
🌺 hem... 🌺
* * *
Hollandsch-Inlandsche School.
Pagi itu, aktifitas belajar berjalan seperti biasa.
Namun menjelang jam pelajaran selesai, deru mesin mobil yang begitu nyaring terdengar memasuki halaman sekolah.
Tak seberapa lama,sebuah kereta dengan ukiran dan lambang khasnya menyusul memasuki area yang sama.
Pasangan Adipati dan Kolonel Jhon Van Peirezoon keluar dari kendaraan mereka masing-masing.
Kedua keluarga yang akan segera menjadi besan terlihat saling menyapa, lalu berjalan bersamaan menuju bangunan sekolah.
Sebenarnya hanya Kolonel Jhon van Peirezoon saja yang diminta untuk datang. Sedangkan Sang Adipati datang atas inisiatifnya sendri. Ia datang untuk menjadi penengah.
Profesor Herald Jacques terkejut melihat Kolonel Jhon van Peirezoon datang menggandeng ningrat paling disegani di Batavia ini. Ternyata hubungan dua keluarga ini sudah sangat serius rupanya.
Profesor Herald Jacques pun menyambut hangat dan penuh hormat seraya mempersilahkan mereka masuk.
Ternyata selain memanggil Kolonel Jhon van Peirezoon, Profesor Herald Jacques juga mengundang Raden Katraji Ademas, ayah Lawati.
Mengingat kesibukan Adipati sebagai kepala daerah dan Kolonel Jhon van Peirezoon, maka Profesor Herald Jacques langsung mengutarakan maksud tujuannya meminta orang tua muridnya itu datang.
Sementara di ruangan ini pembicaraan mulai serius, tak terasa jam pelajaran telah berakhir. Para murid berhamburan keluar kelas dan gegas menuju gerbang sekolah .
Banyak diantara mereka menuju ke kereta jemputan masing-masing. Dan ada pula yang pulang menggunakan jasa Andong yang selalu parkir untuk menunggu penumpang di depan sekolah.
Namun ada juga yang memilih berjalan kaki sebab jarak sekolah yang tak begitu jauh dari tempat tinggal.
Suasana berangsur-angsur sepi dan hingga menyisakan beberapa murid saja. Nampak pula para tenaga pengajar dan petugas sekolah yang masih berada di tempat tersebut.
Di Koridor , terlihat sepasang murid tengah berjalan menuju ruang kepala sekolah.
Mayang dan Panji. Mereka tadi dipanggil untuk menghadap.
Sesampainya di ruangan , seketika semua mata tertuju dan menatap karena memang kedatangan mereka sudah di tunggu sejak tadi.
Ada pula Dindasari dan Purwayi yang duduk sedikit menjauh .
Mereka ternyata juga di panggil untuk dimintai keterangan prihal masalah kemarin.
Pun Mayang yang juga akan menjadi saksi sama seperti mereka.
Namun Mina dan Lawati tak terlihat karena memang hari ini ke dua gadis yang menjadi pokok pembicaraan absen tak masuk kelas.
Jika Mina sedang mendapat hukuman kurungan dirumahnya, berbeda dengan Lawati yang tengah sakit akibatnya pukulan yang ia dapatkan kemarin.
'' Kalian keluarlah. Kami akan menyelesaikan pembicaraan ini '' ucap Profesor Herald Jacques pada para muridnya.
Dindasari dan Purwayi langsung menuju gerbang untuk pulang.
Sedangkan Panji kembali masuk kedalam setelah ia menyuruh Mayang menunggu diluar .
Mayang duduk di kursi taman.
Netranya menyapu setiap hal yang ada disekitarnya.
Sangat asri dengan tataan aneka tanaman dan bunga hias yang terawat baik.
Bahkan tak satupun terlihat adanya dedaunan yang berserakan di tanah . Petugas kebersihan melakukan pekerjaan mereka dengan sangat baik.
'' Permisi '' sapa seseorang membuat Mayang seketika menoleh.
Mayang terperangah.
Dimas, kacung pribadi Profesor Herald Jacques kini berdiri di hadapannya dan tersenyum.
Senyumannya begitu khas sebab di hiasi sebuah tanda di pipi kanannya.
'' Bolehkah aku duduk di sampingmu ? Aku janji, akan menjaga jarak '' ucapnya meminta ijin.
Mayang mengangguk sambil menggeser duduknya ke ujung bangku.
Lalu Dimas menjatuhkan bokongnya di ujung satunya.
Meski ada ketakutan jika Panji melihatnya berdekatan dengan seseorang, apalagi seorang lelaki - namun Mayang tak kuasa untuk menolak.
Mayang mulai merasa gugup . Pasalnya,selain Panji, Dimas adalah lelaki kedua yang duduk berdekatan dengannya.
Meski jarak duduk mereka cukup jauh.
'' Apakah engkau sedang menunggu jemputan ? '' Dimas membuka pembicaraan.
Mayang menggeleng sambil melihat sekilas pada yang sedang bertanya . Ia mengulum senyum mendapati Dimas yang ternyata juga tengah meliriknya.
Perasannya mendadak tak karuan.
__ADS_1
Ia pun semakin gugup tapi juga merasa senang.
Rasa yang tak beralasan ini membuat dadanya berdebar tak beraturan.
Mayang dibuat salah tingkah .
Dimas mengangguk. Ia alihkan sesaat pandangannya ke ruang kepala sekolah yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
'' Sepertinya engkau sedang menunggu mereka yang didalam sana ? ''
'' Hem '' Mayang mengangguk lagi dengan kepala sedikit tertunduk.
Kali ia tak berani melihat lawan bicaranya seperti tadi. Ia takut tak kuat menahan debaran jantungnya yang semakin berkejaran.
Diam beberapa saat. Mayang menarik nafas panjang dan mecoba memberanikan diri untuk bicara.
'' Eng.. Ap-apakah paman adalah kacung pribadi Profesor Herald ? '' dengan segala rasa campur aduk yang melandanya, Mayang akhirnya berhasil mengeluarkan suara .
'' Ahahaha, aku belum terlalu tua hingga kau panggil paman '' Dimas tertawa renyah.
'' Ah. Mmaaf.. Aku tak bermaksud menyinggung mu ''
'' Tidak. Tidak masalah ''
'' ... '' memalingkan wajahnya sebab tak tahan karena pesona Dimas yang naik drastis saat tertawa tadi.
'' Mungkin kita harus berkenalan terlebih dahulu.
Aku Dimas Hanggara , kacung pribadi profesor Herlad.
Kau bisa memanggilku dengan nama. Karena aku baru berusia 23 tahun . Belum pantas dipanggil paman, bukan ? ''
Mayang tergelitik dan tertawa kecil mendengar penuturan Dimas.
Ia beranikan diri untuk menatap Dimas. Senyum yang dilengkapi lesung pipit itu membuat netranya terjebak.
'' Ak-aku Mayang ''
'' Baiklah karena kita sudah berkenalan kurasa kita bisa melanjutkan berbincang-bincang ''
Mayang mengangguk penuh antusias.
Setelah sekian lama, baru ini ia merasa senang ketika bersama seseorang.
Dulu ia pernah merasakan hal seperti ini. Sewaktu ia dan panji bermain ketika masih bocah.
Panji memang terlihat lebih menawan, mungkin karena status dan cara berpakaian.
Namun bagi Mayang, Dimas lebih mampu menarik perhatiannya.
Perasannya ketika bersama Panji dan Dimas, jelas berbeda.
Mayang pun mulai membanding - bandingkan.
Panji yang selalu bersikap semau hati berbeda dengan Dimas yang berkepribadian hangat dan ramah.
Panji sangat jarang bicara. Jika bicara pun yang keluar dari mulutnya pasti adalah perintah.
Berbanding terbalik dengan Dimasa yang sangat piawai mengulas kata. Setiap kata yang keluar dari mulutnya dirangkai menjadi kalimat yang menarik untuk di simak.
Mayang begitu takjub pada sosok pria ini. Ditambah lagi Dimas tak pelit untuk tersenyum.
Membuat Mayang semakin terpikat.
Mayang tak sadar,jika ia telah jatuh ke dalam jurang bernama cinta.
' Klek ' suara pintu terdengar .
Sontak Mayang berdiri melihat ke arah ruang kepala sekolah yang pintunya terbuka .
'' Engkau sudah akan pergi ? '' tanya Dinas yang ikut berdiri.
Mayang melihatnya sepintas sambil mengangguk. Lalu dengan cepat kembali melihat pada mereka yang satu persatu mulai keluar dari ruangan tersebut.
'' Senang mengenalmu, Mayang. Dan sangat menyenangkan juga bisa menghabiskan waktu bersamamu .
Kuharap kita bisa bertemu dan bicara seperti ini lagi ''
Mayang mengangguk . Ia sebenarnya ingin mengatakan hal yang sama. Namun ia terlalu malu.
Bergegas ia meninggalkan Dimas setelah mengucapkan ' selamat tinggal ' sebagai tanggapan dari ucapan terakhir Dimas.
Dimas memperhatikan langkah si gadis lugu. Mayang terlihat menghampiri orang terakhir yang keluar dari ruangan Profesor Herald.
Mereka kemudian berjalan diurutan paling akhir, mengekor langkah para orang tua.
Dari kejauhan, Dimas masih terus memperhatikan.
Sempat ia beradu tatap dengan Mayang .
__ADS_1
Gadis itu melemparkan senyum tipis padanya.
Setelah itu, pandangannya beralih pada sosok pria dengan beskap dan blangkon coklat keemasan.
Sang Adipati ternyata menyadari jika ada yang memperhatikannya. Ia edaran pandangannya dan mendapati Dimas yang berada di jarak yang cukup jauh.
Tatapan Dimas dan sang Adipati bertemu.
Seketika itu pula Dimas merubah air muka-nya.
Jika tadi tatapannya pada Mayang penuh kehangatan dan di sertai senyuman khasnya yang ramah, kini ekspresinya menjadi datar .
Sang Adipati pun terlihat menatap dengan cara serupa.
Namun segera ia alihkan saat sang istri berbicara.
* * *
Malam itu, kembali perbincangan mengenai masalah Mina dan Lawati menjadi topik pembahasan .
Di kediaman Adipati.
'' Kenapa kang mas tetap melanjutkan perjodohan Panji dengan anak kompeni itu ? '' tanya Paramuanti bernada kesal.
Ia hanya tak habis pikir saja.
Setelah masalah yang dibuat dan sikap sang calon menantu yang demikian, suaminya masih akan menikahkan putra satu-satunya dengan si gadis blasteran, Mina.
'' Bukankah kau dengar sendiri tadi. Jika putri Raden Katraji Ademas ( ayah Lawati ) -lah yang memulai.
Dan menurut ku , yang Mina lakukan adalah sesuatu yang masuk akal.
Ia hanya berusaha membela ibunya yang sudah meninggal di hina.
Mina hanyalah seorang gadis yang malang.
Tidakkah kau prihatin dengan nasibnya yang selalu menerima gunjingan untuk hal yang tak ia lakukan ?
Karena tak seorang pun yang bisa memilih akan lahir dana dan dari rahim siapa . Sebab semua sudah ditakdirkan. Begitu pula dengan Mina ''
Paramuanti terkesiap.
Jadi alasan sang suaminya tetap meneruskan perjodohan ini adalah karena prihatin pada nasib gadis itu ?
'' Tapi romo '' sanggah Panji yang ternyata ada dan juga ikut dalam pembicaraan mengenai sang calon istri .
Sang Adipati langsung memalingkan pandangan .
'' Romo tak akan memaksamu.
Tapi jika kau menolak menikah dengannya. Maka kau juga tak boleh menjadikan Mayang sebagai selirmu ''
- -
Sementara dikediaman Kolonel Jhon van Peirezoon.
Mina baru saja keluar dari ruang yang mengurungnya selama sehari semalam.
Meski selama ini sang ibu tiri jarang memperhatikannya, namun kali ini berbeda.
Ia segera merengkuh Mina yang menatap sang ayah dengan bias dingin .
'' Bersyukurlah karena calon mertuamu membantumu . Pihak sekolah berkenan menolerir masalah yang kau buat dan mau memaklumi sikapmu itu.
Jadi kau harus berterima kasih dengan layak pada mereka.
Mulai sekarang , kau harus mempersiapkan diri.
Karena secepatnya kau dan putra tunggal Adipati akan di nikahkan.
Tunjukkan pada mereka, jika dirimu memang pantas menjadi menantu di keluarga mereka.
Ingat ! Jangan sampai kau berulah lagi dan mempermalukan ayah lagi .
Atau kalau tidak - '' ketegasan sang ayah yang merupakan sebuah perintah sekaligus peringatan bagi Mina.
Gadis itu menepis pegang ibu tiri nya.
Dengan langkah perlahan, Mina lalu berjalan melawati ayah begitu saja menuju kamarnya.
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa like-nya ya
Kritik dan sarannya juga skalian.
Trimakasih 🤗
__ADS_1