Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Salah paham


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Batavia.


Beberapa hari setelah Kolonel Jhon Van Pierzoon pergi untuk melaksanakan tugasnya, aktivitas di kediaman yang ditinggalkan terlihat berjalan seperti biasa.


Yang berbeda hanyalah kehadiran Panji yang untuk sementara waktu di percaya menjaga anak dan istri sang Kolonel .


Pagi itu, Panji bangun lebih awal. Kemarin ia mendapat surat berisi perintah dari petinggi Kompeni untuk datang ke kantor pemerintahan yang dipimpin oleh kaum dari bangsa penjajah. Dalam surat itu, tercantum pula maksud dan tujuan Panji diminta menghadap.


Sebagai satu-satunya keturunan mendiang Adipati , ia di beritahukan agar bersiap menggantikan ayahnya yang telah mangkat beberapa saat lalu.


Para Kompeni beralasan, jika posisi pemimpin Pribumi tak bisa dibiarkan terlalu lama kosong.


Panji tersenyum kecut saat membacanya. Para Kompeni pikir ia bodoh hingga tak tau jika itu hanyalah sebuah dalih saja.


Para Kompeni tentu tak mau mengambil alih, sebab menurut mereka Pribumi bukanlah urusan yang penting hingga harus mereka yang tangani.


Selain itu pula, mereka butuh seorang pengganti yang bisa dijadikan budak - yang dapat mengendalikan para Pribumi agar mereka dapat memberi perintah sesuka hati. Sama seperti yang mereka lakukan ketika mendiang Adipati Arthraprawirya menjadi pemimpin Pribumi Batavia.


Mengenakan pakaian terbaiknya, Panji yang telah siap gegas berangkat setelah pamit pada istri dan ibu mertuanya.


Hal yang tak terduga pun terjadi. Hari itu juga Panji dilantik dan resmi mewarisi status dan kedudukan mendiang ayahnya .


Dan mulai detik itu pula, ia pun harus melakukan tugas seperti yang dilakukan ayahnya dulu.


Beberapa hari berlalu dan Panji telah di sibukkan dengan banyak pertemuan dan di sodori beragam dokumen dimeja kerjanya.


Hingga menjelang larut malam, pekerjaan yang belum juga selesai menuntutnya harus tetap tinggal. Panji tak pulang.


* * *


Keesokan paginya. Mina yang baru saja membuka matanya tersentak, mendapati wajah Panji yang entah kapan pulang dan sudah tidur di sampingnya.


Mina perhatikan sesaat wajah suaminya yang tampan. Tangannya tanpa sadar terangkat dan menyentuh wajah Panji.


Seharusnya ia bahagia dan merasa beruntung memilikinya, bukan ?


Mina mendaratkan jemari lentiknya di kening Panji. Lalu turun ke hidung dan berakhir lama dibibir. Ujung telunjuknya mengusap dan menekan benda kenyal itu. Mina tersenyum tipis, teringat bagaimana rasanya ketika bibir itu bertemu bibirnya. Sangat lembut dan candu. Memikirkan itu, membuatnya jadi menginginkannya.


Namun sebelum pikirannya semakin jauh melayang , Mina segera menyadarkan diri sambil menggeleng dan menarik tangannya.


Mina yang bermaksud untuk beranjak , tertahan sebab Panji tiba-tiba memeluknya.


'' Ma-maaf, aku menganggu tidurmu '' Ucap Mina merasa tak enak hati dan juga malu karena telah menganggu tidur Panji dan kedapatan menyentuh wajahnya.


'' Kalau begitu tanggung jawablah '' suara Panji terdengar seperti bisikan .


'' Tap- tapi ak- aku harus bangun '' Mina menggeliat, mencoba melepaskan diri saat tangan Panji telah melepas lipatan kembennya .


'' Akh '' Mina reflek mengeluarkan ******* ketika telapak tangan itu menyusup dan meremas salah satu gundukannya.


Panji membuka mata, tersenyum melihat wajah Mina memerah dengan sorot mata sayu. Ia tau arti bahasa tubuh istrinya .Panji pun mengangkat tubuhnya dan menempatkan diri di atas Mina.


'' Temani aku hari ini '' Ucapnya lembut lalu mengecup singkat bibir Mina .


'' Engh..Khe-mha..na ? '' tanya Mina di sisa-sisa kesadarannya yang mulai hilang.


Senyum Panji merekah sempurna setelah berhasil menarik turun kemben pembungkus tubuh istrinya.


Melihat ekspresi Mina yang menunjukan hasrat yang sama dengan yang ia inginkan , Panji pun melanjutkannya.


Beberapa saat setelah itu.


'' Tidakkah engkau sibuk hari ini ? '' Tanya Mina ketika sesi bercinta baru saja selesai .

__ADS_1


Panji menyamping tubuh dan menggeleng.Memang benar ia sibuk. Namun khusus hari ini, ia ingin meluangkan waktu bersama Mina.


Panji dekap tubuh Mina , mengecup kening yang terasa lembab karena keringat akibat aktivitas panas mereka barusan.


* * *


Di tempat lainnya.


Setelah gempuran timah panas yang menghantam dan meledakkan separuh daratannya, pulau yang terletak paling ujung JawaDwipa itu telah kembali tenang . Sisa-sisa kebrutalan senjata asing yang telah berhasil meobrak-abrik terlihat di hampir semua penjurunya.


Dengan demikian, misi penyerangan untuk memusnahkan Desa Arkha telah selesai dilaksakan. Pun dengan para penghuninya yang dipastikan tak ada yang selamat.


Namun sebelum angkat kaki dari daratan tersebut , Kolonel Jhon Van Pierzoon berulang kali memberi perintah kepada para prajuritnya untuk menelusuri hutan dan pesisir pantai, demi memastikan tak ada yang berhasil lolos dan kabur dari pulau tersebut.


Ia memang selalu totalitas dalam melakukan pekerjaan dan menyelesaikan tugasnya.


Setelah memastikannya semuanya sesuai dengan hasil yang diinginkan , barulah mereka semua berkemas, naik ke atas kapal dan berlayar pulang ke Batavia.


Kapal mulai bergerak perlahan ,semakin jauh hingga akhirnya benar-benar meninggalkan daratan. Sementara para prajurit yang terjun ketika penyerangan tengah beristirahat , Kolonel Jhon Van Pierzoon justru terlihat masih berada di tempat yang sama. Sejak kapal mulai dijalankannya, ia berdiri di dek kapal dengan pandangan ke arah pulau .


Ia menghela nafas, lalu mengalihkan pandangannya ke sekeliling dengan seksama. Ia seolah meresapi gerakan gelombang laut dan angin yang berhembus seirama.


Setelah semua yang terjadi dan yang telah dilalui selama beberapa hari ini, masih sulit di cerna oleh nalarnya yang hanyalah manusia biasa.


Seperti perjalanan pulang yang tak seperti perjalanan datang.


Tak ada lagi cuaca tak menentu dan hawa yang tak biasa.


Pun dengan suasana lautan sekitarnya. Tak terlihat lagi kabut yang tiba-tiba muncul dan menghampiri seperti yang terjadi ketika kapal tengah menuju pulau tersebut.


Waktu berlalu .


Kapal yang membawa Kolonel Jhon van Pierzoon berserta prajuritnya tiba dan telah bersender di pelabuhan.


Mereka pulang dengan kabar keberhasilan.


Misi penyerangan dan memusnahkan penghuni Desa Arkha telah di laksanakan dan mendulang keberhasilan.


Namun ekspresi sang pemimpin tak menunjukan hal yang sama. Dengan raut wajah dingin, Kolonel Jhon Van Pierzoon berjalan acuh. Jangankan membalas sapa dan ucapan selamat atas keberhasilannya, bahkan untuk sekedar menoleh saja ia tak mau.


Lelaki tegap itu terus saja memacu langkah kedua kakinya menuju mobil yang memang telah di siapkan untuk mengantarnya pulang.


Sang Kolonel masuk kedalam mobil dan langsung memberi perintah pada lelaki yang duduk di kursi pengemudi agar segera menjalankan kendaraannya.


Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, sang kolonel nampak begitu memperhatikan setiap hal yang dilalui lewat jendela yang terbuka lebar.


Entah apa yang dipikirkannya hingga ekspresi dingin tadi perlahan berubah. Wajahnya menjadi murung .


Sesampainya dirumah, ia pun bergegas masuk tanpa menghiraukan sapaan para kacung rumahnya.


Namun langkahnya tiba-tiba berhenti ketika baru saja melintasi kamar Mina . Kamar yang ditempati Mina besama suaminya, selama Panji tinggal di rumahnya .


Ia nampak berpikir sejenak. Lalu berteriak, memanggil dengan menyebutkan salah satu nama kacungnya.


'' Maaf, Tuan Den Mas Panji dan Nona Mina dari pagi keluar. Katanya mau melihat rumah sekalian nyekar ke makam Ibunya Nona '' Tutur si kacung menjawab pertanyaan tuannya.


'' Rumah ? Rumah siapa ? '' Kolonel Jhon van Pierzoon mengernyit . Beberapa pertanyaan seketika muncul dan mengusik ketenangan batinnya.


Malam harinya.


Usai menikmati santapan hasil masakan istri tercinta bersama kedua putranya, Kolonel Jhon van Pierzoon lantas lanjut menghabiskan waktu dengan bercengkrama diruang keluarga.


Tak berselang lama. Suara langkah kaki berjalan di lorong menggema dan terdengar semakin dekat. Sepertinya memang tengah menuju ke ruang keluarga. Tempat dimana sang Kolonel ,istri dan kedua putranya tengah berkumpul.


Sepasang suami-istri muncul dari balik dinding pemisahan ruangan. Setengah berlari, Mina menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya.


'' Ayah '' Lirih Mina terdengar parau.Ia rindu dan juga lega sebab khawatir sang ayah pergi dan tak kembali.

__ADS_1


Sang ayah membalas pelukannya dan mengusap rambutnya yang tersanggul rapi.


Mina menarik diri. Wajahnya terlihat sembab dengan sisa-sisa air mata yang ada di ujung pelupuk matanya.


'' Terimakasih sudah kembali dengan selamat '' Ucap Mina penuh haru.


Sang ayah terenyuh. Melihat putri satu-satunya dengan jarak sedekat ini , membuatnya seperti kembali ke masa silam. Masa saat ia bertatapan dengan mendiang istri pertamanya, Ibu kandung Mina.


Bukannya ia tak cinta pada istrinya yang sekarang. Hanya saja, setiap hal baik tentu akan mengisahkan kenangan yang sulit terlupakan. Mendiang istri pertamanya adalah salah satunya.


Wanita Pribumi berparas jelita nan anggun yang pernah mengisi hati dan menemani harinya walau tak lama.


'' Ayah '' Sapa Panji yang membuat apa yang tengah bergelayut dipikiran sang Kolonel bubar seketika.


Kolonel Jhon Van Pierzoon melepas pelukannya. Mina pun lantas bergeser, lalu mundur hingga sejajar dengan sang suami. Kini mereka berdua berhadapan dengan ayah , mertuanya.


'' Dari mana saja kalian ? Kudengar dari kacung, kalian sudah seharian keluar '' Tanyanya menatap secara bergantian pada putri dan menantunya.


'' Maaf, karena kami tidak menyambut kedatangan mu. Karena kami tidak tau ayah akan pulang hari ini.


Kami baru saja pulang dari mengunjungi makam Ibu Mina '' jawab Panji seraya menoleh pada wanita yang ada disebelahnya.


'' Katanya kalian pergi untuk melihat rumah ? Memangnya rumah siapa yang kalian kunjungi ? ''


Panji menarik nafas lalu tersenyum tipis.


'' Sebelum menikah, mendingan ayahku pernah mengatakan akan menyiapkan rumah untukku tinggali bersama istriku nanti.


Dan tadi , aku mengajak Mina pergi ke sana untuk melihatnya ''


Hening sesaat.


'' Maaf, Panji. Aku tak dapat memenuhi janjiku pada mendiang ayahmu.


Aku tak bertemu Mayang. Sekalipun jika memang ia berada di desa Arkha, aku juga tak mungkin bisa menemukan dan membawa jasadnya pulang ''


Mendengar nama Mayang di sebut, Mina langsung menoleh ke suaminya.


Panji bergeming , menatap lurus ayahnya.


Apa lagi ini ? Mengapa mendiang ayah mertuanya meminta ayahnya untuk menemukan Mayang ? Apakah karena Panji ?


Mina menarik nafas tertahan.


Benar. Ia hampir lupa jika Panji sangat mencintai Mayang.


Mina memutar lehernya dengan perlahan kembali ke depan lalu mengarahkan pandangan ke bawah.


Mina kecewa. Bukan pada Panji. Namun pada dirinya sendiri yang tak bisa menahan diri untuk tidak jatuh hati pada suaminya sendiri. Karena terlena dan telah terbuai akan perlakuan manis dan sentuhan lembut dari Panji, ia tanpa sadar telah kembali menaruh harapan .


Ternyata ia salah paham. Ia kira , Panji mengajaknya melihat rumah dan menemaninya mengunjungi makan sang Ibu adalah sebuah pertanda Panji ingin merencanakan masa depan bersamanya.


Sekali lagi Mina menghela nafas dan menegakkan pandangannya. Mina tersenyum pada ibu tiri dan kedua adik lelakinya yang ternyata tengah memperhatikannya.


Hal yang berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan saat ini. Padahal dalam hati ia sedang merutuki diri. Namun ia berusaha tak menunjukannya agar mereka tak curiga .


Bodoh. Umpatnya pada diri sendiri.


Hening kembali melanda.


'' A-ayah, ibu.. Tubuhku rasanya tak nyaman setelah seharian berada di luar. Jadi, aku permisi untuk membersihkan diri '' Pamit Mina yang tanpa menunggu tanggapan, langsung berbalik dan mengambil langkah pergi dari ruang keluarga.


Mina mempercepat langkah ketika kakinya telah melewati mulut pintu . Sempat terlihat ia menyeka salah satu sudut matanya sebelum akhirnya ia sampai dan masuk ke kamarnya.


* * *


Sudah di penghujung episode terakhir.

__ADS_1


Saya harap jika suka dengan ceritanya, tunjukan likenya.


Dan jika ada kalimat atau kata yang kurang nyambung, silakan tinggalkan jejaknya komen, saran dan kritiknya. Supaya saya bisa memperbaikinya. Terima Kasih.


__ADS_2