
🌺 hem... 🌺
* * *
Desa Arkha.
Adalah sebuah misteri, bagaimana desa ini terbentuk dan siapakah sebenarnya orang-orang yang mendiaminya.
Hanya mereka yang menjadi penduduk sekaligus merupakan bagian dari desa Arkha saja tau sejarahnya.
Dahulu, entah ratusan ,ribuan, atau mungkin jauh sebelumnya, di pulau yang berada di ujung bagian JawaDwipa ini terdapat dua desa .
Desa Marawa dan desa Arkha.
Kedua desa ini dipisahkan oleh sungai yang membentang dan menjadi batas wilayah kedua desa. Namun tak berarti sungai tersebut adalah pemisah. Selain sebagai sumber kehidupan, sungai tersebut justru menjadi saran penghubung penduduk dari kedua desa .
Setiap hari, mereka bertemu dan akan saling menyapa ketika melakukan rutinitas harian seperti mandi, mencuci dan menjala ikan.
Tak hanya sebagai sumber kebutuhan hidup, sungai berair jernih ini menjadi tempat mereka bercengkrama.
Begitulah. Kedua desa ini memiliki hubungan yang begitu erat. Tak pernah ada perselisihan apalagi pertempuran. Mereka hidup rukun dan saling berdampingan .
Kehidupan di kedua desa tersebut pun terbilang makmur . Mengandalkan tanah yang kaya dan subur untuk bercocok tanam , hutan yang menyediakan hewan-hewan buruan .Serta sungai dengan banyak ikan sebagai penunjang makanan pokok untuk kelangsungan hidup .
Dengan segala ketersedian bahan makanan yang berlimpah, kedua desa tesebut hampir tak pernah berada dalam situasi yang sulit. Pun jika salah satu dari kedua desa mengalami gagal panen ataupun menghadapi keadaan genting, maka desa satunya pasti membantu dengan datang memberi pertolongan yang dibutuhkan.
Kedua desa ini memang selalu tolong menolong dalam segala hal.
Hingga suatu ketika, untuk pertama kalinya kedua desa mengahadapi masalah diwaktu yang bersamaan.
Hampir satu purnama lamanya, hujan turun tanpa henti. Meski tak deras dan tak sampai menyebabkan banjir, tapi tetap saja menghambat segala bentuk aktifitas dan rutinitas kedua desa tersebut.
Mereka tak bisa bertanam, tak bisa berburu , apalagi ke sungai untuk menjala ikan. Mereka tak bisa mencari makanan. Yang secara otomatis mengancam kelangsungan hidup mereka.
Dan dikarenakan kedua desa mengalami hal yang sama, maka merekapun tak bisa meminta ataupun saling memberi bantuan.
Hingga akhirnya, hujan pun berhenti . Para penduduk desa bergegas keluar . Namun belum jauh kaki mereka melangkah meninggalkan rumah, mereka sudah berbalik dan kembali masuk kedalam rumah masing-masing.
Belum selesai dengan tuntutan untuk segera mencari makan sebab perut yang sudah meronta minta di isi, mereka dihadapan dengan masalah lain.
Beberapa binatang buas masuk ke wilayah tempat tinggal mereka .Harimau dan binatang melata berukuran cukup besar .
Sepertinya para binatang inipun mengalami hal yang sama ketika musim hujan melanda. Binatang - bintang yang seharusnya berada di hutan, pasti telah menahan lapar sebab lama berdiam diri ditempat persembunyian.
Lapar dan ketakutan kini menyelimuti seisi desa. Para penduduk tak ada yang berani keluar karena takut di terkam oleh para binatang yang tengah berkeliaran mencari mangsa.
Namun mereka tak bisa tetap berdiam diri dirumah.
Akhirnya diputuskanlah , mereka akan mengorbankan ternak yang merupakan satu-satunya yang tersisa untuk dijadikan umpan dan menjebak para hewan buas .
Hal tersebut terpaksa dilakukan, setelah seekor harimau menyerang salah satu rumah dan memangsa penghuninya.
Hari berganti. Kedua desa benar-benar tengah dalam keadaan berjuang untuk mempertahankan diri dan melindungi apa yang mereka punya.
Para binatang berhasil ditangkap dan di bunuh. Namun hal tersebut tak lantas menjadi akhir dari masalah. Ternak mereka habis. Pun dengan bahan makanan dan juga keadaan yang masih belum memungkinkan sebab tanah yang belum bisa digarap, pergi kehutan untuk berburu ataupun ke sungai untuk menjala ikan pun masih tak dapat mereka lakukan .
Rasa takut akan ancaman hewan buas yang bisa saja akan ada lagi yang datang, membuat mereka tak berani pergi jauh dari desa.
Kedua desa diambang ke putus asaan.Korban telah berjatuhan dan sebagian disebabkan kelaparan.
Berhari-hari berlalu dengan air mata dan siksaan kelaparan. Mereka telah sampai di titik penghabisan.Persedian hanya tinggal untuk hari esok saja. Itupun di utamakan untuk anak-anak dan ibu menyusui.
Sedangkan para lelaki harus rela lebih lama lagi mengikat perut .
Malam itu, kepala desa dari kedua desa bertemu untuk membicarakan masalah yang seolah tak ada habisnya mereka hadapi.
'' Kalau keadaan terus seperti ini, kita semua bisa mati '' ucap Kepala desa Marwa. Hardijokro namanya.
'' Kau benar. Kita harus melakukan sesuatu '' Arji, kepala desa Arkha sependapat.
'' Hanya ada satu jalan keluar ''
Kedua pria seusia itu saling tatap seraya mengangguk. Kemudian melanjutkan perbincangan .
Keesokkan harinya. Hardijokro dan Arji pergi meninggalkan desa dengan membawa serta beberapa pemuda .
Mereka masuk ke dalam hutan dan berjalan jauh hingga meninggalkan batas wilayah desa.
Sepanjang perjalanan mereka semua di selimuti rasa was-was akan bertemu hewan pemangsa. Beruntung ,apa yang mereka khawatir tak terjadi dan tak mengalami hambatan apapun hingga sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
'' Ternyata benar '' Hardijokro tersenyum lebar dengan pandangan lurus ke depan.
Hal yang sama juga terlihat di wajah Arji dan para pemuda .
Mereka tersenyum dan saling melempar pandang satu dengan lainnya.
Apa yang mereka cari ,telah ditemukan.
Dulu, pernah ada cerita tentang seorang yang tinggal ditengah hutan belantara . Konon, ia sudah hidup dan berada di sana cukup lama .Menurut tetua terdahulu, dia adalah seorang penganut ilmu hitam.
Dan itulah yang kini ada di hadapan mereka. Sebuah gubuk reyot dengan pepohonan besar yang mengelilinginya. Pasti itulah yang mereka cari.
' Tak. tak. tak. ' suara hentakan tongkat menghantam pijakan.
Senyum mereka semua surut seketika ketika pintu gubuk terbuka tanpa suara dan seorang wanita keluar dari dalamnya . Pakaiannya lusuh. Wajah dan tubuhnya menunjukan usianya yang sudah sangat sepuh.
Memegang tongkat kayu setinggi dada, ia terlihat meraba-raba sekitarnya dan mengedarkan indranya dengan memutar lehernya secara perlahan.
Ada yang janggal. Kedua matanya tertutup rapat. Ia sepertinya buta.
'' Siapa kalian ? '' tanyanya dengan suara lantang.Tak sesuai dengan tubuhnya yang kurus dan ringkih.
Hardijokro dan Arji saling tatap kemudian sama memalingkan wajah dan melangkah maju.
'' Berhenti ! Jangan mendekat lebih dari itu atau kalian terima sendiri akibatnya '' larang si wanita tegas, dengan wajah mengarah ke depan.
Dari jarak yang cukup jauh, wanita tua dan dua pria berusia lima puluhan itu saling berhadapan.
" Kami datang kemari untuk mencari seseorang, Nyi. Apakah engkau yang tinggal di tempat ini ? " tanya Hardijokro.
" ... "
" Nyi .." baru saja akan menimpali, ucapan Arji terpotong .
" Pulanglah. Kalian lihat sendiri jika hanya ada seorang wanita tua dan buta yang ada disini.Jadi, tak mungkin ada yang bisa memberikan apa yang kalian butuhkan "
Hardijokro maju. Namun baru tiga langkah, tiba-tiba pohon yang ada di dekatnya tumbang . Padahal tak ada angin atau apapun yang mampu menggerakkan pohon tesebut. Langkah Hardijokro pun berhenti. Bukan hanya terkejut, wajah lelaki berambut gondrong itupun seketika berubah pucat.
Hardijokro menelan ludah dengan susah, melihat pohon yang hampir saja menimpanya. Jika tadi ia tetap melangkah, maka ia pasti sudah ... Hardijokro bergidik ngeri memikirkannya.
'' Tolong lah, Nyi... Kami sudah tak tau harus bagaimana lagi. Semua penduduk desa kami kelaparan. Desa kami diambang kematian '' Arji memelas.
Ia lantas menceritakan secara rinci masalah yang mereka hadapi dan apa yang menjadi alasan mereka mencarinya.
Si wanita tua berbalik.
Membuat Hardijokro dan Arji menghela nafas . Begitupun dengan para pemuda. Guratan wajah mereka menggambarkan kesedihan sebab pupus sudah harapan mereka satu-satunya .
'' Baiklah. Aku akan membantu kalian ''
Sontak ekspresi wajah mereka berubah. Senyum tipis tersungging.
'' Tapi ada beberapa hal yang perlu kalian ketahui. Jika inginkan sesuatu maka kalian harus bersiap untuk kehilangan sesuatu juga ''
'' Baik, Nyi. Kami akan sanggupi apapun itu '' seru Hardijokro dengan mata bersinar memancarkan semangat .
Mereka kemudian disuruh kembali ke desa . Sesuai yang dikatakan si wanita tua, Nyi Asami namanya. Keesokan harinya, kedua kepala desa memerintahkan para lelaki untuk membangun gapura di jalan masuk desa.
Tak butuh waktu lama. Setelah beberapa hari gapura di dirikan, tak ada lagi bintang buas yang terlihat berkeliaran disekitar desa. Bahkan ketika memasuki hutan pun, mereka yang tengah berburu tak menjumpai apalagi sampai berpapasan dengan hewan yang dapat mengancam keselamatan.
Satu purnama berlalu. Keadaan desa benar-benar aman dari ancaman hewan buas. Hewan-hewan pemakan daging itu seolah hilang entah kemana.
Kedua desa bersorak dan menyambut begitu senang .
Namun hal tersebut itu tak berangsur lama. Suasana desa tiba-tiba berubah. Pohon-pohon yang ada disekitaran pun terlihat tumbuh lebih cepat . Semakin besar dan tak terkendali.
Dan perubahan yang paling terasa adalah, anak-anak yang baru lahir dan yang masih berusia balita tak pernah terdengar menangis ataupun tertawa.
Desa menjadi sepi.
Hari berlalu lagi dan lagi .
Meski kini bahan makanan berlimpah, namun sumber kegembiraan hilang dan tak terlihat lagi.
Semua anak dan bayi berwajah murung.
Karena tak tahan dengan keadaan desa yang demikian, Hardijokro dan Arji memutuskan untuk kembali menemui Nyi Asami.
'' Bukankah sudah kukatakan, jika ingin mendapatkan sesuatu maka kalian harus bersiap untuk kehilangan sesuatu ,bukan ? '' ucap Nyi Asami pada dua pria yang datang dan masuk untuk ke gubuknya.
__ADS_1
'' Tapi, bukan dengan merenggut senyum dan tangis anak-anak kami, Nyi. Ini tidak masuk akal. Desa kami seperti desa mati tanpa suara anak-anak '' Hardijokro meninggikan suara. Ia tak terima sebab ia adalah salah satu orang tua yang kehilangan keceriaan dari anaknya yang berusia 5 tahun .
'' Benar, Nyi. Apakah tak hal yang bisa menggantikannya ? '' Arji mencoba membujuk .
Tak seperti Hardijokro. Meski ia pun merasakan kehilangan karena tawa dan tangis anak-anak di desanya yang tak pernah terdengar lagi. Tapi ia berusaha tenang. Ia tak ingin Nyi Asami tersinggung dan menimbulkan masalah baru.
Ternyata apa yang pernah tetua terdahulu sampaikan benar. Nyi Asami mungkin terlihat seperti wanita tua yang tak berdaya . Tapi dia bukan manusia biasa atau mungkin sudah bukan manusia lagi.
Perlu diketahui, jika Nyi Asami adalah seorang ahli ilmu hitam. Namun ia sudah lama tak menggunakan kekuatannya . Ia lelah karena telah hidup terlalu lama dan ingin mengakhiri perjalanan hidupnya. Namun, sayang. Apa yang ia harapkan tak akan pernah bisa terjadi. Ia tak bisa mati. Tubuhnya mungkin saja bisa binasa. Tapi tidak dengan jiwanya yang tak akan pernah bisa ke alam baka dan akan terus berada di dunia manusia.
'' Pulanglah '' ucap Nyi Asami .
Jeda sesaat. Karena tak kunjung ada kalimat sambungan, Hardijokro dan Arji pergi seperti yang diperintahkan Nyi Asami.
Sesampainya mereka di desa masing-masing. Suara tawa dan tangis bayi juga anak-anak menyambut. Riuh suka cita menyambut kembalinya kegembiraan desa mereka.
Dua belas purnama berlalu.
Kembali lagi sesuatu yang aneh terjadi. Setiap pasangan, entah itu yang telah mempunyai anak maupun baru menikah, tak satupun dari para istri yang hamil.
Hardijokro dan Arji kembali menyambangi Nyi Asami untuk bernegosiasi.
'' Dasar ! Bukankah sudah ku katakan sedari awal, jika semua ada harganya ?! '' Nyi Asami nampak berang. Ia tak habis pikir. Setelah dibantu dan mengambil apa yang menjadi haknya, para manusia yang meminta dan telah ia bantu ini nyatanya tak terima.
" Maaf, Nyi. Tapi jika tak ada yang hamil dan menghasilkan keturunan.. Bagaimana nasib desa kami jika tak ada penerus ? "
Nyi Asami terkekeh.
" Kalian tak perlu khawatir. Anak-anak yang sekarang sedang tumbuh besar, merekalah yang akan menjadi penerus kalian selamanya "
"Ap-apa maksudnya Nyi ? "
" Kalian sudah kubantu. Jadi, sudah sepantasnya jika kalian membalas dengan membantuku juga "
Hardijokro dan Arji mengernyit tak mengerti.
Kembali mereka disuruh pulang. Dan kali ini Nyi Asami memperingati ,tak ada lagi tawar menawar dan jangan pernah kembali lagi. Atau kalau tidak, ia akan mengembalikan keadaan desa seperti sebelumnya.
Hardijokro dan Arji pasrah. Mereka terpaksa menerima nasib desa yang tak akan pernah bisa kembali seperti dulu lagi.
Andai mereka tau , mereka lebih memilih mati saat itu daripada harus berakhir seperti ini. Namun semua sudah terlambat. Menyesal pun tak ada gunanya. Kini mereka terpaksa menjalani apa yang harus mereka jalani. Mungkin memang inilah takdir mereka.
Ternyata sejak datang dan menyanggupi apa yang Nyi Asami katakan sebagai bayaran untuk bantuan yang mereka terima, sejak itu pula. Nyi Asami menandai setiap anak dan wanita yang tengah hamil .
Masing-masing di setiap tubuh anak dan janin yang masih didalam kandungan, ia taruh sebuah jiwa.
Dengan kata lain anak-anak dan anak yang akan lahir, di jadikan wadah bagi jiwa yang selama ini ada dalam tubuhnya.
Jiwa-jiwa tersebut adalah jiwa para ahli ilmu hitam yang selalu berbuat kejahatan . Meski Nyi Asami adalah salah satunya, namun ia telah sadar dan tak ingin lagi melakukan sesuatu yang tak pantas.
Ia mengorbankan diri untuk mengumpulkan lalu mengurung mereka semua ke dalam tubuhnya.
Dan seiring berjalannya waktu, puluhan jiwa yang ia ikat dan menyatu dalam dirinya mulai memberontak.
Nyi Asami sudah di batas ke sanggupannya.
Maka dengan terpaksa, Nyi Asami mengorbankan anak-anak dari para penduduknya desa untuk menjadi wadah pengganti . Kemudian menyegel semua jiwa jahat kedalam tubuh yang masih murni.
Ia tak punya pilihan. Pun jika bukan karena bantuannya, para penduduk desa tersebut pasti sudah mati.
Tapi, sebelum tubuhnya benar-benar binasa, ia sempat mendatangi kedua desa secara bergantian.
Ia meminta maaf pada seluruh penduduk desa, terutama pada Hardijokro dan Arji .
'' Aku terpaksa melakukannya .Karena jika tidak, jiwa-jiwa itu akan berkeliaran dan sudah pasti kembali melakukan kejahatan.
Mungkin ini adalah takdir anak-anak kalian. Mereka akan menggantikan ku sebagai wadah jiwa lain . Tapi kalian tidak perlu khawatir. Jiwa itu sudah ku segel dan tak akan pernah bisa bebas. Justru kalian bisa memanfaatkannya.
Tapi, sebagai gantinya. Mereka tak akan pernah bisa mati dan akan terus hidup selamanya ''
Para penduduk desa hanya bisa terdiam dengan kepala tertunduk mendengar penuturan Nyi Asami. Tak ada yang berucap.Mereka tak bisa berkata apapun dan tampaknya benar-benar sudah pasrah .
Setelah itu, Nyi Asami melanjutkan apa yang hendak ia sampaikan. Ia memberi tau cara untuk mengendalikan kekuatan dari si pemilik jiwa yang bersemayam ditubuh anak-anak.
Namun satu pesannya. Jangan sekali-kali keluar dari desa . Sebab ia tak ingin jika nanti tentang kekuatan yang mereka miliki diketahui dan akan disalah gunakan..
Begitulah. Setelah jiwa Nyi Asami pergi menginggalkan raganya, para penduduk desa menjalani kehidupan seperti apa adanya.
Tahun tahun berlalu. Satu persatu dari penghuni meninggal karena usia. Hingga tersisa para gadis yang tubuhnya berhenti berkembang di usia 17 tahun.
__ADS_1
Mereka kemudian memutuskan untuk bergabung dan memilih desa Arkha sebagai tempat tinggal.
Mereka lah yang kini menjadi penghuni desa Arkha.