
🌺 hem... 🌺
* * *
Saraswati tengah bersolek didepan cermin. Mengenakan pakaian terbaik, wajah yang dipoles riasan ,ia selesai dan lantas berdiri.
Senyum terukir di bibirnya yang semerah delima. Ia menatap puas pada tampilan yang ia rasa sudah cukup menarik.
Meski kurang percaya diri , namun ia mencoba memantapkan hati dan membulatkan tekat untuk melakukannya apa yang menjadi tujuannya malam ini.
'' Aku memang tak salah memilihmu menjadi istriku. Kau sungguh cantik, Saraswati '' Suara yang membuat menoleh seketika.
Ekspresi Saraswati berubah seketika. Ia terlihat jengah. Mungkin karena terlalu fokus merias diri, membuatnya tak menyadari kehadiran lelaki yang telah menjadi suaminya selama 8 tahun ini. Entah sejak kapan, pria berperut besar itu masuk dan berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Saraswati berbalik. Jika biasanya ia akan memasang senyum termanis , kini justru tampang tak bersahabat yang ia tunjukkan.
'' Menyingkirlah dari hadapan . Dasar kau lelaki menjijikkan '' umpatnya dengan tatap sinis.
Raden Manggala terkejut. Senyum syarat akan godaan dan raut wajah yang memancar maksud kedatangannya ke kamar istri mudanya, langsung surut.
Raden Manggala mengangkat tangannya yang terkepal dan bersiap untuk melayangkannya. Namun sebelum itu terjadi, Saraswati lebih dulu maju dan mencekik lehernya.
Aneh memang. Karena sewajarnya tenaga seorang lelaki seperti Radean Manggala seharusnya lebih kuat dari wanita yang keseharian hanya berdiam diri dirumah. Namun yang terjadi justru kebalikannya.
Karena kuatnya cengkraman jemari di lehernya, Raden Manggala tak kuasa bergerak. Bahkan tangan yang tadinya sudah mengudara terjatuh begitu saja.
'' Mungkin sudah saatnya bagi lelaki seperti mu dimusnahkan.
Kau hanya tau bersenang-senang, dan menghamburkan hartamu untuk silih berganti meniduri perempuan. Bahkan setelah memiliki delapan istri pun masih tak cukup membuatmu puas.
Lelaki cabul seperti mu memang tak pantas berumur panjang ''
' Khek-khek ' Suara Raden Manggala yang tercekik. Tangannya hendak terulur. Namun tak sanggup sebab Saraswati semakin menguatkan cengkramannya.
' Kratak ' hanya dengan menekuk sekali tangannya , Saraswati berhasil mematahkan leher sang suami dan melepaskannya.
' Bruk ' tubuh Raden Manggala ambruk dilantai. Saraswati tersenyum sinis. Ia lalu berjalan menuju meja, tempat diletakkannya lampu pijar .Ia raih kemudian dengan sengaja menjatuhkannya di tempat tidur.
Seketika api menyambar dan menjalar ke segala penjuru dan melahapnya dengan rakus.
Tak butuh waktu lama. Api semakin berkobar tak terkendali. Menghabisi apa saja yang tersentuh olehnya.
* * *
Pelabuhan.
'' Kau - '' Agam terkejut mendapati sosok wanitanya berdiri dihadapannya, tepat ketika ia membuka pintu.
Saraswati mengukir senyum. Agam tertegun. Tampilan Saraswati malam ini terlihat berbeda dari biasanya. Pakaian yang dikenakan begitu kencang membalut tubuh sintalnya. Bagian dada nampak lebih membusung, bokongnya pun tak kalah menarik perhatiannya. Membuat kain yang membungkusnya saling tarik ,bahkan terkesan seperti kekecilan.
Agam terlihat berulang kali memalingkan pandangannya dengan jakun naik turun, menelan salivanya dengan kasar.
Saraswati tertawa kecil. Semudah ini menggoda lelaki yang pernah menjadi suaminya dulu.
'' Kau datang pasti ada yang ingin di bicarakan. Tunggulah di luar. Aku akan masuk dan membuat minum sebentar '' ucap Agam yang langsung memutar tubuhnya dan hendak melangkah masuk ke dalam. Namun terhenti.
'' Aku kemari bukan untuk bicara, Mas '' Ucap Saraswati dengan suara yang lembut.
'' . . . '' Agam terpaku dan tatapan yang terpatri pada kedua manik hitam wanita dihadapannya.
'' Mas '' Saraswati menyentuh dada terbuka Agam. Lelaki bertelanjang dada itu tersentak .Hayalan di kepalanya yang baru saja dimulai pun buyar.
'' Ka-kalau begitu tunggulah diluar sebentar. Aku akan segera me-nyu- - sul mu '' Ucapnya terbata , melihat Saraswati menggeleng lalu melangkah maju hingga tak ada jarak diantara mereka. Saraswati mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di telinga Agam.
'' Aku tak ingin di luar. Aku ingin didalam. Dan jika di ijinkan, aku ingin berada semalaman disini '' Bisik Saraswati .
' Cup ' Saraswati mengecupan pipi Agam ,lalu menarik diri .
Diam sesaat. Agam yang memang telah tergoda, perlahan ekspresinya berubah. Ia menatap Saraswati lekat-lekat.
__ADS_1
Ia pun tersadar. Meski hubungan mereka belakang ini semakin dekat , namun belum pernah mereka melakukan lebih dari sekedar memeluk dan berciuman. Dusta jika ia menyangkal keinginannya untuk bisa berbuat lebih, apalagi mereka pernah menjadi suami istri .
Ia kenal betul bagaimana sikap dan sifat dari seorang Saraswati luar dan dalamnya. Ia bukan wanita agresif yang pandai menggoda. Pun ketika melakukan hubungan intim, Saraswati tak pernah berperan dominan .
Agam menghela nafas. Mencoba menetralkan seluruh indranya.
Ia mundur dan mempersilahkan Saraswati masuk.
Saraswati menangkap lain dari raut wajah lelakinya. Apakah Agam menolaknya ?
Saraswati masuk dengan muka muram. Padahal ia sengaja menyiapkan diri memang untuk menggoda Agam. Tapi nampaknya tak akan berjalan mulus seperti yang telah ia rencanakan.
Saraswati menghela nafas berat. Jika ia gagal malam ini, maka ia itu berarti ia harus berusaha sendiri.
Saraswati yang telah masuk, duduk di kursi yang bersandar di dinding. Di perhatikannya Agam yang usai menutup pintu berjalan ke arahnya.
Saraswati mengulum bibir.Ada rasa gugup, jika Agam benar-benar menolaknya . Yang mana hal itu pasti akan sangat memalukan nantinya.
Baiklah. Jika memang itu terjadi, maka ia akan pergi dan tak akan pernah mau menemuinya lagi. Begitu Saraswati bertekat saat ini.
'' Katakan apa keperluan mu datang kemari ?'' tanya Agam yang berdiri dengan jarak cukup jauh dari duduk Saraswati.
Saraswati mengulum bibirnya dalam-dalam sambil menghela nafas. Sudah bisa dipastikan , Agam pasti menolaknya.
Saraswati berdiri . Ia menatap Agam datar. Tak seperti tadi yang ia buat segenit mungkin.
'' Aku butuh bantuanmu .Aku harus pergi ke desa Arkha '' ucap Saraswati yang setelah itu menghentakkan nafas.
Ia kesal dan juga malu . Rasanya ingin segera cepat-cepat pergi.
Agam bergeming. Ia tengah memikirkan ucapan Saraswati. Ia gali ingatan di kepalanya ,mencari apakah desa Arkha yang Saraswati maksud adalah tempat Kompeni mengasingkan para penjahat yang berasal dari kaum Pribumi ? Desa yang tak jelas asal usul dan keberadaannya.
'' Aku telah menemukan siapa gadis yang menjadi wadah jiwa Nyi Sukma . Dan aku juga diberitahu,jika di sanalah mereka sekarang berada '' lanjut Saraswati menjelaskan.
Padahal tadinya ia tak ingin meneruskan dan memilih untuk berusaha seorang diri. Ia sebenarnya bisa saja mencari seseorang yang dapat mengantarkannya ke sana. Tapi ia merasa lelah karena setelah itu ia harus membunuh lagi untuk menghapus jejak.
Berbeda jika Agam bersedia membantunya, maka ia tak perlu mengotori tangannya dengan darah lagi.
Agam masih bergeming. Membuat Saraswati semakin tak nyaman dan tak bisa lagi bertahan lebih lama.
'' Sepertinya kau butuh waktu untuk memikirkannya. Baiklah, kalau begitu. Aku akan pergi sekarang '' Saraswati berdiri, mengambil langkah maju menuju pintu tanpa sedikitpun menatap Agam.
Namun terhenti ketika akan melintasi Agam. Sebab pria itu mencekal lengannya.
'' Apa hanya itu tujuan mu mendatangi ku ? '' tanya Agam penuh penekanan. Sama halnya dengan tatapan yang seolah memaksa agar Saraswati mengakui sesuatu yang sebenarnya sudah bisa ia tebak .
Saraswati mencoba menarik lengannya. Namun Agam enggan melepaskannya dan justru memperkuat pegangannya.
'' Bukankah kau datang untuk menggodaku ? Makanya kau berpenampilan seperti ini , em ? '' Tanya Agam kembali memberi tekanan pada wanita yang seketika melototkan kedua matanya.
Wajah Saraswati berubah pias. Kalimat yang dilontarkan Agam begitu mengena dihatinya.
Belum pernah ia merasa terhina seperti ini. Ucapan Agam seolah mengecapnya sebagai wanita murahan. Yang menginginkan sesuatu dan membayar dengan tubuhnya. Meski ia akui memang seperti itulah niatnya tadi. Tapi tetap saja ia tak terima. Karena jujur, sejak pertemuan pertama setelah ratusan tahun tak bertemu, ia sudah memiliki hasrat itu. Namun selalu ia tahan dan sebisa mungkin tak ia tunjukan. Sebab ia masih memiliki harga diri yang harus ia pertahankan.
'' Kenapa kau diam saja ? Apakah yang ku katakan salah ? ''
Saraswati terhenyak. Terasa seperti ada yang menghantamnya . Sulit diartikan bagaimana perasaannya saat ini.
'' Mas, tolong lepaskan '' Lirih Saraswati tertunduk.
'' Jika kulepas, apa kau akan mencari orang lain yang bisa membawamu ke desa Arkha ? '' Tanya Agam lagi. Kali ini terdengar datar. Tak ada penekanan seperti tadi. Perlahan pegangannya mengendur dan terlepas.
Sesaat keduanya saling menatap. Saraswati memilih memalingkan wajahnya dan menyambung langkah yang tadi terhenti .
'' Jangan pergi ! '' ucap Agam membuat Saraswati sempat berhenti. Namun hanya beberapa detik saja, wanita itu kembali melanjutkan langkahnya.
'' Saraswati ! ''
Saraswati tak peduli. Ia terus berjalan dan semakin mempercepat ayunan kedua kakinya ketika sudah berada di luar.
__ADS_1
'' Mau kemana kau ? '' Agam tiba-tiba sudah berada didepan, menghadang jalannya.
Saraswati acuh. Ia bergeser dan melewati Agam.
Tapi Agam dengan cepat menghadangnya lagi.
'' Apa kau akan mencari dan menggoda seseorang yang bisa membantu untuk memenuhi ambisimu ? ! '' Agam menatap tajam.
Saraswati menyetak nafas kesal. Ia tatap Agam dengan tak kalah tajamnya.
'' Kau benar. Karena memang aku harus ke desa Arkha. Jadi, akan kulakukan apapun untuk bisa ke sana '' tegas Saraswati.
Agam mendekat.
'' Kenapa harus mencari orang lain ? Bukankah sudah pernah kukatakan ,kau bisa melibatkan ku untuk hal apapun ? ''
'' ... '' Saraswati mengernyit.
Agam tersenyum. Lalu mengusap wajah dan menyeret jemarinya turun ke leher jenjang pemiliknya.
Saraswati terenyuh akan perlakuannya hingga tanpa sadar memejamkan matanya.
'' Aku tau apa saja yang sudah kau lakukan belakang ini. Tidakkah kau lelah dengan semua ini ?''
Saraswati membuka matanya perlahan dan mengangguk kecil.
Agam memeluk, menariknya masuk kedalam dekapan.
'' Kalau begitu, mulai sekarang jangan lagi melakukannya sendiri. Kita lakukan bersama. Tapi berjanjilah.
Setelah ini jangan lakukan hal seperti itu lagi.
Dan apapun akhirnya nanti, jangan lagi mencari orang lain untuk kau manfaatkan.
Karena mulai saat ini aku akan selalu ada untukmu. Kau bisa katakan dan aku akan berusaha menuruti apapun yang kau minta. Pakailah aku sesuka dan semau hatimu ''
Saraswati menarik diri, menatap lekat-lekat lelaki yang menyeret kedua tangan di bokongnya.
'' Benarkah ? Apa aku boleh menggunakan mu semau hatiku ? '' tanya Saraswati , seraya menyunggingkan senyum penuh goda.
'' Hem '' Agam mengangguk.
'' Kalau begitu, apa bisa malam ini juga kita berlayar ? ''
'' Apapun untuk mu ''
Agam menarik Saraswati, membawa wanitanya kembali masuk kedalam ruangan.
' Gretek ' suara jangkar diangkat. Lalu ' srekk' layar dibentangkan. ' syuuuhhhh ' angin berhembus, terasa goncangan ringan yang disebabkan kapal yang mulai bergerak menjauh dari tempat yang telah menjadi sandarannya selama ini.
Kapal yang membawa sepasang manusia itupun terlihat mulai menapaki lautan dan perlahan semakin jauh meninggalkan pelabuhan .
'' Kapal ini bergerak sendiri ? '' Saraswati menatap takjub. Ekor matanya tak berhenti bergerak, memperhatikan benda-benda yang bergerak sendiri . Seolah tengah menjalankan tugas masing-masing. Ia terkesima. Kemampuan Agama ternyata diluar perkiraannya.
'' Sama seperti mu. Aku pun mengasah kemampuan dan kekuatanku. Aku belajar dari seorang petapa untuk menggerakkan benda tanpa perlu menyentuhnya ''
Saraswati berbalik, menghadap Agam.
'' Apa ini juga termaksud kemampuan yang kau pelajari itu ? '' Saraswati memicing mata.
Agam tergelak seraya mengangguk mengiyakan .
Sambil melipat kedua tangannya di dada , ia mematri tatapannya pada wanita yang satu persatu pakaiannya mulai terlepas dengan sendirinya.
Hingga akhirnya tak ada lagi yang tersisa. Saraswati bak bayi yang baru saja lahir. Tubuh polosnya kini terpampang di hadapan Agam.
Senyum di wajah Agam perlahan surut. Lelaki bertubuh tegap itu mendekat dengan tatapan penuh ambisi .
Agam berjalan ke arah Saraswati sambil melucuti pakaiannya.
__ADS_1
Dan apa yang terjadi selanjutnya, rasanya tak perlu dideskripsikan lagi.