
🌺hem.... 🌺
* * *
Roda kereta bergelinding mulus dijalan kota yang lenggang sebab malam mulai menanjak larut.
Tak begitu banyak kendaraan yang terlihat .Karena sebagian penghuni Batavia pasti sudah berada di kediaman mereka masing-masing .
'' Den Mas.. Kit- kita mau kemana ? '' tanya Mayang untuk yang kesekian kalinya.
Ia yang sejak tadi menatap keluar jendela, mulai cemas setelah menyadari jika jalan yang dilewati bukanlah jalan pulang.
Pun rasanya perjalanan sudah cukup lama . Namun tak ada tanda-tanda kereta akan berhenti.
Ditambah lagi, sejak tadi Panji hanya diam . Tak menggubris pertanyaannya dan tanpa mau menatapnya seperti yang biasa lelaki itu lakukan.
Mayang tertunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan. Ia tau dan sadar betul kenapa Panji bersikap sedingin ini.
Ia lalu teringat beberapa saat lalu, ketika empat orang pria yang ia ketahui adalah penjaga pribadi Panji menghampirinya dan Dimas.
Ia panik. Namun tidak dengan Dimas yang agaknya telah siap untuk menghadapi situasi tersebut.
Mereka kemudian dipisah. Dua orang menariknya pergi, sementara dua lagi tetap bersama Dimas.
Ia sebenarnya ingin memberontak. Namun seorang dari dua penjaga yang memegang lengannya berkata :
" sebaiknya engkau tak membangkang. Jika tidak ingin lelaki itu celaka " sebuah peringatan bernada ancaman yang membuatnya mau tak mau menurut.
Dengan berat hati, Mayang mengikuti kemana langah kakinya dituntun pergi .
Hatinya cemas bercampur bimbang.
Sebab memikirkan apa yang akan mereka lakukan pada Dimas.
Mereka pasti di perintah oleh Panji untuk memberi peringatan pada Dimas dengan cara kekerasan .
Ingatan itu pun berakhir. Mayang kembali dirundung cemas , memikirkan seperti apa keadaan Dimas sekarang. Ia harap tidak terjadi sesuatu yang berlebihan pada lelaki pencuri hatinya itu.
" maafkan aku, mas "
Mayang mengangkat dagunya. Memperhatikan lagi Panji yang masih bergeming dengan ekspresi yang tak berubah.
Mayang menghela nafas. Takut pun percuma, sebab ia tetap harus menghadapinya. Mayang pasrah sambil mencoba meyakinkan diri , bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Kembali ia melemparkan pandangan ke luar jendela.
Desau angin malam membawa hawa dingin menyapanya.
Pertanyaan yang sejak tadi belum mendapat jawaban membuat hatinya kian bertambah tak karuan. Mayang menghela nafas lagi.
Entah berapa lama lagi kuda di pacu untuk menarik kereta agar terus berjalan.
Hingga tanpa sadar Mayang tertidur dengan kepala bersandar di dinding .
' tuk .tak.tuk. tak ' suara tapak kuda mulai melambat dan tak lama kereta pun berhenti.
Seketika itu pula Mayang tersadar dari tidurnya.
Sayup-sayup matanya ia paksa terbuka untuk meniti sekitarnya.
Panji sudah turun dan tengah menunggunya di depan pintu kereta yang terbuka lebar. Tangannya terulur . Sebuah isyarat agar Mayang segera keluar dan turun dari kereta.
'' Dimana ini, den mas ? '' tanya Mayang yang meraih telapak tangan Panji sebagai pegangan.
Panji yang masih tak mau menanggapi langsung menyambar jemari Mayang dan menariknya.
Mayang yang tak siap hampir saja terjungkal .
Lalu dengan terseok-seok ia mengikuti laju langkah kaki Panji sambil memperhatikan tempat yang dikelilingi banyak pepohonan.
Malam yang gelap tak begitu membutakan mata sebab beberapa obor tertancap menjadi penerangan jalan dan area sekitarnya.
Beberapa puluh langkah ke depan sana, nampak sebuah rumah sederhana yang dikelilingi tanaman hias . Terlihat terawat karena memang di urus dengan baik.
Mayang memutar leher, mencari keberadaan yang lainnya.
Kusir dan seorang penjaga yang tadi ikut bersama mereka tak mengikuti.
Kedua pria itu berdiri di sisi kereta yang ditambatkan pada sebuah pohon.
Mengingat lama perjalanan mereka tadi, Mayang menduga jika ia sekarang berada ditepian Batavia. Yang itu berarti tempat ini jauh dari pusat kota.
' Buk ' Mayang menabrak punggung Panji karena tak sadar jika Panji telah menghentikan langkah.
__ADS_1
'' Ma-maaf Den Mas '' Mayang menunduk saat Panji memutar tubuhnya kebelakang.
Dengan perasaan was-was, Mayang memberanikan diri untuk melirik dengan ekor matanya. Panji tengah menatapnya, masih seperti tadi. Dingin tanpa ekspresi.
'' Selamat datang, Raden Mas '' sapaan yang seketika membuat Panji mengembalikan posisi tubuhnya menghadap ke depan .
Begitupun dengan Mayang langsung menegakkan tubuh dan kepalanya.
Seorang wanita berkulit legam menyambut di teras dengan tubuh dibungkukkan.
Usianya sekitar tiga puluhan. Tubuhnya tak kurus dan tak juga gemuk. Namun sangat pendek. Jika di sandingkan dengan Mayang mungkin hanya sebatas daun telinga saja.
Sekilas ia terlihat seperti gadis yang baru beranjak remaja.
Pakaiannya sederhana .Jarik berwarna gelap dibalut kebaya coklat tua yang usang.
Mayang menduga, jika wanita yang menggulung rambutnya kebelakang ini adalah seorang kacung.
'' Bawa dia masuk dan bantu dia membersihkan diri ! " perintah Panji sambil melepas pegangannya.
Mayang tersentak.
Membersihkan diri ? Maksudnya ? Apa mungkin tujuan Panji membawanya ke tempat tersembunyi seperti ini adalah untuk - -
" Tung-tunggu , Den Mas... " Mayang panik. Ia ingin menyanggah namun Panji menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
Mayang menggeleng. Mencoba memohon dengan memelas. Namun Panji bergeming. Tetap tanpa ekspresi seolah tak perduli.
Lalu entah sejak kapan, si kacung sudah berdiri di samping Mayang dan memegang lengannya . Kemudian menariknya .
Dengan langkah terseret, Mayang akhirnya berhasil di bawa masuk kedalam rumah .
Mayang sebenarnya bisa saja melepaskan diri dan kabur. Tapi tak ada jaminan ia akan berhasil lolos.
Sebab Panji tak mungkin membiarkannya pergi begitu saja.
Majikan mudanya itu pasti langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengejar dan membawanya kembali.
Jika itu sampai terjadi, maka ia harus bersiap menghadapi murka Panji yang tak dapat ia bayangkan akan seperti apa .
Mayang menggeleng. Ia urung niatnya tadi karena tak mau menambah kekesalan Panji lebih dari ini.
- -
Mata Mayang tak berhenti meniti setiap sudut ruangan yang baru saja ia lewati.
Mayang terus berjalan mengikuti langkah si kacung.
Setelah melewati ruang utama, mereka kemudian melewati dua buah kamar yang saling berhadapan . Dan Mayang terus dituntun masuk semakin dalam hingga ke bagian paling belakang rumah.
Langkah mereka pun akhirnya berhenti.
Si kacung lantas menyuruh Mayang masuk ke sebuah bilik yang pintunya ditutup kain berwarna gelap.
Mayang menyibak kain penutup dan masuk .
Terasa dingin saat telapak kakinya menyentuh papan licin yang menjadi lantainya .
Permukaan lantainya basah sebab air berceceran dimana-mana. Membuat hawa ruangan terasa sejuk dan lembab.
Pandangan Mayang tertuju pada sebuah bak mandi seukuran tubuh orang dewasa yang penuh berisi air. Diatasnya mengapung taburan kelopak bunga melati putih.
'' Biar saya bantu buka bajunya, Ndoro '' ucap Si kacung melepas pegangan dan hendak melakukan tugasnya.
" Ndoro? " pertama kalinya Mayang dipanggil dengan sebutan yang biasa digunakan untuk para juragan.
Yang secara tak langsung menunjukan jika statusnya sudah naik satu tingkat di atas rakyat biasa.
'' Engkau keluarlah. Aku bisa melakukannya sendiri '' tolak Mayang halus.
Si kacung terdiam dan tak kunjung beranjak.
Mayang paham. Sepertinya wanita ini tak mau, atau lebih tepatnya tak bisa menuruti perkataannya .
Dengan kata lain, si kacung akan tetap melakukan tugasnya, sesuai yang di perintahkan Panji tadi.
Mayang sadar jika ia tak punya hak untuk memilih.
Dengan pasrah ia biarkan si kacung mulai melaksanakan tugasnya dengan membuka ikatan rambut Mayang.
Rambut legam itupun tergerai bebas.
Selanjutnya kedua tangan si kacung turun untuk membuka kain penutup tubuh Mayang.
__ADS_1
Di mulai dari kebaya biru tua , stagen yang erat melingkari perutnya, hingga akhirnya hanya mengisahkan kutang dan jarik yang menjadi penutup tubuh yang terakhir.
'' Bolehkah aku tau siapa namamu ? ''
" Nama saya Dias, Ndoro "
'' Baiklah, Mbok Dias. Bisa tolong kau keluar sebentar ? Aku akan membuka pakaian dalam ku sendiri . Baru setelah itu kau bisa masuk kembali ''
Wanita bernama Dias itupun lantas berbalik dan keluar .
Mayang segera melucuti sisa kain yang menutupi tubuh perawannya.
Penerangan yang berasal dari lampu sentir membuat ruangan berukuran sedang ini begitu temaram .
Tubuh polos Mayang pun tersamarkan.
Mayang tertunduk sesaat. Memperhatikan tubuh bagian bawahnya. Aset yang selama ini belum pernah dilihat apalagi di jamah oleh tangan siapapun.
Padahal ia berharap orang yang akan melihat pertama kalinya adalah seorang yang telah menjadi suaminya.
Dan ia akan menyerahkan segalanya, pada dia yang memang berhak atas tubuhnya , sang pendamping hidup.
Namun kini ia harus menerima kenyataan jika hal tersebut tak bisa terwujud.
Malam ini, sesaat lagi. Ia terpaksa harus menyerahkan tubuh dan merelakan kehormatannya pada seorang yang mengklaim sebagai pemilik dirinya .
Mayang sadar , mengapa ia harus berakhir seperti ini. Itu karena dirinya yang telah berani membohongi sang majikan. Sudah jelas kenapa Panji marah dan tak terima karena merasa telah di khianati.
Namun entah mengapa Mayang tak menyesali apa yang sudah ia lakukan.
Ia senang karena telah berkesempatan mengenal Dimas . Lelaki yang membuatnya dapat merasakan indahnya jatuh cinta.
Sebuah pengalaman maha dahsyat ketika debaran hebat dan gemuruh di hati , beradu dengan jutaan rasa yang bercampur aduk menjadi satu.
- -
Mayang membuyarkan lamunannya .
Bukan saatnya ia memikirkan hal lain.
Ia pun mengingat diri untuk tidak mengenang Dimas lagi .
Ia kemudian mengangkat kakinya satu persatu untuk masuk kedalam bak. Kemudian ia duduk hingga tubuhnya terendam sebatas dada .
Mendapat tambahan isi, air pun tumpah dan membanjiri lantai.
'' Sekarang kau sudah bisa masuk, Mbok Dias '' panggil Mayang.
Mbok Dias masuk dan langsung melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa saat setelah selesai dengan ritual membersihkan tubuh dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, Mbok Dias yang sejak tadi tak berani menatap apalagi melihat tubuh Mayang, menyodorkan sebuah jarik baru yang masih terlipat.
'' Apa aku hanya akan mengenakan ini saja ? '' tanya Mayang ragu.
Mbok Dias mengangguk membenarkan.
Kembali Mayang meminta Mbok Dias keluar . Dengan alasan malu, ia mengatakan akan mengering tubuhnya sendiri.
Tak berselang lama, Mayang keluar dengan tubuh hanya dililit jarik bercorak garis hitam berwarna coklat. Aroma segar dan harum melati menyeruak dari tubuhnya.
'' Biar saya antar ke kamar, Ndoro '' Mbok Dias membungkuk pada Mayang yang rambutnya terlihat lepek karena masih basah .
Mayang tak menjawab. Ia hanya mengikuti kemana langkah gesit Mbok Dias pergi.
'' Silahkan masuk Ndoro '' Mbok Dias mempersilahkan dengan menggeser tubuh, memberi jalan pada Mayang saat berada tepat di depan ruangan tak berpintu .
Sebuah kain berwarna merah gelap, menjuntai hingga menyentuh lantai menjadi penutupnya.
Dengan kaki gemetar, Mayang yang gugup menyibak tirai dan melangkah masuk kedalam.
Panji ternyata sudah berada didalam. Pasti menunggunya .
Lelaki yang sebentar lagi berusia dua puluh tahun itu hanya mengenakan sarung sebatas lutut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
'' Apa kau sudah siap ? '' tanya Panji yang mulai mengambil langkah ke arahnya.
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa likenya ya
Kritik dan sarannya juga
__ADS_1
Terima kasih 🤗??