
🌺 hem.. 🌺
* * *.
Tak hanya mengejutkan. Kematian Lawati yang mendadak juga membuat penasaran hingga menimbulkan banyak asumsi.
Menurut kabar yang tersebar, meninggalnya putri Raden Katraji Ademas adalah karena bunuh diri.
Namun banyak yang menduga, jika Lawati mati karena teluh yang dikirim seseorang.
Mungkin seseorang yang memiliki dendam pada keluarganya. Mengingat sang ayah merupakan salah satu ningrat terkenal yang bisa saja mempunyai musuh tersembunyi.
Entah siapa yang menyebarkannya.
Namun hal tersebut segera di tepis, dengan pernyataan Raden Katraji Ademas yang menyebutkan jika putrinya meninggal karena sakit.
Tapi tersiar pula kabar yang tak kalah menggegerkkan. Lawati di duga sakit akibat pukulan Mina di kejadian waktu itu.
Dan lagi-lagi Raden Katraji Ademas angkat bicara .Dengan tegas ia mengatakan jika semua yang tersebar tentang kematian putrinya, terlebih mengenai hal yang tidak-tidak adalah tidak benar.
Ia bahkan menekankan berulang kali, jika kematian putrinya disebabkan oleh penyakit yang memang sudah lama di derita.
Hal tersebut turut diyakinkan pula oleh sang Adipati selaku kepala daerah yang bertugas dan bertanggung jawab menyelidiki kematian Lawati.
Meski pada kenyataannya tak ada satu hal pun dilakukan, sebab Raden Katraji Ademas menolaknya kematian putrinya diusut.
Itu semua adalah hasil kesepakatan dari perundingan Adipati, Raden Katraji Ademas Dan Kolonel Jhon Van Peirezoon.
Dimana kedua orang yang memiliki jabatan dan kedudukan berpengaruh di Batavia ini akan membantunya menepis kabar tak sedap mengenai kematian putrinya. Dan sebagai balasannya, Raden Katraji Ademas tak boleh menyangkut pautkan kematian Lawati dengan Mina di kejadian tempo hari.
Dan hingga kini, simpang siur kematian Lawati masih menjadi topik hangat dikalangan Ningrat .
* * *
Beberapa hari berlalu.
Susana kabung berangsur-angsur lenyap dan keadaan pun mulai kembali normal seperti biasa.
Begitu pula dengan sekolah yang juga sudah memulai aktivitasnya.
Namun tidak dengan Mayang.
Sejak malam di mana Panji menciumnya secara paksa, Mayang mencoba acuh dan juga menjaga jarak dari sang majikan.
Mayang bahkan enggan menatap dan berdekatan dengan Panji.
Pun ketika mereka berada dalam satu kereta ketika di perjalanan menuju sekolah.
Berulang kali Panji mencoba membuka topik pembicaraan yang hanya ditanggapi Mayang dengan anggukan dan ' nggih, Den Mas ' saja.
Sepertinya kali ini Mayang benar-benar marah.
Membuat Panji semakin menyesali apa yang telah ia lakukan.
Panji gusar. Namun ia tak berdaya sebab tak mau lagi memaksakan kehendaknya. Ia khawatir jika nanti Mayang akan bertambah marah padanya.
* * *
Jam pelajaran baru saja berakhir.
Tak seperti yang lainnya.
Mayang terlihat masih betah duduk di bangkunya dengan pandang ke luar jendela.
Semburat senyum tipis terlihat ,ketika sosok pria itu melintas.
Ada rasa rindu dan ingin mengulang hal lalu.
Dimana perkenalkan yang berlanjut dengan obrolan menyenangkan bersama Dimas.
Dan Mayang tak sadar , jika Mina tengah berjalan dan telah berdiri di sisi duduknya.
Namun semua lamunannya sirna seketika, takala Panji terlihat diujung selasar sana. Lelaki itu berjalan dan pasti menuju ke kelasnya.
'' Siapa yang sedang kau perhatikan, hem ?
Panji atau si kacung Profesor Herlad tadi ? ''
Mayang tersentak.
Ia memutar tubuh, menganhkat wajahnya dan menatap setengah tak percaya.
Sejak kapan Mina sudah berada di sampingnya ?
Dan bagaimana dia bisa tau jika tadi ia sedang memperhatikan seseorang.
Ekspresi terkejut Mayang perlahan surut dan berganti muram.
__ADS_1
Ia lantas berputar dan mulai membereskan buku dan alat tulisnya.
'' Ada apa denganmu ? '' tanya Mina lagi namun masih tak ditanggapi Mayang.
Gadis itu selesai mengemasi barangnya dan berdiri.
'' Apa kau butuh hiburan ?
Kalau kau mau, aku akan menemanimu ke Sirkus seperti kemarin.
Katanya malam ini adalah hari pertunjukan mereka yang terakhir ''
Mayang menatapnya dengan ekspresi yang berbeda.
Kedua matanya nampak berbinar mendengar kata sirkus dan pertunjukan terakhir.
Mina tergelak.
Begitu mudahnya membujuk dan merubah suasana hati seorang Mayang .
" Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan bicara pada tuanmu untuk meminta izin " ucap Mina dengan ekor mata melirik Panji yang baru saja sampai dan berdiri di mulut pintu kelas m
Panji menyerukan nama Mayang .
Namun bukannya Mayang yang bergerak, melainkan Mina lah yang justru mengambil langkah menghampirinya.
" Ada apa ? " tanya Panji menatap sekilas pada gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Mina memang berparas cantik dan memiliki tubuh yang begitu menggoda dan selalu mampu menarik mata setiap kaum adam untuk melihatnya.
Namun hal tersebut tak berlaku pada Panji yang hanya terpaku pada Mayang.
Baginya, hanya Mayang yang memenuhi kriteria wanita idamannya.
" Aku mau minta ijin untuk mengajak Mayang menonton pertunjukan sirkus nanti malam "
Panji menatap lagi Mina.Mereka berdua beradu tatap hingga akhirnya Panji memilih tak menjawab dan lantas kembali memanggil Mayang.
* * *
Di perjalanan pulang.
Mayang masih bungkam , sementara Panji terlihat menyibukkan diri dengan membolak-balikan buku yang tadi ia pinjam dari perpustakaan.
Tak tahan dengan keheningan yang sejak tadi melanda, Panji akhirnya bicara.
Mayang mengangguk dengan kepala sedikit menunduk.
'' Kau mau pergi ? ''
Mayang mengangguk lagi masih dengan pandangan ke bawah.
'' Baiklah kalau begitu. Nanti malam kita pergi bersama ''
Mayang menenggak kepala .
'' Kenapa ? Apa kau tak mau aku ikut menemanimu ? '' bertanya sebab itulah yang ia tangkap dari ekspresi Mayang.
'' ... ''
' Ck ' Panji kesal.
Mayang masih tak mau bicara dengannya .
'' Apa kau marah karena aku menciummu ?''
'' ... ''
'' Mau sampai kapan memangnya kau akan bersikap seperti ini padaku ? ''
'' ... ''
'' Mayang ''
'' ... '' Mayang mengulum dalam bibirnya. Menahan gejolak untuk menjawab.
Panji yang melihat dan terus didiamkan pun kesal. Ia lampiaskan rasa kesalnya dengan menghempaskan nafasnya dengan kasar.
'' Apa kau sedang menguji sampai dimana batas kesabaran ku ?
Aku sudah minta maaf, bukan ?
Lalu kenapa kau masih saja marah ? ''
Mayang kembali tertunduk.
'' Ti-tidak, Den Mas. Mana mungkin saya berani marah pada Den Mas '' nyali Mayang menciut. Memaksanya mau tak mau bicara. Walaupun dengan nada rendah.
__ADS_1
Secara bersamaan, Panji menghempaskan nafas dan tubuhnya di sandaran tempat duduknya.
'' Sekali lagi kutanya. Apa kau tak mau aku ikut ? ''
Dengan segenap keberaniannya, Mayang mengangguk.
Panji menatap penuh tak percaya.
'' Baiklah. Terserah padamu. Anggap ijinku kali ini sebagai bentuk permintaan maafku .
Jadi, kuharap, setelah ini kau tidak lagi bersikap menyebalkan seperti ini ''
* * *
Malamnya.
Mayang berpamitan pada ibunya setelah diijinkan keluar.
Menggunakan Andong, Mayang sampai di alun-alun kota yang dipenuhi pengunjung .
Jumlahnya lebih banyak dari waktu pertama kali pembukaan Sirkus.
Mungkin karena ini adalah hari terakhir pertunjukan. Kabarnya, besok mereka yang merupakan pemilik dan para pekerja sirkus akan mulai berkemas dan pergi dari Batavia.
Mereka akan pindah ke tempat berikutnya.
Mayang melangkah dengan hati berdebar.
Ini kali kedua ia berada diluar rumah sendirian.
Kedua indra penglihatannya tak henti meniti beragam kesenangan yang ditawarkan di sekitar are sirkus.
Dan langkahnya berhenti di depan gerbang masuk tenda sirkus. Tempat dimana pertunjukan-pertunjukan menarik dan juga menakjubkan pernah ia saksikan di dalam sana.
Mayang tak mampu menahan untuk tidak tersenyum.
Bibirnya merekah sempurna. Menampilkan jejeran giginya yang rapi.
Diantara banyaknya manusia, ia temukan seseorang yang menatapnya lalu berjalan kearahnya.
'' Masih ingat aku ? '' sapanya pada Mayang.
Mayang mengangguk.
Sungguh sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan karena ia dapat bertemu Dimas di sini.
'' Tentu saja kau ingat. Kau kan sering memperhatikan ku di sekolah '' Dimas dengan senyum khasnya menggoda.
Mayang terkejut. Ia palingkan wajahnya yang menghangat sebab malu.
Jadi selama ini Dimas tau jika ia sering diam-diam melihat dan memperhatikan Dimas dari kejauhan ?
'' Tak perlu malu. Karena bukan kau sendiri yang begitu. Aku pun sama.
Aku juga ketika melihat mu pasti akan sulit memalingkan pandanganku dari mu ''
Mayang mengembalikan posisi kepalanya ke depan. Menatap lelaki yang baru saja melontarkan godaan lagi padanya.
'' Apakah engkau datang sendirian ? '' Dimas mencoba menerka sebab yang terlihat sepertinya memang demikian.
Mayang mengangguk samar. Masih dengan wajahnya yang terasa panas.
Beruntung saat ini malam dan pencahayaannya juga temaram. Jika tidak, tentu saja Dimas akan melihat wajahnya yang merah.
'' Jika berkenan, bolehkah aku menemanimu ''
Tanpa berpikir panjang, Mayang langsung mengiyakan. Ia lupa akan janjinya bersama Mina. Namun dengan sengaja ia lupakan tentang Panji.
Untuk saat ini, ia tak ingin mengingat apalagi memikirkan segala sesuatu tentang majikan mudanya itu.
Ia hanya ingin menikmati apa yang saat ini akan ia lakukan.
Karena nanti , ia belum tentu dapat melakukannya.
Dimas mengulurkan tangannya yang langsung disambut dengan hati berbunga-bunga oleh Mayang.
Mereka lalu berjalan beriringan dan membaur diantara lautan manusia.
* * *
Bersumbang -
Jangan lupa like-nya ya
Kritik dan sarannya juga
Trims 🤗
__ADS_1