
🌺 hem.. 🌺
* * *
Panji berjalan menuju bangunan belakang rumahnya.
Namun langkah berhenti ketika akan melintasi halaman samping rumah, samar terlihat seseorang duduk di kursi kayu yang bersandar di bawah pohon rindang .
Meski dengan pencahayaan yang temaram , ia tau jika itu adalah Mayang .
'' Apa yang sedang kau lakukan disini ? '' tanya Panji tanpa basa-basi seraya mendudukkan diri di samping Mayang.
Gadis itu berlonjak kaget.
Tapi hanya sesaat.Perlahan wajah Mayang berubah murung.
Padahal ia sedang ingin menyendiri .
Ia pikir dengan berada disini, maka tak akan ada yang melihat dan menemukannya .
Tapi nyatanya. Mayang menghela nafas setelah melirik lelaki yang semakin merapatkan duduknya hingga bahu mereka menempel.
Panji lalu mulai bersuara. Ia menceritakan tentang pembicaraan mengenai masalah Mina dan Lawati yang berakhir damai.
Padahal Panji sudah berharap ,masalah itu akan membuat perjodohannya dengan Mina dibatalkan.
Namun justru sebaliknya.
Pernikahan mereka akan di percepat.
Panji tak bisa membantah. Sebab jika tak menikahi Mina, maka ia juga tak bisa memiliki Mayang.
Sang ayah dengan tegas menolak menjadikan Mayang sebagai selirnya.
'' Mayang.. '' panggil Panji dengan suara rendah.
Ia tatap gadis yang duduk di sampingnya yang bergeming.
Mayang ternyata sedang asik dengan pikirannya. Pandangannya lurus ke depan dengan senyum di kulum. Entah apa yang dipikiran gadisnya ini hingga tak menghiraukan panggilannya.
Panji mengerenyitkan heran.
Ia memang tak tau dan tak akan bisa menduga jika saat ini Mayang tengah teringat obrolan menyenangkannya dengan Dimas tadi siang. Wajah pria manis itu kini sedang menari-nari dan memenuhi isi kepalanya.
Mayang lupa jika ia sedang bersama Panji dan tak sadar telah mengacuhkannya.
'' Mayang, aku mencintaimu ''
Mayang masih bergeming. Sepertinya tak mendengar pengakuan barusan.
'' Mayang '' suaranya naik satu oktaf.
...
'' Mayang ! '' kini terdengar seperti suara khasnya yang selalu melontarkan perintah.
'' Nggih, Den Mas '' Mayang tergagap.
Ia palingkan wajahnya dan ' cup ' Panji mengecup bibirnya.
Mayang terkejut dengan mata yang seperti akan meloncat keluar.
Ia menatap tak percaya pada Panji yang sepertinya akan menciumnya lagi.
Mayang menggeser duduknya tuk' menjauh.
'' Apa yang sejak tadi kau pikirkan, Hah ? Kenapa kau mengacuhkan ku ?
Dan lagi, kenapa kau meggeser dudukmu ? " Panji mencekal lengan Mayang dan menariknya. Memaksa tubuh mungil itu kembali ke posisi semula.
Rasa takut menghampiri, membuat tubuh Mayang mengkaku. Begitupun dengan kepalanya yang seperti tak bisa di gerakkan . Namun ekor matanya nampak bergerak meniti sekitarnya yang sepi.
" Apa kau tau bagaimana perasaan ku saat ini, hem ?
Aku kacau, Mayang ! Aku kacau !
Karena aku akan segera di nikahkan dengannya ! " Panji menariknya lagi hingga tubuh mereka tak lagi berjarak .
Mayang bergidik .Panji menyorotnya dengan tajam. Lalu tiba-tiba wajah Panji mendekat dan langsung melahap bibir perawan Mayang.
Dalam diam, Mayang meringis sebab Panji semakin kuat mencengkram lengannya .
Panji tak ingin ia menjauh.
Mayang memejamkan matanya kuat-kuat. Ia pasrah sekaligus sedih karena harus merelakan ciuman pertamanya direnggut paksa dengan cara kasar seperti ini.
Lalu , bulir-bulir bening dari sudut matanya mulai mengalir.
" Aku tak bisa menahannya lagi, Mayang... " lirih Panji usai melepas pautan bibir yang tak mendapat respon.
Pegang di lengan itu terlepas.
Nyeri terasa . Namun lebih nyeri hatinya .
Mayang menghapus air mata yang masih terus saja keluar.
__ADS_1
Mayang mulai sesenggukan. Ia pun lantas beranjak pergi meninggalkan Panji yang nampak menyesal.
- -
Malam itu, tiga insan meratapi nasib dan keadaan mereka yang tak adil.
Mina meringkuk di sudut kamarnya. Pandangannya menghadap dinding kamar dengan tatapan kosong.
Ia tak mampu dan tak tau harus memikirkan apa.
Sebab semua hal sudah diatur oleh sang pencipta dan juga oleh ayahnya. Ia bahkan tak pernah di beri kesempatan untuk memilih apalagi memutuskan sesuatu dalam hidupnya.
Sementara itu di tempat yang berbeda, nampak Panji masih duduk dan bergeming ditempat tadi .Hati dan isi kepalanya kini dipenuhi penyesalan atas apa yang ia lakukan terhadap Mayang barusan.
Ia menyesal. Sangat-sangat menyesal karena tak bisa mengontrol dan menahan diri.
Lalu Mayang yang berada dikamar tidurnya.
Gadis itu merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping.
Air matanya masih terlihat sesekali mengalir. Menandakan betapa kesal hatinya atas perbuatan sang majikan muda.
Dan malam semakin larut.
Mina perlahan merebahkan diri di kasur empuk nya dan mencoba tuk tidur.
Panji sudah beranjak dan kini telah berada di kamarnya. Ia lelah dengan semua hal yang terjadi hari ini dan putuskan untuk beristirahat.
Dan Mayang ,ia terlihat sudah lebih tenang usai menghapus air matanya. Dan kemudian ia pun terlelap.
Langit yang tadinya cerah dengan di temani ribuan taburan bintang dan bulan yang bersinar begitu terang, tiba - tiba saja berubah
Gelapnya semakin pekat. Bintang seolah menepi lalu bersembunyi dan bulan seperti tertelan dibalik gelapnya.
Sayup-sayup angin berhembus perlahan. Tapi tak lama kemudian menjadi kencang dan saling bersahutan.
Satu persatu air jatuh dari langit. Perlahan tapi pasti dan mulai membasahi yang tak terlindung.
Tempias air yang di sapu oleh angin menjamah tempat-tempat teduh.
Gerimis disertai angin ribut.
Hanya dalam sekejap, susana malam yang tadinya tenang kini suaranya menjadi riuh tak beraturan .
Berisik dan mengusik siapapun yang tengah dan akan terlelap.
' Brak ' jendela terdorong oleh desakan angin yang berhasil menerobos masuk.
Seketika itu pula, Mina, Panji dan Mayang terjaga dari tidur yang baru beberapa saat.
' Syuuuuuuuuhhh... ' desiran angin bersamaan dengan tempias air hujan menerpa. Hawa dingin menyapa permukaan kulit.
Mina dan Mayang serentak mendekap jarik yang hampir melorot. Berbeda dengan Panji yang terbiasa tidur bertelanjang dada.
Kemudian, masing-masing dari mereka mengulurkan tangan untuk menutup jendela.
Namun sebelum itu, penglihatan mereka menangkap sebuah bayangan hitam .
Mereka menatap dengan alis yang hampir bertemu.
Seseorang berdiri di sana.
Sosoknya sulit di tebak apakah lelaki atau perempuan sebab pakaian yang dikenakan sama dan seolah menyatu dengan gelapnya susana diluar sana. Ditambah lagi ia mengenakan jubah yang menutup dari kepala hingga menyentuh tanah.
Mina, Panji dan Mayang terpaku sesaat.
Lalu secara bersamaan pupil mata mereka melebar ketika sosok tersebut tiba-tiba saja mendekat.
Dan dengan segera ' brak ' jendela kamar di tutup dengan keras.
Wajah mereka nampak panik.
' tuk.tuk.tuk ' Mata mereka semakin terbuka lebar.
Entah itu suara ketukkan atau berasal dari keributan alam di luar sana.
Mereka panik dengan nafas yang terengah-engah seperti habis berkejaran.
Ketakutan adalah hal wajar di situasi seperti ini.
Namun mereka berusaha untuk tenang dan berpikir positif. Mungkin saja yang tadi mereka lihat hanya halusinasi.
Dengan segenap keberanian , mereka kembali membuka jendela dengan perlahan.
' sy uuuu hhh hhh hhh' seketika angin dan hujan mereda.
Aneh, bukan ?
Begitupun dengan sosok tadi. Ia hilang tanpa jejak.
Sisa-sisa paduan hujan dan angin membuat susana basah . Hawa sejuk menyeruak .
Merasa keadaan aman dan yang tadi hanya permainan pikiran saja, mereka pun kembali menutup jendela.
'tap ' dan ' tap ' baru saja satu langkah dan berhenti sebab seperti terdengar seperti ada langkah yang mengikuti.
__ADS_1
' tap ' dan ' tap ' melangkah lagi dan berhenti lagi.
Seketika bulu roman meregang .
Mina, Panji dan Mayang menyentuh tengkuk.
Barusan seperti ada yang meniup permukaannya.
Netra mereka yang berbeda warna menyapu sudut ruangan yang temaram.
Entah bagaimana, namun perlahan rasa ngeri mulai menyelimuti .
Membuat mereka tak mampu untuk bersuara apalagi bergerak .
Sekuat tenaga mereka mengambil langkah meski kaki terasa begitu berat untuk di angkat hingga mereka berhasil mencapai ranjang.
Dengan wajah yang dipenuhi guratan ketegangan, mereka terlihat berusaha merebahkan tubuh.
Hening. Bahkan suara binatang yang biasanya berdendang di kala malam pun tak terdengar.
Dingin semakin terasa, memaksa mereka menarik kain untuk menutupi seluruh tubuh.
Tak tau pasti berapa lama mereka terjaga dengan perasaan yang sulit diartikan.
Dan mereka pun tak tau kapan akhirnya mata mereka lelah dan tertutup.
* * *
Keesokan paginya,
Fajar telah menyingsing sejak tadi. Namun tak biasanya Mayang belum bangun.
Mbok Arni lantas masuk ke kamar Mayang untuk membangunkannya. Ia menggeleng mendapati anak gadisnya yang masih meringkuk pulas.
'' Bolehkah aku hari ini tidak ke sekolah bu ? Tubuhku rasanya tak nyaman. Sepertinya aku kurang enak badan '' cicit Mayang dengan mata setengah terbuka.
- -
Sedangkan di salah satu ruangan yang merupakan kamar anak satu-satunya di kediaman Adipati.
Pramuanti juga sedang membangunkan sang putra yang juga masih nampak begitu lelap dengan tidurnya.
'' Aku tidak ke sekolah hari ini, bu. Aku lelah dan ingin di rumah saja ''
Pramuanti tersenyum sambil menatap dalam. Ia belai dahi Panji dengan penuh kasih sayang.
'' Tapi, le. Kau harus segera bangun.
Romo mu menyuruh kau bersiap untuk pergi menemaninya.
Romo sekarang sedang menunggumu untuk sarapan setelah itu kalian harus bergegas pergi ''
Panji menarik nafas panjang dan memaksa matanya untuk terbuka . Setelah itu ia pun bangun dan duduk.
'' Memangnya pagi-pagi begini mau kemana ? ''
- -
Kemudian di tempat berbeda.
Mina pun tengah berusaha dibangunkan oleh ibu tirinya.
'' Aku tidak bisa ke sekolah hari ini '' ucap Mina setelah menggeliat lalu kembali memutar tubuhnya, membelakangi wanita berkebangsaan Belanda yang duduk di tepi ranjangnya.
'' Mina kau harus segera bangun dan bersiap.
Ayahmu sedang menunggumu ''
Seketika Mina berbalik dan langsung mendudukkan diri. Ia tatap sang ibu tiri dengan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya.
'' Ada apa menungguku ? '' bertanya dengan penuh keheranan. Sebab takut pernah sekalipun sang ayah melakukan hal tersebut.
'' Sudah jangan banyak tanya. Cepat mandi dan bergegaslah . Jangan membuat ayahmu menunggu lama kalau tidak ingin mendapat marah darinya lagi.
Dan ingat.
Kenakan pakaian berwarna hitam ''
'' Ha ?! '' Mina melongo . Ia semakin heran dan tak mengerti apa maksudnya.
'' Kau dan ayahmu akan ke kediaman Raden Katraji Ademas.
Semalam putrinya yang terlibat masalah denganmu tiba-tiba saja meninggal dunia ''
Mata Mina seketika terbelalak . Ia terkejut sekaligus tak percaya dengan kabar duka yang ia dengar barusan.
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa like-nya ya
Kritik dan sarannya juga.
Trimakasih 🤗
__ADS_1