
🌺 hem... 🌺
* * *
30 tahun lalu.
Hujan deras melingkupi hampir semua wilayah yang kini dikenal sebagai Batavia.
Suara berisiknya bertabrakan dengan teriakan histeris dari sebuah kediaman yang tengah dirundung duka.
Rumah beratap joglo dan dikelilingi tembok yang kokoh , terlihat para bangsawan pribumi berkumpul didalamnya.
Bahkan dihalaman rumah yang tak beratap pun, mereka semua yang merupakan para pejabat dan berasal dari kalangan ningrat - berdiri dengan kepala tertunduk.Tak mereka hiraukan tubuh yang basah sebab miliaran air hujan yang terus jatuh tanpa jeda .
Mereka tengah mengheningkan cipta ditengah suasana basah dan berisik. Suara air hujan yang menghantam genting beradu dengan raungan tangis .
Tempat yang mereka pijak ini merupakan kediaman Adipati Mandra Arthaprawirya - pemimpin kaum Pribumi kala itu. Ia tinggal bersama kelima anak dan istri yang tengah mengandung calon anak keenamnya.
Siapa yang akan menduga.
Jika kemarin, suasana di kediaman ini begitu meriah dan penuh kebahagiaan .
Kemarin tengah digelar acara tujuh bulanan .
Seluruh keluarga besar datang untuk ikut berbahagia dan memberi doa bagi ibu dan anak yang tengah dikandung .
Namun, suasana suka cita itu berubah menjadi tragedi yang begitu mengerikan.
Malamnya, setelah semua prosesi selesai dilakukan dan berlanjut ke acara makan-makan dan hiburan, tiba-tiba saja segerombolan prajurit kompeni bersenjata api menerobos masuk dan langsung menghamburkan tembakkan membabi buta ke segala penjuru rumah .
Sontak deru suara tembakan yang begitu keras terdengar dan membuat para penghuni yang tinggal disekitarnya berhamburan keluar.
Mereka berjalan dengan langkah ragu dan was-was. Lalu berhenti membentuk sebuah kerumunan tepat di depan kediaman yang menjadi asal suara senapan tadi.
Mereka semua terhenyak , melihat kediaman yang begitu kokoh dan megah - kini hancur berantakan.
Dinding-dindingnya yang tadinya dihiasi ukiran - ukiran indah, kini dipenuhi bolong dan tak berbentuk lagi disebabkan peluru yang menembusnya . Percikan darah pun terlihat mewarnai temboknya.
Dan yang paling hati terasa seperti di iris dan membuat mata menjadi panas melihatnya adalah, hamparan manusia yang tergeletak - tak lagi bernyawa.
Beberapa dari mereka langsung memalingkan wajah.
Amis dari darah yang berceceran di mana-mana bercampur bau mesiu peluru - menyeruak.
Aroma dan pemandangan itu terlalu memuakkan dan membuat mual .Mereka yang tak tahan seketika merasakan gejolak hebat dan memuntahkan isi perutnya.
' Drap. drap. drap ' suara hentakan sepatu bot dari para prajurit kompeni. Mereka berjalan keluar dengan barisan rapi .
Namun satu orang masih di dalam.
Ia terlihat mengitari sekitar tempat yang baru saja berlangsungnya pembantaian.
Lalu setelah memastikan tak ada lagi yang bergerak, ia lantas keluar dan terus berjalan hingga ke bagian paling depan.
Ia adalah sang pemimpi prajurit Kompeni.
'' Ini adalah peringatan untuk kalian semua.
Kalian para Pribumi seharusnya tau, siapa pemimpin Batavia ini !
Dan kalian juga seharusnya sadar dan tau diri.
Kepada dan perintah siapa yang harus kalian patuhi !
Tak perduli apa kedudukan kalian. Jika kalian menolak bekerja sama dan membangkang,maka nasib kalian akan berakhir seperti Adipati Mandra Arthaprawirya ini.
Jika terbukti adanya rencana pemberontakan, maka bukan hanya yang bersangkutan saja yang akan menerima hukuman. Tapi seluruh anggota keluarga dan juga orang-orang terdekat. Tanpa terkecuali '' serunya menatap satu persatu wajah Pribumi yang ada di hadapannya.
Lalu para rombongan yang telah melaksanakan tugasnya itu , pergi meninggalkan tempat yang penuh dengan gelimang darah.
Sesaat setelah itu. Satu persatu dari mereka memasuki tempat dimana tragedi berdarah baru saja terjadi.
Kejam. Para bangsa asing itu memang tak memiliki hati nurani.
Hanya karena takut sang pemimpin Pribumi melakukan pemberontakan, dengan tega mereka memusnahkan semuanya.
Mereka menatap prihatin dan sedih pada mayat yang timpang tindih tak karuan.
Perih. Air mata mereka menetes - membayang nasib sesama Pribumi yang begitu naas. Mati ditangan para penjajah ,di tanah mereka sendiri.
Keinginan untuk membalas dan melakukan perlawanan muncul. Namun nyali tak cukup kuat kala mengingat peringatan yang disampaikan pemimpin prajurit kompeni barusan .
Mereka lantas mulai bergotong royong mengumpulkan para korban kebiadaban kompeni.
Dalam keheningan malam, mereka kompak memutuskan akan melakukan pemakaman yang layak.
Selain sang Adipati, kedua saudara laki-lakinya, para istri dan anak-anak mereka , dan seluruh orang yang ada dan terlibat di pesta syukuran itu - dimakamkan saat itu juga di sebuah tanah lapang yang berada di tengah hutan. Jaraknya cukup jauh dari tempat kejadian.
Butuh waktu semalam bagi mereka semua hingga akhirnya selesai memakamkan semua mayat yang mereka beri julukan sebagai pahlawan.
Beberapa hari kemudian. Diketahui lah, jika Raden Mas Arthaprawirya, bungsu dari lima bersaudara - anak sang Adipati Mandra Arthaprawirya - ternyata masih hidup.
Ia selamat dari pembantaian itu , karena disaat kejadian berlangsung Ia tengah berada di rumah persinggahan.
Mungkin memang belum saatnya ia mati.
Beberapa hari sebelum acara diselenggarakan, tiba-tiba saja ia terkena penyakit gatal-gatal.
Karena tak mungkin acara yang persiapannya telah rampung di kerjakan - harus dibatalkan, maka dengan berat hati Raden Mas Arthaprawirya yang diungsikan untuk sementara waktu. Hal tersebut terpaksa dilakukan karena khawatir penyakit gatal-gagal Raden Mas Arthaprawirya menular.
Dengan demikian, ia menjadi satu-satunya yang selamat . Sekaligus sebagai satu-satunya keturunan yang tersisa.
Kabar tentang masih ada keturunan Adipati yang hidup pun diketahui oleh pemimpin Kompeni.
Entah harus dianggap sebagai keberuntungan atau kekhawatiran.
__ADS_1
Raden Mas Arthaprawirya tak lantas dibunuh seperti keluarganya. Ia justru dibiarkan tetap hidup. Bahkan kedudukan dan aset kekayaan keluarganya dikembalikan.
Namun semua itu tidak di berikan secara cuma-cuma.
Pemimpin Kompeni memiliki maksud dan rencana di baliknya. Para Kompeni menetapkan jika Raden Mas Arthaprawirya akan menjadi Adipati selanjutnya . Yang nantinya akan berada dan tunduk pada perintah bangsa Kompeni .
Dengan kata lain. Raden Mas Arthaprawirya akan dijadikan contoh untuk para Pribumi yang ada di Batavia.
Bahwa mereka semua tak akan pernah lebih dari sekedar suruhan para Kompeni.
Bahkan ningrat berkedudukan tertinggi seperti Raden Mas Arthaprawirya sekalipun.
Hari berganti.
Raden Mas Arthaprawirya yang saat itu baru berusia 10 tahun masih belum mengerti apa yang sebenarnya sedang dan telah terjadi .
Dan seiring berjalannya waktu, ia pun perlahan - lahan mulai menyadari hingga akhirnya tau. Jika penyebab kematian seluruh anggota keluarganya adalah karena di bantai dengan peluru panas oleh prajurit suruhan kompeni .
Dengan alasan, para petinggi kompeni khawatir jika Sang Adipati Mandra Arthaprawirya akan membentuk persekutuan dan menciptakan pemberontakan .
Memang sebagai keturunan penguasa tanah Batavia terdahulu, mendiang Adipati Mandra Arthaprawirya tak pernah mau tunduk pada bangsa kompeni.
Meski kerap kali menerima ancaman, pantang baginya untuk menyerah. Ia merasa berhak sebab sudah seharusnya ialah yang berkuasa di tanah yang telah diberi nama asing ini.
 - -
Tujuh tahun setelah itu.
Raden Mas Arthaprawirya yang telah menginjak usia dewasa menerima gelar sebagai Adipati. Ia resmi menjadi kepala daerah pemimpin Pribumi Batavia.
Kemudian, ia menikah dengan seorang putri ningrat bernama Pramuanti.
Dan tak butuh waktu lama, mereka dikaruniai anak laki-laki. Dia adalah Panji Arthaprawirya.
Kehidupan Seorang Adipati Arthaprawirya begitu berlika liku . Di awali dengan tragedi yang memilukan yang menimpa keluarganya.
Dan kini, ia harus melanjutkan hidup dengan kepala tertunduk dan patuh pada perintah Kompeni.
Ia mungkin terlihat berwibawa dan sangat lugas dalam melakukannya pekerjaannya.
Baik itu dalam melayani rakyatnya ataupun ketika ia harus menjalankan tugas yang menjadi sebuah keharusan dari para penjajah.
Namun diam-diam , ia dan lara ningrat yang menaruh dendam pada para Kompeni - bekerja sama dan mulai menyusun suatu rencana .
Tekat Adipati Arthaprawirya bukan hanya untuk membalas kematian seluruh anggota keluarganya. Namun juga untuk membebaskan rakyat Pribumi dari tangan penjajah.
* * *
Kembali ke saat ini.
Dua pria yang memiliki perbedaan usia dan jalan hidup yang bertolak belakang - kini berdiri berhadapan karena terlibat dalam satu hal. Nyi Sukma.
'' Jadi apa tujuanmu sebenarnya ?
Apa yang sedang kau rencanakan dengan menyeggel jiwa Nyi Sukma kedalam tubuh Mayang ? '' tanya Dimas.
Sebab mereka tengah sama-sama mencari kebenaran dan ingin menuntaskan rasa penasaran .
Siapa dia dan apa tujuannya. Dua pertanyaan yang ada dibenak mereka .
'' Apa kau pernah mendengar. Jika selain tanah JawaDwipa ini, disisi lain sana ada pulau yang bernama Borneo ?'' Sang Adipati menjawab dengan balas bertanya.
'' ... ''
'' Kabarnya, bangsa asing pun telah sampai di sana dan juga berniat untuk menjajahnya.
Tapi sebelum mereka berhasil menguasainya, ada sebuah cerita yang sangat menarik.
Sama seperti yang terjadi di JawaDwipa .
Di sana pun terjadi penolakan dan perlawanan.
Mereka juga berperang demi mempertahankan tanah dari para pencuri Kompeni.
Diantara peperangan yang terjadi, ada satu peperangan yang berbeda.
Di suatu wilayah, para prajurit Kompeni bersenjata lengkap yang diturunkan pernah menghadapi sebuah pertempuran tanpa lawan ? ''
'' ... ? '' Dimas mengernyit. Tak mengerti sebab memang tak tau apa maksudnya dengan pertempuran tanpa lawan.
" Aku tau kau pasti bingung.
Sama. Saat pertama kali aku mendengarnya pun aku juga bingung ''
Sang Adipati berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Kemudian lanjut bercerita.
Dua puluh tahun lalu.
Saat itu, ia tengah memantau aktivitas di pelabuhan.
Lalu sebuah kapal menarik perhatiannya sebab berisi barang-barang unik yang belum pernah ia lihat sama sekali.
Kapal tersebut berasal dari Borneo .
Penasaran dan ingin tau lebih banyak mengenai barang dan juga kegunaannya, ia lantas berkenalan dan berakhir dengan menjamu si pemilik kapal .
Apak Utoh. Begitu nama pria yang berasal dan mengaku suku asli pulau sebrang sana.
Dalam perbincangan yang lebih dominasi oleh Apak Autoh, lelaki berusia sepuh itu memperkenalkan suku yang mendiami pulau tersebut.
Suku Dayak.
Mereka yang tinggal dan mendiami tanah Borneo bukanlah suku sembarangan.
Mereka memiliki kesaktian yang hingga kini masih menjadi misteri .
__ADS_1
Tak ada yang tau pasti seperti apa, ataupun sehebat apa ilmu yang dari suku-suku di sana.
Namun satu hal yang pasti.
Mereka sakti dalam hal mistis dan itulah yang menjadi penopang utama dalam pertahanan mereka.
Sama seperti yang terjadi di tanah JawaDwipa. Kedatangan Kompeni di tanah Borneo pun memiliki tujuan yang sama. Kompeni berniat menguasai dan menjajahnya.
Tentu saja suku yang mendiaminya menolak .
Dan perang pun tak terelakkan.
Beberapa kali suku tersebut terpaksa baku hantam tak seimbang demi membela tanah dan mengusir para bangsa asing .
Dan perlahan , belajar dari kekalahan yang selalu dari pihak mereka, hal tersebut membuat mereka sadar.
Jika tak bisa hanya mengandalkan kekuatan fisik dan senjata biasa untuk bisa memenangkan peperangan.
Sekalipun mereka memiliki fisik yang kuat dan senjata khas yang mumpuni.
Itu semua percuma . Karena yang mereka lawan bukanlah manusia. Melainkan senjata yang sama sekali tak bisa mereka ciptakan .
Tak ingin terus-menerus menghadapi perang yang tak akan pernah bisa mereka menangkan , mereka kemudian menggunakan cara yang sama seperti yang tak akan pernah bisa dilakukan oleh para Kompeni .
Sang Adipati menghentikan ceritanya.
'' ... '' melihat ekspresi Dimas, sepertinya pria ini sudah bisa mengerti inti dari cerita sang Adipati.
'' Benar. Mereka menggunakan cara yang tak biasa.
Dengan ilmu magis.
Untuk pertama kalinya dari sekian banyak pertempuran yang telah mereka lakukan.
Sebuah kemenangan mereka raih tanpa korban jiwa.
Menurut ceritanya.
Ilmu magis yang dimiliki dan digunakan suku Dayak pada peperangan, bisa membunuh lawannya tanpa menyentuh. Selain itu, mereka bisa memanipulasi penglihatan, dengan membuat sepuluh orang kelihatan seperti sepuluh ribu yang ada di medan pertempuran .
Dan cerita itu lah yang menjadi alasan kami untuk melakukan hal serupa "
" Kami ? Maksudmu kalian ? " Dimas menatap satu persatu orang yang ada didekatnya sekilas.
Sang Adipati tersenyum tipis sambil menggeleng perlahan.
" Apa kau pikir , aku melakukan semua ini ?
Tidak. Kau salah.
Kau pasti berpikir, jika wajah yang kau lihat di sini adalah kami.
Pikiranmu itu tak sepenuhnya salah.
Tapi yang ada di sini hanyalah sebagian dari kami "
Apalagi ini? Pikir Dimas kembali dibuat penasaran.
" Biar ku beritahu satu rahasia besar di Batavia.
Kami adalah para ningrat Pribumi yang memiliki kuasa dan tujuan yang sama.
Kami ingin memusnahkan para penjajah dengan menggunakan cara yang seperti dilakukan suku Dayak di Borneo.
Tapi, ternyata . Cara yang kami pilih memiliki resiko .
Ada harga mahal yang harus kami relakan dan tebus untuk menggunakannya.
Bersekutu dengan ilmu hitam telah membuat banyak dari kami kehilangan orang yang kami cintai.
Dan kami sadar ini tak benar dan tak bisa terus terusan berlangsung.
Jika tak musnah karena penjajah, maka keturunan kami mungkin akan musnah oleh Nyi Sukma "
" Jadi, kalian bersekutu dan mengunakan kekuatan Nyi Sukma rupanya.." Dimas tersenyum kecut.
" Benar.
Dan sekarang, tujuan utama kami bukan hanya para Kompeni.
Tapi bagaimana mengendalikan atau jika memungkinkan memusnahkan Nyi Sukma .
Dia sudah terlalu banyak mengambil tumbal para gadis ningrat "
Dimas menggeleng tak percaya.
Ternyata , ningrat yang bersekutu dengan Nyi Sukma - yang selama ini ia dan sang ibu cari bukanlah seorang.
Melainkan seluruh ningrat yang ada di Batavia ini.
" Aku harap. Jika kau memiliki tujuan yang sama, kau mau bekerja sama dengan kami " Sang Adipati mengulurkan tangan.
Ia tatap lekat Dimas. Sorot matanya syarat untuk meyakinkan, jika ia sangat berharap pria yang memiliki kekuatan tak biasa ini mau menerima tawarannya.
Namun sayang. Dimas menolak.
Ia menggeleng dan berbalik.
Kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa likenya ya
__ADS_1
Kritik dan sarannya juga
Trima Kasih 🤗