arkha.


'' Ibu , ak.. aku '' Dimas terbata. Ia bingung untuk memulainya dari mana atau penjelasan seperti apa yang harus ia sampaikan agar ibunya mengerti.


Ia tau dan hapal watak sang ibu yang keras dan kukuh pada pendirian. Karena itu, pasti tak akan mudah baginya untuk membuat sang ibu mengerti. Salah-salah, sang ibu justru akan murka padanya.


Dimas memejamkan matanya sesaat , mengumpul segenap keyakinan untuk menghadapi situasinya saat ini.


'' Ibu '' Dimas menarik nafas panjang sekali dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia tatap dalam-dalam sepasang mata milik ibunya dan mulai menceritakan dari awal pertemuannya dengan Mayang dan menjelaskan semuanya secara keseluruhan. Tak ada yang ia tambahi apalagi ia tutupi .


'' Jadi, bu...Ibu tak perlu khawatir lagi. Nyi Sukma tak akan pernah bisa bebas .

__ADS_1


Karena jiwa Nyi Sukma selamanya akan terkurung di tubuh Mayang '' Dimas mengakhiri penjelasan panjang lebarnya dengan sorot mata penuh harap. Dimas berharap, dengan ini pikiran ibunya dapat berubah .


'' Kau mengkhianati Ibu, Dimas. Ibu kecewa padamu ''


Dimas kembali terhenyak. Padahal ia sudah mempersiapkan hati jika memang tak bisa melunakkan kerasnya sikap sang ibu. Namun tetap saja ia tak siap. Rasa bersalah menyeruak dan memenuhi hatinya yang terluka sebab dianggap telah mengecewakan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya .


'' Kau tau jika rencana kita bukan seperti itu. Kau seharusnya membawa gadis itu pada ibu, lalu kita lalukan ritualnya '' ucap Saraswati bernada tinggi.


'' Tidak, bu '' Dimas menggeleng. Tentu saja Dimas menolak. Ia tak mungkin bisa membiarkan sang ibu melakukan ritual yang akan membuatnya kehilangan Mayang selamanya . Tidak. Ia tak bisa.


'' Kau tau hanya itu cara satu-satunya, Dimas ''


'' Belum tentu, bu. Apa ibu lupa ? Ibu pernah bilang jika cara itupun belum tentu berhasil. Bagaimana jika setelah kita membiarkan Nyi Sukma menguasai tubuh Mayang , kita kalah dan gagal menyegel nya ? "


" Apa maksud mu ? Apa kau meragukan kekuatan ibumu ? "


" Aku tak bermaksud menyinggung mu, bu. Aku hanya mengatakan kemungkinan terburuknya.


Jadi, bukankah lebih baik seperti ini. Tidak perlu ada pertempuran dan tak perlu ada yang menjadi korban ''


'' ... ''


Agam yang sejak tadi diam dan menjadi pendengar , mendekati Saraswati. Ia merangkul pundak wanitanya dan mengusapnya lembut.


'' Dimas ada benarnya. Tak ada salahnya kita percaya apa yang dikatakannya.


Dan mungkin ... Memang sudah menjadi takdir kita untuk hidup dalam kutukan selamanya ''


'' Tidak, mas .Aku tak mau hidup dalam kutukan ini selamanya. Bagaimana pun caranya aku harus membuat Nyi Sukma keluar dan memaksanya untuk mencabut kutukan kita '' tolak Sarawati sambil menepis tangan di pundaknya.


'' Berhentilah mengotori tanganMu dengan darah, Saraswati.. Lupakan semuanya dan mari kita pergi dari sini .


Belum terlambat untuk memulai kehidupan baru ditempat lain, em ? '' bujuk Agam.


Saraswati menoleh, menatap mata lelakinya . Saraswati tersentuh melihat sorot mata yang memancarkan kesungguhan itu.


Haruskah ia menyerah dengan ambisi dan tujuan hidupnya untuk balas dendam selama ini ? Saraswati dilema. Setelah beberapa saat berpikir, Saraswati memutuskan untuk meredam egonya.


'' Baiklah, mas ''


Raut wajahnya kini berubah dan kembali menatap ke depan. Sarawati tersenyum lembut, lalu mengulurkan tangannya pada Dimas.


'' Ayo, nak. Kita pergi dari sini dan mencari tempat yang akan menjadi rumah kita '' ajak Saraswati pada sang putra.


'' Maafkan aku sekali lagi, bu. Aku tidak bisa melakukannya . Aku mencintainya. Aku mencintai Mayang ''


'' ... '' Seketika amarah yang tadinya redam kembali naik.


'' Ibu percayalah padaku. Aku janji akan menjaga dan memastikan jiwa Nyi Sukma tak akan pernah lepas lagi.


Karena mulai sekarang dan seterusnya aku akan selalu bersamanya. Ak.. ''


'' Pantas saja sikapmu tiba-tiba berubah. Kau sudah terpedaya rupanya, Dimas '' Ucap Saraswati geram.


Benar saja. Pikir Dimas. Ibunya murka. Seharusnya ia sadar, jika sang ibu memang tak akan pernah perduli dan mengerti.

__ADS_1


Dimas menunduk sesaat. Bukan untuk menunjukkan penyesalan. Tapi untuk menabahkan hati. Sudah cukup selama ini ia hidup untuk ambisi ibunya. Ia tak bisa lagi tunduk dan mengikuti segala perintah yang selama ini ibunya berikan. Cukup sampai disini. Ia tak mau lagi. Karena kali ini ia menilai ibunya telah kelewatan.


" Sekarang pilihan ada padamu,Dimas. Jika kau ikut bersama kami, maka ibu berjanji akan melupakan semuanya. Tapi jika kau ingin tetap disini, maka jangan salahkan ibu jika ibu akan memusnahkan semua yang ada disini " Ancam Saraswati dengan tatapan tajam.


" Ibu, kumohon. Berhentilah bersikap semau hati.


Ibu tak tau dengan siapa ibu akan berhadapan " Dimas mencoba menjelaskan . Namun, sayang. Saraswati terlanjur kesal dan sudah tersulut marah.


'' Ternyata kau benar-benar meragukan ilmu ibumu, Dimas.. Baiklah, biar ibu tunjukkan padamu apa yang bisa ibu lakukan ''


Saraswati berbalik. Sekalipun Agam berkali-kali mencekal lengannya, namun tenaga dan kekuatan pria itu bukanlah apa-apa baginya.


Hanya dengan sekali sapuan tangan, ia membuat tubuh Agam terlempar jauh hingga menghantam apa saja yang yang dilewati.


Pun dengan Dimas ia lakukan juga hal serupa. Tubuh anaknya terdorong dan hanya sekejap mata sudah tak terlihat lagi.


Saraswati tak lagi perduli. Sekalipun menyakiti kedua lelaki yang ia cintai. Pun ia pikir mereka bukanlah manusia biasa yang bisa mudah terluka. Dan sekalipun terluka, maka dengan cepat pula mereka dapat menyembuhkan diri.


Saraswati lalu memanggil dua makhluk yang senantiasa ikut kemanapun ia pergi.


Dua makhluk yang merupakan peliharaannya itu ia beri perintah untuk membunuh siapapun manusia yang ada di pulau ini.


Dengan segera kedua makhluk tersebut melakukan apa yang ditugaskan oleh sang tuan. Mereka berpencar dan mulai mencari manusia yang sekaligus akan menjadi santapan.


* * *


Aranita memacu langkah , semakin dekat dengan menghampiri dua makhluk yang tengah menikmati darah dari tubuh yang terbujur tak bergerak.


Itu berarti Joko telah mati. Hati dan pikiran Aranita seperti diremas. Sungguh rasanya sangat menyakitkan, membuat pipi kian basah oleh tetesan air mata.


Satu langkah sebelum memutus jarak, tubuh Aranita berubah dengan cepat.


Rambutnya memanjang hingga menjuntai ketanah dan berubah menjadi putih semuanya.


Hal yang sama juga terjadi pada kukunya yang secara ajaib tumbuh dengan cepat, panjang, runcing dan berwarna gelap. Begitupula dengan wajahnya. Kedua matanya memerah dengan bola mata berwarna senanda.


Setelah menampilkan wujud aslinya, tanpa berlama-lama Aranita mencengkram kepala dari makhluk yang melayang .


Aranita tersenyum sinis . Dengan ganasnya, Aranita memegang kepala sedangkan tangan satunya menarik lidah yang terjulur penuh darah.


' Ctas ' lidah berhasil di putus dan dilempar . Salah seorang dari para perempuan yang sejak tadi menyaksikan, langsung berjalan mendekati lidah sepanjang tangan orang dewasa yang mengelepar di tanah.


' Whuzzz ' percikan api yang berasal dari telapak tangan perempuan itu dan menyambar lidah makhluk yang masih dalam cengkraman Aranita.


Api melahap rakus lidah yang sempat memberontak perlahan tak lagi bergerak hingga akhirnya hangus tak bersisa.


Dan makhluk yang baru saja kehilangan lidahnya itu jatuh, terhempas ke tanah. Sisa-sisa jeritan masih terdengar samar.


Aranita masih belum puas. Dengan kuku-kukunya, ia mencabik-cabis tubuh dan memisahkan kepala dari badannya. Lalu melemparkannya ke kobaran api .


Seperti inilah cara mereka memberi pelajaran pada pengganggu yang berani masuk ke wilayah tempat tinggal mereka. Khususnya para makhluk yang tak diharapkan kedatangannya. Tak ada ampun dan pasti dimusnahkan.


Mayang yang sejak tadi tak putus menyaksikan, bersedekap. Sungguh menyeramkan.


Ia tak menyangka ,jika Aranita dapat berubah menjadi sosok yang begitu beringas dan sadis.

__ADS_1


__ADS_2