Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Kejam


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Dimas mengucapkan mantra sesuai yang Nyi Geno beritahukan. Mantra untuk melepaskan segel pelindung yang dipasang untuk menyembunyikan keberadaan Mayang.


Ketika kakinya melewati mulut antar ruangan ,Dimas terhenti sesaat. Suara isak tangis terdengar pilu menyayat hati. Dimas tertegun, mendapati sosok tanpa busana meringkuk di lantai.


Dimas melanjutkan langkah, lalu menekuk kedua lututnya di samping tubuh yang bergetar. Ia raih jarik yang teronggok tak jauh dari tempatnya berlutut. Ia rentangkan, untuk kemudian menjadi penutup tubuh Mayang .


Dengan perlahan Dimas mengangkat tubuh Mayang dan membawanya menuju tempat tidur. Tapi sebelum sampai, Mayang tersadar dan sontak terkejut.


'' Ma-mas.. '' Mayang gugup . Ia gelabakan mendapati diri dalam gendongan Dimas .Terlebih lagi ia dalam keadaan telanjang.


Dimas tersenyum lembut. Lalu dengan perlahan menurunkan tubuh Mayang ketika langkahnya berhenti ditepian tempat tidur.


Mayang yang baru saja mendarat di kasur, mendekap erat jarik yang hanya menempel sekena ditubuhnya. Mayang tertunduk. Ia terlalu malu dan masih shock untuk bertatapan dengan Dimas.


'' Berpakaianlah. Lalu setelah itu berkemaslah. Bawa saja beberapa helai pakaian ganti dan barang yang benar-benar kau perlukan saja. Aku akan menunggu mu di luar '' Dimas hendak beranjak keluar, namun tak jadi ketika Mayang menyebut namanya.


'' Ba-bagaimana mas bisa berada di sini ? ''


'' Simpan saja pertanyaan mu itu untuk nanti. Sekarang kau harus cepat. Karena kita harus segera pergi meninggalkan tempat ini '' Dimas mengambil langkah dan keluar.


Bergegas Mayang melakukan seperti yang Dimas di katakan .


Setelah berpakaian lengkap dan berkemas, Mayang keluar dengan memeluk gulungan kain berisi barang bawaannya.


'' Umph '' Mayang reflek menutup hidung dan mulutnya ketika bau menyengat menghampiri indra penciumannya. Aromanya begitu tajam dan menusuk. Perutnya serasa di kocok, kepala seperti di plintir . Membuat siapapun yang baru pertama kali menciumnya pasti akan merasakan hal yang sama. Mual ataupun langsung muntah. Itulah yang Mayang rasakan saat ini.


'' Berikan padaku '' pinta Dimas.


Mayang tersentak.


Ia menoleh pada lelaki yang sudah berdiri di hadapannya. Mayang mengangguk. Ia paham apa yang di maksud dan menyerahkan barang bawaannya pada Dimas.


'' Kita akan pergi berdua saja ? '' tanya Mayang saat Dimas meraih tangan dan menggenggamnya erat.


'' hem.. '' Dimas mengangguk.


'' Tap-tapi bagaimana dengan orang tuaku dan Nyi Geno ? '' Mayang memutar leher, mengarahkan pandangan ke dapur.


'' Mayang ''


Mayang mengembalikan posisi kepalanya, ia terkejut sebab Dimas begitu dekat hampir tak berjarak darinya.


'' Dengar kan ini baik-baik.


Mereka semua sudah tak ada .


Sekarang hanya ada kau dan aku saja yang tersisa ''


Mayang menatap lekat sepasang manik legam milik Dimas. Di sana terpancar kesungguhan. Menyiratkan jika Dimas serius dengan yang barusan ia katakan.


'' Nanti saja kita bicarakan lagi. Kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini '' Dimas menarik Mayang ,membawanya keluar melalui pintu depan.


Bukan tanpa alasan ia memilih jalan itu, sebab tak ingin pemandangan mengerikan yang ada di dapur dan terhampar di halaman belakang terlihat oleh Mayang .


* * *


Di saat yang bersamaan.


Alunan musik tabuhan gamelan masih terdengar. Para penari yang menjadi sumber hiburan juga terlihat masih piawai meliuk-liuk kan tubuh gemulai mereka dihadapan para tetamu kehormatan.


Meski malam sudah menanjak larut, namun susana meriah masih begitu terasa dikediaman Ningrat nomor satu di Batavia ini.


Hari ini adalah hari besar bagi keluarga Adipati Arthaprawirya. Anak semata mayang sekaligus satu-satunya penerus keturunan , baru saja selesai melaksanakan serangkaian prosesi pernikahan dan kini tengah melangsungkan pestanya.


Panji Arthaprawirya sekarang telah resmi menjadi seorang suami dari Wilhelmina Van Peirezoon. Atau yang sering dipanggil Mina, gadis blasteran keturunan ningrat-kompeni. Putri seorang berkebangsaan Belanda berpangkat Kolonel.


Karena sudah menyandang istri dari anak tunggal sang Adipati, maka Mina pun berganti nama menjadi Wilhelmina Arthaprawirya.


Malam kini telah larut. Berangsur-angsur tamu pamit dan pergi meninggalkan kediaman tersebut.


Hingga akhirnya pesta pun di sudahi.


Gerbang ditutup setelah kereta terakhir pergi.

__ADS_1


Semua orang yang terlibat dalam acara besar ini nampak lelah. Keinginan untuk segera beristirahat terpancar di guratan wajah mereka.


Namun hal tersebut tak berlaku bagi para kacung dan penjaga .


Lelah dan kantuk harus mereka tahan sebab ada pekerjaan yang tak bisa ditunda .Seperti para penjaga yang tetap melaksanakan tugas menjaga keamanan rumah seperti biasa.


Pun memang sudah menjadi tugas dan kewajiban mereka. Ketika ada perayaan tertentu seperti acara besar seperti ini, mereka dituntut untuk bekerja ekstra. Sesuai dengan tambahan upah dari majikan yang nanti mereka terima.


Jadi tak apa, meski pun harus tidur dengan saling bergantian. Para kacung harus bisa menerima jika beginilah takdir kehidupan mereka.


Suasana mulai sepi.


Para kacung yang masih bekerja hanya terlihat beberapa orang saja. Sementara yang lainnya sudah terlelap . Namun bukan di kamar mereka seperti biasanya.


Malam ini hingga dua malam berikutnya, mereka akan tidur di ruangan yang menjadi tempat acara pernikahan berlangsung.


Sebab acara penerima tamu alias pesta pernikahan akan berlanjut selama tiga hari tiga malam .


Yang itu berarti, mereka harus siaga, menyiapkan tenaga dan harus menyingkirkan lelah.


Padahal kesibukan mereka sudah terjadi sejak jauh hari .Dan puncaknya dimulai ketika pagi buta tadi. Berbagai prosesi acara berlangsung dengan lancar tanpa hambatan. Mereka terus bekerja tanpa henti, memastikan tak ada satu hal pun yang kurang saat berjalannya acara .


Beginilah nasib menjadi rakyat jelata . Teruntuk para kacung. Di saat para majikan tengah bergembira ria, bersorak karena acara yang berjalan lancar, dibalik itu semua ada deretan kacung yang menghela nafas berat dan menghapus keringat lelah mereka.


- -


Di kamar pengantin.


Mina baru saja selesai mandi. Ia secara khusus dibantu empat orang pelayan perempuan - membersihkan tubuh dan mempersiapkan diri menyambut malam pertamanya.


' Klak ' suara pintu terdorong dan terbuka.


Panji muncul dari baliknya dan melangkah santai memasuki kamar.


Melihat itu, para pelayan yang telah selesai dengan tugas membantu Mina mengenakan pakaian malam nya pun segera pamit undur diri.


Mayang menatap Panji yang tengah memperhatikannya. Pria itu berhenti tepat didepan ranjang .


Tak seperti kebanyakan lelaki yang selama ini menatapnya dengan mata ******. Biasanya , ketika melihat Mina yang berwajah jelita nan khas dengan bentuk tubuh yang menggoda - para kaum adam tak bisa memalingkan pandangannya. Mata dan pikiran mereka seketika pasti menjadi liar tak terkendali.


Tak jarang mereka menatapnya sambil menyeringai .Bahkan ada yang secara terang-terangan berprilaku mesum - seolah ingin melecehkannya saat itu juga.


Entah apa yang ada dipikiran Panji .Suaminya itu berdiri dengan menyilangkan tangannya sejajar dada.


Tak seperti layaknya seorang suami terhadap istrinya.


Normalnya , seorang lelaki akan tergugah nafsu birahinya ketika dihadapkan dengan pemandangan yang begitu menggairahkan.


Mina tertunduk sesaat. Memperhatikan tampilannya dan menilainya. Apakah ada yang salah ? Ataukah ada yang kurang ?


Ia tadi mandi dengan rendaman air kembang tujuh rupa. Yang diyakini telah melenyapkan keringat yang menempel ditubuhnya dan berganti menjadi harum.


Bahkan ia saja bisa mencium aroma kembangnya.


Pun dengan pakaian malam yang menempel ditubuhnya. Para pelayan tadi mengatakan, jika ini adalah kain khusus dari kedai milik Pramuanti.


Yang dipilih dan di bawa ke tukang jahit atas permintaan khusus oleh ibu mertuanya.


Dan hasilnya kini telah ia kenakan.


Jarik yang berbahan sangat halus , hingga saat menyentuh kulit terasa begitu lembut. Berwarna cream bercorak emas , seolah menyatu dengan warna kulitnya yang pucat ketika kain tersebut dililitkan dan membalut tubuh sintalnya.


Mina terlihat begitu memesona .Tampilannya pun disempurnakan dengan tataan rambut yang biarkan tergerai .


Mina menegakkan kepala seraya menghela nafas. Ia merasa tak ada yang salah dengan tampilannya. Yang salah ada pada diri suaminya.


Lihat saja cara dia berdiri dan menatapnya.


Mina yang tadinya sempat gugup kini tersenyum sinis.


Panji masih bergeming. Matanya berkedip normal dan nafasnya pun masih biasa ia atur dengan baik. Tak sedikitpun ia terlihat gugup ataupun merasa berdebar.


Bodohnya aku. Memangnya apa yang bisa kuharapkan darinya? Kalaupun dia meniduri ku itu sudah pasti karena terpaksa.


Mina memutar arah duduknya membelakangi Panji dan berhadapan dengan cermin.


Sia-sia saja ia bersiap. Melakukan banyak perawatan hingga berpenampilan seperti ini.

__ADS_1


Padahal tujuan semua itu dilakukan adalah agar malam pengantin bisa terlaksana dan terjadi seperti yang diharapkan.


Namun nyatanya, walau sudah berstatus sebagai istrinya, Panji tetap saja bersikap acuh dan dingin. Bahkan di malam pengantin mereka.


" Berdiri dan berbaliklah "


Mina tersentak.


Kepalanya yang sedari tadi sibuk berpikir tiba-tiba saja menjadi kosong seketika. Ia merasa ada yang salah, ketika tubuhnya menurut dan melakukan seperti yang Panji perintahkan. Ia berdiri dan berbalik. Aneh, bukan ? Apa Panji menggunakan sesuatu untuk mengendalikannya ? Entahlah ? Ia sendiri pun tak mengerti.


Mina kini telah berdiri, kembali saling tatap dengan sang suami. Mina kembali dirundung gugup. Berkali-kali ia terlihat kesulitan menenggak ludahnya sebab cemas yang mulai menghampiri.


" Kau tau apa alasan dan tujuan kita menikah bukan ? " tanya Panji masih dengan tanpa ekspresi.


Mina mengangguk. Setelah itu ia coba mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ucapan Panji barusan membuatnya merasa sesak.


Tak perlu diingatkan pun ia tau jika pernikahan ini terjadi tanpa cinta. Mereka hanya melakukannya untuk kepentingan keluarga. Tapi kenapa sekarang hatinya berdenyut nyeri mendengar Panji mengatakan seolah mengingatkan agar ia tak lupa?


Apa Panji bermaksud untuk mengatakan agar ia tau diri, begitu ?


Mina heran dengan dirinya sendiri. Belakangan perasannya mulai tak karuan .Ia seperti hilang kendali. Mungkin karena ia mulai menginginkan hal lain terjadi. Berharap akan ada cinta dan perhatian setelah menikah.


Tapi sepertinya ia harus segera sadar dan mengubur dalam-dalam angannya itu. Karena mungkin hal tersebut tak akan pernah terjadi.


" Kita akan melakukannya sekarang. Semakin cepat semakin baik.


Dan ku harap kau bisa segera hamil.


Dengan begitu aku bisa segera bertemu Mayang dan bersamanya lagi "


Mina kembali menatap Panji. Kali ini yang ia rasakan bukan hanya nyeri. Tapi sakit seperti ditusuk secara perlahan dan terus ditekan ke dalam.


Mayang. Sudah ia duga gadis itu yang menjadi alasan Panji bersikap demikian.


Sungguh tak bisa dipercaya. Mina merutuki diri. Ingin rasanya ia membenci gadis itu, namun ia tak punya alasan. Karena ia tau gadis itu tak salah .


Tanpa sadar air matanya mengalir. Kedua tangannya meremas kuat jarik yang ada di jangkauannya.


'' Buka pakaianmu dan naiklah ke tempat tidur '' lagi-lagi perintah yang Panji berikan untuknya.


" Baiklah. Kita lakukan seperti yang kau mau.


Setelah ini, akan kupastikan kau tak akan pernah mau menyentuhku lagi "


Mina menarik lilitan jariknya. Begitupun dengan Panji yang melepas satu persatu kain penutup tubuhnya.


Dalam keadaan polos, Mina berjalan ke arah ranjang dan naik ke atasnya.


' Whus ' Panji meniup lampu yang sentir yang ada di sisi ranjang. Susana pun berubah temaram.


Panji lantas menyusul naik ke atas ranjang dan langsung mengambil posisi.


Sesaat ia pandangi tubuh istrinya dari ujung ke ujung tanpa ada yang terlewati. Ia akui, Mina nyaris sempurna.Hal yang jarang di milik dan banyak diidam-idamkan banyak perempuan .


Haruskah ia bersyukur memiliki istrinya sepertinya dan menikmati malam pertama mereka seperti seharusnya ?


Panji menggeleng dalam hati. Sepertinya ia tak bisa. Karena hati dan isi kepalanya di penuhi Mayang . Ia masih begitu menginginkannya.


" Aku tidak akan memperlakukanmu dengan lembut. Aku juga tak akan janji jika ini tak akan menyakitimu.


Jadi, kau tahan lah sampai selesai "


Kejam. Panji sungguh tak berperasaan.


Mina bergeming dengan air mengalir saat Panji melakukan penyatuan.


Tak ada rayuan, tak ada belaian, tak ada kelembutan menenangkan dan sentuhan yang memabukkan.


Apalagi *******. Mulut keduanya seolah terkunci begitu rapat.


Yang terdengar hanya suara samar decittan tempat tidur yang bergoyang .


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa likenya, ya

__ADS_1


Kritik dan sarannya juga


Terima kasih 🤗


__ADS_2