
🌺 hem.. 🌺
* * *
Mayang masih terpaku ditempatnya berdiri.
Menatap ke arah datangnya lelaki yang bertelanjang dada.
Mayang menangkap lain sorot mata itu. Jika tadi tatapan Panji menyiratkan amarah, tapi yang terpancar sekarang berbeda.
Sepasang manik hitam itu nampak teduh. Menandakan emosi yang telah berganti.
Panji menghentikan langkahnya tepat dihadapan Mayang.
'' Kau sudah siap ? '' Panji melontarkan pertanyaan yang sama untuk yang kedua kali.
Mayang memalingkan wajah . Kedua tangannya mengeratkan lilitan jarik yang di selipkan di ketiaknya agak tak melorot.
'' Lihat aku, Mayang '' suara Panji mulai menekan. Persis seperti ia sedang memberi perintah.
Dengan sekali tarik nafas, Mayang memberanikan diri untuk memutar leher dan mengangkat dagunya.
Ia balas tatapan Panji . Dan air mata yang tak mampu lagi ia tahan mengalir di ujung kedua matanya.
'' Kau yang memaksaku melakukan ini, Mayang '' Panji mengangkat tangan, lalu mengusap pipi Mayang secara bergantian. Ia hapus air mata yang terus mengalir .
Ia iba. Tak tega melihat gadis yang ia cintai menangis karenanya.
Tangan Panji masih menggantung , telapak yang tadinya mengusap air mata kini turun ke bibir ranum pemiliknya.
Panji pun teringat dengan apa yang ia saksikan tadi.
Seketika ia merasakan hatinya berdenyut nyeri.
Tanpa sadar, jemarinya menekan dan mengusap kasar bibir Mayang.
Ia kesal.
'' Kenapa kau lakukan ini padaku, Mayang ? Apa salahku ? Apa kurangnya aku padamu ?
Padahal kau tau jika hati dan pikiranku hanya ada engkau seorang. Tapi kenapa kau justru tega mengkhianati ku, em ? '' Panji membawa satu tangannya . Ia tangkup wajah Mayang .
Mayang menggeleng.
'' Maaf kan, aku Mayang.
Aku terpaksa melakukan ini.
Karena aku tak bisa membiarkanmu dimiliki lelaki lain '' Panji menarik kedua tangannya untuk beralih memegang pundak terbuka Mayang.
Melihat Mayang masih tak memberi respon, Panji mencoba mendekatkan wajahnya. Bermaksud untuk mencium bibir Mayang . Namun Mayang, menghindar dengan menarik lehernya kebelakang.
'' Kenapa, Mayang ? Bukankah tadi kau baru saja berciuman ?
Apa karena aku bukan dia , hingga kau menolak dicium ?
Padahal tadi, kau bahkan menciumnya duluan ''
'' ... '' Mayang terperangah. Tatapannya seolah mewakili pertanyaan di benaknya.
'' Benar. Aku melihat semuanya, Mayang. Aku melihat bagaimana dia memegang kedua lenganmu. Mendekat lalu menciummu.
Dan aku juga melihat dengan jelas bagaimana kau yang gantian mendekat dan menciumnya.
Kau bahkan melakukan itu dua kali . Kau mencium sangat lama, seolah... '' Panji tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Ia hempaskan nafasnya dengan kasar. Hembusan udara dari hidungnya terasa menampar permukaan kulit Mayang.
Panji mengeram dalam diam dengan tatapan tajam pada Mayang.
Padahal ia sangat ingin melupakannya. Namun ternyata sulit. Dan itu membuatnya frustasi .
'' Aku lakukan karena memang aku menginginkannya, Den Mas '' Mayang akhirnya bersuara.
' Nyut '
Mayang meringis. Pegangan di pundaknya berubah menjadi cengkraman kuat yang menyakitkan.
'' Apa kau sadar apa yang kau ucapkan barusan ?
Padahal aku sudah berusaha mencoba mentolerir mu. Tapi kau dengan berani mengatakan hal yang paling tidak ingin kudengar ! '' menarik tubuh Mayang mendekat padanya.
Air mata Mayang mengalir semakin deras.
Namun kali ini Panji menepis rasa tak teganya.
Tak akan ia membiarkan iba mengendalikannya seperti tadi. Ia tak ingin bersabar lagi.
Akan ia tunjukkan pada gadis ini. Siapa dia dan apa yang akan dilakukannya untuk membuktikan sejauh mana ia bisa mengklaim Mayang sebagai miliknya.
Panji mendekat. Meski Mayang menolak dan berusaha menghindarinya, namun ia yang tenaganya jauh lebih kuat dari gadis bertubuh mungil akhirnya berhasil meraup bibir Mayang.
'' Augh.. '' Panji meringis sambil menarik diri.
Bukannya mendapat balasan, bibirnya justru disambut gigitan .
Panji merasakan aroma dan rasa amis darah. Bibir bawahnya terluka.
Panji semakin meradang usai mengusap bibirnya dan mendapati bercak merah diujung jempolnya.
Panji hendak kembali mendekati Mayang. Namun tiba-tiba saja gadis itu berlutut dan membungkukkan tubuhnya.
Panji semakin kesal melihat tingkah Mayang.
Ia tarik tangan Mayang . Memaksanya 'tuk berdiri.
Mayang yang terkejut nampak panik sebab lilitan jarik mengendur dan hampir saja merosot jatuh.
Bergegas satu tangannya menahan dan kembali mengapitkan kemban yang menjadi satu-satunya penutup tubuhnya.
Tapi sayang, Panji ternyata sempat melihat itu. Lelaki itupun semakin hilang kendali.
Ia seret Mayang dan mendorongnya ke ranjang.
Tubuh Mayang terjerembab di atas kasur kapuk beralaskan sutra berwarna merah.
Jarik Mayang tersingkap. Memperlihatkan kaki jenjangnya hingga ke pangkal paha.
Sedangkan bagian atasnya melorot . Salah satu payudara yang ukurannya tak seberapa menyembul keluar.
Hasrat Panji kain memuncak di sugguhi pemandangan yang ada di hadapannya.
Jakunnya terlihat naik turun . Bukan hanya kesulitan menelan ludahnya , ia juga sepertinya kesulitan mengatur nafas. Dadanya terlihat naik turun dengan cepat.
'' Aku tak akan lagi bertanya apakah kau siap atau tidak. Karena sekarang juga aku akan melakukannya .
Kau akan menjadi milikku seutuhnya ''
Panji melepas sarung penutup bagian bawah tubuhnya. Tubuh polosnya terpampang di depan Mayang yang langsung memejamkan matanya.
Mayang berusaha memperbaiki jariknya dan merapatkan kedua kakinya.
__ADS_1
Namun kalah cepat sebab Panji sudah berada di atasnya dengan siku dan lutut menopang tubuhnya.
Panji mendekatkan wajahnya .Mayang gemetar, ketika merasa sentuhan lembut di pundak yang perlahan mulai turun semakin ke bawah.
'' Aku tak bisa berjanji tak akan membuatmu kesakitan, Mayang '' ucapnya di sela jeda mendaratkan kecupan.
Lalu kecupannya berhenti lama di bagian yang terasa begitu kenyal .
'' Den- Mas.. '' Mayang membuka mata dan mengangkat kepala . Dilihatnya Panji baru saja selesai menorehkan sebuah tanda merah di dadanya.
Terasa perih akibat dihisap begitu kuat.
Mayang pasrah. Ia pejamkan mata dengan air mata yang masih terus mengalir .
Ia tersentak saat jemari Panji menyelinap masuk ke balik jariknya dan meremasnya.Kemudian tangan itu turun, dan perlahan ia merasa jariknya ditarik dari bawah.
'' Akan ku lakukan dengan lembut, Mayang.
Agar kau tidak terlalu merasa sakit '' Panji menyapu habis wajah Mayang yang basah.
Lalu tepat disaat ia hampir berhasil meloloskan jarik dari tubuh itu, tiba-tiba saja terdengar kegaduhan yang berasal dari di luar rumah.
Panji bangkit dan Mayang bergegas membenahi tampilannya yang nyaris bugil.
Panji turun dari tempat tidur dan langsung menyambar sarungnya.
Terpaksa ia harus menundanya dan dengan segera mengambil langkah keluar untuk mengecek keadaan.
Alangkah terkejutnya ia saat melihat sudah ada rombongan pasukan tak asing berbaris di halaman rumah.
Sebuah kereta dan kuda - kuda perkasa juga telah terparkir tak jauh dari barisan para pria bertubuh kekar .
Mereka adalah prajurit pribumi yang bertugas mengawal dan menjaga kemanapun kepala wilayah Batavia .
Panji terperanjat saat seseorang turun dari kereta.
Beskap dan balkon nya yang bercorak khas dan berwarna senanda. Pun dengan jarik yang ia kenakaan memiliki ukiran tersendiri.
Ditambah selop hitam mengkilapnya. Penampilan yang berwibawa seiras dengan rupanya yang menawan , menunjukan identitas si pemakainya .
Pria yang telah berusia lebih dari kepala empat itu, tak lain dan tak bukan adalah ayahnya sendiri .
Sang Adipati yang merupakan keturunan raja yang dulu pernah menguasai seluruh bagian Batavia ini.
'' Romo.. '' ucap Panji saat sang ayah berjalan ke arahnya.
Panji tersadar dan mulai panik. Ia baru ingat dengan tampilannya yang hanya mengenakan sarung .
'' Rom-Romo '' Panji yang tadinya berniat berbalik dan masuk untuk membenahi diri
Namun terlambat, langkah sang ayah telah sampai dan berhenti tepat di hadapannya.
Dua orang lelaki berparas bak pinang di belah dua itu saling berhadapan .
Sang Adipati menatap putra semata wayangnya dengan tatapan dingin. Sedangkan Panji nampak gugup dan cemas .
Lalu ' plak ' sebuah tamparan mendarat di pipi kanannya.
Begitu keras hingga pandangan Panji seketika terlempar ke samping.
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa likenya ya
__ADS_1
Kritik dan sarannya juga
Terima Kasih 🤗