
Tidak ada jawaban. Aku terus melangkah dengan sesekali menoleh ke belakang dan kanan kiri ku terus mengikuti kata hatiku. Selama berjalan, kujulurkan tanganku dan kulambai-lambaikan agar tidak menabrak apa pun di depanku. Kakiku pun terus kulangkahkan dengan sangat hati-hati, takut jika terlalu buru-buru aku malah terjebak dalam lubang. Semoga saja aku tidak salah menangkap suara Om Sammy.
"Ooommmm...." kucoba membuat suara kembali.
"April!"
Suara itu kembali telah dengar. Dia berteriak mengalahkan suara hujan yang perlahan lahan semakin deras.
"Oom," gumanku nyaris putus asa.
Apa aku salah mengambil jalan?
Apa aku malah semakin menjauh dari jangkauan Omku?
Tangisku kembali pecah, rasa takut bercampur dengan rasa dingin membuat tubuhku lemah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Terus melangkah atau tetap diam di tempat? Aku sangat takut jika aku terus berjalan, aku malah semakin menjauh dari Om Sammy. Tapi jika aku hanya diam saja, tubuh ku akan semakin kaku di makan dingin.
Bagaimana ini?
Mengapa sekarang aku bahkan tidak mendengar suara apa-apa lagi?
Aku semakin terisak sambil terus berjalan dalam kegelapan.
Hingga........
Aku menemukan cahaya putih yang semakin menyilaukan mengarah padaku. Kukerutkan kening berusaha meneliti siapa itu. Om Sammy kah atau orang jahat?
Cahaya itu semakin dekat, berlari ke arahku. Tanpa dapat kulihat siapakah sosok dirinya.
Bruk...
"Pril...April kamu baik-baik saja?"
Mataku membelalak saat orang itu langsung menangkapku dengan pelukannya tanpa permisi.
__ADS_1
Tanpa melihat wajahnya aku sangat yakin dia begitu mengkuatirkan diriku.
"Om,"
Dia tidak menjawab namun terus mempererat dekapannya.
Tidak lama.......
"Maafkan Om....Maafkan Om..." katanya sambil terus memeluk tubuhku. Dia bahkan tidak memperdulikan hujan yang semakin membasahi tubuh kami.
"Om tidak salah. April yang salah," kataku sambil terisak. Tubuhku kembali menggigil.
"Ayo sudah semakin malam. Kita cari tempat untuk berteduh saja dulu. Besok baru kita pulang." kata Om Sammy sambil melonggarkan pelukannya dan meraih tanganku.
Aku menghela napas. Kami berjalan mencari tempat untuk kita berteduh menggunakan cahaya senter yang di bawa Om Sammy.
"Kita menginap di pondok itu saja." katanya sambil menyorotkan senter ke arah pondok tua yang sejak sore kulihat.
"Kenapa bisa ketemu pondok ini lagi?" gumam ku aneh
Om Sammy mengandeng ku masuk ke pondok itu. Tidak sedetik pun dia melepaskan tangan ku.
Aku merasa aman dan nyaman!
Sesampainya di dalam. Ya seperti pondok tua kebanyakan. Gelap, berdebu, dan tua. Om Sammy melepaskan jaket kulitnya lalu membongkar tas ransel yang sejak tadi dia bawa di punggungnya.
Dia membawa perlengkapan?
"Pril, ini kamu ganti baju dulu. Om sudah berpikir kamu pasti kehujanan, makanya Om bawain baju ganti buat kamu."
Aku memperhatikan baju yang dia sodorkan. T-shirt besar olahraga miliknya. Kutatap wajahnya yang ternyata juga sedang memperhatikan ku.
"Maaf ya Om nggak sempat bawain bajumu. Om keburu khawatir jadi buru-buru bawa barang yang sekiranya cepat."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Mataku mengabsen setiap sudut ruangan pondok ini. Berbekal cahaya senter lumayan membantu menerangi pondok, meski cahaya remang. Tidak ada apa-apa, hanya satu ruangan di dalamnya.
"Tapi April ganti di mana?" tanyaku sambil tetap menoleh kanan-kiri karena tidak melihat sekat apapun dalam pondok ini.
"Ya ganti di sini saja." jawabnya santai
Huh?
Sepertinya Om Sammy menyadari keterkejutan ku.
"Maksud Om ya ganti di belakang Om. Ya Om nggak bakal lihat juga kok." katanya sambil menunjuk ke belakang arah tempatnya duduk. Lalu tertawa geli
Aku manyun.
"Awas ya, kalau Om berani ngintip!"
"Lihat dikit kenapa sih Pril?" godanya
"Ooooooommmmmmm....."
Om Sammy tertawa.
...•••••••••• ...
Selamat Pagi Agustus
Selamat Pagi KAUM KECE
Selamat Pagi SENIN
Vote nya jangan lupa titip Om Sammy
Happy Reading!
__ADS_1