
🌺 hem... 🌺
* * *
Pelabuhan.
Saraswati berdiri di jembatan penghubung dengan kapal-kapal yang tengah bersender. Wanita yang menggerai rambut panjangnya itu menghadap ke arah kapal milik Agam.
Cukup lama ia berdiam diri disitu. Dibawah langit malam dengan pencahayaan yang temaram.Samar terlihat air matanya keluar dan mengalir di pipinya. Saraswati menunduk. Air matanya jatuh dan jatuh lagi. Ia lalu mengangkat satu tangannya sebatas perut, ia balik dan ia buka telapak tangannya . Air bening yang berasal dari pelupuk matanya jatuh dan tertampung di telapak yang penuh dengan noda darah.
Saraswati tertegun sesaat . Perasannya saat ini benar-benar berkecamuk. Hasrat untuk bisa segera bertemu dan membalaskan dendam pada Nyi sukma begitu menggebu-gebu. Karena hanya dengan begitu ia bisa mengakhiri kutukan ini.
Namun di sisi lain, ada rasa takut akan kehilangan. Pun dengan kemungkinan jika kutukan yang telah berratus-ratus tahun membelenggunya, putranya dan juga Agam tak hilang meski ia berhasil menyegel jiwa Nyi Sukma.
Jika demikian, maka apa yang harus ia lakukan ?
Saraswati menghela nafas. Teringat dengan semua hal yang telah ia lalui . Ia merasa kotor dan hina sebab sudah terlalu banyak melakukan hal yang tak pantas. Membunuh dan banyak lagi tindak kejahatan yang telah ia perbuat.
Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan sekali hentakan, ia lantas menegakkan kepalanya. Mematri lagi tatapan ke arah yang sama. Hingga ia putuskan untuk berbalik dan beranjak . Namun sempat menoleh lagi kebelakang hingga akhirnya ia pun pergi dari tempat tersebut.
* * *
Keesokan paginya.
Waktu masih terbilang sangat pagi. Matahari belum muncul, gelap pun masih mendominasi. Seorang pria tua terlihat berjalan di wilayah yang menjadi salah satu kawasan tempat tinggal para ningrat Batavia.
Obor-obor yang menyala dan terpasang di setiap gerbang rumah menjadi penerang jalannya.
Pria tua itu adalah kacung dari salah satu dari ningrat yang tinggal di lingkungan tersebut dan tengah memulai tugas hariannya. Sudah menjadi rutinitas hariannya. Setiap pagi, ia bertugas ke pasar untuk membeli kebutuhan majikannya. Dan ketika pulang nanti, ia akan menggunakan andong untuk membawa hasil belanjanya .
Si pria tersentak. Langkahnya terhenti tepat di depan kediaman Adipati Arthaprawirya. Aneh. Ia menatap heran .Wajah yang telah dipenuhi guratan keriput itu berlipat.
Suasana rumah Adipati tak terlihat seperti biasa. Sepi.
Padahal biasanya kediaman ningrat nomor satu di Batavia ini selalu terang dan dijaga ketat oleh para penjaga bertubuh besar. Tapi penjaga yang biasanya menjalankan tugas dengan bergiliran tak satupun yang terlihat.
Dengan alis yang hampir bertemu, ia memancing mata ,mengedarkan penglihatannya sambil berbelok arah. Ia beranikan diri mendekat.
' krutuk ' suara gerbang ia tekan dan ternyata tak dikunci. Kemudian, ia mendorongnya' Kreetttttt ' .
Seketika, jantungnya mulai berdegup tak beraturan.Ia sadar jika ini adalah hal yang tak seharusnya ia lakukan. Rasa was-was jika dipergoki menghampiri. Dan sudah pasti ia akan dituduh hendak melakukan suatu tindak kejahatan. Bisa saja ia dituduh mencuri sebab memasuki sebuah rumah tanpa ijin dan permisi .
Namun di dorong rasa heran dan penasaran, ia pun memberanikan diri untuk melanjutkan langkah dan masuk.
Gelap. Rumah termegah dilingkungan ini terlihat seperti tak berpenghuni. Tak ada tanda-tanda siapapun.
Rasa penasaran semakin memuncak. Ia pun menerus berjalan hingga sampai di teras dan berhenti.
Ia berdiri tepat di mulut pintu yang terbuka lebar. Samar-samar, bayang orang tergeletak di lantai membuat tubuhnya kaku seketika. Di tambah lagi aroma tak jelas menguar, begitu tajam menusuk penciumannya. Kembali ia mengangkat kaki .Ia berniat masuk untuk memastikan apa yang ada didalam sana.
__ADS_1
' Tuk ' kakinya menendang sesuatu yang terasa padat namun lunak.
Ia menunduk, matanya membelalak. Para penjaga yang biasanya berdiri tegap didepan gerbang rumah yang ia pijak saat ini, mereka semua terkulai dengan posisi telungkup tak bergerak.
'' AAAAAA '' teriakan diiringi laju kakinya yang berlari keluar.
Tak berselang lama, kegemparan pun memenuhi wilayah tersebut.
Tragedi tiga puluh tahun lalu terulang lagi. Jika yang terjadi dulu adalah sebuah pembantaian yang dilakukan oleh prajurit kompeni .Yang mana semua orang yang ada dikediaman ini dihabisi tanpa sisa . Darah menggenang dan bercak merah terciprat di mana-mana . Ditambah lagi bau anyir dan amis menambah pemandangan yang miris menyayat hati menjadi terlihat semakin mengerikan .
Hal hampir serupa pun kini terjadi di tempat yang sama. Semua penghuninya ditemukan tak bernyawa. Namun bedanya, tak ada yang mengetahui siapa yang melakukannya ataupun apa yang menyebabkan kematian yang dinilai tak wajar ini.
Tak ada sedikitpun darah yang terlihat dilantai, tanah atau di manapun.
Semua mayat dalam keadaan pucat pasi. Ada pun luka yang ditemukan di bagian tubuh yang terlihat. Namun tak ada sedikit bahkan setitik pun darah yang menetes.
Ada satu kesamaan dari kedua tragedi yang terjadi diwaktu, di tempat yang sama dan tak menyisakan satupun yang hidup ini. Yakni, ada yang beruntung dan selamat sebab tak berada di tempat saat kejadian berlangsung.
Takdir seolah telah menentukan. Jika dulu yang selamat adalah sang Adipati. Kini Panji yang merupakan keturunan satu-satunya yang selamat .
Tak butuh waktu lama, apa yang terjadi dan tengah menimpa keluarga Adipati telah diketahui oleh Kompeni. Termasuk juga telah sampai di telinga Kolonel Jhon Van Pierzoon.
Kolonel Jhon van Pierzoon memberitahukan kabar duka itu pada sang menantu . Panji nampak begitu shock. Ia sempat merasa linglung sebab tak bisa begitu saja percaya . Atau lebih tepatnya, ia menolak untuk percaya.
Butuh beberapa saat untuk ia menenangkan pikirannya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk melihat dan memastikan sendiri kebenarannya.
Sesampainya di tempat yang selama ini menjadi saksi tumbuh dan perjalanan hidupnya , kedua lututnya seketika menjadi lemas seperti tak bertulang , ketika pria - pria menggotong tandu yang diatasnya terlihat gundukan ditutupi kain hitam, keluar dari dalam rumah.
Baru saja kakinya menginjak teras, seorang pria kompeni menghampiri ,membuatnya tak bisa meneruskan langkah untuk masuk kedalam rumah. Ia adalah petinggi sekaligus kepala di pemerintahan Batavia. Ia datang untuk bertemu dan mengucapkan bela sungkawa secara langsung padanya. Selain itu, pria bertubuh sedikit tambun itu mengutarakan maksud sebenarnya.
Ia ingin semua mayat dibawa ke rumah sakit milik kompeni untuk dilakukan pemeriksaan. Termasuk juga mayat kedua orang tuanya. Tentu saja setelah Panji melihatnya terlebih dahulu. Ia berdalih akan melakukan penyelidikan untuk mencari tau penyebab dan siapa pelakunya.
Barulah setelah itu, semua mayat akan diserahkan kembali padanya .
Panji tak bisa menolak, sebab keputusan itu mutlak. Ia bahkan tak berhak untuk menyanggahnya.
Maka, setelah melihat jenasah kedua orang tuanya , dengan berat hati Panji menyaksikan kedua orang tuanya dibawa pergi.
'' Untuk sementara, sebaiknya kau dan Mina tinggal dirumahku '' ucap Kolonel Jhon van Pierzoon. Ia daratkan telapak tangannya di pundak Panji dengan memberi sedikit tekanan. Berharap dukungan yang ia salurankan dapat membuat sang menantu tabah dan kuat menghadapi ini.
Hari berlalu. Panji yang berada dirumah orang tua istrinya, selalu terlihat murung . Sedih sudah pasti tengah ia rasakan saat ini. Tapi ada hal lain yang membuatnya begitu kepikiran dan sulit tuk berpikir dengan normal.
Hingga kini , tak ada kabar kepastian tentang kematian dan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tua dan mereka semua yang menjadi korban. Tak satupun ada saksi yang melihat ataupun mendengar sesuatu yang mencurigakan dimalam itu.
Semua seolah menjadi misteri. Pun dengan pihak kompeni yang juga tak bisa menemukan petunjuk apa-apa.
Hari berlalu lagi. Pagi itu, utusan kompeni datang membawa jasad orang tuanya berserta mayat lainnya yang sudah dalam keadaan begitu memperihatinkan. Entah apa yang mereka lakukan hingga terdapat banyak sayatan dan jahitan di tubuh para mayat .
Tak sanggup melihat lebih lama keadaan jenasah yang telah mengeluarkan aroma busuk, maka saat itu juga , Panji dibantu oleh mertuanya bergegas mengadakan pemakaman.
__ADS_1
Aca tersebut dilakukan secara singkat .Namun tanpa mengurangi rasa hormat untuk mereka yang dikebumikan.
Setelah semua jenasah selesai di makamkan, Panji yang berdiri didepan dua gundukan tanah yang bersebelahan, tempat kedua orang tuanya dikubur , dihampiri empat orang lelaki bertubuh kekar.
Mereka adalah Raman dan ketiga anak buahnya. Orang kepercayaan sekaligus pelayan setia mendiang sang Adipati.
'' Saya Raman. Kami adalah anak buah mendiang Kanjeng Adipati. Kami kemari untuk menyampaikan wasiat beliau '' ujar Raman memperkenalkan diri. Ia menundukkan kepala, memberi hormat pada anak majikannya yang kini telah tiada.
Panji bergeming. Namun bukan berarti ia tak menghiraukan mereka.
'' Katakanlah apa yang ingin kau sampaikan '' ucapnya yang setelah itu hanya diam dan mendengarkan. Hingga Raman selesai dan pergi.
Panji menghela nafas dengan pandangan tak sedikit pun berpaling dari makam yang masih berupa tanah.
Meninggalnya sang ayah, maka misi pemberontak pun di batalkan. Bahkan orang-orang yang tadinya mendukung dan terlibat dalam rencana pemberontakan pun elah menarik diri. Mereka mundur sesuai dengan apa yang pernah di perintahkan mendiang Adipati.
'' Jika terjadi sesuatu denganku sebelum pemberontakan terjadi, maka rencana ini harus dibatalkan. Tidak boleh ada yang meneruskan , karena ini bukan tanggung jawab yang bisa diambil secara mendadak ''
Panji tak mengerti, padahal ia sudah mengetahui semuanya. Tapi kenapa sang ayah tak mau melimpahkan tanggung jawab itu padanya?
Hari kembali berlalu.
Panji yang masih dirundung kesedihan atas ke pergi ke dua orang tuanya yang mendadak, tanpa sadar telah mengabaikan keberadaan sang istri. Ia seolah lupa jika telah menikah dan memiliki seseorang yang diam-diam selalu ada dan memperhatikannya.
Namun Mina tak berdaya. Ia tak tau harus melakukan apa untuk menghibur suaminya. Maka Mina pun hanya bisa diam sambil terus menunggu suaminya mau berbalik dan menatapnya seperti kemarin.
'' Panji, aku tau ini terlalu mendadak bagimu. Aku sudah menerima surat perpindahan tugasku ke wilayah selatan .
Dan dalam waktu dekat , kami sekeluarga akan pindah. Termasuk juga Mina akan kubawa serta. Karena itu adalah bagian dari perjanjian ku dengan mendiang ayahmu.
Aku sudah melakukan apa yang mendiang ayahmu inginkan. Dan begitu pun dengan mendiang ayahmu. Dia sudah membantuku membalaskan dendam ku.
Jadi, sekarang. Sudah tak ada alasan untuk melanjutkan pernikahan kalian.
Kuharap kau bisa segera bangkit untuk menata kembali hidup dan masa depanmu.
Dan juga, kau boleh menganggap Mina tak pernah ada di hidupmu.
Hubungan kita pun cukup sampai disini ''
Panji terhenyak. Hatinya seperti terkoyak. Sakit. Belum habis meratapi kepergian orang tuanya, sekarang ia sudah harus dihadapkan dengan kenyataan yang tak kalah pahitnya.
Pernikahannya dan Mina akan segera berakhir.
Panji diam membisu. Ia baru sadar jika selama beberapa hari telah mengabaikan dan lupa pada perempuan yang mulai mengisi kekosongan hatinya .
Panji bersidekap. Dadanya bergemuruh marah. Ia tak bisa. Ia tak mau kehilangan seseorang lagi. Setelah Mayang, orang tuanya, dan kini Mina pun akan pergi .
Tidak. Panji mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia yakinkan diri jika ia tak bisa terlalu larut dalam kesedihan. Ia tak mau menuai penyesalan dengan membiarkan Mina pergi, meninggalkannya seorang diri.
__ADS_1