Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Tempat lain


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Sesaat sebelum berangkat.


Karena kapal dijadwalkan akan berangkat sebelum tengah hari, maka seluruh penghuni rumah bangun lebih awal. Terutama para kacung.


Sejak pagi sekali, para kacung sudah bergulat dengan banyak pekerjaan . Ada yang membantu majikannya berkemas , ada yang tengah berkutat di dapur , dan yang paling terlihat sibuk adalah mereka yang mondar-mandir membawa barang bawaan sang majikan . Dibantu oleh para penjaga, barang-barang tersebut lalu di naikan ke atas kereta pengangkut yang kemudian akan diantar ke pelabuhan.


Tiga buah mobil berwarna putih juga telah berjejer di depan rumah. Kendaraan bermesin itulah yang nantinya akan membawa sang Kolonel berserta anak dan istrinya ke pelabuhan.


Hari sudah mulai siang, namun didalam rumah kesibukan masih terasa begitu kentara. Suara sang majikan terdengar mendominasi, memberi perintah pada para kacungnya yang hanya sesekali menjawab ' ya ' dan langsung melaksanakannya.


Namun dibagian sudut lainnya, susana justru terasa sebaliknya. Tenang. Tak ada suara derap langkah dan kalimat perintah. Hanya pantulan suara yang berasal dari ruangan lain saja yang terdengar samar disini.


Ruangan tersebut adalah kamar Mina. Yang selama beberapa hari belakang di tempatinya bersama Panji.


'' Semua barang sudah selesai dikemas , tuan. Sebagian sedang di masukan kedalam kereta pengangkut. Dan sebagian lagi sudah diantar ke pelabuhan '' Lapor seorang kacung pada majikan laki-lakinya.


Kolonel Jhon Van Pierzoon mengangguk. Ia lalu menghampiri sang istri, menyuruhnya untuk bersiap karena sebentar lagi mereka akan berangkat.


'' Dimana Mina ? '' Tanyanya saat netranya selesai menyapu ruangan dan tak mendapati putri sulungnya.


'' Mungkin masih dikamarnya '' Jawab sang istri lembut.


Sang Kolonel mengangguk . Ia memutar tubuhnya, dan langsung mengambil langkah menuju kamar putrinya.


Dari kejauhan, terlihat dua orang kacung laki-laki keluar dari kamar yang terletak paling ujung lorong .Masing-masing menenteng dua buah tas , barang bawaan Mina.


Mereka berjalan melewati sang majikan dengan kepala tertunduk. Sedangkan majikannya acuh.


Tiba-tiba saja sang Kolonel memperlambat langkah. Semakin dekat dengan tujuannya, semakin kakinya seperti berat untuk diayunkan . Hingga akhirnya ia sampai di ambang pintu kamar yang terbuka. Ia putuskan tuk berhenti dan berdiri di situ.


Nampak Mina yang duduk di tepi ranjang dengan posisi membelakangi.


Sepertinya Mina sama sekali tak menyadari kehadirannya.


Tatapan Mina lurus ke arah jendela yang terbuka lebar. Satu tangannya berada di atas pangkuan, dan satu lagi tengah mengelus permukaan kasur beralaskan sutra berwarna putih.


Sang Kolonel terenyuh. Sejak hari perdebatannya dengan Panji, keesokan harinya Panji pergi dari rumah tanpa sepatah katapun.


Panji sepertinya sangat kecewa dan marah karena permintaannya tak di kabulkan.


Dan sejak hari itu pula, Mina menjadi murung dan terlihat sama sekali tak bersemangat.


'' Ek-ehem '' Sang Kolonel berdehem , berharap Mina tersadar dari lamunannya.


Namun Mina tetap bergeming.


Entah apa yang dipikirkan anaknya itu sampai tak menyadari kehadirannya, bahkan setelah ia berdehem cukup keras.


' Tap. Tap .Tap ' Tiga langkah yang sengaja ia hentakan. Namun sama saja. Mina tak sedikitpun bergerak dari posisinya, menandakan ia benar-benar tengah dikuasai sesuatu hingga telinga dan indra lainnya seperti tak berfungsi .


Sang Kolonel menghela nafas dan melanjutkan langkah.


'' Mina '' Sapanya dengan telapak tangan mendarat di bahu Mina.


'' Eng ? '' Mina tersentak kecil.

__ADS_1


Ia menoleh dan mendongak.


'' Ayah '' Mina bangun dan tersenyum tipis.


Sang Kolonel kembali terenyuh menatap wajah Mina yang terlihat lebih lesu dari kemarin. Mina memang bukan pribadi yang ceria. Ia pun sangat jarang tersenyum.


Namun yang terlihat saat ini sama sekali tak seperti sosoknya selama ini.


Wajahnya pucat. Kedua matanya sayu, seperti kurang tidur atau seperti habis menangis.


'' Kau sudah selesai mengemasi semua barang yang akan kau bawa ? ''


Mina mengangguk.


Diam beberapa saat dengan saling menatap.


'' Mina ''


'' Ya, ayah '' suara Mina terdengar parau. Tak salah lagi, ia pasti habis menangis. Entah itu barusan, semalam, atau mungkin sejak kemarin-kemarin.


'' Apa kau menyukainya ? ''


Mina seketika tercekat. Sebab pertanyaan itu adalah pertanyaan yang telah memenuhi isi kepalanya dan membuatnya hampir gila karena terus memikirkannya.


" Apakah ia menyukai Panji? "


Jangankan memberi jawabannya , mengakuinya pada dirinya sendiri saja ia tak bisa. Entah mengapa ini terasa begitu sulit baginya.


Padahal ia pernah mengalami hal yang lebih berat dan sulit dari ini. Hal yang belum tentu semua orang pernah mengalaminya dan bisa melewatinya.


Tapi apa yang ia rasakan saat ini benar-benar berbeda.


Ia benci. Bukan pada hal yang telah menyakiti ataupun pada seseorang. Tapi ia benci pada dirinya sendiri yang tak bisa berhenti memikirkan lelaki yang membuatnya tak karuan.


'' Mina .. Ap- '' Hendak kembali melontarkan kalimat pertanyaan yang sama, namun lidahnya tiba-tiba terasa kelu.


Mata Mina merah ,lalu perlahan mulai terlihat genangan.


Air mata Mina jatuh di kedua pipi mulusnya.


Sungguh pemandangan yang begitu pilu dan menyayat hati.


Sang kolonel tak tahan lagi. Ia peluk tubuh sang putri dengan erat sambil mengelus punggungnya.


Berharap bisa menenangkan Mina yang terisak.


Untuk beberapa saat mereka tetap seperti itu. Hingga seorang kacung datang menghampiri dan mengatakan bahwa semua sudah siap dan sedang menunggu mereka berdua.


Sang kolonel melepas pelukannya. Ia tatap Mina yang mengusap kedua pipinya dengan telapak tangannya. Terlihat seperti anak kecil yang menghapus air mata dengan kedua tangannya.


'' Ayah pergilah lebih dulu. Aku akan menyusul setelah mencuci mukaku ''


Sang kolonel mengangguk lalu beranjak lebih dulu.Sambil melangkah, ia terlihat beberapa kali mengerutkan kening. Sepertinya ada hal yang begitu ia pikirkan.


Setelah melewati mulut pintu masuk utama rumahnya, langkahnya pun sampai dan terhenti di halaman rumah. Terlihat istri dan kedua putranya telah menunggu di samping mobil.


'' Hei, kau '' Panggilnya pada seorang kacung yang berdiri di sisi mobil.


Si kacung yang dimaksud bergegas mendekat. Dengan kepala menunduk ia berhenti satu langkah di sisi kanan majikannya.

__ADS_1


'' Dimana barang-barang Mina ? ''


'' Barang-barang Nona ada di kereta terakhir yang baru saja berangkat ke pelabuhan, tuan ''


'' Kejar keretanya dan katakan untuk mengantar barang-barang itu ke tempat lain ''


Si kacung nampak terkejut hingga reflek mengangkat kepala. Ia kembali terkejut karena tak sengaja matanya bertemu tatap dengan sang majikan. Hal yang seharusnya tak dilakukan seorang berstatus rendahan sepertinya.


'' Lakukan saja seperti yang aku katakan '' Perintahnya dengan penuh tekanan.


'' Baik, tuan '' Si kacung mengangguk dengan perasaan harap-harap cemas. Ia takut akan diberi hukuman karena sudah bersikap lancang.


Namun nyatanya tidak. Ia pun lega saat Sang majikan berjalan melewatinya dan masuk kedalam mobil pertama yang akan di tempati bersama Sang istri. Sedangkan kedua putranya duduk di mobil kedua . Dan mobil ketiga tentu saja untuk Mina.


Kedua mobil yang telah di duduki penumpangnya di hidupkan. Kemudian jalan lebih dulu meninggalkan kediaman megah khas Kompeni itu.


Terlihat lambaian tangan dan ucapan selamat jalan dari para kacung dan penjaga yang selama ini mengabdi pada keluarga asing tersebut.


Meski majikan mereka merupakan bangsa penjajah, namun selama melayani mereka, semua pekerja diperlakukan dengan cukup baik.


Mina yang mendengar suara mesin mobil bergegas keluar . Ia menatap tak percaya karena ditinggal. Melihat sebuah mobil terparkir dihadapannya, tanpa pikir panjang iapun masuk dan memerintahkan si pengemudi untuk segera menjalankannya.


'' Baik, Nona ''


Mobil melaju, keluar dari area rumah yang kini telah resmi ditinggal seluruh penghuninya .


Tak berselang lama mobil masuk ke jalan utama .


'' Hei, apa kau tak tau jalan ? ! Ini bukan jalan ke pelabuhan ! '' Bentak Mina ketika lelaki yang duduk di bangku kemudi, membelokan setir ke arah yang berlawanan dengan yang seharusnya menjadi tempat tujuan mereka.


'' Maaf, Nona. Tapi ini perintah Tuan.


Saya diminta untuk mengantar Nona ke tempat lain '' ujar si pengemudi yang menoleh kebelakang sekilas, lalu dengan cepat mengembalikan pandangannya ke depan.


Mina menyadarkan punggungnya lalu memutar lehernya dengan perlahan ke samping.Semakin mobil terus berjalan, perlahan ia pun mulai menyadari. Akan kemana tempat lain yang tadi dikatakan si pengemudi.


Keluar dari jalur utama jalanan kota Batavia, mobil kini memasuki kawasan yang lenggang . Letaknya sedikit menepi dari pusat kota.


'' Kita sudah sampai, Nona ''


Mina terdiam . Dari jendela mobil yang ia buka penuh, ia tatap rumah yang dikelilingi tembok tinggi dan dijaga oleh empat orang Pribumi bertubuh kekar yang ada di ujung jalan sana. Rumah yang waktu itu Panji tunjukan padanya.


Kedua pagar yang tingginya setinggi orang dewasa itu terbuka lebar. Memperlihatkan sebuah kereta yang ia hapal milik keluarganya.


Mina tertunduk ,melihat jemari-jemarinya yang saling meremas, lalu menarik nafas sambil memejamkan mata. Kemudian ia tegakkan kepala dan kembali melihat keluar.


Ia nampak bimbang.


'' Nona.. '' Sapa seseorang yang membuat Mina seketika menoleh.


Sekilas ia tatap wajah si pengemudi yang telah membawanya ke tempat yang tak lain adalah rumah Panji.


'' Barang-barang Nona sudah sampai dan sekarang sudah berada didalam. Raden Mas Panji - ah, maaf. Maksud saya , Kanjeng Adipati pasti sejak tadi sudah menunggu Nona ''


' Klak ' Pintu mobil dibuka dan Mina keluar dari dalamnya.


Di ikuti si pengemudi yang berjalan tiga langkah dibelakangnya, Mina yang mengenakan gaun berwarna putih berbahan halus ,khas pakaian bangsa kompeni - melangkah dengan perasaan berdebar.


Disambut oleh penjaga yang berdiri tegap di kedua gapura gerbang masuk, Mina kemudian dipersilahkan masuk. Mereka yang merupakan penanggung jawab keamanan rumah tersebut, menunjukan sikap sebagaiman seorang kacung pada majikannya. Mereka memberi hormat dengan menundukkan kepala.

__ADS_1


Setelah melewati gerbang masuk, kedua kakinya menginjak tanah pekarangan yang di keliling tanaman pagar.


Mina berhenti tepat berhadapan dengan pintu rumah yang terbuka lebar. Tatapannya lurus pada sosok yang muncul dan berjalan ke arahnya.


__ADS_2