Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Kekuatan yang telah lama tak di gunakan


__ADS_3

🌺 hem.... 🌺


* * *


Fajar menyingsing. Mayang yang baru saja terjaga, sempat menoleh pada seseorang yang matanya masih terpejam rapat. Mayang tersenyum. Tangannya terulur , mengusap wajah tampan yang setiap malam mencumbunya . Sungguh Mayang tak menyangka, jika lelaki yang terlihat kalem diawal pertemuan akan berubah ganas ketika di ranjang .


Mengingat hal ' itu ' , bukan hanya wajahnya saja yang terasa panas . Tapi juga tubuh dan bagian sensitifnya pun ikut bereaksi . Tak bisa ia pungkiri, jika ia menyukai hal tersebut .


Bukan hanya nikmat yang ia peroleh, tapi pun rasanya sudah kecanduan. Setiap kali menatap Dimas, pikirannya langsung dipenuhi hal ' itu '.


Membuatnya seketika ingin dan kembali merasakan , melakukannya lagi dan lagi. Seolah tak ada puas dan lelahnya.


Mayang membuyarkan lamunannya dan segera bangun dari tempat tidur.


Ia bungkus tubuhnya hanya dengan lilitan jarik dan keluar dari rumah. Seburat senyum terlihat diwajahnya yang berseri-seri.


Ya, setelah ia dan Dimas melakukan ' itu ', Mayang memutuskan untuk memberi kesempatan pada Dimas dan mempercayainya. Ia pun menaruh harapan masa depan dengan hidup bersama sang kekasih hati .


Sungguh ia benar-benar merasa bahagia saat ini. Bahkan masalah dan beban yang selama ini membelenggunya, seperti lenyap begitu saja.


Sambil membawa keranjang yang terbuat dari anyaman rotan yang berisi beberapa helaian pakaian, Mayang berjalan menuju jalan utama desa . Senyumnya semakin merekah ketika mulai melewati satu persatu rumah .Para wanita keluar dan menyapa lalu ikut berjalan bersamanya.


Sama seperti beberapa hari yang lalu. Pagi inipun Mayang memulai aktivitas harinya bersama semua wanita , termaksud juga Aranita. Mereka semua sedang menuju sungai untuk mandi dan mencuci pakaian.


Mayang kini telah resmi menjadi bagian dari desa Arkha. Ia tinggalkan cara hidupnya yang lama dan mulai belajar kehidupan yang baru disini. Hal tersebut terlihat dari bagaimana sekarang ia berpakaian. Tak ada lagi kebaya yang biasanya membungkus lengan, punggung dan bagian atas tubuhnya. Cukup jarik yang kini ia pakai untuk menutupi tubuhnya.


Mayang dan para perempuan desa Arkha sampai di sungai yang sejak dulu merupakan sumber kelangsungan hidup .


'' Mayang '' sapa Aranita pada yang disebut namanya.


Mayang yang baru saja menyelesaikan cuciannya, langsung menoleh dan tersenyum lebar. Ia letakkan pakaiannya yang basah di tempat yang bersih.


Aranita yang juga telah menyelesaikan cuciannya, lantas menceburkan diri kedalam sungai yang hanya sedalam pinggangnya. Mayang pun ikut melakukan hal yang sama. Mereka kemudian menekuk lutut hingga menyentuh dasar sungai yang jernih . Tubuh mereka teredam batas pundak.


Hal serupa juga dilakukan para wanita lainnya. Mereka yang juga telah menyelesaikan cucian, kompak membersihkan diri dengan berendam dan mulai saling bercengkrama.


'' Kau ternyata mudah menyesuaikan diri di lingkungan yang baru '' Aranita menilik perempuan di depannya yang tengah membasuh wajahnya.


Mayang mengangguk dengan wajah basah.


'' Kau beruntung. Pasanganmu berasal dari kaum yang sama. Tidak seperti kami yang kapan saja bisa kehilangan pasangan ''


Mayang mengerutkan dahi. Aranita menghempas nafas.


'' Begitulah.. Penghuni asli desa ini semuanya adalah perempuan. Dan laki-laki yang tinggal bersama kami , mereka semua adalah para penjahat yang dibawa prajurit kompeni dan ditinggalkan disini ''


Mayang mengangguk. Ia paham, yang bisa dijadikan wadah untuk jiwa-jiwa yang akan disegel hanyalah seorang perempuan.


'' Ber-berarti..'' Mayang nampak ragu untuk meneruskan hal yang ingin ia pertanyakan.


Aranita mengangguk.


'' Hem.. begitulah. Setiap manusia pasti mati .Awalnya, pasangan kami adalah lelaki keturunan desa ini. Tapi sering berjalannya waktu, mereka metua dan mati.

__ADS_1


Hingga akhirnya, hanya kami yang abadi ini yang tersisa. Dan entah dimulai sejak kapan, para kompeni datang dan menjadikan pulau ini sebagai tempat mengasingkan para penjahat Pribumi ''


Mayang perhatian wajah-wajah perempuan yang ada didekatnya.


Yang ternyata juga tengah memperhatikannya . Sepertinya mereka semua mendengar dan ikut menyimak pembicaraannya dan Aranita.


'' Jadi kalian semua sudah hidup berapa lama ? ''


Aranita mengangkat bahunya sekali. '' Entahlah, kami tak pernah menghitungnya '' .


Mayang menatap lagi wajah-wajah yang kini memasang senyum ketika mata mereka saling bertemu.


'' Kalau begitu bagaimana caranya kalian mempertahankan kelangsungan desa ini ?


Karena sejak datang kemari, ak-aku tak melihat satupun adanya anak kecil ''


Seketika senyum - senyum mereka luntur. Mayang pun menyadari ada sesuatu dari perubahan mimik mereka semua. Mata mereka terlihat sendu, raut wajah mereka menjadi datar. Beberapa dari mereka memalingkan wajah, bahkan ada yang berbalik badan.


'' Apa kau lupa apa yang sudah pernah ku jelaskan padamu tentang siapa kita , Mayang ? '' tanya Aranita.


Mayang bergeming. Ia tengah mengorek ingatan tentang hal yang Aranita maksud.


'' Baiklah, sepertinya kau masih belum bisa memahami apa yang kukatakan saat itu.


Kaum kita adalah kaum abadi. Sekilas kita memang terlihat seperti manusia biasa. Kita bisa merasakan nikmat dan sakit.


Tapi kita tak bisa mati.


Dan kau tau apa artinya itu ?


Tak akan ada yang bisa hidup dan tumbuh dalam tubuh yang tak bisa memberikan kehidupan.


Kau tau karena apa ? Karena tubuh kita adalah wadah . Tempat menampung jiwa yang selamanya akan terus hidup bersama didalam tubuh kita ini ''


Berbeda dengan perempuan lainnya, Aranita terlihat tenang. Menunjukan jika ia sudah terbiasa dan sudah bisa menerima kenyataan itu. Mungkin inilah alasan mengapa Aranita menjadi pemimpin di desa ini. Ia tegas dan sangat berwibawa.


Mayang terhenyak. Mengetahui jika ia tak akan pernah menjadi seorang ibu, membuat matanya berembun. Mayang yang bermaksud untuk berdiri dan pergi, tersentak saat Aranita tiba-tiba saja lebih dulu berdiri.


Mayang mendongak . Ia menatap heran pada ekspresi Aranita .


Wanita yang tubuhnya basah oleh air itu , memicingkan mata seraya mengedarkannya. Ia seperti tengah meresapi sesuatu.


'' Ada yang datang dan sedang menuju ke desa.. '' ucapnya yang membuat semua perempuan berdiri.


Pun dengan Mayang yang juga ikut berdiri.


Ada yang datang ? Siapa ? Apa mungkin prajurit kompeni yang datang mengantarkan penjahat Pribumi untuk ditinggal seperti biasa ? Pikir Mayang dengan pandangan tak lepas dari Aranita.


'' Ayo, semuanya. Kita harus segera kembali ke desa '' perintah sang pemimpin yang langsung di patuhi.


Mereka semua keluar dari sungai dan berjalan dengan langkah cepat menuju desa. Termasuk juga Mayang yang penasaran dan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang membuat Aranita nampak serius hingga mereka semua harus bergegas kembali ke desa ?


' deg ' Langkah mereka berhenti tepat setelah berada di kawasan desa.

__ADS_1


Sunyi. Padahal biasanya ketika para perempuan pergi ke sungai, para lelaki akan mulai sibuk mencari kayu bakar dan berburu.


Mereka semua lalu terlihat kompak memutar leher, melemparkan pandangan ke segala arah, meniti setiap hal yang ada disekitar. Hanya Mayang yang nampak bingung sebab ia benar-benar tak mengerti apa yang tengah mereka lakukan ini.


'' Umph '' Mayang reflek menutup hidungnya saat aroma busuk yang entah berasal dari mana tiba-tiba menyerang indra penciumannya.


Lalu mata Mayang melebar. Tubuhnya bergidik namun tak bisa berkutik dari tempatnya berpijak.


Dua sosok makhluk aneh ada di hadapan mereka. Yang satu duduk di tanah sedangkan yang satunya mengambang di udara .


Rambut panjang menutupi wajah. Lidah panjang dan runcing, keluar dari sela rambut legam yang menutupi rupanya. Jari-jari dihiasi kuku panjang berwarna hitam. Tak ada suara , hanya terdengar desisan .


Mayang tak dapat berpaling tak sadar tangannya mulai menjauh.


'' Umph '' Mayang tersadar karena hidungnya tak lagi ia tutup. Kini ia tau dari mana bau busuk berasal .


Pasti dari dua makhluk yang tengah celingukan itu.


'' Bagaimana bisa ada dedemit masuk kemari ? '' Aranita melihat sekilas pada gapura yang menjadi gerbang masuk desa.


Kayu yang di ukir dengan tulisan kuno tumbang . Padahal itu adalah mantra untuk menangkal dan melindungi desa dari makhluk halus yang berkemungkinan masuk untuk menyerang ataupun menjadi penghuni desa sebagai makanan.


'' It- itu dedemit ? '' tanya Mayang dengan suara bergetar.


'' Hem '' Aranita mengangguk.


'' ... '' Mayang yang mulai diselimuti ketakutan nampak begitu terkejut. Sebab selama ini ia tak pernah mempercayai adanya hal seperti ini.


'' Mereka dulunya adalah para penganut ilmu Hitam. Karena tak mendapatkan wadah , maka jiwa mereka berubah menjadi makhluk seperti itu.


Mereka sepertinya datang kemari atas perintah seseorang...


Tidak.. mereka tidak datang sendiri.


Kedua makhluk itu datang bersama orang yang mengendalikannya ''


Aranita maju hingga ia hanya berjarak satu langkah dari kedua makhluk yang lidahnya terus terjulur ke sana kemari.


' Ctas ' suara tebasan yang samar. Lalu ' bruk ' seonggok tubuh terlempar dan terjerembab di tanah.


Aranita berbalik, sementara kedua makhluk didepannya bergerak. Yang satu melayang dan yang satunya menyeret diri. Kedua makhluk tersebut melewati Aranita untuk mendekati sosok yang tergeletak dengan kondisi berlumuran darah.


' Syuk ' ujung lidah kedua makhluk itu secara bersamaan menancap di leher dan ' Slurrruuuppp ' menghisap cairan merah dengan rakus.


Wajah Aranita memerah dengan mata membelalak.


Ia terlihat geram dengan rahang yang mengeras .


'' T-tudak.,Tidak..TIDAAAAKKK..... JOOKOOO ! '' Aranita berteriak lantang sambil melangkah mendekat.


Mayang tersentak hebat. Tubuhnya membatu seketika. Wajah Aranita yang biasa terlihat ramah kini berubah beringas . Sebab tubuh yang terkapar dan sedang dihisap darahnya oleh kedua makhluk itu adalah Joko. Pasangan Aranita yang seluruh penghuni desa inipun tau, bagaimana hubungan Aranita dan Joko yang selalu mesra . Selama ini baik Joko maupun Aranita sama sekali tak canggung ataupun malu menunjukan perasaan mereka satu sama lain dihadapan semua penghuni desa. Jadi sudah jelas , jika Aranita mencintai si lelaki bertubuh kekar dan berparas tampan yang tak dapat bicara .


Namun, kedua makhluk tersebut seolah tak perduli dengan teriakan Aranita dan terus saja menikmati makanan mereka. Membuat Aranita semakin berang dan bersiap mengeluarkan kekuatan yang telah lama tak ia gunakan.

__ADS_1


__ADS_2