
🌺 hem... 🌺
* * *
Didalam kereta, Mina dan Panji duduk saling berhadapan. Sepanjang perjalanan, Panji terus menatap istrinya . Sementara Mina memilih melihat ke luar jendela. Tak sekalipun Mina berpaling dari pandangannya. Matanya menatap sayu pada setiap hal yang terlewati di luar sana.
Panji perhatikan mimik dan gestur tubuh istrinya . Bagaimana bisa seseorang begitu betah bergeming ? Bahkan untuk sekedar membenarkan duduk atau memalingkan wajahnya sekali pun .
Panji menghela nafas berat. Besar keinginannya untuk merubah hal itu dan menjadikan Mina pribadi yang lebih ceria dan segar dipandang . Tak sabar rasanya membuat Mina terlihat layaknya seseorang yang bergairah dan memiliki semangat hidup.
Beberapa saat kemudian, kereta berhenti ditempat tujuan. Panji keluar lebih dulu. Setelah turun ia mengulurkan tangan pada Mina.
Mina tanpa ragu menerima bantuan tersebut. Ia letakan tangannya di atas telapak tangan sang suami yang kemudian di genggam erat.
Setelah turun, Panji tak lantas melepasnya. Mina biarkan saja tangannya tetap menyatu dengan tangan sang suami sambil netranya menatap pada apa yang ada dihadapannya.
Mina memutar leher ke samping. Menatap lelaki yang seketika menyunggingkan senyum hangat padanya.
Mina heran.Bagaimana bisa Panji berubah dalam waktu singkat. Mengingat dulu Panji selalu menatapnya dingin .
" Tadi aku tak sengaja bertemu ayahmu. Kami sempat berbincang sebentar.
Ayahmu sepertinya mengkhawatirkan mu. Dia menanyakan keadaanmu dan terus saja bertanya banyak hal tentang mu '' ucap Panji menatap dalam mata yang selalu memancarkan kekosongan.
Seperti biasa, Mina menatapnya tanpa ekspresi.
" Ayahmu juga bilang, kalau sejak kejadian ' itu '..
Kau tak pernah kesini lagi. Padahal sebelumnya, setiap hari kau pasti kemari "
Mina tercekat dalam diam. Panji tau tentang kejadian ' itu ' . Mina memalingkan wajah, kembali mengarahkannya pada tempat yang dikelilingi pagar kayu seukuran tinggi orang dewasa .
Ia sebenarnya malu. Selain tiga lelaki biadap yang telah memberi luka paling menyakitkan hingga meninggalkan kenangan paling terburuk dalam hidupnya, hanya keluarganya saja yang mengetahui kejadian ' itu '. Pun dengan tabib yang mengobatinya yang tak lama setelah usai merawatnya, si tabib meninggal karena memang usianya sudah sangat tua.
Dan sekarang bertambah satu orang lagi yang mengetahuinya .Ia tentu malu. Tapi ia bisa apa ?
Sudahlah. Pikirnya. Pun Panji memang berhak tau . Selebihnya , terserah. Mina kembali pada prinsip hidupnya yang acuh. Ia tak perduli apa yang akan panji lakukan padanya setelah ini.
Mina menghela nafas. Sudah puluhan purnama berlalu sejak kejadian ' itu '. Dan ia tak pernah lagi menginjak kaki ke tempat ini. Pemakaman khusus ningrat Pribumi, tempat ibunya dikebumikan.
Mina menarik tangannya dan Panji melepaskannya. Lalu ia berjalan masuk dan diikuti Panji .
Mina melangkah pasti, tak seperti seseorang yang memiliki trauma . Padahal ia tengah berada ditempat kejadian ' itu ' . Langkahnya berhenti di sebuah makam usang dengan nisan bertuliskan nama perempuan ningrat , lengkap dengan gelar yang menunjukan kedudukan keluarganya.
" Maaf, bu. Baru sekarang aku bisa datang dan mengunjungi lagi. Dan maaf, aku tak membawa apa-apa untuk mu " batinnya.
Mina menatap makan ibunya hampir tak berkedip. Ia lampiaskan rindunya dengan berbicara dalam hati. Namun hanya sebentar. Ia sudahi kunjungannya dengan memejamkan matanya sesaat dan membukanya sambil tersenyum tipis. Mina pamit tanpa berucap pada wanita yang telah membawanya hadir ke dunia ini.
Perempuan yang terlihat dewasa lebih dari usianya itu, berbalik. Dan tanpa sengaja pandangnya mengarah ke tempat yang tak ingin ia lihat .
Seharusnya di dekat pojokan area pemakaman , tanah yang agak lapangan . Tapi sekarang ditumbuhi ilalang setinggi lutut. Di sanalah dulu tubuhnya dihempaskan dengan kasar dan kejadian ' itu ' berlangsung.
Mina terhenyak. Ia merasa seperti melihat dan mengulang kejadian ' itu '.
Panas. Ia seperti merasa hatinya terbakar. Tatapan penuh kebencian terpatri ke sana. Matanya perih karena hampir tak berkedip.
Pertahanannya luruh. Air matanya tumpah. Mina sesenggukan. Bahunya bergetar sebab tangis yang kian menjadi-jadi.
' Pluk ' Panji memeluknya dari belakang.
Dengan cepat Mina menghapus air matanya dan mencoba tenang dengan berulang kali menarik nafas panjang.
'' Apa ini caramu menghukum ku ? ''
__ADS_1
Panji tersentak. Ia tak percaya Mina menudingnya demikian. Memang, sejak pertama kali bertemu hingga menikah ,ia hampir tak pernah menunjukan sikap bersahabat pada Mina.
Tapi ia bukan seseorang yang bisa berbuat sampai setega itu, memanfaatkan masa kelam Mina untuk melampiaskan kekecewaannya karena ternyata sudah tak lagi suci .
Terlebih sekarang ia sudah tau semuanya dan memutuskan untuk tidak akan pernah membahas apalagi mempermasalahkan hal tersebut . Ia tulus menerima Mina dengan segala kekurangannya.
'' Tidak, Mina. Kau salah paham. Ak- aku ''ucapnya terputus sebab Mina memotongnya.
" Kau sudah tau semuanya..
Lalu , kenapa masih mempertahankanku ? Apa kau berniat menyiksaku karena telah membohongi mu, begitu ? " suara Mina bergetar. Ia mencoba menahan air matanya. Namun ternyata sulit. Air matanya kembali keluar dan terus mengalir di pipi mulusnya.
Panji melepas pelukannya, memegang kedua pundak Mina . Sedikit menekan,ia membuat tubuh Mina berputar menghadapnya.
'' Maaf, Mina. A-ku tak bermaksud membuatmu mengingat kejadian ' itu '. Aku membawamu kesini karena ayahmu bilang ini adalah satu-satunya tempat yang dulunya setiap hari kau datangi '' Panji sedikit membungkuk dan mencondongkan wajahnya sambil ke dua tangannya menghapus buliran bening yang membasahi wajah istrinya.
'' Aku mau pulang '' Mina menahan tangan yang tengah mengusap wajahnya.
Panji menarik diri, ia mengiyakan dan berbalik setelah meraih pergelangan tangan Mina.
Keduanya berjalan kembali ke kereta dan masuk kedalamnya.
'' Mina '' panggil Panji sambil menempuk sisi tempat duduknya. Bermaksud agar Mina pindah duduk di sebelahnya.
Mina menggeleng. Ia acuh dan tetap dengan posisinya.
Panji tersenyum, lalu pindah ke sisi duduk istrinya. Sangat rapat hingga tak berjarak.
'' Aku tau , pasti tak mudah bagimu teringat kejadian itu. Karena itu kau tak pernah mau kemari lagi. Padahal kau sangat ingin mengunjungi ibumu, kan ? '' Panji sedikit membungkuk , mendekat wajahnya tepat disaat Mina memutar leher .
Manik mereka saling bertemu.
'' Aku ingin kau melawan kenangan itu. Bukan menghindar dan menyembunyikan lukamu '' ucap Panji lembut. Berharap dapat meruntuhkan kerasanya sifat dan melelehkan dinginnya sikap Mina.
'' Apa kau masih ingat bagaimana rasanya ? '' Tatapan Panji tiba-tiba berubah. Tersirat makna lain.
'' Ap- apa maksud mu ? ''
'' Tentu saja saat mereka - ''
' Puk ' Mina mendaratkan kepalan tangan di dada Panji dengan keras. Membuat suaminya mundur dan mengeluh sakit .
'' Kau benar-benar tak punya hati. Bagaimana bisa kau menanyakan hal yang...'' Mina menatap geram. Ia kesal karena Panji seperti tengah mempermainkannya.Tadi bersikap seolah begitu perduli padanya. Tapi sesaat kemudian, menggoda dan menyangkut pautkannya dengan kejadian itu. Padahal itu bukanlah sesuatu yang tak pantas dijadikan lelucon .
'' Hei, jangan marah dulu. Aku bertanya karena aku ingin tau. Sejauh mana kau ingat apa yang telah kau alami waktu itu ''
Mina nampak semakin berang. Dadanya terlihat naik turun sebab kesal telah menyulut emosi.
Ingin rasanya ia menampar wajah rupawan lelaki yang masih betah menatapnya ini.
Mina menghempaskan nafasnya dengan kasar. Matanya kembali berembun dan air matanya pun lolos.
'' Jika kau begitu sangat ingin tau , maka baiklah. Aku akan memberitahu mu '' Mina menarik nafas panjang sekali .
'' Aku tak mengingat apa-apa selain rasa sakit. Karena ketika mereka melakukannya, aku pingsan dan tak merasakan apapun.
Jadi, hanya sakit ! Hanya rasa sakit yang kuingat karena sekujur tubuhku di penuhi luka ! " Mina menekan kalimatnya dengan air mata yang terus berlinang . Beginilah memang setiap kali ia mengingat kejadian ' itu '.Hatinya pasti berdenyut nyeri.
Panji mengukir senyum. Membuat Mina heran sekaligus bertambah kesal.
" Baguslah kalau begitu . Aku senang, karena itu berarti hanya ' milikku ' yang kau ingat rasanya ''
Wajah Mina menghangat. Kesalnya menguap. Bayangan beberapa malam belakang yang penuh peluh dan ******* seketika memenuhi isi kepalanya.
__ADS_1
Senyum Panji semakin lebar. Ia lega karena ternyata Mina tak mengingat saat diperkosa. Dan yang merundung Mina selama ini adalah rasa takut akan penolakan dan malu sebab merasa kotor pada dirinya sendiri.
Panji melingkarkan kedua tangan pada tubuh Mina, memeluk erat perempuan yang akan ia jadikan satu-satunya dalam hidupnya.
Ia hujani pucuk kepala sang istri dengan ciuman bertubi-tubi. Ia akan sabar menunggu.Tak masalah berapa lama untuk mengikis sedikit demi sedikit kenangan dan menyembuhkan luka akibat kejadian 'itu ' .
Hening di sepanjang perjalanan. Mina bergeming dalam pelukan suaminya. Rasanya hangat dan nyaman , membuatnya tak sadar membenamkan wajah dan balas memeluk pinggang Panji.
Meninggalkan kawasan pemakaman, roda kereta terus bergulir dan memasuki jalanan kota yang mulus .
Mina yang merasa jika perjalanan mereka terasa lebih lama, sedikit menarik diri . Ia mengintip keluar jendela. Benar saja dugaannya. Jalan yang tengah dilewati bukan jalan pulang. Melainkan semakin jauh dari rumah.
'' Hendak kemana lagi kita sekarang ? Bukankah seharusnya kita pulang ke rumah ? Romo dan Ibumu pasti sedang menunggu kita '' Mina menaikan pandangannya , menatap lelaki yang hanya terlihat ujung dagunya saja.
Panji sedikit menunduk dan tersenyum. ' cup ' satu kecupan lembut di bibir ranum sang istri.
'' Kita akan mengunjungi orang tuamu '' Panji mengeratkan rangkulannya, membawa kembali tubuh Mina dalam dekapannya.
Sampai di kediaman orang tua Mina, pasangan suami istri itu turun dan berjalan sambil bergandengan tangan.
Di depan mulut pintu, pria yang masih terlihat gagah di usia setengah abad berdiri . Bibir yang dikelilingi kumis dan brewok pirang keputihan itu mengulas senyum.
Setelah tadi seorang kacung memberitahu jika anak dan menantunya datang berkunjung, pria berkebangsaan Belanda dan berpangkat Kolonel itu langsung antusias menyambut .
Jhon Van Piereezoon, mengulurkan tangan yang langsung disambut Panji. Keduanya berjabat dan saling menebar senyuman hangat.
Setelah itu, Jhon Van Piereezoon beralih pada sosok yang begitu ia rindukan. Padahal baru sepekan Mina menikah dan tinggal bersama keluarga barunya.
Ia mendekat dan memeluk Mina penuh sayang hingga memejamkan matanya.
'' Ayah '' Mina lirih. Agak canggung sebab ini kali pertama sang ayah memeluknya.
Mina membalas pelukan ayahnya dengan perasaan bimbang. Apakah ini sebuah bentuk kasih sayang yang tak pernah ditunjukkan sang ayah padanya ? Atau hanya sebatas formalitas dihadapan Panji saja ?
Belum selesai dengan pertanyaan yang memenuhi benaknya, Mina tersentak karena sang ayah melepas pelukan dan beralih memegang kedua bahunya.
'' Masuklah, Ibu dan adik-adikmu pasti senang melihat mu ''
Mina berjalan memasuki rumah sambil dirangkul ayahnya. Sementara Panji mengekor dua langkah dibelakang.
Ekspresi Mina nampak begitu terkejut. Saat kedua adik laki-lakinya yang berusia 10 dan 7 tahun melihat kakak perempuan mereka datang , sontak mereka berlari ke arah Mina. Kedua bocah berparas asing itu menghamburkan pelukan padanya. Berulang kali Leonel dan Jack menanyakan kemana ia pergi dan kenapa tak pulang hingga mengatakan rindu padanya.
Pun dengan ibu tirinya. Wanita cantik yang menjadi orang terakhir menyambut kedatangannya itu memeluk dan mengecup pipinya. Matanya bahkan berkaca-kaca ketika mengelus wajah seraya menatapnya. Menggambarkan rindu yang tak lagi terbendung.
Mina tak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi . Yang ia tau selama ini, anggota keluarganya merupakan pribadi yang acuh dan dingin. Saat tinggal bersama mereka minim berinteraksi dan sangat jarang berbicara satu sama lain .
Tapi yang sekarang ia lihat, mereka semua begitu hangat menyambutnya. Benarkah ini mereka ? Mina berargumen dengan batinnya. Ia benar-benar merasa sulit mempercayai perubahan sikap keluarganya.
'' Kalian akan makam malam disini , bukan ? '' Ibu tirinya mengalihkan pandangan pada suami dan menantunya, Panji. Sengaja ia memasang tampang memelas, agar sang suami mau ikut membujuk dan agar Panji mau mengabulkannya.
'' Tentu saja. Dan bukan hanya untuk makan malam saja , tapi mereka juga akan menginap disini malam ini '' Kolonel Jhon Van Piereezoon menjatuhkan telapak dipundak Panji dan menepuknya.
Panji tak bisa menolak. Ia pun mengiyakan . Sementara Mina hanya mengangguk tanda setuju.
Panji pun mengutus kusir keretanya untuk pulang dan mengabarkan pada orang tuanya bahwa ia dan sang istri tak akan pulang. Mereka akan menginap dirumah orang tua Mina dan akan pulang besok.
Malam itu, Mina dan Panji menghabiskan dan menikmati waktu dengan bercengkrama bersama orang tua dan ke dua adik laki-laki Mina.
Silih berganti mereka berbicara. Meski kebanyakan yang mendominasi adalah para lelaki. Keakraban telah tercipta. Mereka mulai saling terbuka, berharap hubungan diantara mereka dapat terjalin baik sebagaimana mestinya.
Suasana hangat menyelimuti rumah megah yang di bagian depan terdapat pilar-pilar beton dengan halaman luas yang di tanami berbagai macam bunga dan tanaman hias .
Namun, hal berbanding terbalik justru tengah terjadi dikediaman Adipati Artharawirya.
__ADS_1
Panji yang tengah berada di rumah mertuanya bersama sang istri , tak akan pernah mengira jika besok akan ada kejutan yang menantinya.