Kutukan Selamanya

Kutukan Selamanya
Desa Arkha


__ADS_3

🌺 hem..🌺


'' Hei, kau putri pengkhianat ! "


Mina sontak berdiri karena ucapan kasar yang ditujukan padanya.


Mina menatap tajam pada tiga gadis yang berdiri di hadapannya.


Mereka adalah Lawati, Dindasari, dan Purwayi . Ketiga putri ningrat itu menatapnya sinis.


" Beraninya kau duduk di kursiku ?


Sana, pergi kau ! Enyah dari sini ! " usir Lawati, si pemilik bangku yang di duduki Mina.


Mina yang tak terima almarhum sang ibu dihina, langsung menarik rambut Lawati yang tergulung rapi.


Mina mulai lepas kendali. Telapak tangannya mendarat dengan keras di pipi kanan Lawati .


Merasa belum puas, Mina lantas mendorong tubuh kurus Lawati hingga terhempas di lantai.


Dindasari dan Purwayi tersentak.


Mereka nampak ketakutan hingga tak sanggup bergerak.


Sementara Lawati meringis sakit, meminta ampun. Namun sayang Mina telah gelap mata .


' Bhuk ' satu tendangan menghantam betisnya.


Lawati berteriak hingga mengundang perhatian yang ada di luar kelas.


Suasana pun seketika menjadi riuh.


" Sudah, Den Ayu..Berhenti..Cukup, kasihan dia .. " Mayang merangkul erat pinggang Mina dan berusaha menahan agar Mina berhenti.


Mina menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya menatap Lawati yang menyeret tubuhnya menjauh .


Ada sedikit penyesalan mengingat ia sudah berjanji tak akan berbuat ulah lagi.


Namun kini ia melanggarnya.


" *M*asa bodoh! Persetan dengan kalian semua!" makinya dalam hati.


Terserah, ia tak perduli lagi.


Apakah kali ini ia benar-benar tidak akan diperbolehkan sekolah lagi oleh ayahnya.


Atau mungkin juga ia akan langsung di nikahkan.


Mina melempar tatapan ke sembarangan arah dan terhenti pada wajah polos Mayang.


Sorot mata itu seolah memelas agar ia meredam amarahnya sebelum semuanya menjadi lebih kacau lagi.


Mina menurut. Meski masih di liputi amarah, namun perlahan tubuhnya mulai berhenti bergerak seiring dengan nafasnya yang mulai teratur. Emosinya meredam .


'' Ada apa ini ? '' Panji muncul menerobos para murid yang berdiri di mulut pintu.


Mayang dan Mina saling pandang melihat Panji masuk dan berjalan ke arah mereka.


'' Ulah siapa ini ? '' tanya Panji seraya menatap secara bergantian pada Lawati yang baru saja bangun dibantu kedua temannya kemudian beralih pada Mina dan Mayang .


'' Mereka '' jawab Mina membalas tatapan Panji dengan datar.


Ia dan Panji sebenarnya telah beberapa kali bertemu saat keluarga mereka mengadakan pertemuan untuk membahas perjodohan mereka.


Mereka bahkan pernah jalan berdua atas permintaan keluarga. Untuk saling mengenal satu sama lain, begitu kekompakan yang diucapkan orang tua mereka .


Namun Panji tak pernah menceritakan hal tersebut pada Mayang. Ia khawatir ,Mayang akan menjauhinya jika mengetahuinya.


- -


Panji mendekat sambil memperhatikan Mayang yang melepas rangkulan di pinggang Mina.


Sudah ia duga. Tak mungkin Mayang yang berulah. Sudah jelas sang calon istrilah yang terlibat dalam kericuhan ini.


'' Kemari kau !


Kita pulang sekarang '' perintah Panji.


Mayang berjalan perlahan. Sempat ia memutar leher melihat Mina yang bergeming.


'' Dan, kau ! Aku akan bicara denganmu nanti ! " tegas Panji pada Mina, yang setelah itu langsung menyambar jemari Mayang dan menariknya keluar kelas.


Mina hanya menatap datar pada dua orang yang berlalu dari hadapannya.


- -

__ADS_1


Seperti yang Panji katakan. Lelaki itu menuntunnya ke kereta yang selalu setia menunggu di gerbang sekolah.


" Sudah kubilang jangan dekat dengan siapapun. Apalagi dengannya " cerca Panji kesal.


Mayang yang baru saja mendudukkan diri hanya menatapnya sesaat .Lalu beralih ke jendela kereta yang tertutup. Mayang membukanya agar cahaya dan udara masuk.


'' Dia kan calon istrimu. Jadi kupikir tak apa jika aku dekat ataupun berteman dengannya ''


Raut wajah Panji seketika berubah murung.


Ia tatap Mayang yang selalu menunduk di hadapannya.


Sulit baginya menebak apa yang ada dipikiran Mayang tantangannya selama ini.


Apakah Mayang memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak ?


'' Mayang ''


'' Nggih, Den mas ''


'' Kau mau berteman dengannya meski tau dia adalah calon istriku ? ''


Mayang mengangguk.


'' Kenapa ? ''


'' Kenapa Den Mas bertanya seperti itu ? Bukankah tak ada salahnya ? Lagipula dia mungkin kelihatan kasar, tapi sebenarnya Den Ayu cukup baik ''


Panji menghempaskan punggung di sandaran tempat duduknya .


'' Baiklah, ku biarkan kau berteman dengannya.


Setidaknya kalian akan akur jika nanti tinggal satu rumah ''


Mayang menenggak kepalanya. Menatap Panji dengan ekspresi yang sulit diartikan .


'' Ya, Mayang. Setelah nanti aku menikah dengannya, aku juga akan pindah rumah. Dan kau harus ikut ''


'' ... ''


'' Kenapa ? Apa kau tak mau serumah dengannya ? Kau ingin rumah sendiri ? Atau - - "


'' Buk-bukan.. Bukan begitu Den Mas.


Tapi, apa maksudnya dengan kami akan tinggal serumah ? ''


'' Tapi bukankah seharusnya ada jeda waktu ''


'' Aku tidak mau dan aku tak perduli.


Aku tak bisa jauh darimu.


Dan- dan aku mau untuk melakukan itu pertama kalinya denganmu ''


Mayang terkesiap sambil meremas ujung kebayanya.


'' Itu tak mungkin. Den mas akan menikah dengannya . Jadi sudah seharusnya Den Mas juga melakukan itu dengannya .Bukan dengan saya ?''


'' Aku tak mau.


Aku hanya mau melepas keperjakaanku denganmu ''


Mayang tak mengerti dengan cara pikir Panji. Bagaimana bisa Panji begitu egois, memutuskan hal yang seharusnya menjadi haknya untuk memilih.


* * *


Malam harinya.


Di dua kediaman berbeda, namun tengah membahas hal yang sama. Tentang kericuhan disekolah yang disebabkan oleh Mina dan Lawati .


Di kediaman Adipati.


'' Ini sudah kedua kalinya dia menyerang seseorang .Di sekolah sebelumnya juga , dia terlibat masalah seperti ini hingga di keluar kan dari sekolah , bukan ? '' Purnawati berwajah kusut. Hatinya bimbang apakah harus membiarkan perjodohan anaknya dan si gadis blasteran tetap dilanjutkan atau tidak.


Ia perhatikan wajah suaminya.


Sejak tadi kening sang suami pun mengerut.


Agaknya sang suami pun sepemikiran dengannya .


'' Kang Mas. Coba di pikirkan lagi.


Gadis itu memang cantik dan berasal dari keluarga terpandang, tapi sikapnya kurang baik.


Entah bagaimana jika menikah nanti ?

__ADS_1


Kang mas sendiri pun tau , seperti apa sifat anak kita.


Aku khawatir. Jika dua orang dengan sikap serupa disatukan, akan sulit menjalankan peran rumah tangga dengan baik ''


- -


Sementara itu di kediaman Kolonel Jhon Van Peirezoon.


Mina duduk di kursi tunggal dengan kepala tegak, menatap kedua orang tuanya yang berdiri di hadapannya.


Pipinya merah. Sepertinya ia di hadiahi tamparan atas sikapnya yang kembali mencoreng nama sang ayah.


Entah sudah berapa lama ia di ceramahi . Berbagai macam kata dan kalimat berisi luapan amarah dan penuh tekanan dilontarkan oleh sang ayah.


Ibu tirinya yang menyaksikannya, memilih keluar sebab tak sanggup melihatnya. Namun sebelumnya ia mengingat sang suami agar tak melewati batas.


Walaupun Mina tak lahir dari rahimnya, namun sejatinya ia adalah seorang ibu.


Sebab itu ia tak tega melihat Mina di perlakuan keras seperti ini. Terlebih Mina seorang perempuan, membuatnya kian prihatin.


'' Jika sampai Adipati membatalkan perjodohan mu dengan anaknya, maka kau akan ku kirim di desa Arkha ! " murka sang ayah memuncak.


Ia berbalik dan keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu dengan membantingnya.


Mina tersentak. Ia yang sejak tadi diam , terlihat menyapu ruangan yang akan menjadi tempatnya dikurung sebagai hukuman.


Matanya terlihat mulai berembun.


Ia hela nafas panjang beberapa kali hingga perlahan ia merasa tenang dan berhasil menahan jatuh air matanya .


Apakah sebegitu fatalnya kelakuannya hingga sang ayah dengan tega mengancam akan mengirimnya ke desa Arkha ?


Desa Arkha adalah desa terpencil yang letaknya sangat jauh dari Batavia.


Ia memang belum pernah ke sana. Namun dari sebuah buku yang pernah ia baca, yakni tentang perjalanan seorang penjelajah tanah JawaDwipa . Dalam tulisannya , si penjelajah menuturkan jika ia sempat singgah di desa Arkha.


Di katakan bahwa kehidupan masyarakat dan keadaan desa tersebut sangat jauh jika dibandingkan dengan Batavia yang telah di penuhi banyak kemajuan yang dibawa dan diperkenalkan oleh bangsa asing.


Namun sayangnya, si penjelajah tak banyak menuliskan tentang desa tersebut secara terperinci dan hanya menjelaskan secara singkat .


Mina yang sangat suka membaca dan sering mengunjungi perpustakaan lantas teringat. Jika ada buku lain yang juga menyinggung tentang desa Arkha.


Jika tak salah buku itu isinya tentang silsilah keturunan dan leluhur terdahulu.


Di dalamnya, ada bab khusus yang membahas mengenal desa Arkha.


Dahulu, desa Arkha di kenal sebagai tempat berkumpul sekaligus menjadi hunian tinggal para penganut ilmu Hitam.


Dan kini dipercaya, jika para penghuni desa tersebut adalah keturunan sekaligus para pewaris ahli ilmu Hitam.


Namun tak di jelaskan secara rinci apakah hal tersebut benar adanya.


Pernah sekali waktu, para prajurit kompeni mendapat tugas untuk menyisir desa-desa di pedalaman dalam misi memperluas wilayah kekuasaan. Mereka yang bukan hanya para prajurit saja, melainkan ada pula dokter dan juga beberapa ahli ilmuan , sampai di desa Arkha.


Para bangsa asing itu tak di sambut namun juga tak lantas diusir.


Mereka dibiarkan begitu saja memasuki desa. Dan tak seorang pun penghuni desa yang mau menghiraukan kedatangan apalagi berbicara dengan mereka .


Mereka ada namun dianggap seperti tak ada.


Alhasil pekerjaan ekspedisi yang mereka lakukan tak mendapatkan hasil apa-apa.


Keberadaan desa tersebut pun di laporkan dan kemudian di tindak lanjuti .


Namun lagi-lagi hasil nihil yang didapat.


Para penghuni desa tetap bungkam. Tak mau membuka diri meski dengan ancaman sekalipun.


Akhirnya diputuskan, jika desa tersebut sangat cocok dijadikan tempat pengasingan.


Di mana para pelaku kejahatan berat yang tak dihukum mati maka akan diasingkan ke desa tersebut.


Benar saja, beberapa tahanan yang di kirim dan buang ke sana tak ada yang dapat bertahan hidup lama dan pasti berakhir bunuh diri.


Mina tersadar dan beranjak dari kursi .Ia berjalan menuju sudut ruangan di mana tikar tipis digelar.


Tanpa bantal, alas, apalagi selimut yang biasa menemani tidurnya, Mina pun merebahkan tubuhnya dengan perlahan.


Ia coba tuk memejamkan matanya meski harus menahan dingin dan kerasnya permukaan lantai .


* * *


Bersumbang - -


Jangan lupa like-nya ya

__ADS_1


Kritik dan sarannya juga sekalian.


Makasih 🤗


__ADS_2