
🌺 hem.... 🌺
* * *
'' Ada hal yang ingin ku bicara denganmu Panji. Ikuti aku ke ruang kerjaku '' Ucap ayah mertuanya bernada perintah.
Kolonel Jhon van Pierzoon mengambil langkah, melewati Panji dan keluar dari ruang keluarga.
Panji menurut. Ia berbalik dan langsung berjalan mengekor dibelakang.
Diruang kerja.
Dua lelaki yang memiliki tinggi hampir sama berdiri berhadapan.
Panji nampak tenang dengan ekspresinya yang datar . Berbeda dengan ayah mertuanya yang berkali-kali mengambil nafas panjang, ia nampak cemas. Hingga akhirnya lelaki berkumis pirang itu memulai pembicaraan.
'' Bukankah sudah ku katakan padamu , bahwa pernikahanmu dan putriku akan segera berakhir.
Lalu apa maksudmu membawanya melihat rumah yang akan kau tinggali bersama istrimu ?
Apa kau sengaja ingin menyakiti hatinya ? '' Nada bicara dan sorot matanya menunjukan ketidak sukaan.
Jadi ayah mertuanya ini berpikir ia berniat menyakiti hati Mina ? Panji manggut-manggut. Ia maklumi sikap sang mertua karena memang wajar jika orang tua mengkhawatirkan anaknya.
Panji mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, bersiap untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan ayah mertuanya.
'' Anda salah paham. Aku sama sekali tak bermaksud seperti itu ''
' Huh ' ayah mertuanya menyetak nafas kasar sambil membuang muka.
'' Jujur, sebenarnya aku sudah pernah menyakitinya .
Itu terjadi di awal pernikahan kami. Setelah aku dan Mina melewati malam pertama kami sebagai suami istri.
Dan kurasa kau tau apa penyebabnya? ''
Wajah sang Kolonel nampak terkejut. Sejak awal menerima kesepakatan dengan mendiang besannya, ia memang sudah menduga jika kenyataan bahwa putrinya sudah tak lagi perawan, pasti akan membuat kecewa sang suami dan tak menutup kemungkinan akan menyebabkan masalah .Maka jauh sebelum itu terjadi , ia sudah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan bahkan yang terburuk sekalipun.
Saat pernikahan Panji dan Mina berlangsung hingga selesai, tak sedikitpun ia mengalihkan perhatiannya dari Mina . Ia bahkan dengan sabar menunggu dengan perasaan tak menentu . Hal yang sama sekali tak pernah ia lakukan untuk siapapun.
Hingga kemudian ia bisa bernafas lega, karena apa yang ia khawatirkan tak terjadi.
Mina terlihat baik-baik saja . Pernikahan sang putri nampak normal dan berjalan seperti pada umumnya .
Maka ia berkesimpulan mendiang Adipati telah menepati apa yang di janjikan.
Saat itu, ia sungguh bersyukur karena telah mempercayai dan menyerah Mina pada mendiang Adipati untuk dijadikan menantu. Dengan harapan, status anaknya terangkat dan masa depan Mina terjamin.
Tapi apa yang ia dengar sekarang benar-benar mengejutkan. Pernikahan anaknya ternyata tak seperti yang kelihatannya. Panji bahkan mengakui telah menyakiti anaknya . Panji melakukannya pasti karena merasa telah di bodohi dan kecewa .
Ia bisa memakluminya. Sebab ia tau jika dalam tradisi pernikahan bangsawan Pribumi, ketika seorang perempuan diketahui tak lagi perawan sebelum pernikahannya, maka perempuan tersebut akan dianggap telah menghina sang suami berserta keluarganya.
'' Aku akui, aku memang sempat kecewa pada Mina. Pada mendiang ayahku .. Dan juga pada padamu.
Tapi setelah aku mengetahui semuanya.. Jujur aku sangat menyesal telah melontarkan kata-kata tak pantas dan melukainya.. ''
__ADS_1
Kolonel Jhon Van Pierzoon berbalik, membelakangi lelaki yang masih berstatus menantunya.
Netranya kini menatap ke dinding ruangan. Ia mencoba menahan gemuruh hatinya yang terasa seperti di tusuk-tusuk. Tak bisa ia bayangkan seperti apa perasaan anaknya yang harus berhadapan dengan lelaki yang telah mengetahui semua masa kelamnya.
'' Mungkin sekarang aku tak bisa bilang aku mencintainya. Tapi satu hal yang bisa kupastikan.
Aku menyukainya dan dengan tulus menerima Mina sebagai istriku.
Jadi, kumohon dengan sangat. Jangan bawa dia pergi.. Biarkan dia tetap tinggal disini bersamaku '' Suara Panji terdengar memelas di ujung kalimatnya.
Kolonel Jhon Van Pierzoon menunduk sambil memejamkan matanya kuat-kuat. Ia menggeleng samar. Lalu berbalik. Wajahnya yang biasanya memancarkan ketegasan, kini terlihat sayu seperti bunga lama tak disiram.
'' Aku tak bisa.. Aku tak bisa membiarkan putriku hidup bersama seseorang yang hanya sebatas menyukainya saja.. '' Ucapnya sambil menahan sesak di dada .
Mina bukan hanya putri yang sangat cinta dan ia sayangi saja. Tapi juga sangat-sangat ingin ia jaga hati dan perasaannya.
Mina pernah mengalami luka luar dan dalam yang luar biasa menyakitkan. Dan ia tak mau lagi tercipta luka lain dalam diri anaknya.
'' Aku mengerti. Ucapanku memang pantas untuk diragukan. Dan sekarang aku memang belum bisa membuktikan kesungguhanku.
Tapi aku berjanji akan berusaha semampu ku untuk menjaga dan belajar mencintainya.
Jadi, tolong beri aku kesempatan untuk tetap bisa bersamanya '' Panji kembali memelas.
Sungguh , Kolonel Jhon van Pierzoon tak tega melihat sorot mata menantunya ini. Pertahanannya mulai goyah. Ia nelangsa.
'' Apa kau yakin ? Apakah kau akan dan bisa menerima Mina apa adanya ? ''
Panji mengernyit , menatap ayah mertuanya yang menyentak nafas.
Terlihat dadanya yang naik dan tertahan sesaat,lalu turun dengan perlahan. Ia merasa berat tuk bernafas.
Ia kembali berbalik . Rasanya ia benar-benar tak sampai hati mengungkap hal yang pasti akan membuat luka baru jika Mina sampai mengetahuinya.
Dan sepertinya ia masih tak bisa berbagi ataupun memberitahukan hal yang selama ini ia simpan sendiri .
'' Tidak. Aku tidak bisa.
Seperti yang telah aku dan mendiang ayahmu sepakati. Begitu semua perjanjian terpenuhi, maka pernikahan kalian akan berakhir .
Mina akan tetap ikut bersamaku pergi dari Batavia '' Tegas sang kolonel.
'' Tidak ! Aku juga aku tidak bisa dan tak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena bagaimana pun Mina itu istriku ! Aku yang lebih berhak atas dirinya '' Ucap Panji tak kalah tegasnya. Nada suaranya pun menanjak .
Meski ia mulai dikuasai emosi, namun ia coba 'tuk menahannya. Karena bagaimana pun yang ia hadapi saat ini adalah ayah dari wanita yang tengah ia perjuangkan .
'' Tidakkah kau pikir ini sudah keterlaluan ?
Kau dan mendiang ayahku sudah memaksa kami menikah . Tapi kenapa sekarang kami dipaksa lagi untuk berpisah ? ''
''... '' Pria yang mengenakan baju putih berlengan panjang dan dipadu celana hitam, busana rumah khas bangsanya itu terdiam cukup lama. Hingga akhirnya ia kembali berbalik dengan mimik wajah yang sulit diartikan.
Ia tatap lekat-lekat Panji. Seolah mencari sesuatu dari lelaki yang kekeh dan menolak perkataannya untuk berpisah dari putrinya.
Panji membalas tatapannya . Soroti matanya memancarkan kesungguhan, bermaksud meyakinkan ayah mertuanya agar luluh dan mau percaya padanya.
__ADS_1
'' Sekali lagi ku mohon. Percayalah padaku.
Aku bisa dan aku akan menerima apapun keadaan Mina '' ucap Panji yang membuat ayah istrinya itu terperangah tak percaya.
'' Ka-kau.. '' Ucapnya terbata dan tak selesai sebab Panji dengan cepat memotongnya.
'' Benar. Sama seperti kau yang tau banyak tentang mendiang ayahku.
Mendiang ayahku pun tau banyak hal tentangmu. Termasuk hal yang kau minta pada tabib itu untuk di rahasiakan ''
Kali ini, Kolonel Jhon Van Pierzoon benar-benar kehabisan kata-kata.
Ia berpaling, netranya bergerak-gerak ke sembarang arah.
Seketika kejadian ' itu ' muncul dan berputar di kepalanya. Ia seperti dipaksa mengingat saat itu. Saat yang tak pernah ingin ia ingat apalagi ia kenang.
Untuk mengobati Mina yang terluka setelah diperkosa secara bringas oleh tiga remaja kompeni, ia memang sengaja tak mengunakan jasa dokter dan memutuskan untuk memanggil tabib orang Pribumi. Hal tersebut ia lakukan untuk menutupi apa yang tengah menimpa Mina. Ia tak ingin siapapun mengetahuinya.
Maka dengan berat hati, ia terpaksa mempercayakan tabib yang telah berusia sepuh untuk merawat Mina .
Ia yang saat itu dirundung kekhawatiran yang berlebihan, lantas meminta satu hal khusus yang ia ingin si tabib lakukan.
Bagaimana pun caranya, ia tak mau dan jangan sampai Mina hamil . Cukup sudah penderitaan anaknya, dan jangan sampai luka Mina bertambah lagi .
Karena siapapun, ia rasa tak mungkin bisa atau semudah itu mau menerima anak dari hasil pemerkosaan .
Sebelum si tabib melakukan apa yang ia perintahkan, lebih dulu si tabib memberitahu apa yang akan ia lakukan untuk mencegah hal tersebut terjadi.
Si tabib menuturkan metode yang akan ia gunakan. Si tabib pula mengingatkan. Jika cara ini adalah yang paling efektif namun mungkin akan memberi efek bagi tubuh Mina. Selain rasa sakit yang luar biasa, Mina mungkin akan kesulitan untuk bisa mengandung. Bahkan jika sekalipun ia hamil, maka akan sangat rentan keguguran.
Sang Kolonel yang merasa tak punya pilihan lantas menyanggupi. Baginya saat itu, pemulihan Mina dan jangan sampai anaknya itu mengandung benih dari manusia berhati binatang adalah yang utama.
Dan seharusnya rahasianya itu hanya ia saja yang tau. Sebab si tabib telah meninggal dunia.
Namun nyatanya tidak. Entah bagaimana mendiang ayah Panji mengetahui hal tersebut dan telah memberitahukannya pada Panji.
Kolonel Jhon Van Pierzoon mengepalkan tangan , mengangkat, meletakan, dan menekannya di dada.
Ia takut Panji akan memberitahu Mina .
Entah akan seperti apa perasaan Mina nantinya.Jika tau ayahnya telah melakukan sesuatu hingga berakibat sesuatu yang fatal baginya. Karena secara tak langsung, tindakan sang ayah telah membuatnya kehilangan hal yang begitu penting bagi seorang perempuan.
Meskipun itu dilakukan demi kebaikannya, tapi tetap saja Mina pasti akan sangat terkejut dan mungkin saja tak terima. Yang pada akhirnya hanya akan membuat Mina terluka dan kembali menderita.
'' Maafkan Aku Panji. Tapi aku tetap tak bisa membiarkan Mina tetap disini bersamamu ''
Malam itu perdebatan terus berlanjut dan memakan waktu cukup lama. Dan tak seorang pun tau apa yang sebenarnya mereka bicarakan atau apa yang tengah di bahas oleh si menantu dan ayah mertuanya hingga larut malam.
Hari berlalu.
Suasana dirumah tak seperti biasanya. Sejak pagi buta, kesibukan telah terjadi pada seisi rumah megah yang telah di diami selama puluh tahun.
Setelah mempersiapkan segala keperluan dan segala sesuatu yang dibutuhkan , hari ini Kolonel Jhon Van Pierzoon berserta anak dan istrinya akan berangkat meninggalkan Batavia.
Barang-barang pribadi yang telah di kemas , lebih dulu dibawa oleh kendaraan pengangkut menuju pelabuhan. Di sana telah menunggu kapal yang akan membawa sang Kolonel dan keluarganya berlayar ke tempat tinggal yang baru.
__ADS_1