
🌺 hem... 🌺
* * *
Pagi hari, di kediaman Adipati Arthaprawirya.
Hari ini matahari bersinar sangat cerah. Terangnya melingkupi bagian bumi yang sedang beranjak siang. Bukan hanya yang diluar sana saja yang disinari, cahayanya pun menembus masuk bahkan ke tempat yang tertutup sekalipun.
Seperti dikamar ini. Cahaya fajar berhasil menerobos melalui celah jendela dan menerangi seisi ruangan dan menampilkan keadaannya.
Nyaris tak ada yang berubah dari sisi-sisi ruang tidur sang pengantin baru. Perabotannya masih berada di tempatnya dan tersusun dengan rapi.
Namun tidak dengan tempat tidur yang menjadi saksi apa yang telah dilewati sepasang suami-istri tadi malam.
Sutra yang menjadi alas tidur terlihat krisut tak beraturan.
Nampak Panji duduk ditepian ranjang . Ia memutar sedikit btubuhnya, menatap sosok yang masih berbaring dengan posisi membelakanginya.
Panji mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mendengus, menghempaskan nafasnya .
Rasanya masih sulit dipercaya. Entah apa yang yang merasukinya semalam. Setelah satu kali melakukannya. Tak berselang lama, ia sudah menginginkannya lagi.
Alhasil tiga kali ia menggumuli Mina yang memang telah berstatus istrinya.
Dan ketika bangun beberapa saat yang lalu ,ia tiba-tiba saja kepikiran . Ia pun menyadari jika ada sesuatu yang salah dengan Mina.
Semalam, ketika mereka tengah melakukan hubungan suami istri , jangankan kesakitan, Mina justru bergeming. Ia seperti meniduri benda mati yang tak bergerak dan bereaksi apa-apa.
Panji mendesah berat. Setahunya, saat seorang perempuan melakukan hubungan badan pertama kali, sang perempuan akan meringis sakit yang disebabkan keperawanannya disobek. Dan biasanya, akan ada bercak darah sebagai bukti yang tak terbantahkan.
'' Mina '' panggil Panji datar.
Mina bergeming. Tak bergerak apalagi berbalik .
'' Apa - - ini bukan yang pertama kalinya ? '' Panji bertanya dengan ragu. Ada rasa was-was jika yang ada dipikirannya benar. Apakah perempuan yang ia nikahi kemarin ini memang sudah tak lagi perawan ?
Hening untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Mina beranjak bangun dengan mengapit selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Ia menatap Panji dan mengangguk .
Panji menghempaskan nafasnya dengan kasar. Ia palingkan wajahnya. Enggan melihat istri yang bahkan tanpa ekspresi saat berterus terang mengenai hal penting seperti ini.
Adalah suatu keharusan seorang gadis ningrat dapat menjaga kehormatannya . Dimana nanti kehormatan itu baru akan ia serahkan pada yang berhak .Yakni pada lelaki yang telah status suaminya.
Biasanya dalam pernikahan para ningrat , sebelum pernikahan dilangsungkan - tak jarang, calon mempelai perempuan akan di pastikan terlebih dahulu, apakah masih perawan atau tidak.
Jika calon mempelai perempuan terbukti tak lagi suci , sudah pasti pernikahan dibatalkan.Namun ada juga yang tak melakukan pemeriksaan seperti itu.
Akan tetapi, jika diketahui sudah tak lagi perawan setelah melewati malam pertamanya - maka perempuan yang bersangkutan harus bersiap. Sebab akan ada sanksi yang akan ia terima. Hukuman seperti apa, itu tergantung pada suami dan keluarganya.
Ada yang dibuang, ada yang diasingkan, bahkan ada pula yang hidupnya diakhiri sebab dianggap telah menghina dan merendahkan martabat keluarga suami.
Dan Mina adalah salah satu yang tak melakukannya. Mungkin karena pernikahan mereka yang dimajukan secara tiba-tiba.
Maka pemeriksaan itu dianggap tak penting dan dilewatkan begitu saja.
'' Kau kecewa ? '' tanya Mayang masih menatap suaminya walau hanya punggungnya saja.
'' Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan ini ? Kau membohongi ku dan telah mencoreng nama keluargaku ! ''
__ADS_1
Mayang tersenyum miris.
'' Kalau begitu, kau beritahukan saja pada ayahmu. Aku siap menerima apapun hukuman yang akan kalian berikan padaku.
Dan akan lebih baik jika kalian memberiku hukuman gantung ''
Sontak panji pun memutar lehernya-menatap Mina dengan kening berkerut.
Ekspresi Mina datar. Pun dengan sorot matanya. Tak tersirat apapun di bola mata si pemiliknya. Hampa. Bukan seperti seorang yang pasrah, namun lebih terlihat seperti orang yang tak lagi memiliki gairah hidup. Itu berarti Mina bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan.
Tapi apa maksudnya dengan minta diberi hukuman gantung ?
'' Katakan siapa dia ? '' eram Panji menahan emosi.
Mina tertunduk .Matanya terasa mulai basah.
'' Jangan berpikir aku akan iba melihat air matamu itu ''
Mina mengangkat wajahnya. Bibirnya bergetar hingga ia kesulitan membuka mulut untuk bicara. Diremasnya kuat-kuat kain penutup tubuhnya. Sungguh. Ia tak sedang bersandiwara. Karena memang butuh keberanian besar untuk mengatakan hal yang merupakan trauma terburuk dalam hidupnya.
" Ap-apa itu penting ? ''
'' Tentu saja. Aku harus tau siapa dia agar bisa memutuskan hukuman seperti apa yang harus kuberikan pada kalian berdua ''
'' Apa kau bisa berjanji untuk mau mempercayai ku ? "
" Percaya padamu ? Huh' apa menurutmu, setelah berhasil membohongi dan membodohi keluarga ku, kau masih pantas dipercaya ? ''
'' ... ''
'' Sebelumnya kau telah membohongi ku . Kau menyembunyikan tentang hubungan Mayang dengan seorang lelaki.
Mina mengangguk samar.
Benar. Ia sudah terlalu banyak membohongi Panji meski ia sama sekali tak pernah bermaksud apalagi merencanakannya.
" Kalau begitu. Aku tak akan mengatakannya " Mina kembali tertunduk.
" Jadi kau tak akan memberitahu siapa dia ? !''
Mina menggeleng.
'' Kalau begitu katakan apa alasanmu mau dijodohkan denganku ? Bahkan sampai berani menikahi ku dengan kondisimu yang ternyata sudah kotor !
Padahal kau tau siapa keluarga ku ! Apa kau tak takut akibatnya, HAH ?!"
Mina mengangguk - anggukan kepalanya seraya menegakkannya.
" Itulah alasanku. Alasan kenapa aku mau saat dijodohkan dengan mu. Alasan kenapa aku berani menikah dengan membawa aibku ini "
" ... ? " belum selesai dengan sejuta rasa penasaran dan amarahnya, Mina justru membuat Panji menjaga keheranan.
" Semua terjadi begitu saja. Aku tak pernah mengira apalagi sampai merencanakan menikah denganmu. Aku ... aku hanya ingin tau ... Akankah ada seseorang yang mau menerimaku apa adanya.
Dan jika tidak. Aku ingin tau ,hukuman seperti apa yang akan kuterima, untuk hal yang aku sendiri tak pernah menginginkannya terjadi.
Jika keadaan ku ini dianggap ,dinilai dan di pandang sehina dan secacat itu, aku harap..
Hukuman mati lah yang akan kudapatkan.
__ADS_1
Itulah alasanku mau dan berani menerima perjodohan dengan mu. Karena keluarga mu bukan keluarga sembarangan. Keluargamu begitu menjunjung tinggi dan menjaga nama baik, martabat dan harga diri keluarga kalian.
Dan tentu saja kalian tak akan terima dan tak mungkin diam saja ketika mengetahui hal ini.
Aku yakin, kalian pasti akan langsung mengambil tindakan. Karena memilih menantu cacat tentu juga akan membuat nama baik keluarga kalian cacat ''
'' Kau - '' Panji menatap tak percaya . Jadi Mina menikah dengan hanya agar ia diberi hukuman mati ?
Panji hendak beranjak mendekati Mina . Namun suara ketukkan dari luar pintu membuatnya tak jadi bangun.
Para pelayan memanggil. Menanyakan apakah diperbolehkan masuk atau tidak.
Mereka pasti sudah berdiri didepan pintu dan telah bersiap untuk melakukan tugas mereka - melayani sang pengantin baru. Khususnya Mina.
Panji meraih kain untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Ia berjalan menuju meja yang ada di sisi jendela kamar.
Diambilnya pisau kecil yang di tergeletak di samping keranjang berisi buah-buahan
Mina terbelalak saat melihat Panji berbalik dan berjalan ke arahnya.
' Nyut ' Mina bergidik ngilu melihat Panji menyayat telapak tangannya .Tetesan darah segar keluar dari luka irisan , mengalir dan jatuh tepat di alas tempat tidur.
Mina mendongak, menatap Panji dengan ekspresi penuh tanya. Apa maksud Panji melakukannya ?
Apakah untuk menyelamatkannya ? Jadi Panji akan tetap menerimanya sebagai istri dan menutupi aibnya ?
'' Jangan senang dulu. Aku bukan menyelamatkan mu. Hanya setelah aku mencari tau siapa lelaki itu , Lalu setelah itu kau sebaiknya bersiap.
Karena ketika aku sudah mengetahui siapa dia, saat itu pula kupastikan hidupmu akan berakhir ''
Panji berbalik dan langsung mengambil langkah menuju bilik mandi.
Mina terkesiap.
Padahal tadi, ia sudah kembali menaruh harapan.
Namun sepertinya harus kembali ia kubur.
Ia menghela nafas dengan mata terpejam.
Mungkin ia sudah ditakdirkan dengan nasib seperti ini.
Sejak kecil sudah tak beribu. Di keluarganya ia selalu tersingkirkan. Lalu hari-harinya di lalui dengan penuh cemoohan dan penolakan dari berbagai golongan.
Ketika ia bersekolah di lingkungan para kompeni , Mina kerap kali mendapatkan hinaan dari para murid dan tenaga pengajar . Mereka mencemoohnya hanya karena ia berdarah campuran.
Sementara di kalangan kaum Pribumi ,Mina secara terang-terangan ditolak keberadaannya sebab ia dianggapnya sebagai anak seorang ningrat pengkhianatan yang menikah dengan penjajah tanah Pribumi.
Mina termangu. Meratapi jalan hidupnya yang tak pernah mengecap manis .Entah apa salahnya . Dunia seolah tak pernah mau sekalipun berpihak dan berbaik hati padanya. Mengapa ia selalu sendiri dan selalu mendapat penolakan. Apa tidak bisakah, satu kali saja ia merasakan bagaimana rasanya dicintai ? Atau sedikit saja untuk mencicipi sebuah kebahagiaan ?
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa likenya, ya
Kritik dan sarannya juga
__ADS_1
Terima kasih 🤗