LOLIPOP

LOLIPOP
BAB1


__ADS_3

Aninda mengayuh sepeda butut dengan galau sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup oleh satpam bengis penjaganya ini pertama kali ia berangkat sekolah sebagai siswi SMA Harapan Jaya setelah satu minggu ditindas para senior dalam kegiatan MOS bahkan ia tak peduli dengan bunyi klakson kendaraan yang sejak tadi memperingatkan dirinya untuk memelankan sepedanya. yang ada dibenaknya hanyalah: jangan sampai terlambat kalau tidak mau berurusan lagi dengan para senior sok galak.


lampu merah diperempatan membuat aninda berhenti gerbang SMA Harapan Jaya yang terbuka lebar tampak dipelupuk mata. matanya berkilat saat detik-detik menuju lampu hijau. SREEET! ia memacu dengan semangat berlebihan hingga menyerempet sepeda motor sporty biru yang tergesa-gesa. Bruuk! aninda terjatuh sepedanya masih melaju kencang tanpa kendali. ia melihat sepedanya itu masuk selokan besar dan sekejap saja lenyap dari pandangan.


orang-orang langsung mengerubunginya, begitupun pemilik motor sporty yang menyerempetnya tadi. petugas ambulans yang kebetulan lewat bergegas menolong dirinya, sedangkan nasib sepedanya sangat tragis. selokan dalam dan berlumpur membuat warga enggan mengambilnya.


"sepedanya relakan saja, harganya juga tidak seberapa" gumam seorang bapak dari balik mobil.


aninda terdiam pasrah karena dahinya sedang diobati paramedis. cowok pengendara motor sporty tadi mendekati aninda setelah melepas helm. "sori buat yang tadi, ini kartu namaku" kata cowok tampan itu singkat, lalu beranjak pergi mengendarai motornya.


hati aninda mencelus. dia cuma bilang kayak gitu tanpa rasa bersalah? sialan! umpatnya dalam hati.


Setelah selesai mengobati luka didahi, paramedis mengantar aninda sampai didepan gerbang sekolah. "makasih ya pak" kata aninda sambil tersenyum semanis mungkin. "lain kali lebih hatihati ya dik, sekarang jalanan ramai banget." kata paramedis itu sopan, kemudian ambulans menderu pergi.


aninda menarik napas dalam-dalam, kemudian perlahan mengembuskannya lewat mulut. ia selalu begitu bila sedang gugup. sebentar lagi ia harus menerima omelan kakak kelasnya, wali kelasnya, dan entah dari siapa lagi saking banyaknya orang yang akan mengomelinya. belum lagi omelan orangtuanya bila tahu sepeda mereka satu-satunya musnah oleh anak sendiri.


baru saja aninda melewati gerbang sekolah, dua senior mendekati dirinya. "ayo, ikut kami keruang OSIS!" ujar salah satu cewek. aninda jelas kaget "memangnya saya kenapa kak?" "udah ikut aja" ujar cewek satunya lagi.


begitu tiba di ruang OSIS, aninda langsung disambut omelan. "baru kelas sepuluh udah berani telat lima belas menit!" omel salah satu pengurus OSIS yang terkenal galak disekolah. namanya marsya, cewek paling populer dan paling diidolakan kaum adam. "tadi saya kecelakaan kak, jadinya telat" jawab aninda sambil menunduk sepolos mungkin. ia melirik marsya dan kedua cewek tadi. semua siswa tahu marsya dan dua dayangnya ini pentolan SMA Harapan Jaya. talenta dibidang cheerleader membuat mereka populer sekaligus besar kepala.


"ini kartu peringatan buat ditandatanganin orangtuamu. udah, sana balik kekelas" kata marsya sambil memberi aninda kartu merah. dengan langkah gontai aninda keluar dari ruang OSIS.


***


Waktu aninda sampai diruang kelasnya X-8, jam pertama sudah dimulai. Aninda mengintip dari jendela. Bu Purwanti guru bahasa inggris sedang menulis materi pelajaran di papan tulis. Aninda mengetuk pintu, kemudian masuk dengan senyum konyolnya pada Bu Purwanti. “Okay, come here please” ujar Bu Purwanti dengan aksen London. 


“Apa bu?” Tanya aninda dengan wajah blo’on. Seisi kelas tertawa melihat ekspresi aninda. “Oh my God! You don’t know what I mean?!” lagi-lagi aninda melongo mendengar perkataan Bu Purwanti. Seisi kelas kembali tertawa. Wajah aninda memanas sehingga memerah. “ oke, kamu ke bangkumu saja. Ibu kasihan sama kamu” kata Bu Purwanti akhirnya.

__ADS_1


Aninda menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal, kemudian nyengir sambil melenggang menuju bangkunya. “dahi kamu kenapa?” bisik yasmin, teman sebangku sekaligus teman terlamanya.


“tadi kecelakaan di perempatan depan sekolah, keserempet motor terus jadi gini deh. Sepedaku juga ancur yas” celoteh aninda yang tak menyadari Bu Purwanti dan teman sekelas sedang memperhatikannya bercerita. “Aninda! What are you talking about with Miss Yasmin?” Bu Purwanti berseru geram. “Haa? Apa bu?” aninda memasang wajah blo’onnya lagi. Yasmin menyikut aninda sambil membisikan arti kalimat yang bu purwanti ucapkan. “Oh, no! Oh, yes!” jawab aninda keras-keras. Seisi kelas tertawa, bu purwanti hanya menggeleng pelan sambil mengelus dada. 


Saat istirahat, yasmin mengajak aninda duduk dikoridor kelas sambil menonton latihan basket para senior. Sebulan lagi ada kejuaraan basket SMA tingkat nasional sehingga bisa dipastikan lapangan basket tidak akan pernah sepi. Dipinggir lapangan para anggota cheerleader juga berlatih dengan gerakan yang menurut aninda brutal dan tidak beretika. “anin, nomor punggung sepuluh lumayan ya?” celoteh yasmin girang. Sejak awal yasmin memasang wajah tertarik dengan cowok itu. “yaela, rupanya ngajak nonton gara-gara ada idolanya ya non?” sindir aninda.


“hehehe… nggak juga sih. Dia baik lho nin, terus belum punya cewek. Namanya satriya.” Kata yasmin bersemangat mempromosikan pujaan hatinya. Sejak tadi aninda memperhatikan pemain bernomor punggung tujuh. “nin, kok bengong?” teriak yasmin. “yas, yang nyerempet aku tuh yang nomor tujuh!” teriak aninda histeris seolah berhasil memecahkan kasus rumit setingkat Detektif Conan. “haa?! Yang benar nin?” Tanya yasmin tak percaya. Cepat-cepat aninda merogoh saku kemejanya yang berlogo OSIS, kemudian menarik kartu nama yang diberikan pemilik motor sporty yang menyerempetnya tadi pagi. “Namanya Vigo K. Sastrodjoyo kan?” ujar aninda lebih yakin. “ kamu benar nin. Beruntung banget kamu ditabrak Vigo!” seru yasmin takjub. “beruntung dari hongkong! Dia mesti tanggung jawab masalah sepedaku! Ntar temenin aku temuin dia ya yas” kata aninda geram. “beres bos!” jawab yasmin bersemangat.


Tapi janji tinggallah janji. Saat bel pulang bordering yasmin lebih memilih mengingkari janji penyebabnya satriya sudah menunggu dirinya dikoridor kelas. Tentu saja yasmin itu senang bukan main. Buru-buru ia menghampiri satriya kemudian memutuskan pulang bersama pujaan hatinya. Aninda hanya bisa melambaikan tangan pada yasmin dengan pasrah. Alhasil dirinya menunggu angkon dihalte depan sekolah seorang diri. Ia gelisah karena awan hitam diatas sana sudah berjubel banyaknya. Kalau tidak cepat-cepat, bisa-bisa hujan keburu mengguyurnya. “hei, mau kemana nin?” terdengar suara seorang cowok dari samping aninda. “eh, mau keblok M ke perumahan dharmawangsa” jawab aninda kaku. Sebenarnya dia tak mengenali cowok tampan yang menyapanya itu. “ pasti kamu lupa aku ya?” ledek cowok itu. Aninda hanya tersenyum miris mendapati dirinya yang mungkin terlihat bodoh. “ aku ricko, temen SD-mu” tambah cowok itu. Sontak mata aninda membesar, seterang nyala lampu seratus watt.


“Ohh…Ricko! Ya ampun, kok beda ya? Padahal dulu ricko ingusan terus badan kamu pendek” cerocos aninda polos. Ricko nyengir mendengar cara teman masa kecilnya mengingat dirinya.


“iya, ricko yang selalu kamu bantu kalau dikeroyok umar cs” ujar ricko kalem. Mereka bersalaman. “aku gak nyangka sekarang kamu jadi gagah gini, padahal dulu kalau berantem kalah melulu” “iya nin, malu dong kalau sampai kalah sama aninda chandraningsih yang sekarang dandannya jadi cewek gini” 


“Ihh, ini juga tuntutan. Disekolah cewek nggak boleh pake celana panjang tau!” “ iya tau. Kamu jadi keliatan cantik lho nin” kata-kata terakhir ricko membuat pipi aninda panas dan memerah.


Aninda tersenyum malu sambil memalingkan wajah konyolnya. “hei, itu bus ke blok M! duluan ya rick” teriak aninda sambil berlari kearah pintu bus tanpa bersalaman dengan ricko. Ricko hanya menggeleng sambil tersenyum, kemudian tangannya membalas lambaian aninda yang sekarang menjauh bersama bus itu.


***


Bus yang membawa aninda melaju cepat mengantar dirinya sampai di halte bus depan perumahan Dharmawangsa. Aninda turun dengan langkah gontai menuju tepi jalan. Bus itu membuatnya mual bukan main. Sopirnya stress kali, nyetir kok ngebut gitu! Geramnya dalam hati. Ia merongoh saku seragam sekolahnya mencermati alamat yang tertera dalan kartu nama Vigo. Penuh semangat ia setengah berlari menuju rumah nomor lima yang ternyata dekat.


Rumah vigo bernuansa Eropa. Pilar-pilar besarnya mengingatkan aninda pada setting film horror yang sering ditontonnya di TV. Dengan hati-hati ia memencet bel disamping pintu gerbang yang megah. Ia memencet bel berulang kali, kemudian mengintip kehalaman rumah yang luas rindang. Honda Jazz terparkir didepan garasi disampingnya ada motor sporty biru yang membuat keyakinan hatinya semakin kuat. Ia masih mengintip ketika seorang wanita setengah baya membuka gerbang. Cepat-cepat ia menegapkan badan sambil merapikan seragamnya.


“non cari siapa?” Tanya wanita setengah baya itu. Rambutnya diikat kebelakang seperti keong. Baju yang dikenakannya sederhana. Diketahuinya kemudian nama wanita itu adalah Mbok Tiyem. “permisi mbok, saya ada perlu sama vigo” jawab aninda sopan. “oh den vigo ada didalam. Mari..mari masuk” mbok tiyem membukakan pagar dan mempersilakan aninda masuk. Aninda masih terbengong-bengong melihat kemegahan rumah vigo. Kolam ikan besar menghiasi bagian depan teras, deretan pohon cemara dan pohon mangga besar membuat halaman asri itu terasa adem.


Mbok tiyem mengantar aninda sampai diruang tamu, kemudian pamit kebelakang untuk memanggil vigo. Aninda meneliti setiap detail ruang tamu hiasan keramik mahal tersusun rapi disudut ruangan, lukisan-lukisan kuno terpasang indah didinding, sofa besar empuk dengan vas bunga indah dan mewah. Ia mengagumi ukira yang menghiasi jendela. Pandangannya terhenti ketika dirinya melihat vigo berjalan kearah gerbang. Aninda bergegas keluar rumah dan mengejar vigo sambil berteriak “hei, tunggu!” vigo terhenti dan berbalik kearah aninda. Dengan napas memburu aninda berdiri tepat didepan vigo. “mau lari kemana kamu?” teriak aninda lagi.

__ADS_1


“lari kemana? Maksudnya?” Tanya vigo heran. “tanggung jawab dulu dong!” emosi aninda meninggi menyadari vigo sedang mempermainkannya. “ tanggung jawab apaan? Jangan sembarang dong” ujar vigo kalem. Ekspresinya datar dan tanpa emosi. “masalah tadi pagi! Sepedaku ancur tau!” “ancur? Aku nggak ngerti deh” 


“pura-pura amnesia ya? Tadi pagi kamu naik motor terus nyerempet aku” “kayaknya kamu salah orang deh” 


“salah orang gimana? Jelas-jelas kamu yang nyerempet aku tadi pagi!” “ itu bukan aku” “terus siapa?setan?” “itu pasti….” Belum sempat vigo melanjutkan kalimatnya suara tawa meledak dari teras rumah. Aninda berbalik penasaran. Seketika tubuhnya terasa mati rasa. Terlihat sosok vigo di teras sana. Aninda mengerjap kenapa jadi ada dua vigo?!


“mungkin yang kamu maksud vigo, dia saudara kembarku” jelas cowok yang disangka aninda sebagai vigo. “ perkenalkan namaku yovi, kakaknya vigo atau lebih tepatnya kembarannya vigo” tambah yovi kalem.


Aninda cengengesan malu kemudian menyalami yovi “aninda” 


“mending kamu temuin vigo dulu tapi jangan pake emosi. Vigo temperamental soalnya” jelas yovi ramah. Aninda manggut-manggut malu. Yovi membuka gerbang setelah sekali lagi tersenyum ramah pada aninda, ia melesat pergi bersama Honda Jazz-nya. “lucu banget sih, marah-marah gitu tapi salah orang” ledek vigo masih terpingkal-pingkal. Aninda mengerutu tak jelas. Kedua tangannya bersedekap “kamu mesti tanggung jawab. Sepedaku ancur plus ilang” tuntut aninda pelan teringat penuturan yovi bahwa vigo terperamental. “itu bukan sepenuhnya salahku dong! Makanya kalau naik sepeda jangan ngebut!” ujar vigo yang sekarang sibuk member makan ikan dikolam. 


“iya, tapi seenggaknya kamu ganti sepedaku dong” ujar aninda masih tenang. “kamukan bisa minta orangtuamu lagi” kata vigo tanpa rasa bersalah. “aku bukan orang kaya seperti kamu vig” aninda mulai emosi. “jangan bawa-bawa masalah gitu lah. Itukan nggak ada hubungannya.” Nada vigo mulai meninggi. “jelas ada dong” volume suara aninda jadi tinggi juga.


Rugi deh aku ngasih kartu nama ke kamu. Ternyata kamu nyebelin banget! Rutuk vigo dalam hati. “udah pulang sana. Kecelakaan itu juga salahmu sendiri nggak bisa hati-hati. Tau sendirilah sepeda butut kayak gitu masih dipake!” teriak vigo emosi.


Kemarahan aninda sudah mau pecah ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan pelan lewat mulut. Ia sadar, percuma menghadapi orang seperti vigo dengan menyertakan emosi. Ia mengambil tas yang tadi tertinggal diruang tamu lalu beranjak pergi meninggalkan vigo yang masih sibuk dengan kolam ikannya. 


Mbok tiyem yang sejak tadi mencuri dengar pembicaraan mereka hanya bisa mengelus dada sambil menyaksikan kepergian aninda. “dia yang salah kok jadi dia yang marah-marah. Dasar orang kurang waras!” kata aninda ngedumel sendiri saat berjalan menuju halte. “hai! Pulang kemana?” “ya tuhan astaga!” aninda terkejut mendapati mobil yovi kini berada disampingnya.


Yovi tersenyum melihat keluguan aninda. “kuanterin yuk” “wah, rumahku jauh” jelas aninda kikuk. “ayolah” bujuk yovi.


Akhirnya aninda mau juga diantar pulang yovi setelah acara jual mahalnya tadi. Lagian susah dapet bus kalau udah sore begini. Lumayanlah. Kata aninda dalam hati.


“gimana tadi sama vigo?” Tanya yovi membuka pembicaraan. “ya gitu deh, dia sedikit nggak waras kali ya. Masa dia yang salah malah dia yang marah-marah” celoteh aninda. “dia emang gitu orangnya. Cuekin ajalah. Emang beneran sepeda kamu ancur?” Tanya yovi kalem.“bukan ancur lagi, lenyap ditelan got. Bingung deh besok sekolah mau gimana, belum lagi ntar ortu pasti marah-marah” keluh aninda lemas.


Sampai didepan rumah aninda, orangtuanya terbengong-bengong melihat putri mereka diantar mobil mewah. Dengan sopan yovi ikut turun dari mobil dan menemui orang tua aninda. Aninda terpaku melihat yovi dengan sabar menjelaskan permasalahnnya. ia sedikit kagum dengan sikap yovi yang sangat bertanggung jawab. Ia tersenyum kecil melihat yovi yang langsung bisa akrab dengan kedua orangtuanya. “anak ayah ternyata jago juga milih pacar” ledek ayah aninda setelah yovi meninggalkan rumah mereka. “itu temen aninda yah” sangkal aninda ketus. “lebih dari teman juga nggak apa-apa” ibu aninda tak mau kalah.

__ADS_1


Aninda menghela napas kuat-kuat.” Udahlah yah, bu, mending sekarang kita mikir anin berangkat sekolah pake apa besok?” kedua orang tua aninda bertatapan, kemudian mereka tersenyum penuh arti. Aninda mengernyit melihat sikap aneh orangtuanya dan memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.


 


__ADS_2