
🌺 hem... 🌺
* * *
'' Arahkan tembakkan ke seluruh penjuru pulau . Setelah itu, kalian turun dan telusuri sekeliling pesisir pantai. Awasi setiap sudut !
Dan ingat , untuk selalu waspada.
Pasang mata kalian baik-baik. Jangan sampai ada yang terlewatkan ! " Perintah Kolonel Jhon Van Pierzoon pada prajuritnya.
Seketika itu pula, para prajurit yang telah dibagi tugas membentuk kelompok. Misi penyerangan siap di laksanakan. Mereka bergerak dan meriam menjadi yang lebih dulu beraksi.
Satu persatu tembakan diluncurkan, menghasilkan dentuman dan ledakan hebat. Sungguh dahsyat senjata milik bangsa asing ini, hingga dapat menembus apa saja yang ada didalam hutan . Bahkan mampu membuat pohon-pohon besar tumbang , menghantam tanah dan menyebabkan tanah berguncang.
Pulau yang tadinya asri di tumbuhi aneka tanaman hutan, kini hampir rata dengan tanah. Pohon-pohon rubuh . Ditambah ledakan yang juga menghasilkan api dan melahapnya dengan rakus.
Kolonel Jhon Van Pierzoon yang ada berada di dekat kapal menatap lurus ke arah daratan. Terlihat beberapa kali ia menghela nafas.
Ia menaruh iba. Sungguh miris nasib penghuni pulau ini yang harus dimusnahkan karena dianggap dapat menjadi ancaman bagi bangsanya yang tengah menjajah tanah Pribumi.
Pria yang masih terlihat gagah di usia yang telah setengah abad itu berbalik. Memikirkan jika di pulau itu memang benar ada penghuninya, ia pun merasa bersalah. Sebab telah menjadi salah satu dari orang-orang yang tak berhati nurani.
Tapi apalah daya. Ia tak punya pilihan lain sebab istri dan anak-anaknya adalah taruhannya. Pria yang wajahnya dihiasi kumis dan janggut itu pun coba meyakini diri. Jika yang ia lakukan tak sepenuhnya salah. Ini adalah tuntutan hidup. Dan yang ia lakukan ini adalah menjalankan perintah.
Kembali Kolonel Jhon van Pierzoon menghela nafas ketika pandanganya tertuju pada dua buah kapal milik Pribumi yang telah hangus . Satu dalam keadaan kosong. Sedangkan satu lagi, tiga orang yang berada didalamnya telah di habisi lebih dulu sebelum akhirnya kapal mereka di hujani peluru meriam.
Kolonel Jhon van Pierzoon berbalik lagi. Kali ini ia mematri pandangan ke daratan. Terlihat para prajuritnya berpencar, satu kelompok masuk ke hutan dan dua kelompok lainnya berpisah.Satu ke kiri dan satu ke kanan untuk menyisiri bibir pantai.
Dalam hati , Kolonel Jhon van Pierzoon pun berjanji pada diri sendirinya ,sebisa mungkin ia tak akan mau terlibat apapun lagi dengan yang namanya pertempuran.
Ia tak ingin membunuh ataupun menyaksikan pembunuh lagi. Tidak. Ini harus yang terakhir kalinya.
* * *
Sementara itu.
Saraswati kalah telak. Ia terlalu percaya diri mengira akan menang melawan Aranita. Karena keangkuhannya itu, ia pun harus menerima kenyataan jika bukan hanya kekalahan saja yang ia dapat. Bahkan raganya pun terancam di musnahkan.
Sungguh ia tak akan menyangka, rencana untuk menemukan gadis yang menjadi wadah jiwa Nyi Sukma justru menjadi akhirnya dari perjalannya.
Itu karena ia tak tau jika jiwa yang tersegel dalam wanita yang merupakan pemimpin desa Arkha itu, bukan lah jiwa biasa. Jiwa Nyi Asami lah yang bersemayam di dalam tubuh Aranaita.
Andai Saraswati tau siapa Nyi Asami, ia mungkin akan berpikir ribuan kali untuk beradu kekuatan dengan Aranita. Karena memang hanya segelintir orang saja yang tau tentang Nyi Asami.
Dia, Nyi Asami adalah seorang pemilik ilmu hitam yang memiliki ilmu paling hebat dari semua penganut ilmu hitam yang ada di JawaDwipa ini.
Jadi, sudah jelas kenapa Saraswati kalah .Bahkan sebelum ia sempat mengeluarkan ilmu dan jurus pamungkasnya, Aranita sudah berhasil membuatnya bertekuk lutut dan lanjut mencabik-cabik tubuhnya . Bagi Aranita, wanita cantik bertubuh molek itu bukanlah tandingannya. Karena kekuatan yang dimiliki Saraswati tak lebih dari seujung kukunya saja.
__ADS_1
Setelah mengakhiri pertempurannya dengan melemparkan tubuh Saraswati ke kobaran api, Aranita nampak puas.
Ia dan para perempuan lainnya lantas beranjak pergi. Termasuk juga Mayang. Mereka tinggalkan tempat yang telah menjadi saksi perjalanan hidup mereka yang panjang.
Tinggallah Dimas dan Agam yang mulai sadar dan bergegas ke arah kobaran api, dimana tubuh Saraswati tadi dilempar .
Agam mengambil langkah lebih dulu ,sedangkan Dimas berhenti . Agam masuk ke dalam kobaran api. Tak ia perdulikan panas dan perih oleh jilatan api yang menjalar - jalar ditubuhnya. Setelah menemukan dan mengambil apa yang ia cari, Agam pun bergegas keluar sambil membawa tubuh Saraswati yang tak berbentuk lagi berserta kepalanya.
Agam lantas membawa tubuh yang menguarkan aroma khas daging bakar dan berhenti di dekat Dimas. Agam menekuk lutut, membaringkan tubuh wanitanya dipangkuan.
Meski raganya hampir tak bisa dikenali lagi, namun Saraswati ternyata masih bisa bergerak. Satu matanya terbuka , sedangkan mata satunya lagi tercongkel dan entah jatuh dimana.
Dimas yang tak tega lantas memalingkan wajahnya. Sungguh miris dan mengerikan kondisi ibunya.
'' Saraswati.. '' Lirih Agam membelai lembut kepala Saraswati yang rambutnya sudah habis di makan api.
'' Bersabarlah sebentar. Tubuhmu pasti akan pulih seperti sediakala '' Agam mendekap tubuh dan kepala Saraswati. Sungguh hatinya berdenyut nyeri melihat keadaan Saraswati yang seperti ini. Tak bisa ia bayangkan rasa sakit yang harus Saraswati rasakan saat ini.
' Bhum- Bhum ' - ' Krak- Krak - Kratak - Thum '
Dua ledakan menghantam keras ditempat yang sama, pada sebuah pohon yang berada di dekat mereka dan menyebabkan pohon tersebut tumbang.
Jangankan lari dan menyelamatkan diri, untuk bergerak sejengkal saja mereka tak sempat. Agam, Dimas apalagi Saraswati yang tak bisa berkutik pun tertimpa batang pohon besar yang tumbang .
Tak sampai disitu.
Secara beruntun , tembakkan kembali datang dan meledakkan sekitarnya.
Seolah merekam tau jika ini akan menjadi terakhir kalinya mereka saling melihat satu sama lain.
Di sisi lain.
Dengan kekuatan yang didapat dari jiwa yang bersemayam dalam tubuh mereka , Aranita dan para perempuan lainnya, berhasil menghindar dari tembakan dan lolos dari kepungan pohon-pohon yang runtuh.
Mereka semua kini telah keluar dari wilayah desa Arkha dan berada jauh di dalam hutan .
Di sebuah tebing yang tinggi menjulang yang dibawahnya terdapat jurang yang begitu dalam, Aranita berdiri di tepiannya. Tatapannya lurus ke arah daratan diujung sana, dekat pesisir pantai.
Suara dentuman senjata dan ledakan sudah berhenti. Menyisakan asap berwarna abu mengepul tebal ke udara dan mengepung area sekitarnya.
Aranita menatap pilu . Sebagai pemimpin, ia merasa gagal karena tak dapat menjaga dan mempertahankan desa yang selama ini menjadi tempat tinggal dan juga para penghuni lainnya.
Wanita yang telah kembali ke wujud semulanya itu menghela nafas panjang berkali-kali, lalu berbalik.
'' Apa yang akan kita lakukan setelah ini, Nyi ? '' tanya salah satu dari para perempuan.
Rasmi namanya. Ia adalah salah satu yang paling sering diandalkan Aranita ketika menghadapi situasi tertentu.
__ADS_1
'' Tentu saja kita harus pergi dari sini dan mencari kehidupan baru.
Dan mungkin sebaiknya, kita tak lagi hidup berkelompok. Kita berpencar dan membaur dengan kehidupan manusia biasa. Tapi, kita harus tetap saling berdekatan dan berhubungan '' ucap Aranita .Ia edarkan pandanganya sambil tersenyum tipis. Dan berhenti ketika matanya tertuju pada Mayang. Seketika senyumnya surut.
Mereka semua mengangguk setuju.
Dan hanya Mayang yang terlihat tak menanggapi . Ia bahkan tertunduk setelah mendengar putusan Aranita barusan.
'' Mayang '' Panggil Aranita.
Yang namanya disebut sontak menegakkan kepala dan menatap sebagai balas sahutan.
'' Maaf, Mayang. Kami semua akan pergi.
Tapi kau tak bisa ikut bersama kami. Jadi, kau carilah jalanmu sendiri ''
'' ... '' Mayang mebelalakan mata, tak percaya dengan sorot mata penuh tanya.
'' Apa yang terjadi barusan , mereka adalah orang-orang yang memiliki masalah denganmu bukan ?
Aku tau itu.
Meski bukan sepenuhnya kesalahan mu, tapi tetap saja aku tak bisa memaafkan mu. Karena bagaimana pun kau lah penyebab semua ini terjadi .
Mulai sekarang, kau bukan lagi bagian dari kami.
Dan kuharapkan, kita tidak pernah bertemu lagi ''
Aranita berjalan dengan ekspresi dingin. Ia terus melangkah dan melewati Mayang begitu saja. Disusul kemudian para perempuan lainnya.
Mereka semua acuh pada Mayang, berjalan semakin jauh dan tak satupun dari mereka ada yang mengucapkan salam perpisahan atau sekedar menoleh kebelakang. Dan tak butuh waktu lama, mereka semua sudah menghilang dari pandangan Mayang.
Mayang yang ditinggal sendirian menatap kosong pada sekitarnya. Ia menyeret langkah perlahan dan berhenti ditepian jurang, tempat dimana tadi Aranita berdiri.
Mayang pun menatap ke arah yang juga tadi Aranita lihat. Ia bingung, tak tau harus bagaimana atau melakukan apa. Haruskah ia kembali kesana ? Mungkin saja ia akan bertemu Dimas , tapi... Bagaimana jika ia juga bertemu dengan dua orang itu ? Dua orang yang ia tak tau pasti siapa. Selain karena baru kali bertemu, pun tadi Dimas tak sempat menghampiri dan memberitahunya. Namun yang pasti lelaki dan wanita itu bukan manusia biasa dan pasti memiliki hubungan dekat dengan Dimas ?
Apa mungkin mereka orang tuanya ? Benar. Mayang teringat cerita Dimas tentang Nyi Sukma yang mengutuk Dimas dan kedua orang tuanya . Kutukan hidup selamanya.
Tidak. Kali benar demikian, maka ia tak bisa kembali ke sana. Meski ia sangat ingin bertemu dan bersama Dimas, namun ia terlalu takut jika harus menghadapi orang tua Dimas.
Mayang menggeleng, lalu tertunduk. Pandanganya tertuju pada jurang dalam yang tepat berada bawah di ujung kakinya.
Haruskah ia melompat ? Tapi ia tak bisa matikan, bukan ? Mayang kembali berdebat dengan sejuta pikiran di kepalanya.
Sungguh ia sangat putus asa.
* * *
__ADS_1
Silahkan tinggalkan jejaknya yaaaa...
Like, komen, hadiah votenya barangkali... 😁