
🌺 hem... 🌺
* * *
Panji berjalan mengikuti langkah mertuanya.
Mereka kemudian masuk ke sebuah ruangan yang merupakan ruang kerja Kolonel Jho van Phierzoon.
Pria yang masih mengenakan seragam khusus itu berhenti dan berbalik, menghadap Panji yang juga sudah menghentikan langkah.
Mereka saling tatap dengan jarak dibatasi oleh meja kerja yang dipenuhi berkas dan kertas-kertas penuh tulisan.
Kolonel Jho van Phierzoon menghela nafas, lalu memulai pembicaraan.
'' Kepindahan ku ditunda.
Mendadak, aku di perintahkan untuk memimpin pasukan dalam misi penyerangan ke desa Arkha '' ucap Kolonel Jho Van Phierzoon dengan mimik serius.
Panji mengernyit. Ia tak mengerti. Kenapa mertuanya memberitahu prihal pekerjaannya ?
Desa Arkha ? Tunggu,kenapa itu terdengar tak asing di telinganya ? Panji berusah mengorek isi kepalanya.
Ya, memang ia pernah beberapa kali mendengar tentang desa Arkha. Jika tak salah, desa tersebut terletak di ujung pulau JawaDwipa. Dan dikenal sebagai tempat para kompeni mengasingkan para penjahat Pribumi. Lalu kenapa kompeni berniat menyerang tempat yang bahkan tak pernah sekalipun penghuninya keluar dari tempat tersebut ?
Kolonel Jho Van Phierzoon perhatikan raut wajah Panji. Ia sepertinya bisa mengerti apa yang ada dipikiran sang menantu.
Maka ia pun kembali bersuara, menjelaskan apa yang menjadi alasan pihak kompeni memutuskan menyerang Desa yang terasingkan itu.
Tentang tiga kasus pembunuh yang semua korbannya adalah orang Belanda. Hingga kini, para penyidik yang ditugaskan mencari tau siapa pelakunya tak kunjung mendapatkan hasil. Hampir tak ada bukti yang dapat digunakan sebagai petunjuk.
Dimulai dari kematian Profesor Herlad yang di duga di bunuh oleh kacung pribadinya dan dua orang remaja lelaki yang merupakan anak petinggi di pemerintahan Batavia yang ditemukan mati dalam keadaan termutilasi . Telah hampir satu purnama dan mereka belum juga mengetahui siapa apalagi menangkap pelakunya.
Namun kematian orang tua Panji yang di nilai tak wajar, membuat para penyidik yang telah kehabisan akal memutuskan menggunakan cara tidak berdasarkan teori logika.
Setelah menyangkut pautkan kasus satu dengan lainnya, mereka akhirnya mengambil kesimpulan. Jika semua pembunuh termaksud pembantaian yang menimpa mendiang Adipati, istri dan seluruh pelayannya , bukanlah hal yang bisa dilakukan manusia biasa.
Tak ada saksi, tak ada jejak, dan tak ada bukti apapun . Mereka menganggap apa yang terjadi pada mendiang pemimpin Pribumi serupa dengan kasus tiga pembunuhan sebelumnya.
Meski awalnya sempat menolak untuk percaya percaya. Namun demi meredam kepanikan para kaumnya yang ada di Batavia ini, para kompeni yang tak punya pilihan lain lantas menjatuhkan putusan. Jika yang bertanggung jawab atas semua pembunuh itu adalah Pribumi yang dicurigai tengah merencanakan pemberontakan.
Keputusan tersebut berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh petugas penyidik. Sebab tak bisa melakukan penyerangan secara nyata, maka Pribumi yang dimaksud diduga menggunakan cara yang tak kasat mata. Alias mengandalkan hal diluar nalar manusia, sesuatu yang sebenarnya masih sulit diterima logika oleh pemikiran kaum Kompeni.
'' Mereka ( para petinggi Kompeni ) telah melakukannya penyelidikan dan memeriksa tempat-tempat yang di curigai sebagai praktek perdukunan. Mereka menangkap orang-orang yang di curiga sebagai dukun atau siapapun yang berhubungan dengan hal itu '' Kolonel Jho van Phierzoon berbalik, menungging Panji.
Ia terlihat membuka sebuah kotak hitam yang ada di atas nakas dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Ia lalu memutar tubuh dan menyodorkan apa yang baru saja ia keluarkan dari dalam tempat penyimpanan dokumen rahasianya itu pada Panji.
'' Itu adalah laporan yang kuterima kemarin ''
__ADS_1
Panji melihat pada kertas yang ada ditangannya. Ia nampak begitu serius membaca setiap huruf dari tulisan bertinta hitam . Beruntung ia bersekolah dan banyak mempelajari tulisan dan bahasa Belanda. Jadi tak sulit baginya mengerti apa yang tertera di kedua kertas tersebut.
Dua hari lalu, ada dua buah kapal dagang yang berlayar tanpa melapor. Yang satu meninggalkan pelabuhan di tengah malam, dan yang satu lagi di pagi buta.
Menurut laporan dari petugas yang berpatroli di pelabuhan, kedua kapal ini bergerak ke arah yang sama. Dan setelah di lakukan kontak dengan pelabuhan yang ada di beberapa titik , tak satupun dari kedua kapal itu yang terlihat . Itu berarti kedua kapal tersebut tak melakukan perjalanan untuk berdagang. Dan hanya ada satu tempat yang menjadi kemungkinan terbesar sebagai tempat tujuan mereka. Yakin Desa Arkha.
Meski belum diketahui siapa mereka, namun diyakini mereka pasti memiliki tujuan tertentu .
Kemudian, atas laporan tersebut para petinggi Kompeni semakin yakin tentang adanya rencana pemberontakan . Dan semua kecurigaan itu mengarah pada Desa Arkha. Mereka berpikir jika tempat itu adalah markas para pemberontak.
Dan perintah penyerangan pun dikeluarkan. Kolonel Jho Van Phierzoon pun ditunjuk untuk pergi dan memimpin penyerang Desa Arkha dengan membawa prajurit bersenjata lengkap serta alat berat untuk bertempur . Mereka di beri ijin menyerang dengan kekuatan penuh untuk memusnahkan desa tersebut.
Panji menghela nafas. Untuk apa para Kompeni sampai melakukan hal seperti ini hanya karena sebuah kecurigaan yang hampir tak beralasan ? Apa begitu takutnya para penjajahan ini kehilangan tanah jajahan dan dikalahkan oleh pemilik aslinya ?
'' Aku tau tentang rencana pemberontakan yang mendiang ayahmu rencanakan.
Dan hubungannya dengan pembicaraan ini adalah, salah satunya kapal yang berlayar ke desa Arkha adalah kapal yang memiliki hubungan dengan mendiang ayahmu.
Sebelumnya pun kapal itu pernah pergi ke sana dan kembali ke pelabuhan tanpa melapor. Dan hal itu di samarkan oleh mendiang ayahmu ''
'' ... ''
'' Karena operasi penyerangan ini berada di bawah kepemimpinan ku dan menjadi tanggung jawab ku , maka aku harus mencari tau apa yang sebenarnya ayahmu lakukan dengan mengirim kapal ke sana .
Atas perintah mendiang ayahmu, kapal itu pergi ke desa Arkha untuk membawa seorang lelaki dan perempuan keluar dari Batavia dan meninggalkan mereka di sana ''
Kemudian, ia kembali melanjutkannya.
'' Dengarkan ini baik-baik, Panji. Karena apa yang ku katakan ini hanya kau dan aku saja yang tau.
Lelaki itu ternyata ... adalah kacung yang telah membunuh profesor Herlad. Dan yang perempuan adalah Mayang. Dia adikmu, bukan ? ''
Panji terperangah mendengarnya. Bagaimana bisa Mayang sekarang berada di sana dan bersama Dimas yang ternyata seorang pembunuh ? Dan lagi sejauh mana mertuanya ini mengetahui rahasia mendiang ayahnya ?
Bahkan tentang Mayang yang ia sendiri baru mengetahuinya pun, sang mertua juga telah mengetahuinya.
Panji tak bisa berkata-kata. Ia bingung sebab terlalu banyak hal yang mengantri untuk dipikirkannya.
'' Sekarang anak buah ku sedang bersiap di pelabuhan .Malam ini juga kami akan melakukan perjalanan ke desa Arkha .
Sesuai yang pernah mendiang ayahmu minta padaku. Jika memungkinkan ,ia akan membawa adikmu pergi dan menyembunyikannya.
Aku sudah terlanjur menyanggupi dan berjanji pada ayahmu. Jadi aku akan berusaha sebaik dan semampuku. Tapi, dalam situasi ini, aku tak yakin apakah bisa memenuhi janjiku atau tidak.
Jika aku gagal, kuharap kau mau menggantikan mendiang ayahmu untuk mengerti posisiku.
Karena bagaimana pun , keluargaku adalah yang utama .
__ADS_1
Aku tak bisa mati demi Adikmu ''
Panji terdiam cukup lama.
Hingga akhirnya ia pamit tanpa bicara apa-apa lagi.
Tak berselang lama, deru mesin mobil terdengar nyaring, menandakan kendaraan beroda empat itu telah memasuki halaman depan rumah.
Gegas Kolonel Jhon Van Pierzoon yang tak sempat berganti pakaian keluar ditemani istri dan kedua putranya. Disusul kemudian Panji dan Mina.
'' Selama aku pergi, ku titipkan mereka padamu.
Jaga mereka sampai aku kembali nanti. Dan jika terjadi sesuatu padaku , maka kau harus menggantikan ku untuk melindungi mereka '' ucap Kolonel Jhon Van Pierzoon pada Panji yang di sambut isak tangis sang istri.
Panji mengangguk tegas sebagai bukti ia akan melakukan seperti yang sang ayah mertuanya minta.
Suasana haru mengiringi kepergian Kolonel Jhon van Pierzoon . Memang selalu seperti inilah yang terjadi, ketika seorang abdi hendak berangkat menunaikan tugas .Keluarga yang ditinggalkan pasti akan mengantar dengan derai air mata.
Sebab tak ada yang pasti, apakah nasib baik akan berpihak dan membawanya kembali pulang atau justru sebaliknya. Pergi dengan utuh, pulang belum tentu raga masih bernyawa.
Setelah masuk dan duduk di kursi penumpang, mobil yang akan membawanya ke pelabuhan pun meluncur , meninggalkan kediamannya.
Pria yang sebentar lagi akan pensiun dari masa jabatannya itu terlihat berkali-kali memejamkan mata. Ia tengah memanjatkan harapan, agar misi terakhir di penghujung karirnya sebagai abdi bangsanya dapat berjalan mulus dan ia bisa kembali ke keluarganya.
Ia teringat saat di panggil atasannya tadi siang yang ternyata adalah untuk memberi tugas khusus padanya. Dan jika ia berhasil menjalankan tugas tersebut , maka statusnya akan dinaikkan dan ia akan diberi gelar kehormatan dan dianggap sebagai abdi teladan.
Dengan demikian ia tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi yang secara otomatis tak akan ada lagi yang berani memandang keluarganya sebelah mata. Terutama pada Mina, sang putri yang berdarah campuran.
Selain itu pula, mengenai perpindahan tugasnya ke wilayah selatan - Kolonel Jhon van Pierzoon telah di siapkan jabatan sebagai kepala pasukan yang ada di sana .
Bayang-bayang masa depan yang lebih baik tengah menantinya.
Kolonel Jhon Van Pierzoon membuka mata, menatap lurus ke depan dengan sorot mata tegas yang memancarkan semangat.
Mobil telah memasuki kawasan pelabuhan dan berhenti di depan sebuah kapal perang milik Kompeni.
Kolonel Jhon Van Pierzoon keluar dan langsung di sambut hormat oleh barisan prajurit yang akan berangkat bersamanya.
Sang Kolonel mengangguk . Layaknya seorang pemimpin ia berjalan dengan langkah tegas dan raut wajah menunjukkan wibawa seorang pemimpin .Seolah memberi keyakinan
untuk pasukan bahwa misi mereka akan berhasil dan mereka semua akan kembali dengan selamat.
' Tap ' Sepasang kaki bersepatu bot hitam berhenti sejajar di hadapan sebuah senjata berat yang dapat menghacurkan apa saja.
Kolonel menatap lekat kendaraan berlapis baja dengan tembakan laras panjang yang dapat berputar.
Rasanya sulit dipercaya, para petinggi kompeni sampai harus mengerahkan dan menggunakan senjata ini hanya untuk menghancurkan sebuah desa yang bahkan sama sekali tak pernah menunjukkan keberadaannya.
__ADS_1