Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Miris


__ADS_3

🌺 hem.. 🌺


* * *


'' Aku membayar 100 gulden untuk mengunakan jasa seseorang .Dia dikenal sebagai pemikat hati wanita. Aku memintanya untuk mendekati Mayang. Dan membuat Mayang menjauhi Panji ''


Paramuanti terperangah. Jadi rencana sang suami untuk memisahkan Panji dan Mayang adalah dengan membuat Mayang jatuh hati pada lelaki lain ?


Terkesan jahat namun itu terdengar lebih masuk akal dan lebih baik untuk dijadikan sebuah jalan keluar.


'' Tapi Kang Mas. Bagaimana jika Panji tetap nekat dan tak mau melepaskan Mayang ? ''


'' rRencanaku adalah jika ia berhasil memikat Mayang ,maka dia juga harus bisa menyakinkan Mayang untuk kabur bersamanya ''


Paramuanti terkesiap. Bukankah itu akan menyakiti perasaan dan nantinya membuat Panji semakin patah hati ?


'' Lalu setelah itu kang mas ? ''


'' Setelah itu, terserah mereka.


Tapi, kuharap mereka bisa benar-benar menjadi pasangan.


Dengan begitu tak akan ada lagi perlu kita khawatirkan.


Dan jika semuanya berjalan sesuai rencana, aku berjanji akan menjamin kehidupan mereka ''


* * *


Pagi harinya.


Fajar baru saja menampakkan diri. Sayup-sayup suara kicauan burung menjadi pertanda jika sudah saatnya untuk terjaga.


Namun sepasangan suami istri yang telah menghabiskan malam dengan penuh gairah , masih terlelap.


Beberapa saat kemudian, sang wanita menggeliat.


Lalu mengukir senyum manis diwajahnya yang kusut.


Ia menegakkan kepala yang tadinya tergeletak di atas dada bidang sang suami.


Wajah yang rupawan dengan tubuh yang gagah.


Meski tak lagi muda, namun fisik dan staminanya masih sangat mumpuni.


Paramuanti menatap kagum. Cintanya tak pernah surut. Justru semakin besar seiring dengan bertambahnya waktu. Meski jauh di lubuk hati terdalamnya, ada ragu apakah sang suami juga merasakan hal yang sama dengannya.


Paramuanti beranjak . Ia masuk ke bilik lain yang masih berada di ruangan yang sama.


Samar terdengar gemercik air dari ruang yang tak berpintu. Pramuanti tengah membersihkan tubuhnya.


Setelah puas merasakan siraman air yang menyegarkan , ia pun keluar dengan tubuh yang menebarkan aroma bunga yang begitu harum. Paramuanti lantas berpakaian lengkap ,lalu keluar kamar .


'' Selamat pagi, kanjeng ndoro '' sapa para kacung rumahnya.


Pramuanti tetap melenggok , tersenyum tipis membalas sapaan mereka.


Langkahnya kemudian berhenti tak jauh dari pintu masuk rumahnya yang terbuka lebar.


Senyumnya merekah sempurna melihat putra semata wayangnya yang sedang berlatih bela diri di halaman depan rumah.


Pramuanti menatap kagum.


Panji hanya menggunakan celana kain selutut. Bagian atasannya polos, memperlihatkan kulit sawo matangnya dengan otot-otot yang padat .Keringat menetes di sisi pelipisnya dan mengalir hingga jatuh dan membasahi dadanya yang bidang.


Jika para kaum hawa melihatnya, mereka pasti kesulitan memalingkan pandangan. Paramuanti yakin itu.


'' Le ' '' sapa Pramuanti .


Panji seketika menghentikan hal yang tengah ia lakukan.


Ia sudahi latihannya lalu berjalan untuk menghampiri sang ibu sambil menyeka keringatnya.


Paramuanti dan Panji terlihat bercengkrama sejenak. Kemudian Panji pamit untuk bersiap ke sekolah.


Namun sebelum itu, ia lebih dulu menyambangi bangun belakang rumah .


'' Mbok Arni, dimana Mayang ? '' tanya Panji usai mencari keberadaan gadisnya yang tak ia temukan di mana pun.


Mbok Arni yang sedang menjemur pakaian seketika menoleh.


'' Eng, anu Den Mas.


Mung-mungkin masih dikamar '' jawab mbok Arni ragu.


Seperti biasa, ia menunduk kala berhadapan dengan sang majikan.


Panji berbalik. Dengan perasaan cemas ia bergegas menuju ruang yang memang tadi ia lewati begitu saja.

__ADS_1


Kenapa sudah siang begini masih dikamar ? Pikirnya mengingat selama ini Mayang tak pernah kesiangan.


'' Mayang '' panggil Panji dari balik pintu yang tertutup rapat.


Tak ada sahutan, Panji lantas memanggil seorang pelayan wanita yang kebetulan melintas.


Ia menyuruh pelayan rumahnya itu untuk masuk dan mengecek ke dalam.


'' Tidak ada siapa-siapa didalam, Den Mas ''


Panji panik. Ingatan akan kejadian semalam kembali menghantui. Bagaimana jika Mayang keluar lagi tanpa sepengetahuannya ?


'' Eh, Den Mas itu Mayang '' menunjuk pada sosok yang baru saja muncul dari balik pintu belakang.


Sepertinya Mayang baru saja selesai mandi. Karena memang bilik mandi terpisah dari bangunan tersebut.


Mayang yang melihat dua orang berdiri di depan kamarnya nampak terkejut dan sontak menghentikan langkahnya.


Apalagi melihat Panji yang bertelanjang dada.


Mayang nampak tak nyaman, sebab ia hanya menggunakan kemben untuk membalut tubuhnya.


'' Kau sudah bisa kembali pada perkerjaan mu '' titah Panji yang langsung dituruti si pelayan .


'' Darimana , kau ? Sejak tadi aku mencari-carimu kesan kemari ? '' tanya Panji seakan ia tak tau . Padahal ia sudah bisa menebaknya.


Ia tatap Mayang yang mulai melangkah mendekat sambil mendekap erat kembennya.


'' Per-permisi, Den mas. Saya mau masuk '' ucap Mayang yang hendak masuk namun terhalang Panji yang sengaja tak mau bergeser untuk memberinya jalan.


'' Apa kau baru saja selesai mandi ? '' tanya Panji bernada menggoda.


'' De-den, mas '' Mayang memelas dengan suara pelan dan kepala tertunduk .


Bukannya memberi jalan, Panji justru mencondongkan tubuhnya. Ia hirup aroma segar bunga melati yang menguar dari permukaan kulit Mayang.


Dan tanpa sadar wajahnya sudah begitu dekat, hingga terasa deru nafasnya di tengkuk dan punggung terbuka Mayang.


Gadis itu bergidik.


Panji tersenyum lebar dan menarik mundur tubuh perlahan.


Dan Mayang nelongso melewatinya.


* * *


Sebelum berpisah karena kelas yang mereka tuju berbeda , tanpa kenal bosan - Panji mengingatkan Mayang untuk tidak bergaul dengan siapapun.


Mayang hanya mengangguk.


Dan mereka pun mengambil langkah ke arah masing-masing.


'' Eng ? '' langkah Mayang tiba-tiba terhenti saat seseorang seperti menghadang jalannya.


Mayang yang terbiasa jalan dengan kepala tertunduk memang tak begitu memperhatikan apa yang ada di depannya.


Hingga ia tak sadar jika ada seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dan hendak melintas.


Mayang menenggak kepalanya. Seketika ia merasa jantung berhenti berdetak.


Pria yang kemarin mencuri perhatiannya, kini berdiri dengan menyunggingkan senyuman.


'' Maaf, seperti aku menganggu jalanmu. Silahkan lewat lah lebih dulu '' pria dengan senyuman dan tatapannya yang khas itu membuat Mayang tertegun.


Mata Mayang tak berkedip, menelusuri setiap inci wajah pria ini.


Ternyata dia memiliki lesung pipit di bagian kanan pipinya .


'' Kenapa kau diam saja ?


Bukankah dia sudah mengalah dan memberimu jalan ?! " suara cetus itu mengagetkan Mayang yang langsung menoleh .


Mina berdiri di belakangnya, menatap pada pria berperawakan khas Pribumi yang masih mempertahankan senyumnya.


" Eng- ah iya..


Terima kasih.. " Mayang tergagap .


Sebelum berlalu, ekor matanya terlihat mencuri lirik pada si pria .


" Ck " Mina mencekal lengan Mayang .


Lalu dengan kasar ia memaksa agar Mayang bergerak satu langkah ke samping kemudian menariknya untuk berjalan maju.


Mayang sempat memutar lehernya kebelakang, untuk melihat sekali lagi si pria .


Ia tak sadar jika Mina memperhatikannya.

__ADS_1


Sesampainya di kelas, Mina langsung melepas pegangannya.


Ia tatap Mayang yang mengulum senyum .


' Hah ' Mina tergelak tak percaya.


Sepertinya calon selir Raden Panji ini terpesona dengan pria tadi.


" Kau penasaran siapa pria tadi ? "


Mayang tersadar. Sontak raut wajah yang tadinya merona berubah terkejut .


" Ckckckck " Mina menggeleng sembari mendudukkan diri di bangku sisi tempat duduk Mayang.


" Namanya Dimas Hanggara. Dia adalah kacung pribadi Profesor Herald "


Mayang mengangguk. Ia baru tau jika profesor Herald Jacques, pria lajang berusia 69 tahun yang merupakan salah satu senior tenaga pengajar sekaligus kelapa sekolah ini, memiliki seorang kacung pribadi.


" Sama seperti mu, Dimas juga kacung yang beruntung karena disekolahkan oleh Profesor Herald di sini.


Dan katanya ,semasa sekolah dulu dia merupakan murid terpintar, mengalahkan semua anak ningrat yang bersekolah di tempat ini.


Menurut kabar yang kudengar, dia kemari untuk membantu Profesor .


Kau tau sendiri jika Profesor Herald sudah tua dan mulai pikun .


Jadi, sementara menunggu pengajar tambahan yang baru , Dimas itu yang akan membantu Profesor Herald mengajar "


Mayang manggut-manggut. Senang rasanya karena mengetahui siapa pria itu dan namanya. Namun ada rasa tak puas hati.


Ia masih penasaran akan hal lain.


Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya, Mayang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


" Em... Apakah nanti dia akan mengajar di kelas kita juga ? " tanya Mayang dengan wajah ditekuk.


Mina mengernyit.


" Kau tau jika Profesor Herald tidak mengajar kelas besar, bukan?


Jadi, apa menurut mu dia akan mengajar di kelas kita? "


Mayang kembali manggut-manggut.


Benar. Profesor hanya mengajar kelas kecil. Sementara ia di kelas besar .


Ada rasa kecewa sebab sepertinya ia tak berkesempatan untuk melihat pria itu lagi.


" Kau menyukainya? "


Mayang menggeleng.


" Tidak . Aku hanya sedikit penasaran saja "


" Penasaran ? "


" Emm " Mayang mengangguk sembari tersenyum tipis kala mengingat wajah bersahaja pria tadi.Ada rasa menggelitik yang baru pertama kali ia rasakan.


" Karena sangat jarang ada seseorang yang memiliki lesung pipit " sambung Mayang dengan senyum malunya.


" Kau memperhatikannya? "


" Em... Tadi waktu kami berselisih jalan, aku tak sengaja melihat itu di pipi kanannya. Lesung pipitnya hanya satu, tapi sangat dalam " Mayang tertunduk. Menyembunyikan wajahnya yang terasa panas .


Entah mengapa wajah pria yang kini ia ketahui bernama Dimas memenuhi isi kepalanya.


Mayang jadi malu sendiri.


Mina menghela nafas.


Sepertinya Mayang terpikat dengan pria tadi. Lalu bagaimana dengan Panji ?


Apa mungkin jika selama ini perasaan Panji bertepuk sebelah tangan ?


Mina lagi-lagi menggeleng tak percaya.


Tak cukup tergila-gila dengan kacungnya sendiri, sang calon suami mungkin saja akan dicampakkan oleh Mayang.


Mina miris membayangkannya.


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa like-nya ya


Kritik dan sarannya juga.

__ADS_1


Makasih 🤗


__ADS_2