Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Mencuri lihat dan dengar


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Kereta kuda berhenti di persimpangan jalan, si kusir turun dan membuka pintu, lalu menyuruh penumpangnya keluar.


Mayang dan kedua orang tuanya pun turun. Si kusir bergegas kembali ke kursi kemudi dan langsung memacu jalan kereta - berlalu dari hadapan tiga orang yang nampak linglung sebab ditinggal pergi begitu saja.


Tak berselang lama, seorang pria tua yang entah datang dari mana - menghampiri .Ia mengaku sebagai orang suruhan Adipati Artaprawirya yang akan menuntun mereka ketempat tujuan.


Sebelum memulai perjalanan, pria tersebut mengatakan agar Mayang dan kedua orang tuanya menunggu sebentar.


Pria itu terlihat berjalan menuju ke sebuah pohon yang sekitarnya ditumbuhi rumput liar yang cukup tinggi. Sekian detik saja, ia sudah kembali dengan membawa gerobak berisi gundukan yang ditutupi kain berwarna hitam.


Pria tersebut kembali menghampiri Mayang dan kedua orang tuanya.


Mereka pun memulai perjalanan dengan mengikuti langkah pria penuntun jalan.


Menapaki jalanan mulus yang biasa dilewati kendaran , langkah mereka kemudian berbelok ke sebuah jalur masuk tersembunyi yang dihimpit dua pohon berukuran sedang.


Mereka kini memasuki jalanan setapak yang sempit. Jalannya pun tak semulus tadi. Medan yang sulit membuat Mayang dan sang ayah berinisiatif membantunya si pria penuntun jalan .Mereka bertiga bekerja sama mendorong dan menyeimbangkan jalannya gerobak .


Sementara Mbok Arni berjalan beberapa langkah dibelakang mereka.


Setelah melewati jalan yang penuh kerikil batu, langkah mereka diteruskan dengan menanjak bukit yang tak begitu tinggi.


Namun karena beratnya gerobak yang isinya belum diketahui apa, maka perjalanan terasa semakin lama dan sangat melelahkan.


Mbok Arni nampak sudah terengah-engah.


Tubuh tuanya sepertinya sudah ingin menyerah.


'' Kita tidak ada waktu untuk beristirahat.


Karena sebentar lagi akan hujan. Jadi, kita harus bergegas sekarang juga ! '' tegas si pria penuntun jalan.


Mau tak mau keluarga kecil itu menuruti apa yang di perintahkan si pria penuntun jalan dan kembali melanjutkan perjalanan.


Mayang melepaskan diri dari mendorong gerobak dan beralih memapah sang ibu untuk membantunya berjalan.


Meski ia sendri pun sebenarnya sudah sangat kelelahan .


Namun ia masih bisa bertahan. Karena jika ia menyerah maka siapa yang akan membantu mereka yang sudah berusia lanjut ini.


Sampai di puncak bukit, mereka dihadapkan dengan turunan . Medan yang lebih menantang sebab harus menahan gerobak agar jangan sampai lepas kendali dan tergelincir .


'' Isinya adalah barang-barang kebutuhan untuk kehidupan kalian nanti '' penjelasan singkat dari si pria penuntun jalan.


Mayang dan kedua orang tuanya mengangguk.


Mereka tak sempat bertanya apalagi untuk menyanggah. Sebab mereka sadar, ketika pertama kali mendapat perintah untuk pergi meninggalkan rumah dari utusan Adipati Arthaprawirya , mereka sudah tak memiliki hak untuk memilih.


Mereka cukup tau diri. Jika cepat atau lambat hari ini pasti akan datang juga.


Hari di mana Raden Mas Panji Arthaprawirya akan menikah. Dan itu berarti Mayang harus pergi agar tak menjadi pengganggu ataupun penghalang. masa depan sang anak majikan.


Sebagai kacung yang telah mengabdikan diri di keluarga ningrat berkedudukan tertinggi di Batavia , Mbok Arni dan suaminya hanya bisa pasrah. Jika seterusnya hidup mereka dalam aturan sang Adipati.


Susah payah bekerja sama menahan dan menarik gerobak agar tak meluncur bebas, nyatanya perjalanan mereka belum juga sampai ditempat tujuan.


'' Hanya tinggal hutan ini saja yang perlu kita lewati ''


Kembali Mayang dan kedua orang tuanya menghela nafas lelah. Mereka pun memupuk sisa-sisa tenaga untuk mulai berjalan lagi.


' Blarrr ' pria penuntun jalan menyalakan obor yang akan digunakan sebagai penerang jalan .Sebab hutan yang akan mereka masuki ini merupakan kawasan hutan bambu yang rindang dan sangat gelap .


Perjalanan kali ini terasa lebih mendebarkan.


Dua pria seusia yang berada didepan , nampak melangkah dengan hati-hati dan tak berhenti mengedarkan pandang ke sekitar. Berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang dapat mengancam keselamatan mereka. Karena tempat seperti ini biasanya adalah habitatnya para binatang melata .


Sedangkan Mayang dan ibunya mengekor dibelakang dengan saling berpegangan erat.

__ADS_1


Dan rute terakhir pun terlewati. Keluar dari hutan bambu , mereka langsung disambut hamparan rumput hijau yang tak begitu luas.


''Kita sudah sampai '' pria penuntun jalan menunjuk sebuah pohon besar dengan ranting-ranting dan dedaunan yang lebat dan rindang.


Sebuah rumah beratap anyaman daun sagu dan berdinding kayu pipih bersandar di batang pohon yang berdiri kokoh. Rumah tersebut di keliling pagar. Dan sebuah obor menyala ditancapkan di sisi penutup pagar sebagai tanda jika tempat teduh itu ada penghuninya.


Dan benar saja.


Mayang dan kedua orang tuanya saling lirik saat pintu rumah tiba-tiba terbuka, dan muncul sesosok wanita renta. Dia adalah Nyi Geno.


Ia diutus dan diberi tugas khusus untuk menemani keluarga kecil ini.


Karena memang harus ada orang yang dapat diandalkan untuk mengawasi mereka.Khususnya Mayang. Sebab dia bukanlah manusia biasa yang bisa dibiarkan berkeliaran tanpa pengawasan.


'' Selamat datang ndoro '' sambutnya pada Mayang dan kedua orang tuanya yang langsung ia persilahkan masuk.


'' Saya Nyi Geno. Selama ndro berada disini ,saya lah yang akan menemani dan melayani Ndoro sekeluarga ''


Mayang dan kedua orang tuanya mengangguk. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka lantas di tuntun ke bagian belakang rumah .


'' Ndoro pasti lelah.


Saya sudah menyiapkan air mandi dan makanan di atas meja.


Silahkan jika ingin membersihkan tubuh atau mungkin mau makan terlebih dahulu '' ucap Nyi Geno dengan sedikit membungkuk.


Mayang lebih dulu masuk ke bilik mandi. Ia tak tahan lagi dengan tubuh yang terasa lengket . Perjalanan tadi membuatnya banyak mengeluarkan keringat dan juga medan yang ditempuh juga menyebabkan jariknya terkena percikan tanah dan lumpur.


Sedangkan kedua orang tuanya memilih duduk sembari menunggu untuk makan bersama.


'' Saya permisi kedepan ,ndoro. Saya akan mempersiapkan kamar dan juga membantu Ki Aron menurunkan barang bawaan '' pamit Nyi Geno .


Ki Aron, nama pria penuntun jalan mereka tadi. Sepasang suami-istri yang tengah duduk di kayu panjang yang berhadapan dengan meja yang diatasnya terhidang nasi dan lauk pauk - mengangguk .


Sepeninggalnya Nyi Geno, suara hujan turun terdengar. Mayang yang baru saja selesai membersihkan tubuh menatap kedua orang tuanya.


Mereka sama-sama melemparkan senyum dan menghembuskan nafas lega. Sebab hujan yang diprediksi Ki Aron datang ketika mereka sudah berada di rumah.


* * *


Sedangkan Ki Aron pulang keesokan harinya.


Pagi itu, Mayang bangun lebih awal.


Suara khas binatang di hutan membuat susana terasa begitu kentara.


Ditambah lagi hawa sejuk karena semalam lan dilanda gerimis .


Mayang mengangkat tubuh sambil menahan jariknya yang kendur.


Setelah kain penutup tubuhnya itu ia kencangkan ,Mayang pun berjalan ke arah jendela dan membukanya.


Pemandangan alam terhampar di hadapannya. Hijau, basah karena embun yang bertebaran di mana-mana dan segar udaranya.


Mayang memejamkan mata, menghirup dalam-dalam asupan oksigen yang aroma dan rasanya sama sekali berbeda dengan Batavia.


Di sini. Di tempat yang jauh dari keramaian dan tersembunyi ini, ia merasa damai dan menemukan ketenangan . Hal yang tak pernah ia rasakan karena selalu dalam kungkungan Panji, majikan mudanya.


Setelah cukup lama menikmati udara dan terpaan angin pagi , perlahan Mayang membuka matanya dan seketika itu pula dahinya mengkerut.


Dilihatnya kedua orang tuanya mengendap-endap ke luar dan berjalan masuk ke hutan yang ada dibelakang sana.


Penasaran, Mayang pun bergegas keluar dan mengikuti kemana perginya pasangan yang telah berusia lanjut tadi.


Tak seberapa jauh masuk kedalam hutan, Mayang melihat kedua orang tuanya berhenti di tempat yang cukup lapang dan tengah berbincang dengan raut wajah serius.


Mayang yang semakin penasaran pun semakin mendekat dan menyembunyikan diri dibalik pohon besar tak jauh dari berdirinya kedua orang tuanya.


Sesaat Mayang berpikir. Kenapa ia harus bersembunyi . Bukankah mereka adalah orang tuanya ? Jika memang sedang membicarakan hal penting, tak mungkin orang tuanya menolak memberitahu.


Entahlah. Seharusnya ia tak perlu melakukan hal seperti ini, bukan ? Tapi ia merasa ada yang aneh. Gelagat kedua orang tuanya tak biasa. Dan firasatnya mengatakan jika ia harus diam dan mencuri dengar.

__ADS_1


''Sialan ! Kenapa sampai di siapkan pelayan segala ?! '' umpat Sudarman dengan wajah kesal.


'' Lalu gimana dengan rencana kita kang mas '' Mbok Arni nampak bingung.


'' Tak apa. Nyi Geno itu hanya wanita tua biasa.


Aku bisa membereskannya.


Kau pastikan saja nanti malam, para suruhan sampai sesuai dengan petunjuk yang kau tinggalkan ''


" Itu aman, kang mas. Itulah kenapa kemarin aku jalan paling belakang . Aku menyayat setiap pohon yang kita lewati dengan tanda tertentu.


Jadi mereka pasti bisa menemukan tempat ini "


" Kerja bagus. Setelah ini tugas kita selesai. Dan kita bisa pergi dengan membawa banyak kepeng "


Sudarman terkekeh senang. Begitupun dengan istrinya yang mengulum senyum.


' Grep ' Sudarman mendekap tubuh istrinya. Tangan kasarnya mulai bergerilya ria di kulit yang sudah dihiasi banyak keriput.


Wajah Mbok Arni merona. Ia paham akan bahasa tubuh dan tindakan nakal tangan sang suami .


Mayang yang melihat sepasang manusia yang mulai melucuti pakaian mereka, reflek membekam mulutnya dengan mata terbelalak.


Ia hendak berbalik . Tak ingin melihat hal yang tak sepatutnya ia lihat. Namun -


'' Bisa-bisanya selama ini kita mengangkat dan membesarkan anak haram. Pantas saja kanjeng Adipati memberinya hak istimewa tak seperti kacung - kacung lainnya.


Dia tak pernah diberi perintah untuk melakukan satupun pekerjaan rumah dan bahkan disekolahkan '' ucap Sudarman di sela-sela pergumulannya dengan posisi berdiri.


Mayang tersentak. Otaknya seperti buntu tak bisa mencerna apa maksud perbincangan kedua orang tuanya.


Tidak. Mayang menggeleng.


Ia sendiri tak lagi yakin apakah mereka adalah orang yang selama ini ia anggap orang tuanya.


Ia seperti tak lagi mengenal siapa mereka.


Mayang tak tau jika kedua pasangan suami istri yang tengah menikmati candu itu, telah mengkhianati Adipati Artaprawirya dan bekerja untuk Paramuanti.


Pun tak akan ada yang mengira, jika seorang berparas cantik,anggun dan mempesona nyatanya adalah wanita dengan segudang ambisi dan penuh kecurigaan terhadap sang suami.


Butuh waktu belasan tahun bagi Paramuanti untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang dikerjakan dan direncanakan sang suami .


Hingga ia akhirnya mengetahui tentang persekutuan Adipati Artaprawirya dan ningrat lainnya dengan hal yang tak lazim. Persekutuan dengan seorang ahli ilmu hitam.


Termasuk juga Mayang. Paramuanti tau jika gadis itu adalah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan ningrat dan merupakan benih yang ditanam sang suami .


Paramuanti yang sakit hati karena merasa dikhianati pun memutuskan untuk membunuh Mayang sebagai bentuk balas sakit hatinya.


Selain bersekongkol dengan kedua orang tua angkat Mayang, ia juga sudah membayar dan menugaskan lima orang pembunuh bayaran untuk melakukannya.


Namun sayang, tak semuanya ia ketahui.


Pramuanti tak tau dengan siapa ia berhadapan .


*


Mayang hendak beranjak dari tempat persembunyiannya.


Ia acuhkan adegan panas dan ******* bersahutan yang masih berlanjut .


Namun lagi-lagi niatnya untuk berbalik dan pergi terhenti.


Tak jauh dari tempatnya bersembunyi, ada Nyi Geno . Wanita yang rambutnya telah memutih semua itu nampaknya melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan barusan. Mencuri lihat dan mendengar percakapan Sudarman dan Mbok Arni.


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa like-nya ya

__ADS_1


Kritik sarannya juga


Terima kasih🤗


__ADS_2