Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Memilih diam dan mendengarkan


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Hujan semakin deras . Angin juga berhembus semakin kencang .Seorang dari tiga awak kapal keluar menghampiri mereka.


Ia menggoyang tubuh tuannya, sambil mengatakan jika sepertinya cuaca akan terus atau bahkan akan semakin memburuk.


'' Ndro, sebaiknya Ndro segera masuk .Jika ndroro tetap disini, Ndroro nanti bisa sakit '' si awak kapal terlihat menggigil sebab hawa dingin yang menerjang. Tubuh dan bibir bergetar menahan amukan cuaca yang semakin ekstrim.


Dimas pun tak tinggal diam. Ia memegang lengan Arisudoro hingga tubuh pria itu sedikit berputar .Ia berusaha menyadarkan pria yang masih tak memalingkan pandangannya.


'' Kau lihat itu '' menunjuk sesuatu yang mulai terlihat meski sulit sebab terhalang miliaran air hujan yang beradu dengan angin kencang.


Dimas melihat kemana arah telunjuk Arisundoro mengarah. Memang jaraknya masih lumayan jauh . Namun samar memperlihatkan sesuatu diujung sana.


Arisundoro berbalik. Sesaat ia melirik Mayang berada dibalik tubuh Dimas. Gadis itu menggigil .


Pria paruh baya itupun mengambil langkah masuk dan disusul dengan mereka semua.


Gegas kedua awak kapal yang memang sudah menunggu, menghidupkan perapian. Salah satu menaikan teko berisi air dan bersiap membuat minuman hangat.


Arisundoro terlihat masuk ke sebuah ruangan, bilik tidurnya. Tak berselang lama ia keluar dengan pakaian yang berbeda serta membawa dua buah kain yang kemudian ia berikan pada Mayang dan Dimas.


'' Cuaca selalu seperti ini ketika ada yang mendekati pulau itu '' ucapnya datar. Tak terlihat tanda-tanda kedinginan.


Berbeda dengan awak kapal yang tadi juga berada di luar dan ikut merasakan diguyur hujan disertai angin kencang . Tubuhnya masih gemetaran sebab dingin yang terasa menusuk hingga ke sum-sum tulang.


Dimas dan Mayang saling menatap lalu sama-sama berpaling pada lelaki yang kembali menatap keluar melalui kaca jendela yang transparan.


'' Kalian bersiaplah. Menjelang tengah hari kita akan sampai di pesisir. Tapi kalian harus menunggu dan tetap disini sampai badai berhenti ''


'' ... ''


'' Ada satu hal yang perlu ku beritahu sebelum kalian melanjutkan perjalanan .


Entah kalian sudah pernah mendengarnya atau tidak.


Desa Arkha bukan desa biasa . Tempat itu bukan seperti tempat tinggal pada umumnya.


Tak ada yang satupun datang ke sana atas kemauan sendiri.


Biasanya , mereka yang diantar ke desa Arkha adalah orang-orang yang dibuang oleh kompeni karena telah melakukan tindak kejahatan berat .


Menurut Nyi Geno dan Nyi Kiranti , di sanalah harapan satu-satunya untuk menemukan cara menyelamatkan Mayang dan menyegel jiwa yang bersemayam di tubuhnya.


Entahla. Aku tak tau pasti tentang desa Arkha. Karena hanya itu yang Nyi Geno dan Nyi Kiranti katakan padaku ''


* * *


Di tempat lain.


Sudah tiga hari berlalu ,sejak Mina dan Panji menjadi sepasang suami-istri. Pesta pernikahan yang digelar selama tiga hari tiga malam pun telah berakhir.


Lelah. Para pekerja ingin mengeluh. Namun tak bisa sebab segudang pekerjaan yang telah menunggu. Mereka harus mengemasi dan membersihkan kediaman sang majikan .


Kerja ekstra lagi. Mereka memupuk sabar dan menguatkan tubuh yang sebenarnya sudah diambang batas kesanggupan.

__ADS_1


Beruntung selama pesta berlangsung mereka bisa turut menikmati aneka hidangan enak dan diperkenankan untuk menonton hiburan meski dari jarak jauh.


Pun selepas hari ini, mereka dijanjikan akan di beri bonus dan juga libur selama tiga hari secara bergiliran.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Panji. Namun bukan hanya lelah fisik yang ia rasakan. Hati dan pikirannya lebih menjerit tak tertahankan.


Pemuda tampan yang telah menjadi pria seutuhnya itu terlihat berkali-kali menyentak nafas setiap kali melihat istrinya.


Wanita yang telah membohongi dan melukai harga dirinya.


Seperti saat ini, ketika para pelayan keluar usai membantu Mina membersihkan diri dan berganti pakaian.


Mina yang tengah duduk di tepi jendela sempat menatapnya sesaat. Lalu berpaling pada apa yang ada di luar jendela. Tatapannya sendu. Seperti suasana hatinya yang tak menentu. Ia sedang berpikir akan seperti apa nasibnya kelak.


'' Besok aku akan menemui ayahmu. Aku harus tau dan akan ku tanyakan aibmu itu pada ayah dan keluargamu '' tegas Panji seraya membuka pakaian yang sudah seharian menempel ditubuhnya.


Mina bergeming. Terserah. Pikirnya. Sebab tau pun Panji nanti, itu tak akan merubah apapun dalam hidupnya. Mina tak perduli.


Setengah telanjang, Panji berjalan masuk ke bilik mandi untuk membersihkan diri . Berharap guyuran air akan membantu menyegarkan dan meredam sesal di pikirannya .


Setelah malam pertama mereka, suami istri yang berada di satu ruangan dan tidur di satu tempat yang sama , tak lagi saling menyentuh. Bicara seperlunya dan menatap pun hanya sesaat. Entah pernikahan macam apa yang sedang mereka jalani ini.


Malam menjelang. Mina dan Panji telah merebahkan tubuh dengan saling memunggungi. Diam mendominasi, hingga malam semakin larut dan tanpa sadar Mina pun terlelap . Namun tidak dengan Panji.


Ia berbalik, menerentangkan tubuhnya dan melihat ke samping. Disaat bersamaan, Mina pun berbalik. Panji terkesima pada wajah cantik istrinya hingga tanpa sadar menatapnya lama.


Tatapannya perlahan turun ke leher dan tulang selangka yang terbuka.


Mina tidur hanya berbalut kemban sutra berbahan halus. Panji tak bisa memalingkan pandangannya dan nampak begitu menikmati kulit mulus nan putih yang menguarkan aroma kembang . Ia akui, tubuh dan paras Mina sungguh sedap dipandang mata dan begitu menggoda.


Panji semakin tak karuan dibuatnya.Ia hempaskan nafasnya dengan kasar . Dalam hati ia merutuki diri dan berusaha menolak hasrat untuk menyentuh dan merasakan nikmat kemarin lagi.


Panji mendudukkan diri dengan tetap menatap Mina. Ia berusaha menyadarkan diri. Bayangan tubuh polos dan nikmat ketika menggauli istrinya dua malam lalu kini memenuhi isi kepalanya.


Ia pejamkan matanya kuat-kuat. Mencoba menggalang nafsu agar tak mengambil alih tubuh dan akalnya.


" Ingat Panji.. Mungkin saja sudah banyak yang menjamahnya. Cukup sekali ia mencoreng harga dirimu . Jangan lagi "


Panji yang gusar memutuskan keluar dari kamar . Padahal malam sudah begitu larut, namun keadaan rumah masih dipenuhi kesibukan para pekerja .


Panji meneruskan langkah dan berhenti di halaman samping. Nampak selulit tubuh yang begitu ia hapal tengah duduk di saung.


Panji memutar langkah dan menghampiri ayahnya. Diterangi cahaya rembulan dan bertemankan minuman keras khas Pribumi, nampaknya sang ayah tengah menyendiri.


Tatapan pria empat puluhan itu mengarah ke tembok kokoh yang mengitari wilayah tempat tinggalnya. Ia seperti tengah hanyut dalam pikirannya yang entah sedang memikirkan apa hingga tak menyadari kehadiran Panji.


" Romo " sapa Panji


" Eng ? " tersentak dan reflek memutar leher. Lamunannya pun seketika buyar.


Panji naik dan duduk berhadapan dengan sang ayah.


" Ini sudah larut, kenapa kau belum tidur ? " tanya Adipati Arthaprawirya memandangi wajah putra tampannya.


" Romo sendiri juga kenapa belum tidur ? Dan sedang apa Romo sendirian disini ? " Panji menjawab dengan balas bertanya.


Adipati Arthaprawirya tersenyum tipis. Senyum yang sangat jarang ia perlihatkan pada siapapun .

__ADS_1


" Romo... " Panji menarik nafas.Bersiap untuk mengutarakan apa yang saat ini begitu menganggu pikirannya. Ia sebenarnya ragu. Terbesit rasa malu untuk menceritakan tentang masalahnya.Namun ia tak punya pilihan.


Pun ini berhubungan dengan sang ayah juga. Sebab ayahnya lah mendesaknya untuk menikahi Mina hingga ia terjebak di situasi seperti ini.


" Ada apa, Panji ? '' sang Adipati mematri tatapannya pada sepasang manik yang tak berhenti bergerak.


Panji memang tengah bimbang untuk memulai dari mana.


'' Apa ini tentang Mayang ? ''


'' Bukan, Romo '' Panji menjawab cepat. Karena penasaran dan kesal pada Mina,ia bahkan tak terpikirkan Mayang sedikitpun.


'' Lalu ? ''


'' Ini tentang istriku, Romo.. Mina.. Dia- em.. Mina.. ''


' Puk. puk. puk ' tepukan dipaha yang membuat Panji mengerutkan kening.


Sang ayah tersenyum. Kali ini lebih lebar dari yang tadi.


'' Romo.. ''


Adipati Arthaprawirya mengangguk-anggukan kepala.


Panji terperangah. Tak percaya dengan apa yang di pikirannya.


'' Romo.. Mina.. Di-dia telah membawa aib kedalam keluarga kita . Di- dia ''


'' Aku sudah tau. Maka dari itu aku memilihnya untuk menjadi istrimu ''


'' Romo '' wajah Panji memerah. Ia marah karena merasa telah dipermainkan. Padahal ia sudah berusaha dan telah melakukan seperti yang orang tuanya inginkan. Tapi yang ia peroleh justru berbanding terbalik.


Berasal dari keluarga terpandang yang begitu disegani semua kaum Pribumi khusunya para bangsawan. Namun kenapa ayahnya justru memilih perempuan yang telah ternodai untuk menjadi istrinya ?


Panji hendak beranjak. Namun tepukan lembut di pahanya berhasil menahan dan membuatnya urung tuk pergi.


'' Dia tak seperti yang kau pikirkan.


Dia mungkin tak lagi perawan. Tapi bukan berarti dia kotor.


Ada banyak tolak ukur dan arti sebuah kesucian. Salah satunya bukan dari perawan atau tidaknya seorang gadis ''


Panji terdiam.


Ia balas tatapan sang ayah yang teduh. Tak seperti biasanya yang selalu nampak dingin dan tak bersahabat.


Panji bergeming. Memilih diam dan akan mendengarkan . Karena sepertinya malam ini sang ayah akan menyampaikan hal penting yang memang harus ia ketahui.


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa likenya, ya


Tinggalkan jejak juga kalau ada typo dan terdapat kata ataupun ada kalimat yang kurang nyambung.


Terima Kasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2