
🌺 hem... 🌺
* * *
Kediaman Adipati Artharawirya.
Sekilas, tak ada yang berbeda dari rumah bernuansa khas Pribumi dengan atap joglonya ini.
Keadaan terlihat aman, tenang seperti biasa.
Empat orang penjaga bertubuh kekar berdiri tegap di depan gerbang yang tertutup rapat.
Namun keadaan yang sebenarnya adalah ...
Empat orang penjaga tersebut hanya berdiri dengan pandangan lurus ke depan. Mata mereka tak berkedip. Tatapan mereka kosong. Tak ada pergerakan sama sekali dari satupun anggota tubuh mereka. Termaksud bernafas.
Keadaan yang sama juga terlihat dihalaman depan rumah yang terlihat sepi. Tak ada satupun penjaga yang biasanya berkeliling untuk memastikan keamanan sekitaran rumah.
Pun dengan situasi didalam rumah. Hening. Tak ada satupun manusia yang terlihat. Para kacung yang biasanya bergiliran berada di depan pintu kamar majikannya pun tak ada. Begitu pula dengan sang majikan yang juga tak nampak di manapun.
Kemana mereka ? Atau Dimanakah mereka berada ?
Beberapa saat lalu, ketika kusir pembawa pesan utusan dari Panji datang dan menyampaikan prihal Panji dan Mina yang tak akan pulang dan akan menginap dirumah orang tua Mina, Pramuanti lantas memerintahkan para kacung rumahnya untuk segera menyelesaikan pekerjaan mereka .Para kacung menyambut senang atas perintah sang majikan. Dengan penuh semangat, mereka langsung melakukannya. Karena setelah ini, mereka bisa ke kamar masing-masing dan istirahat lebih awal.
Sedang sang majikan justru berwajah murung. Wanita berparas jelita itu mendesah . Ia merasa kesepian. Beberapa hari belakangan, sang suami pulang ketika telah lewat tengah malam. Tak ada sentuhan yang biasa setiap malam ia dapatkan.Ia begitu merindukan belaian dan dekapan tubuh suaminya.
Begitupun dengan anaknya yang kini turut sibuk membantu pekerjaan sang ayah demi mempersiapkan diri menjadi penerus .
Ini semua karena kasus kematian beberapa orang dari kaum para Kompeni yang di tengah ditangani suaminya. Ia yakin, para Kompeni pasti menekan dan mendesak sang suami agar segera menyelesaikan kasus-kasus pembunuh tersebut.
Sebenarnya Paramuanti tau dan cukup sadar ,jika inilah konsekuensi menjadi pendamping dari seorang pemimpin dan memiliki tanggung jawab yang tak main-main.
Tapi tetap saja, ia merasa tak tenang dan tak suka jika waktu sang suami lebih banyak tersita untuk pekerjaan. Seperti saat ini.
Pramuanti kembali menghela nafas.
Padahal ia sudah merasa sedikit terhibur dengan menantu yang selalu ada dirumah . Ia sangat menyukai Mina karena tak banyak bicara dan penurut .
Namun lagi-lagi ia harus menelan kecewa. Sama halnya dengan suami dan anaknya, saat ini menantunya juga tak ada menemaninya .
Jenuh dengan segala kemelut pikirannya, Paramuanti memutuskan untuk ke kamar dan tidur saja.
Pramuanti berjalan menuju kamarnya. Namun langkahnya tiba-tiba melambat. Sesuatu terendus oleh indra penciumannya. Bau busuk yang begitu menyengat. Seperti bau bangkai.
Pramuanti memperhatikan sekelilingnya . Aneh ? Dahinya mengkerut. Ia lantas memanggil para kacungnya. Namun tak satupun ada yang datang. Paramuanti semakin bertambah heran. Mustahil tak ada yang mendengar suaranya yang lantang berteriak ? Pramuanti yang bermaksud untuk beranjak itupun berbalik dan seketika tersentak. Matanya melebar dengan mulut sedikit terbuka.
Seorang wanita cantik berkebaya hijau dipadu jarik hitam pekat, berdiri dihadapannya.
Wanita itu tersenyum , menampilkan jejeran giginya yang hitam ,khas seseorang yang sering mengunyah sirih. Wanita tersebut berjalan perlahan mendekati Pramuanti.
Pramuanti mundur. Tangannya terangkat , membekap mulut dan juga untuk menutup hidungnya. Aroma busuk semakin tercium kuat dan ia menduga jika itu berasal dari wanita yang kini hanya berjarak satu langkah di depannya.
'' Si-siapa kau ? '' tanya Pramuanti yang terlihat hendak mundur lagi . Namun tangannya keburu di cekal oleh wanita yang ia tak tau siapa.
Ia perhatikan wajah si wanita . Rasanya tak asing . Apa mungkin mereka pernah bertemu atau berpapasan ? Tapi ia tak bisa mengingatnya dan seperti memang tak mengenalnya .
Sementara itu.
Malam sudah begitu larut. Sebuah kereta dengan ukiran dan berlambang khas melintasi jalanan kota yang lenggang dan sepi.
Karena tuntutan pekerjaan dari para Kompeni , mau tak mau ia pun harus bekerja hingga larut seperti ini. Ditambah lagi dengan rencana pemberontakan yang akan segera dilaksanakan. Memaksanya harus mengorbankan waktu dan bekerja dua kali lipat lebih ekstra dari sebelumnya.
Hingga waktu bersama istri tercinta pun tersita.
__ADS_1
Seringnya ia pulang larut malam, membuatnya pulang ketika sang istri telah terlelap.
Adipati berseru dengan suara lantang, memberi perintah pada kusirnya untuk mempercepat laju kereta agar ia bisa segera tiba di rumah.
Tak sabar rasanya tiba dirumah dan bertemu Pramuanti, kemudian melampiaskan rindu sepuas-puasnya.
Kereta melambat ketika sudah berada di rumah sang majikan. Gerbang dibuka dan kereta yang membawa sang Adipati pun masuk.
Adipati bergegas turun dan berjalan cepat memasuki kediamannya.
' Deg ' langkahnya terhenti tepat di ruang utama rumah. Seorang wanita duduk di kursi tunggal yang merupakan kursi kebesarannya. Kursi yang memang hanya pernah diduduki oleh dirinya saja. Seperti ketika tengah menyambut tamu yang bertandang ke rumahnya.
Satu kata untuk mendiskripsikan wanita di hadapannya ini. Cantik.
Ditambah dengan pakaian yang begitu pas membalut tubuh sintal nya. Pria mana pun pasti akan tergoda dengan tampilan dan keindahan fisik yang dimilikinya.
Namun tidak dengan Adipati . Sebab pandangannya hanya sekilas pada si wanita. Netranya tengah tertuju pada sosok yang tergeletak di lantai, tepat dibawah kaki si wanita .
'' Maaf. Karena kau lama sekali, aku jadinya bermain-main dulu dengan orang-orang yang ada dirumah ini . Dan seperti mereka semua kelelahan '' Si wanita berucap dengan santainya. Sama sekali tak terlihat seperti seseorang yang telah melakukan sesuatu .
Padahal, selain Pramuanti yang terbaring tak bergerak dibawah, para kacung yang ada , semuanya tergeletak dengan kondisi yang serupa. Bukan hanya tak bergerak, tapi juga sudah tak bernafas.
Adipati mengeram marah. Tak terima istrinya diperlakukan sangat tidak manusiawi oleh seseorang yang ia tak tau siapa.
'' Kau..Apa yang kau lakukan pada istriku ?! '' tanya Adipati murka .Ia pun maju sembari menarik keris yang senantiasa bersembunyi dibalik punggungnya. Ia bermaksud untuk menyerang namun tiba-tiba saja kedua kakinya tak bisa digerakkan.
'' Siapa kau , HAH ?! '' Sorot mata Adipati menyiratkan amarah yang meledak-ledak. Tatapannya hanya sekali pada si wanita yang masih duduk dengan anggunnya.
Adipati kembali mematri penglihatannya pada sang istri. Hatinya pilu. Berjuta pikiran buruk menghampiri. Ingin ia tepis namun mustahil. Sebab ia sadar betul, jika besar kemungkinan sesuatu yang buruk telah menimpa Pramuanti.
" Salah mu sendiri terlambat datang. Kau terlalu sibuk mengurusi para Kompeni dan ambisimu hingga menelantarkan istrimu " si wanita berdiri. Dengan ujung kakinya, ia membalikkan tubuh Pramuanti yang sudah terkulai tak bernyawa.
' Bruk ' tubuh Adipati merosot dengan kedua lutut menghantam lantai .
Si wanita mendekat setelah melangkahi mayat Pramuanti dan berhenti tepat di hadapan lelaki yang tengah berlutut dengan wajah pucat pasi. Adipati tak mengindahkan si wanita. Ia terus menatap Pramuanti. Perlahan air mata keluar dan mengalir di kedua pipinya.
" Kau tanya siapa aku ? Namaku Saraswati ''
Ya, dia adalah Saraswati .
Wanita itu menunduk sambil tersenyum sinis.
Sedangkan Adipati bergeming .
Lalu ia entah bagaimana, ia merasakan sebuah tekanan pada dagunya . Memaksa agar wajahnya terangkat. Adipati mendongak, beradu tatap dengan wanita yang baru saja memperkenalkan diri dengan menyebutkan namanya.
Adipati menatap penuh benci dan marah sambil berusaha menggerakkan tubuhnya untuk berdiri. Tapi percuma. Sekuat apapun tenaganya, tubuhnya masih tak bisa digerakkan. Seperti diikat. Namun tak terlihat apapun yang melilitnya.
'' Bukan namamu yang aku ingin tau. Tapi siapa kau dan apa tujuan mu datang kemari ? Dan Kenapa kau lakukan ini padaku ?! " tanya Adipati. Ia benar-benar meradang. Sebab tak bisa bergerak dan menjangkau Saraswati. Jika saja ia bisa bergerak bebas, pasti sudah ia habis Saraswati.Tak perduli ia seorang wanita sekalipun.
" Dasar kalian orang-orang menjijikkan.
Menggunakan cara pintas untuk mencapai tujuan kalian. Kalian bahkan tak perduli, sekalipun itu bukan hal yang wajar "
Ekspresi wajah Adipati surut. Ia menatap dalam manik lawan bicaranya.
" Kau.. " Adipati tak dapat meneruskan kalimatnya. Lidahnya kelu sebab otaknya sedang menerka-nerka siapakah gerangan wanita bernama Saraswati ini.
" Benar. Aku datang untuk mencari gadis yang menjadi wadah jiwa Nyi Sukma.
Dimana kau sembunyikan dia ? " Saraswati melebarkan pupil kedua matanya. Memancarkan aura intimidasi bermakna ancaman.
Adipati bergeming. Saraswati pasti bukan manusia biasa. Ia bisa memastikannya sebab ia sudah pernah bertemu beberapa orang seperti ini. Dan ia jera berurusan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu lagi.
__ADS_1
" Kau tak mau memberitahu ku?
Apa kematian istrimu masih belum cukup untuk menyadarkan mu ? ''
Saraswati mulai geram. Kedua tangannya mengepal kuat.
" Baiklah, kau yang memaksaku. Jadi jangan menyesal jika akan ada dua mayat lagi akan segera ada di hadapanmu "
Mendengar itu, Adipati sontak menggeleng. Bayangan wajah Panji dan Mina seketika hadir di kepalanya.
" Tidak. Jangan .Jangan lakukan apapun pada anak dan menantu ku ''
'' Itu tergantung padamu, wahai sang Adipati..
Apakah kau akan tetap bungkam atau memberitahuku dimana gadis itu berada ''
'' Memangnya apa keperluan mu dengan Nyi Sukma ?
Dan..Apa yang akan kau lakukan dengan gadis itu nantinya ? "
" Asal kau tau. Aku bukan ingin memanfaatkan jiwa Nyi Sukma seperti yang kalian lakukan .
Aku hanya ingin menuntaskan urusanku dengannya dan akan menyegelnya untuk selama-lamanya.
Dan gadis yang menjadi wadahnya.. Tentu saja ia akan menjadi salah satu tumbalnya "
Adipati tertegun sesaat. Ia kini dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Memikirkan Mayang ia merasa begitu kasihan. Sejak lahir, hidupnya tak pernah tenang dan selalu diwarnai tragedi.
Haruskah ia mengorbankan Mayang demi menyelamatkan Panji dan Mina. Tapi Mayang pun darah dagingnya juga.
" Kau tak punya banyak waktu untuk berpikir. Atau aku akan mencari tau sendiri dan menghabisi setiap orang yang terlibat dengan hal ini. Bagaimana ? " Ancam Saraswati.
Tatapannya semakin mengintimidasi.
" De-desa Arkha. Disanalah kini ia berada " Adipati berucap lirih.
Benar. Ia tak bisa menjadikan Panji dan Mina sebagai korban atas hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sendiri . Cukup Pramuanti . Dan jangan ada lagi yang harus menanggung akibat atas perbuatannya.
Merasa cukup setelah mendapatkan apa yang menjadi alasan ia datang ke kediaman pemimpin Pribumi ini, Saraswati lantas pergi tanpa menimbulkan sedikit pun suara.
Tinggallah Adipati seorang diri yang masih hidup diantara semua penghuni rumah yang telah mati.
Perlahan tubuhnya mulai bisa di gerakan.
Dengan sisa tenaganya, ia berdiri untuk menghampiri sang istri yang telah meninggal. Ia bersimpuh , meraih tubuh Paramuanti dan memeluknya erat.
Adipati sesenggukan. Ia menyesal karena tak sempat mengatakan betapa ia mencintai wanita yang telah setia menemani separuh perjalanan hidupnya ini. Bahkan saat Paramuanti mengetahui tentang Mayang, Paramuanti masih mau melayaninya. Meski akhirnya ia ketahui juga, jika Paramuanti berencana dan telah mengirim orang untuk membunuh Mayang.
' Jleb ' Adipati tersentak dengan mata melotot . Sebuah tangan dengan kelima jari yang memiliki kuku tajam berwarna hitam, menusuk dan menembus tepat di dadanya.
Darah segar mengucur seiring dengan tangan yang menarik diri keluar dari dada yang berlubang .
' Uhuk ' darah keluar dari dorongan tenggorokannya. Nafasnya tercekat, seperti diikat. Wajahnya berubah merah padam, sebab kesulitan menghirup oksigen .
" Maaf, aku tak bisa memaafkan orang yang telah menghalangi jalan ku. Selama dua puluh tahun aku di Batavia dan ternyata kau dalangnya. Kau lah otak yang telah menyembunyikan Nyi Sukma " ucap Saraswati .
Ternyata ia kembali hanya untuk membunuh dan menuntaskan rasa kesalnya pada Adipati.
Saraswati menatap puas ketika tubuh Adipati tak lagi bergerak dengan kepala tertunduk sambil memangku tubuh pasangannya.
Saraswati berbalik. Kali ini ia benar-benar pergi dann mempercayakan sisanya pada 'mereka' yang datang dan sejak tadi ada bersamanya.
Mereka yang tak kasat mata, dua makhluk yang sebelumnya juga selalu ikut kemanapun ia pergi ketika ia sedang melakukan sesuatu .
__ADS_1
Seperti saat ini. Kedua makhluk yang tengah mengisap darah dari setiap mayat dan menjilati tetesan-tetesan merah hingga tak ada yang tertinggal. Mereka yang sering disebut makhluk tak kasat mata ini dulunya adalah jiwa abadi yang sengaja Saraswati tangkap. Dengan tujuan untuk dijadikan budak suruhannya.