Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Gerbang selamat datang


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Hampir setiap hari turun gerimis. Banyak yang mengatakan jika itu wajar dan sangat pas mengingat baru saja terlaksana pernikahan yang paling meriah dan megah . Pernikahan sang penerus pemimpin Pribumi di Batavia ini. Besar harapan mereka akan kabar bahagia selanjutnya. Apalagi kalau bukan kehamilan.


Hari ke empat menjadi seorang suami. Namun terasa seperti hari pertama baginya. Karena apa ?Karena semalam ia benar-benar merasakan kepuasan bersenggama yang sesungguhnya.


Panji sudah terjaga dengan posisi tubuh melingkup. Ia miringkan wajahnya kesamping, pada sosok yang masih terlelap memunggunginya.


Panji tersenyum, tangannya terangkat menaikan selimut untuk menutupi tubuh molek istrinya hingga batas bahu.


Tapi baru sesaat, ia menarik turun selimut hingga ke pinggul. Panji tergelak ketika tangan Mina menaikan lagi selimut keatas.


'' Kau sudah bangun rupanya '' Panji melebarkan senyum , membalikkan tubuhnya lalu merapat.


Ia peluk Mina dari belakang. Menyusupkan kedua tangannya di perut rata sang istri.


'' Pan.. eng.. aku.. '' Mina menggeliat ketika merasa sesuatu yang keras menyentuh bokongnya.


'' Panggil aku dengan sebutan layaknya seorang istri pada suaminya ''


Mina berhenti bergerak.


'' Kenapa ? ''


'' ... ''


'' Bukankah memang sudah seharusnya demikian ? Panggil aku Kang Mas '' Panji berucap tepat di telinga Mina dan menggigitnya. Entah mengapa ia merasa gemas pada bagian tubuh yang seperti tak bertulang .


Mina bergeming.


Tangannya meremas erat ujung selimut yang menutupi bagian depan tubuhnya.


'' Mina '' Panji mengecup pundak , sementara tangannya sedikit menekan agar tubuh istrinya berbalik.


Mina memutar tubuhnya , menghadap lelaki tampan yang langsung mendekatkan wajah ke wajahnya .


'' Mari kita lupakan apa yang terjadi kemarin '' Panji menyelipkan jemarinya di helaian rambut Mina.


Perempuan itu masih bergeming dengan ekspresinya yang khas. Datar.


Panji termenung mematahkan. Ia iba. Muncul keinginan untuk merubah tatapan itu, menjadikannya lebih berwarna dan merubahnya menjadi senyuman yang manis. Mina pasti akan semakin terlihat cantik.


Tapi sepertinya akan butuh waktu, ekstra kesabaran dan kerja keras. Sebab tak akan semudah membalikkan telapak tangan untuk mengikis masa kelam dalam hidup seorang Mina .


Setelah semua yang ia ketahui tentang kehidupan seperti apa yang istrinya jalani selama ini, hingga pada tragedi miris menyayat hati, Panji bulat memutuskan untuk menerimanya apa adanya.


Pun ia juga tak bisa bersama Mayang . Sebab gadis yang ia cintai sejak lama ternyata adalah adiknya . Ia dan Mayang memiliki hubungan darah yang tak bisa disatukan dalam ikatan antara lelaki dan perempuan. Mereka tercipta dari benih orang yang sama, namun terlahir dari ibu yang berbeda.


'' Mina.


Aku minta maaf untuk perkataan ku kemaren ''


'' ... ''


'' Jadi, bisakah mulai saat ini kita sama-sama berusaha untuk menjalani pernikahan ini dengan saling membuka diri.

__ADS_1


Aku akan berusaha membuka hatiku untukmu. Dan kuharap, kaupun mau melakukan hal yang sama '' Panji mengecup kening wanitanya, lalu menarik Mina masuk kedalam dekapannya.


Mina masih tak merespon. Ia terlalu terkejut dan masih sulit percaya. Ia juga takut. Jika ternyata ini hanya mimpi. Mimpi yang terlalu indah untuk dianggap sebagai kenyataan.


* * *


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda . Cuaca justru berbanding terbalik.


Jika kemarin hujan turun tanpa jeda hingga malam. Pagi ini mentari seolah datang lebih awal dan bersinar sangat terang. Padahal waktu masih terbilang pagi. Namun teriknya sudah begitu menyengat. Panas .


Kapal milik Ari Sindoro sudah menepi di pesisir pantai sejak kemarin siang. Namun karena badai, Dimas dan Mayang tak bisa langsung meneruskan perjalanan . Mereka menunggu cuaca membaik dan bermalam di kapal.


Tapak kaki menjejal tepian laut ,menciptakn percikan air yang membasahi pakaian bagian bawah yang terendam hingga lutut.


Arisundoro turun lebih dulu. Disusul Dimas yang kemudian membantu Mayang turun dari kapal.


Mereka berjalan dengan langkah hati-hati hingga sampai di bibir pantai.


'' Apakah letak desa Arkha dari sini masih jauh, kang ? Lalu, ke arah mana kami nanti harus berjalan ? '' tanya Dimas pada Arisundoro yang tengah menyerahkan barang bawaan Mayang.


'' Kau lihat jalan setapak itu ? '' Pria berkepala plontos itu menunjuk ke arah jalan setapak yang terlihat jelas sebab tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Dimas melihatnya dan mengangguk.


'' Itu adalah jalan yang sering di lalui para prajurit Kompeni ketika mengantar seorang penjahat yang akan dibuang ke desa Arkha. Bisa dibilang itu adalah satu-satunya jalan menuju desa Arkha.


Jadi kalian ikuti saja jalan itu ''


Dimas dan Mayang saling tatap sesaat, lalu sama-sama memutar leher. Mereka tatap Arisundoro sambil mengangguk paham.


Tapi, aku tak akan meninggalkan kalian begitu saja. Tepat satu purnama terhitung mulai hari ini, aku akan kembali kemari. Dan kuharap aku dapat bertemu dengan kalian lagi .


Jadi, gunakan waktu kalian dengan baik dan segera lakukan apa yang menjadi tujuan kalian datang ke desa Arkha ''


Usai Dimas dan Mayang mengucapkan terima kasih dan berpamitan, mereka pun berpisah.


Mayang dan Dimas berjalan menuju jalan yang telah di tunjukkan, sedangkan Arisundoro kembali ke kapalnya.


Perjalanan dimulai.


Jangkar telah dinaikan, layar kembali dibentangkan dan kapal perlahan mulai meninggalkan tempat yang jarang atau bahkan tak pernah ada yang berniat untuk mendatanginya.


Sering dengan jarak pandang yang semakin jauh, kabut putih tiba-tiba datang entah dari mana dan menyelimuti sekitarnya .


Daratan yang disinggahi tadi pun menghilang . Lalu samar-samar suara burung cikalang , bintang bersayap khas penjelajah lautan terdengar. Hanya sekejap waktu, suasana telah berubah.


Angin berhembus santai , kabut sedikit demi sedikit menghilang dan berganti dengan cahaya matahari yang bersinar sesuai dengan waktunya.


Di kapal yang tengah berlayar tanpa hambatan, nampak Arisundoro berdiri diujung dek kapal. Tatapannya lurus mengarah ke tempat tadi.


Sebelumnya ia sudah pernah sekali ke sana. Waktu itu, sang Adipati menugaskannya untuk mengantar Nyi Geno dan Nyi Kiranti ke tempat itu.


Sama seperti tadi , ia pun hanya mengantar hingga sampai dibibir pantai. Setelah itu ia pergi dan kembali menjemput kedua saudara perempuan, setelah melewati satu purnama .


Tempat tersebut memang penuh misteri dan kental akan nuansa mistisnya.


Satu purnama seolah memiliki arti tersendiri.

__ADS_1


Itu adalah batasan waktu bagi seseorang untuk bisa menemukan dan sampai ke sana. Bukan karena menghindari atau ingin menyembunyikan diri.


Pulau tersebut seperti memberi batasan bagi seseorang untuk boleh menginjakkan kaki di daratannya.


Tak ada yang tau pasti kenapa. Yang Arisundoro tau, seseorang bisa menemukan dan sampai di pulau itu hanya ketika setelah melewati satu purnama sejak terakhir kali datang.


Memang sulit dipercaya. Pulau itu seperti bisa mengenali siapa saja yang datang dan akan menghitungnya waktu untuk orang tersebut dapat kembali datang lagi.


Karena itu, hanya mereka yang memang ahli dalam mengarungi lautan dan yang pernah datang ke pulau itulah yang bisa sampai dan mendarat di sana.


Beruntung Arisundoro memiliki kedua hal itu . Selain pernah sekali menyambangi pulau tersebut, pun ia juga memiliki pengalaman yang terbilang cukup . Hasil bekerja sebagai budak kapal hingga di percaya di bagian pengendalian kemudi, membuatnya memiliki keahlian dalam mengenali arah angin dan segala sesuatu tentang lautan.


* * *


Panas menyengat. Peluh mengucur deras dari kedua pelipis hingga membahasahi wajah . Pun dengan tubuh yang tak kalah basah oleh keringat yang keluar dari seluruh pori-pori tubuh.


Sudah setengah hari mereka berjalan. Mayang merasakan lelah ,bercampur panas yang teramat sangat .


Namun tidak dengan lelaki yang berjalan beriringan dengannya . Dimas juga kepanasan, tapi tak sedikitpun terlihat lelah.


'' Apakah desa Arkha masih jauh, Mas . Harus berapa lama lagi kita berjalan ? Aku rasanya sudah tak sanggup lagi '' tanya Mayang pada lelaki yang sejak tadi hingga kini, derap langkahnya tak berubah.


Mayang yang tak tahan lagi ,lantas


menghentikan langkah, menyeka keringat dan bersandar pada pohon besar dengan dahan dan rantingnya yang rindang.


Aneh .Padahal biasanya dibawah pohon akan terasa teduh . Tapi ini tidak. Bahkan angin pun sama sekali tak berhembus. Hawanya tetap dan justru semakin panas.


Dimas pun menghentikan langkahnya. Ia hampir Mayang dan menyodorkannya minum yang telah dibekali Arisundoro .


Ia tersenyum lembut sambil menghapus keringat yang mengalir di kedua sisi wajah gadisnya.


'' Tenanglah, kita sudah sampai '' ujar Dimas.


Mayang melebarkan mata, menatap Dimas yang menuju dengan ujung dagunya.


Karena panas dan juga terlalu lelah, Mayang sama sekali tak memperhatikan jalan dan sekitarnya.Ia hanya berfokus pada tanah yang ia jejaki. Hingga tak menyadari jika sudah berada di ujung jalan. Nampak sebuah gapura yang disanggah pohon berukuran sedang .


Gapura merupakan penanda memasuki sebuah kawasan .


Ternyata benar yang dikatakan Arisundoro. Tak sulit menemukan desa Arkha. Mereka hanya perlu mengikuti jalan yang ada, yang memang satu-satunya jalan untuk bisa sampai ke desa tersebut.


'' Kau masih sanggup berjalan ? Atau mau ku gendong ? '' Dimas mengulurkan tangannya.


Mayang menggeleng. Tangan yang terulur tak ia sambut, tapi malah letakan tempat minuman yang terbuat dari tanah liat yang isinya hampir habis ia tegak.


Mayang menenggak tubuh, menarik nafas panjang dan mengambil langkah maju. Ia dan Dimas pun serempak berjalan menuju ke gerbang selamat datang.


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa di like


Tinggal kritik dan sarannya juga ya


Trima kasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2