
hem... 🌺
* * *
Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sinilah ,pusat transportasi laut dan aktivitas perdagangan berkumpul.
Setiap harinya, kesibukan selalu terlihat ditempat ini. Kapal yang datang untuk melakukan transaksi perdagangan ,dan kapal yang berangkat untuk melakukan perjalanan ke pulau lainnya, adalah salah satu rutinitas yang tak pernah putus barang satu hari pun.
Maka tak heran, tempat ini selalu ramai dan dipenuhi lautan manusia.
Hari ini pun sama. Hanya sedikit berbeda dengan bertambahnya personil yang bertugas menjaga keamanan pelabuhan. Khusus untuk hari ini, mereka yang merupakan prajurit Kompeni mendapat tugas tambahan untuk mengatur dan melenggang jalan .
Sebuah kapal milik militer Kompeni terlihat bersender di dermaga utama pelabuhan. Kesibukan pun sudah terlihat sejak pagi. Hilir mudik para pekerja, baik itu kacung dari kaum Pribumi yang berjalan memikul barang, maupun prajurit Kompeni yang silih berganti berlalu lalang disekitarnya.
Hingga menjelang tengah hari, dua buah mobil memasuki area terdekat dermaga. Setelah sebelumnya kereta-kereta pembawa barang lebih dulu sampai dan terparkir di tempatnya berhenti.
Kolonel Jhon Van Pierezoon , sang istri dan kedua putranya keluar secara bersamaan.
Mereka lah yang menjadi penyebab suasana pelabuhan menjadi lebih sibuk dari biasanya. Sesuai surat perpindahan tugas, sang Kolonel akan mengemban tugas baru dan juga akan menetap bersama anak dan istrinya di sana. Mereka sekeluarga akan diberangkatkan ke pulau dibagian selatan JawaDwipa .
'' Semua barang anda sudah di masukan,Tuan. Dan segala persiapan juga sudah selesai. Kapal siap berangkat menunggu perintah anda, Tuan '' Lapor sang kapten kapal, setelah sebelumnya menyapa dan memperkenalkan dirinya.
Sang Kolonel membalas dengan anggukan. Ia lalu menyuruh sang istri membawa kedua putra mereka untuk lebih dulu ke ruangan yang akan mereka tempati selama menempuh perjalanan.
Namun belum sempat beranjak, tiba-tiba seorang kacung datang menghampiri dengan nafas terengah-engah dan wajahnya merah padam. Kacung yang diperkirakan masih berusia belasan tahun ini pasti habis berlari kencang.
'' Thu-thuan.. Nhona.. Nona '' Ucapnya sambil berusaha mengatur nafas yang seperti dipotong-potong.
Sang Kolonel mengernyit. Menatap heran dan juga tak suka pada sikap si kacung.
'' Hei, kau. Apa kau tak bisa bicara dengan tenang ?! Dasar tak sopan ! " Tegur kapten kapal yang merasa gusar .Pun ia rasa sang Kolonel juga pasti merasa demikian. Hanya saja lelaki yang akan ia layani selama di perjalanan nanti ini, enggan menegur si kacung.
Si kacung semakin tertunduk. Ia lalu menarik nafas panjang dan perlahan beberapa kali. Setelah merasa cukup tenang, barulah ia berani mengangkat sedikit kepalanya.
" Ma- maaf atas sikap saya yang tak sopan, Tuan.
Saya hanya ingin menyampaikan. Nona Mina baru saja tiba bersama Kanjeng Adipati Panji .
Mereka yang meminta hamba untuk berlari.
Nona bilang jangan dulu berangkat. Nona ingin bertemu dan bicara dengan Tuan ''
" Baiklah, kau boleh pergi " ulUcap Sang Kolonel .
Si kacung pun pamit, mengambil dua langkah mundur, berbalik dan pergi.
Beberapa saat kemudian, seorang prajurit datang mengatakan bahwa putri dan menantu lelakinya sudah sampai dan sedang menunggu dipersilahkan masuk.
Sang Kolonel tersenyum. Senyum yang membuat beberapa anak buah yang ada di ruangan tersebut, termaksud sang kapten kapal - tercengang. Pasalnya ini kali pertama mereka melihat lelaki yang selalu bersikap dingin dan minim ekspresi ini melengkungkan bibir.
Sepasang suami-istri yang berasal dari ras yang berbeda memasuki ruangan .Tanpa menunggu perintah semua orang keluar . Kecuali sang Kolonel ,istri dan keduanya.
'' Mina '' Wanita berwajah oriental sontak mendekat. Pun dengan yang ia sebut namanya.
Mina dan ibu tirinya sama-sama merentangkan tangan dan berpelukan.
'' Aku datang untuk mengucapkan salam perpisahan Bu.. '' Ucap Mina setelah pelukan terlepas.
Ibu tirinya mengangguk sambil menyeka sudut matanya yang basah.
'' Kalian berdua , kemarilah '' Mina menatap kedua adik lelakinya yang langsung melakukan seperti yang ia minta.
Mina memeluk kedua saudara laki-lakinya secara bergantian sambil mencium pipi mereka sekali.
'' Aku pasti akan merindukan kalian... '' Lirih Mina menatap wajah mereka satu persatu.
Namun ada yang janggal. Sedari masuk, Mina tak menyapa ayahnya. Ia sepertinya sengaja mengacuhkan lelaki yang sedang menunggu gilirannya di hampiri.
__ADS_1
'' Kami juga.. '' Lirih ibu tirinya yang kembali menyeka air mata yang lolos dan lolos lagi.
Mina tersenyum lembut. Ia pun sama. Tak bisa menahan jatuh air matanya.
'' Berjanjilah Mina. Kalau kau akan hidup dengan baik. Pastikan untuk selalu menjaga diri dan juga suamimu.
Kalian berdua harus hidup bahagia ''
Mina mengangguk. Ia pandangi lagi wajah ibu tirinya dan kedua adiknya . Ia belai pipi kedua adik lelakinya dengan penuh rasa sayang .Ada rasa tak rela berpisah. Belum pergi saja ia sudah merasa rindu.
'' Mina '' Sang Kolonel yang sudah tak bisa menunggu akhirnya mendekat.
Tiba-tiba saja sikap Mina berubah. Ia menatap sang ayah tajam. Membuat ayahnya mengerutkan kening, heran.
Padahal pada ibu tiri dan kedua adiknya, Mina sangat lembut . Tapi kenapa ia bersikap sebaliknya terhadap sang ayah ?
'' A-ada apa Mina ? Kenapa kau menatap ayahmu seperti itu ? '' Tanya sang Kolonel bingung. Ia tak mengerti akan sikap Mina .
'' Ayah pikir saja sendiri '' Cetus Mina yang kemudian berpaling muka.
Diam beberapa saat. Nampak Sang Kolonel mengangguk samar. Ia agaknya paham dan mulai bisa menebak apa penyebab putrinya acuh.
'' Eng- an.. Apakah engkau tak mau memeluk dan mengucapkan salam perpisahan pada ayahmu ini ? ''
Sangat kolonel perhatian wajah Mina lekat-lekat. Ia menghela nafas. Terbesit kecewa dalam benaknya. Bagaimana tidak. Mina tetap acuh. Seolah tak perduli atau mungkin saja benar-benar kesal dan marah padanya.
Sang Kolonel tersenyum tipis, mendekat dan memeluk putri sulungnya itu. Namun Mina tak mau membalas pelukannya.
'' Ayah tau, kau pasti marah karena merasa telah dipermainkan.
Maafkan ayah, Mina '' Ucapnya lembut.
Sang Kolonel melepas pelukan, menarik diri sambil memegang kedua bahu Mina dan mendorongnya. Menciptakan jarak agar mereka bisa saling memandang.
'' Ku minta padamu, ayah. Ini harus menjadi yang terakhir kalinya ayah bersikap semau hati padaku. Jangan pernah lagi ikut campur apalagi memutuskan tentang apapun dalam hidupan ku.
Jadi, ayah sudah tak punya hak apa-apa lagi sekarang.Apa ayah mengerti ?! '' Tegas Mina .
Raut wajahnya kini berubah sendu. Matanya yang merah, kembali mengeluarkan bulir-bulir air mata.
Sang Kolonel mengangguk . Kembali ia tatap lekat-lekat wajah Mina. Memuaskan hati karena nanti jika telah pergi, entah kapan mereka bisa bertemu lagi.
'' Seperti yang tadi ibumu katakan. Berjanjilah untuk hidup dengan baik . Kau harus bahagia Mina.
Dan jika dia - '' Ucapnya dengan sengaja di jeda . Ekor matanya melemparkan tatapan pada Panji sesaat, kemudian kembali menatap sang putri tercinta. Namun belum sempat ia melanjutkan kalimatnya yang menggantung, Mina lantas memotongnya.
'' Ayah, cukup !
Sudah kubilang . Berhenti ikut campur urusanku.
Aku sudah bukan anak yang kecil yang harus kau khawatir secara berlebihan lagi. Aku tau apa yang terbaik dan apa yang harus aku lakukan ''
Sang Kolonel menggeleng. Tak bisa. Ia tak bisa. Yang namanya orang tua,sampai kapanpun tak akan pernah bisa apalagi berhenti mengkhawatirkan anaknya.
'' Kau akan selalu ada dalam pengawasan dan penjaga ayah, Mina. Jadi, jika dia berani atau bahkan menyakitimu .. Maka ayah tak akan segan-segan memberinya pelajaran ''
Mina menyetak nafas kasar.
'' Jika ayah ragu padanya, kenapa ayah menyerahkan ku kembali padanya ? ''
'' Karena ayah tau ,kalau kau menyukainya.Tidak.
Kau bukan sekedar menyukainya, saja. Kau telah jatuh hati padanya. Benar, bukan ? ''
''... ''
'' kau tak bisa menyembunyikannya dari ayah, Mina. Karena itu terlihat jelas,saat dia pergi meninggalkan rumah kita.
__ADS_1
Ayah tak pernah melihatmu semurung dan setidak semangat itu ''
''... ''
'' Jadi, ayah harap. Dengan mengembalikan mu padanya, kau bisa hidup sesuai yang kau inginkan.
Tapi kau harus berjanji. Kau harus hidup dengan sangat bahagia ''
Mina mengangguk. Sungguh ia tersentuh. Niat mengacuhkan sang ayah untuk memberi efek jera agar tak bersikap semau hati, seketika sirna.
'' Awas saja jika dia berani mengkhianati dan mencampakkan mu ! '' Sang Kolonel kembali melemparkan tatapan pada Panji.
Pun dengan Mina yang juga melakukan hal yang sama.
Bukan hanya memiliki sikap dan sifat yang sama. Ayah dan anak inipun ternyata kompak dalam bertindak.
Panji yang sejak tadi diam di tempatnya, menggeleng kecil. Ia memilih bungkamnya, sebab ia rasa tak perlu membela apalagi menyangga dengan mengucapkan janji . Biarlah nanti waktu yang menjawab dan mereka akan melihat sendiri bagaimana ataupun seperti apa ia dan Mina nanti.
* * *
5 tahun kemudian.
'' Kang Mas.. '' Suara lembut memanggilnya .
Panji menggeliat. Lalu membuka matanya yang terasa begitu berat untuk diangkat.
Wajah jelita dengan senyum manis pemiliknya menyambut.
Panji tersenyum. Ini adalah ribuan kalinya ia terpesona pada sang istri. Yang membuatnya tak bisa bosan apalagi berpaling ke wanita lain.
Panji lantas mengangkat tubuh dan duduk.
Ia usap wajah Mina lalu mencium keningnya.
'' Unghk '' Mina memekik kecil.
Mata Panji sontak melebar ketika melihat sang istri memegang perutnya yang besar.
Raut wajahnya pun seketika berubah panik. Ia pegang sambil ia perhatiankan sang istri yang tengah mengandung calon anaknya.
'' Aughhhhh.. Perutku mulas , Kang Mas..Nye-nyeri juga.. '' Rintih Mina . Ia pegang bahu terbuka suaminya dan mencengkamnya kuat.
Panji semakin bertambah panik. Ia lalu beranjak dari ranjang .Dengan penuh hati-hati ia mengangkat dan merebahkan tubuh istrinya ditempat yang tadi ia tiduri. Usai memastikan istrinya baring dengan nyaman, ia pun keluar kamar. Terdengar suara lantangnya memanggil dan memberi perintah pada para kacung. Setelah itu ia kembali masuk dan duduk di tepian ranjang.
Ia raih tangan Mina dan menggengamnya. Sesekali ia mengusap wajah Mina sambil menarik nafas panjang. Raut wajahnya menunjukan betapa ia khawatir dan juga gugup.
Wajar . Sebab ini akan menjadi pengalaman pertama, setelah berulang kali Mina mengalami keguguran hingga akhirnya kehamilan ini berhasil bertahan dan akan segera mewujudkan apa yang selama ini mereka harapkan.
Pun bukan tanpa usaha dan kerja keras agar Mina bisa hamil dan mempertahankannya.
Tepatnya setahun lalu, Mina yang di nyatakan oleh tabib memiliki rahim yang lemah, sempat mengalami frustasi setelah tiga kali mengalami keguguran.
Mina yang saat itu dirundung putus asa, bahkan meminta Panji untuk menikah lagi ataupun memiliki selir yang dapat memberikannya keturunan.
Namun sang suami menolak dengan tegas dan memarahinya karena tak suka.
Baginya hanya akan ada satu perempuan yang menjadi istrinya dan itu berlaku untuk selamanya.
Lima tahun yang telah mereka lewati adalah masa yang penuh perjuangan. Banyak hal telah terjadi dan mereka hadapi bersama. Hingga akhirnya mereka bisa melalui semuanya dan sampai ditahap ini. Saat dimana mereka akan menyambut dan menyongsong kehadiran manusia baru dalam rumah tangga mereka.
' Grep ' Panji tersentak karena tiba-tiba saja Mina meremas kuat tangannya.
'' Kang Mas... '' Mina menunjuk dengan ekor matanya.
Panji pun segera melihat kemana yang sang istri arahkan. Seketika itu pula matanya membelalak. Jarik yang menutupi bagian bawah tubuh istrinya basah oleh air yang keluar dari sela paha Mina.
Panji yang semakin panik pun berteriak, memanggil para kacung agar segera melaksanakan apa yang ia perintah dengan segera.
__ADS_1